- Dendang Sirukam Maelo Kayu dahulu bernama Ratok Sikana, dinyanyikan Kana saat bekerja di sawah
- Tahun 80-an dendang dinyanyikan bergantian dua kelompok pengangkat kayu Rumah Gadang di Sirukam
- Cirinya nada kromatik D, D#, E pada frasa kedua dan staccato yang disebut tadogoh
- Karya Ranah Berlagu dibagi dua: dua pedendang laki-laki di hutan, koor perempuan di rumah gadang
Daftar Isi
Pada 20 November 2024, Rendi Kurnia Ilahi mewawancarai Angku Eh di Nagari Sirukam. Angku Eh adalah pelaku tradisi Dendang Sirukam Maelo Kayu, dendang gotong royong pengambilan kayu untuk Rumah Gadang. Dari wawancara itu, satu dendang tua di Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, mulai disalin menjadi karya musik baru.
Prosesnya ditulis Rendi Kurnia Ilahi dan Elizar dalam Komposisi Musik Ranah Berlagu Dari Dendang Sirukam Maelo Kayu Nagari Sirukam Kabupaten Solok, terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara volume 5 nomor 2, tahun 2025. Keduanya berasal dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Karya itu adalah tugas akhir sarjana Jurusan Seni Karawitan pada minat penciptaan.
Sebelum 1980-an: Ratok Sikana di Sawah
Dendang ini dahulu bernama dendang Ratok Sikana. Nama itu diambil dari Kana, penduduk asli Sirukam yang menyanyikannya saat bekerja di sawah untuk mencurahkan isi hati. Dendang itu lalu dikenal dan populer di kalangan masyarakat Sirukam. Naskah tidak menyebut tahun Kana hidup.
Orang Sirukam sempat penasaran dengan dendang yang dinyanyikan Kana. Mereka menyampaikan pantun kepadanya, yang dicatat naskah: O kana basueh lah bareh, bareh didalam boyok juo, o kana tolong padareh, kami jan dibari arok juo. Pantun itu menjadi jejak paling awal yang tercatat tentang dendang tersebut.
Naskah menyebut dendang ratok sebagai jenis dendang di acara baralek atau perkawinan. Isinya curahan hati berupa pesan, ratapan, maupun nasihat. Penulis merujuk kajian Ratna Wulan Sari tentang dendang ratok di Nagari Guguak Malalo untuk keterangan ini. Dari sawah, dendang Kana kemudian berpindah ke pekerjaan lain.
Tahun 1980-an: Dendang di Sepanjang Jalan
Pada tahun 80-an, Angku Eh masih remaja. Ia selalu mendengar Dendang Sirukam Maelo Kayu didendangkan di sepanjang jalan ketika kayu telah diambil dari hutan lalu diangkat bersama-sama. Kayu itu untuk membangun Rumah Gadang. Dendang mengisahkan kehidupan gotong royong masyarakat Sirukam masa lampau.
Menurut Angku Eh, kelompok pengangkat kayu ada dua. Masing-masing kelompok memiliki seorang pedendang yang bergantian mendendangkan dendang itu. Yang pergi ke hutan dan berdendang saat pengambilan kayu adalah laki-laki. Pola bergantian ini disebut naskah sebagai prinsip bersahut-sahutan, atau call and respond.
Naskah menjelaskan asal pola bergantian itu. “Pada dasarnya, saut-menyaut terjadi karena ketidakmampuan seorang pedendang untuk berdendang dalam waktu yang lama membuat dendang dilakukan secara bergantian namun tetap mempertahankan runtutan kegiatan Sirukam Maelo Kayu,” tulis Rendi Kurnia Ilahi dan Elizar dalam naskahnya.
Liriknya berbentuk pantun dengan sampiran dan isi, dalam dialek Sirukam. Bait pertama berbunyi Sirukam maelo kayu, kayu di ambiek dalam rimbo, jo untuang usah lah ragu, suratan sudah dari nan kuaso. Artinya, orang Sirukam mengambil kayu di hutan, jangan ragu dengan nasib, suratan dari Yang Maha Kuasa.
Bait berikutnya mengikuti perjalanan kayu. Kayu ditarik terus ke Pincuran Tonggak, lalu sampai di Palo Koto. Tengah hari orang beristirahat, menghabiskan sebatang rokok dan seteguk air. Bait terakhir bercerita tentang mufakat dengan ninik mamak untuk membangun rumah gadang. Lirik boleh berubah sesuai spontanitas pedendang, tetapi urutan kegiatan tetap.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Dahulu dendang ini tidak memakai instrumen apa pun. Seiring waktu, dendang kini diiringi saluang darek. Ia juga boleh dinyanyikan pada lapiak pagurauan maupun randai. Naskah mencatat perubahan itu sebagai perkembangan struktural dan fungsional akibat akulturasi dan inovasi, merujuk kajian Yon Hendri tahun 2004.
20 November 2024: Tiga Pelaku Tradisi Ditemui
Wawancara di Sirukam melibatkan tiga pelaku tradisi: etek Weta, angku Kaman, dan angku Eh. Setelah mendapat keterangan, pengkarya menganalisis dendang yang dimainkan langsung oleh para informan. Dari analisis itu ditemukan beberapa ciri yang membedakan dendang ini dari dendang Sirukam lainnya.
Ciri pertama ada pada melodi. Dendang ini memuat nada kromatik, yaitu D, D#, dan E, pada frasa kedua. Dalam satu frasa, melodi berubah dari mayor ke minor. Ciri kedua adalah staccato di setiap akhiran melodi, yang dilakukan berulang-ulang. Staccato inilah pembeda utamanya.
“Staccato menjadi pembeda dendang Sirukam Maelo Kayu dengan dendang Sirukam lainnya, seperti dendang Sirukam Pai Mandulang,” tulis Rendi Kurnia Ilahi dan Elizar. Masyarakat setempat menyebut gejala itu tadogoh. Artinya sesuatu yang berhenti mendadak. Sehari-hari, tadogoh dipakai sebagai kata kerja ketika beberapa kejadian terjadi dalam satu waktu.
18 Januari 2025: Notasi Ditulis
Pada 18 Januari 2025, Rendi Kurnia Ilahi mentranskripsikan melodi dendang menjadi notasi. Dua notasi dimuat dalam naskah. Notasi itu menjadi dasar penggarapan karya berjudul Ranah Berlagu dengan pendekatan musik populer bergenre folk. Genre folk dipilih karena dendang diwariskan lisan, berlirik pantun sederhana, dan tanpa instrumen dalam bentuk aslinya.
Judul karya punya dua kata yang dijelaskan naskah. Ranah berarti wilayah, nagari, atau tempat, sejalan dengan konsep musik folk yang lahir dari suatu daerah beserta masyarakatnya. Berlagu berarti bernyanyi, yaitu dendang yang berisi rangkaian kegiatan Sirukam Maelo Kayu. Karya dibagi dua bagian mengikuti dua tahap prosesi itu.
Naskah mengutip Bruno Nettl untuk batasan musik folk, dalam terjemahan Rendi Kurnia Ilahi dari bahasa Inggris. Musik folk diturunkan melalui keluarga dan kelompok sosial kecil seperti pedesaan, hidup dalam tradisi lisan, dan dipelajari lewat pendengaran daripada membaca. Ciri itu dinilai cocok dengan dendang Sirukam.
Baca juga Bunyi Rumah Potong Hewan Padangpanjang Jadi Karya Dua Bagian
20 Juni 2025: Dua Bagian di Atas Panggung
Foto dokumentasi karya bertanggal 20 Juni 2025, dibuat oleh Zam Zami. Bagian pertama menggambarkan dendang saat pengambilan kayu di hutan. Di sini hanya dua pedendang laki-laki yang tampil, sebagai gambaran bentuk awal penyajian dendang. Mereka berdialog vokal, sahut-menyahut, tanpa instrumen yang dominan.
Dialog itu dikembangkan dengan canon, yaitu pola melodi yang sama dinyanyikan pada tempat berbeda. Perbedaan oktaf dua pedendang, D dan D’, menghadirkan harmoni. Harmoni yang dipakai adalah quint, seperti C dan G, serta quart, seperti C dan F. Keduanya dinilai lebih cocok dengan tangga nada kromatik frasa kedua dendang.
Tadogoh ikut digarap di bagian pertama. Vokal dinyanyikan secara staccato, memakai lirik pantun berakhiran huruf konsonan, sehingga melodi yang semula berjalan menjadi terhenti. Perbedaan warna, frekuensi, dan jangkauan suara dua pedendang membuat karakter tiap solo vokal lebih terlihat.
Bagian kedua berpindah ke tempat pembangunan rumah gadang. Musisi perempuan dihadirkan, seperti dalam penyajian tradisinya. Dendang dinyanyikan bersahutan oleh perempuan dan laki-laki. Para pria memainkan banjo, gitar bass, dan talempong. Perempuan membentuk kelompok vokal, menyanyikan melodi dendang dengan teknik koor pada satu nada dasar.
Instrumen sengaja tidak dibuat menonjol. “Penerapan instrumen yang digunakan pada bagian ini tidak menghasilkan bunyi dominan dibanding dengan garapan vokal, karena pada tradisinya dendang adalah sarana penyampaian pesan bahkan dengan tidak adanya intrumen pendukung,” tulis kedua penulis dalam naskahnya.
Tekstur vokal di bagian kedua diperluas menjadi polifoni. Solo vokal tetap ada, bersahutan dengan koor, dengan solo lain, atau dengan tutti instrumen. Melodi kromatik dihadirkan sebagai tanya jawab mayor dan minor: melodi mayor pada perempuan, minor pada laki-laki, lalu sebaliknya. Dinamika digarap lebih banyak di bagian ini.
Naskah menyebut karya ditampilkan langsung di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam dan disiarkan lewat akun YouTube HMJ Seni Karawitan. Instrumen yang disebut untuk pertunjukan adalah vokal, saluang, sarunai, gitar bass, banjo, dan talempong. Pengkarya menyimpulkan gaya karya ditandai responsorial, canon, dan staccato dengan istilah lokal tadogoh.
Baca juga Salawaik Dulang Malalo Hidup dari Tabuhan yang Sinkop
Catatan yang Belum Rapat
Naskah tidak memuat bagian keterbatasan. Sumber lapangannya tiga informan, dan tidak dijelaskan seberapa luas dendang ini masih dinyanyikan di Sirukam sekarang. Pada bagian saran, penulis sendiri mengakui perlunya referensi akademik yang lebih luas dan metode riset yang lebih mendalam untuk karya berbasis tradisi.
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Daftar instrumen tidak seragam. Abstrak menyebut oud dan Irish flute, bagian isi menyebut sarunai dan talempong, dan kesimpulan menyebut udu. Bagian kontribusi juga menyebut kesenian Kitab Mauluik dan Kenagarian Singgalang, yang tidak berhubungan dengan Sirukam.
Kutipan Ratna Wulan Sari ditulis tahun 2022 di teks, tetapi 2023 di daftar pustaka. Nama informan ditulis Angku Eh dan Angkuh Eh, nama penulis pertama ditulis Ilahi dan Illahi. Daftar pustaka memuat lagu Taylor Swift tahun 2012 yang tidak dirujuk di teks. Dua notasi diberi judul dan tanggal sama.
Kekeliruan itu tidak mengubah alur utama naskah. Dendang yang dahulu dinyanyikan Kana di sawah, didengar Angku Eh di jalan tahun 80-an, dicatat pada 20 November 2024, dan ditulis notasinya pada 18 Januari 2025. Pada 20 Juni 2025, ia terdokumentasi sebagai dua bagian karya di panggung. Titik itu yang terakhir tercatat.















