- Skor lansia yang mulai mengasuh cucu menjadi 14,83, sedangkan skor kelompok pembanding turun menjadi 14,06.
- Hanya ranah registrasi yang menunjukkan hasil bermakna, dengan koefisien 0,3122 pada analisis setelah pemasangan.
- Hubungan positif yang bermakna hanya muncul pada lansia di kawasan tengah Tiongkok.
- Mengasuh lebih dari dua cucu dikaitkan dengan dampak negatif bermakna pada fungsi kognitif.
Daftar Isi
Lansia Tiongkok yang mulai mengasuh cucu punya skor kognitif lebih terjaga. Dalam tiga tahun, skor mereka bertahan, sedangkan skor lansia yang tidak mengasuh cucu justru turun. Hubungan positif itu tampak terutama pada lansia di kawasan tengah Tiongkok dan pada mereka yang mengasuh satu atau dua cucu saja.
Temuan ini berasal dari 2.010 orang berusia 60 tahun ke atas yang diamati dua kali, pada 2015 dan 2018. Data mereka diambil dari survei nasional China Health and Retirement Longitudinal Study (CHARLS). Pada 2015, tak satu pun dari mereka mengasuh cucu, sehingga perubahan sesudahnya bisa diikuti dari titik yang sama.
Laporannya ditulis Jie Yang dan rekan dari School of Health Services and Management, Shanxi University of Chinese Medicine, di Taiyuan, Provinsi Shanxi. Judulnya Can Raising grandchildren prevent or slow cognitive decline in Chinese elderly? Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Skor yang Bertahan
Daya pikir peserta diukur dengan Mini-Mental State Examination, tes 30 butir dengan skor 0 sampai 30. Makin tinggi skornya, makin baik fungsi kognitif seseorang. Tes ini menyentuh lima ranah, mulai dari menyebut tahun dan tanggal sampai menyalin gambar segi lima yang saling berpotongan.
Pada 2015, kedua kelompok berangkat dari titik yang nyaris sama. Skor rata-rata calon pengasuh cucu 14,80, sedangkan kelompok pembanding 14,70. Uji statistik tidak menemukan beda bermakna di antara keduanya, dengan nilai P 0,656, sehingga titik awal mereka bisa dianggap setara.
Tiga tahun kemudian, jalannya berpisah. Skor lansia yang mulai mengasuh cucu menjadi 14,83, naik 0,20 persen dari skor awal mereka. Skor kelompok pembanding turun menjadi 14,06, atau merosot 4,35 persen, dan beda kedua kelompok kini bermakna dengan nilai P 0,005.
Arah perubahan kedua kelompok berlawanan. Para peneliti memakai selisih itu sebagai titik berangkat untuk pengujian yang lebih ketat. Mereka ingin tahu apakah selisih tersebut tetap ada setelah perbedaan lain antara kedua kelompok, seperti usia dan kesehatan, disingkirkan dari hitungan.
Siapa yang Diamati
Dari 2.010 peserta, 464 orang masuk kelompok perlakuan. Mereka menjawab tidak mengasuh cucu pada survei 2015, lalu menjawab ya pada survei 2018. Sisanya, 1.546 orang, menjawab tidak pada kedua survei dan menjadi kelompok pembanding dalam seluruh analisis.
Sebanyak 1.176 peserta, atau 58,5 persen, adalah laki-laki. Menurut wilayah, 780 orang atau 38,8 persen tinggal di kawasan timur, 693 orang atau 34,5 persen di kawasan tengah, dan 537 orang atau 26,7 persen di kawasan barat Tiongkok.
Sebagian besar pengasuh baru tidak memikul beban berat. Dari 464 orang itu, 415 orang atau 89,4 persen mengasuh satu sampai dua cucu. Sebanyak 371 orang atau 80,0 persen tergolong pengasuh non-intensif menurut total jam mengasuh dalam setahun terakhir.
Kedua kelompok juga tidak sepenuhnya serupa sejak awal. Pada 2015, rata-rata usia kelompok pengasuh 65,77 tahun, sedangkan kelompok pembanding 68,45 tahun. Menurut para penulis, lansia yang mulai mengasuh cucu lebih muda, lebih sehat, dan lebih sering masih punya pasangan.
Contohnya terlihat pada hipertensi. Pada 2015, hipertensi tercatat pada 32,3 persen kelompok pengasuh dan 43,7 persen kelompok pembanding. Sebanyak 86,9 persen pengasuh masih punya pasangan, sementara di kelompok pembanding angkanya 81,5 persen, dan selisih keduanya bermakna secara statistik.
Baca juga Nenek dan Cucu di Desa Shandong Sama-sama Tersendat Saat Berobat
Dipasangkan Lebih Dulu
Perbedaan awal itu bisa mengaburkan hasil. Karena itu, tiap pengasuh dipasangkan dengan dua lansia bukan pengasuh yang ciri-cirinya mirip. Ciri yang disamakan antara lain usia, jenis kelamin, tempat tinggal, status perkawinan, pendidikan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, hipertensi, serta dislipidemia.
Setelah dipasangkan, kedua kelompok tidak lagi berbeda bermakna pada ciri-ciri tersebut. Barulah perubahan skor dari 2015 ke 2018 dibandingkan antara pengasuh dan pasangannya. Ukuran kuncinya disebut koefisien interaksi G x T, yang menandai peserta kelompok perlakuan sesudah mereka mulai mengasuh cucu.
Hasilnya konsisten di lima model regresi yang diuji. Koefisien itu positif dan bermakna di semua model, dengan nilai antara 0,6168 dan 0,6632. Pada salah satu model yang dicontohkan para penulis, nilainya 0,6473.
Para peneliti menyebut temuan ini kokoh, apa pun sampel yang dipakai dalam pengujian. Mereka membacanya sebagai hubungan positif yang bermakna antara mulai mengasuh cucu dan fungsi kognitif lansia di Tiongkok.
Hanya Satu Ranah
Hubungan itu tidak merata di kelima ranah tes. Hanya ranah registrasi yang menunjukkan hasil bermakna. Pada analisis setelah pemasangan, koefisiennya 0,3122, sedangkan pada model regresi biasa tanpa pemasangan angkanya 0,2406.
Ranah registrasi menguji daya ingat kerja. Peserta diminta mengulang sepuluh kata segera setelah mendengarnya, dalam urutan apa saja. Ranah inilah satu-satunya yang berkaitan bermakna dengan mulai mengasuh cucu.
Empat ranah lain tidak bergeser bermakna. Pada analisis setelah pemasangan, koefisien orientasi 0,0863, atensi 0,0924, dan mengingat kembali 0,1287. Ranah visuospasial, yang diuji lewat menyalin gambar, mencatat angka minus 0,0029.
Para penulis mengaitkan temuan ini dengan interaksi sehari-hari di rumah. Kakek dan nenek yang mengasuh cucu banyak bermain, membantu mengerjakan PR sekolah, atau membaca bersama. Interaksi positif semacam itu, menurut mereka, berkaitan dengan membaiknya daya ingat kerja.
Kuat di Tengah
Wilayah ternyata ikut menentukan. Hubungan positif yang bermakna hanya muncul pada lansia di kawasan tengah Tiongkok. Di kawasan itu, koefisiennya 1,3931 pada model regresi biasa dan 0,8410 pada model berbobot setelah pemasangan.
Kawasan timur dan barat tidak menunjukkan hasil bermakna pada kedua model. Di timur, koefisiennya 0,5528 dan 0,0815. Di barat, angkanya 0,4933 dan minus 0,1919.
Para penulis merujuk teori ketegangan peran untuk menjelaskan pola wilayah ini. Menurut teori itu, peran sosial menjadi merugikan bila tuntutannya melampaui kemampuan fisik, kognitif, dan emosional seseorang. Beban itu, kata mereka, berbeda dari satu kawasan ke kawasan lain.
Di timur yang sangat urban, mobilitas tinggi membuat pengasuhan oleh kakek-nenek sering digantikan pengasuhan lain. Standar mengasuh yang tinggi dan dukungan komunitas yang lemah menambah tekanan pada lansia. Di barat yang kurang berkembang, tekanan ekonomi dan langkanya sumber daya publik mudah memicu beban berlebih.
Kawasan tengah berada di antara keduanya. Ekonominya moderat, struktur keluarganya relatif utuh, dan lingkungan sosialnya mendukung. Di sana, menurut para penulis, mengasuh cucu lebih menjadi bantuan moderat daripada tanggung jawab penuh, sehingga rangsangan kognitifnya didapat tanpa ketegangan peran.
Baca juga Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna
Lebih dari Dua Cucu
Jumlah cucu juga membuat beda. Di antara para pengasuh, mereka yang mengasuh lebih dari dua cucu dikaitkan dengan dampak negatif bermakna pada fungsi kognitif. Koefisiennya minus 1,7624 pada model berbobot, dibandingkan pengasuh yang mengasuh satu atau dua cucu.
Lama mengasuh justru tidak membuat beda bermakna. Pengasuh intensif, dengan total lebih dari 2.028 jam dalam setahun, dibandingkan dengan pengasuh non-intensif. Koefisiennya hanya 0,0359 pada model regresi biasa dan minus 0,1164 pada model berbobot.
Para penulis menyebut keterlibatan moderat sebagai tantangan yang bermanfaat. Mengasuh satu atau dua cucu memberi rangsangan mental dan kepuasan emosional. Melewati ambang itu menambah tuntutan di luar kemampuan, memicu kelelahan kognitif, stres kronis, dan berkurangnya waktu bersantai.
Mesin Penebak Risiko
Tim juga membangun model pembelajaran mesin bernama XGBoost. Tugasnya menebak siapa yang mengalami penurunan kognitif, yaitu turun empat poin atau lebih pada tes antara 2015 dan 2018. Pada data uji, akurasinya 79,93 persen dengan nilai AUC 0,7894.
Model ini mengungguli regresi logistik biasa. AUC model logistik hanya 0,6124, sedangkan indeks Youden-nya 0,1792 dibandingkan 0,4774 pada XGBoost. Para penulis menyarankan ambang 0,6 untuk menandai lansia berisiko tinggi, yang bisa disesuaikan dengan sumber daya kesehatan setempat.
Usia dan dislipidemia memberi pengaruh terbesar dalam model itu. Mengasuh cucu berada di peringkat tengah, tetapi lebih berpengaruh daripada banyak faktor gaya hidup. Nilai mengasuh cucu yang tinggi menjauhkan tebakan model dari penurunan kognitif.
Regresi logistik memberi gambaran serupa. Dalam analisis multivariat, mengasuh cucu dikaitkan dengan peluang penurunan kognitif yang lebih kecil, dengan rasio odds 0,74. Pendidikan menengah ke atas mencatat rasio odds 0,52, sedangkan usia 1,02.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Batas Penelitian
Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya. Usia cucu tidak bisa diperhitungkan karena keterbatasan data survei. Padahal, mengasuh bayi atau balita biasanya menuntut tenaga dan emosi lebih besar daripada mengasuh anak usia sekolah.
Pesertanya juga hanya dari Tiongkok, sehingga sampelnya tidak mewakili lansia secara umum. Studi ini pun bersifat pengamatan. Para penulis menilai uji acak terkontrol masih diperlukan untuk menguji dan memperjelas hubungan yang mereka temukan.
Manfaatnya pun bersyarat. “Manfaatnya tidak seragam; manfaat itu dipengaruhi konteks geografis dan intensitas pengasuhan,” tulis Jie Yang dan rekan dalam simpulan mereka, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id.
Mereka mengusulkan pemeriksaan kesehatan rutin dan kursus pelatihan bagi lansia yang mengasuh cucu. Mengingat layanan sosial terbatas, lansia yang tidak mengasuh cucu dan punya kebiasaan atau kesehatan lebih buruk juga perlu mendapat perhatian.
Pada 2018, skor rata-rata pengasuh baru tercatat 14,83, sedangkan kelompok pembanding 14,06. Angka itu datang dari pengamatan, belum dari uji acak.















