Remaja Brasil Rajin Sarapan Lebih Aktif dan Kurang Menatap Layar

A A

Ilustrasi sepotong roti panggang bermentega pão na chapa di piring putih atas meja kayu [Foto: Melsj/Wikimedia Commons, CC0]

  • Sebanyak 91 dari 941 remaja Presidente Prudente, atau 9,7 persen, tidak sarapan satu hari pun dalam seminggu.
  • Skor aktivitas fisik kelompok yang sering sarapan 9,27, lebih tinggi daripada 8,25 pada kelompok yang jarang sarapan.
  • Waktu layar kelompok yang sering sarapan rata-rata 11,87 jam per hari, dibanding 13,35 jam pada kelompok yang jarang sarapan.
  • Kaitan sarapan dengan tekanan darah sistolik dan lingkar pinggang tidak lagi bermakna setelah usia diperhitungkan.
Daftar Isi
  1. Satu Pertanyaan tentang Sarapan dalam Seminggu
  2. Tubuh Serupa, Jam Gerak dan Jam Layar Berbeda
  3. Kaitan dengan Pinggang dan Tekanan Darah Memudar
  4. Gerak Tubuh Tetap Terhubung dengan Piring Pagi
  5. Puasa Semalam dan Energi untuk Bergerak
  6. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Di Presidente Prudente, kota di negara bagian São Paulo, Brasil, ratusan remaja ditanya seberapa sering mereka sarapan dalam seminggu. Jawaban itu lalu disandingkan dengan tekanan darah, lingkar pinggang, aktivitas fisik, dan waktu mereka di depan layar. Kaitan sarapan dengan tekanan darah sistolik dan lingkar pinggang sempat tampak, lalu tidak lagi bermakna setelah usia diperhitungkan. Kaitannya dengan aktivitas fisik dan waktu layar justru bertahan.

Penelitian itu disusun Bruna T. C. Saraiva dan rekan dari São Paulo State University (Unesp), School of Technology and Sciences, Presidente Prudente. Laporan mereka berjudul Association of breakfast frequency with blood pressure, waist circumference, physical activity, and sedentary behavior among Brazilian adolescents dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Hipotesis tim, remaja yang lebih sering sarapan memiliki parameter kesehatan yang lebih baik.

Satu Pertanyaan tentang Sarapan dalam Seminggu

Datanya dikumpulkan pada 2014 dari 941 remaja berusia 10 sampai 17 tahun, terdiri atas 421 laki-laki dan 520 perempuan, di sekolah negeri dari lima wilayah kota dan dua sekolah swasta. Setiap remaja menjawab satu pertanyaan, yakni seberapa sering ia sarapan dalam seminggu. Pilihannya lima, mulai dari tidak pernah, satu sampai dua kali, tiga sampai empat kali, lima sampai enam kali, hingga setiap hari.

Dalam penelitian ini, perilaku sedentari berarti total waktu di depan layar, dari televisi, komputer, dan gim video hingga ponsel atau tablet. Aktivitas fisik dinyatakan dalam skor kuesioner Baecke yang tidak bersatuan. Dari seluruh peserta, 91 remaja atau 9,7 persen mengaku tidak sarapan satu hari pun dalam seminggu. Angkanya 8,7 persen pada laki-laki dan 12,7 persen pada perempuan, perbedaan yang menurut tim tidak bermakna secara statistik.

Tubuh Serupa, Jam Gerak dan Jam Layar Berbeda

Tim lalu membandingkan remaja berfrekuensi sarapan rendah dengan remaja berfrekuensi sarapan tinggi. Pada usia, ukuran tubuh, dan tekanan darah, kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Rata-rata usia mereka 13,47 dan 13,32 tahun, indeks massa tubuh 20,86 dan 20,32 kg/m², serta lingkar pinggang 68,83 dan 68,24 sentimeter. Tekanan darah sistolik tercatat 118,26 dan 116,33 mmHg, sedangkan tekanan diastolik 68,78 dan 67,34 mmHg.

Perbedaan bermakna muncul pada dua ukuran perilaku. Rata-rata skor aktivitas fisik kelompok berfrekuensi sarapan tinggi 9,27, lebih tinggi daripada 8,25 pada kelompok berfrekuensi rendah. Waktu layar kelompok yang sering sarapan rata-rata 11,87 jam per hari, sedangkan kelompok yang jarang sarapan 13,35 jam per hari. Kedua perbedaan itu bermakna secara statistik, dengan nilai p masing-masing 0,001 dan 0,027.

Baca juga Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari

Analisis korelasi Pearson menghasilkan angka berikut. Frekuensi sarapan berkorelasi negatif dengan tekanan darah sistolik dan lingkar pinggang, masing-masing dengan r sebesar −0,10 dan nilai p 0,003. Korelasinya positif dengan aktivitas fisik, r 0,15, dan negatif dengan perilaku sedentari, r −0,13. Hanya tekanan darah diastolik yang tidak berkorelasi bermakna, dengan r −0,05 dan nilai p 0,099.

Sarapan lebih sering, layar lebih sedikit, gerak lebih banyakTekanan darah sistolik: Koefisien korelasi r -0,10; Tekanan darah diastolik: Koefisien korelasi r -0,05; Lingkar pinggang: Koefisien korelasi r -0,10; Aktivitas fisik: Koefisien korelasi r 0,15; Perilaku sedentari: Koefisien korelasi r -0,13.Sarapan lebih sering, layar lebih sedikit,gerak lebih banyakKorelasi Pearson (r) frekuensi sarapan mingguan dengantiap variabel, 941 remaja Presidente Prudente-0,10,10,20Tekanan darah sistolik-0,10Tekanan darah diastolik-0,05Lingkar pinggang-0,10Aktivitas fisik0,15Perilaku sedentari-0,13Tekanan darah diastolik tidak bermakna (p = 0,099); lainnya p 0,003atau lebih kecil
Sumber: Bruna T. C. Saraiva dan rekan, Association of breakfast frequency with blood pressure, waist circumference, physical activity, and sedentary behavior among Brazilian adolescents, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kaitan dengan Pinggang dan Tekanan Darah Memudar

Langkah berikutnya adalah regresi bertahap. Model pertama tanpa penyesuaian, model kedua menambahkan jenis kelamin, model ketiga menambahkan usia, dan model keempat menambahkan status sosial ekonomi. Koefisien β di tiap model menunjukkan perkiraan perubahan hasil untuk setiap kenaikan satu tingkat frekuensi sarapan. Ketiga variabel itu dipilih sejak awal karena bukti terdahulu menunjukkan kaitannya dengan kebiasaan sarapan maupun hasil yang diteliti.

Pada tekanan darah sistolik, koefisien β model pertama −1,21 dan model kedua −1,19, keduanya dengan nilai p 0,003. Begitu usia dimasukkan, angkanya turun menjadi −0,47 dengan nilai p 0,237. Pola serupa muncul pada lingkar pinggang. Koefisiennya −0,85 pada model pertama dan −0,88 pada model kedua, lalu menjadi −0,48 pada model ketiga dan −0,51 pada model keempat, tidak lagi bermakna.

Tekanan darah diastolik tidak menunjukkan kaitan bermakna di model mana pun. Koefisiennya bergerak dari −0,30 pada model pertama menjadi −0,14 pada model keempat, dengan nilai p 0,300 hingga 0,623. Karena itu, dalam penelitian ini kaitan sarapan dengan ukuran kardiovaskular hanya terlihat pada tekanan sistolik dan lingkar pinggang, dan hanya sebelum usia diperhitungkan.

Penjelasan tim berpusat pada variabel penyesuai itu. Menurut mereka, usia dan status sosial ekonomi juga berkaitan dengan kebiasaan makan dan lemak tubuh, sehingga keduanya bisa ikut melemahkan kaitan tadi. Orang dengan status sosial ekonomi lebih tinggi lebih mungkin mendapat makanan padat gizi seperti buah dan sayur serta rutin sarapan. Tim juga mengutip riset yang menunjukkan kebiasaan sarapan remaja menurun seiring bertambahnya usia.

Baca juga Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan

Gerak Tubuh Tetap Terhubung dengan Piring Pagi

Kaitan dengan aktivitas fisik bertahan di keempat model. Koefisien β bergerak tipis dari 0,39 pada model pertama ke 0,37 pada model kedua dan ketiga, lalu 0,36 pada model keempat. Keempatnya bermakna dengan nilai p tidak lebih dari 0,001. Dalam rumusan tim, remaja yang rutin sarapan lebih mungkin terlibat dalam aktivitas fisik.

Perilaku sedentari menunjukkan pola yang sedikit lain. Koefisiennya −0,69 pada model pertama dan kedua, lalu menyusut menjadi −0,40 setelah usia dimasukkan dan −0,39 setelah status sosial ekonomi ditambahkan. Meski melemah, kaitan itu tetap bermakna, dengan nilai p 0,030 dan 0,036. Remaja yang lebih sering sarapan tetap tercatat dengan waktu layar yang lebih sedikit.

Setelah penyesuaian, yang bertahan hanya gerak dan layarTekanan sistolik -1,21 ke -0,47; Tekanan diastolik -0,30 ke -0,14; Lingkar pinggang -0,85 ke -0,51; Aktivitas fisik 0,39 ke 0,36; Perilaku sedentari -0,69 ke -0,39.Setelah penyesuaian, yang bertahan hanyagerak dan layarKoefisien beta per kenaikan satu tingkat frekuensi sarapan,model kasar dan model penyesuaian penuhModel 1 (kasar)Model 4 (penuh)-1,2-0,8-0,40,00,4Tekanan sistolik-1,21-0,47Tekanan diastolik-0,30-0,14Lingkar pinggang-0,85-0,51Aktivitas fisik0,360,39Perilaku sedentari-0,69-0,39Model 4 disesuaikan jenis kelamin, usia, status sosial ekonomi;bermakna hanya aktivitas fisik dan perilaku sedentari
Sumber: Bruna T. C. Saraiva dan rekan, Association of breakfast frequency with blood pressure, waist circumference, physical activity, and sedentary behavior among Brazilian adolescents, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tim tidak menarik kesimpulan tentang arah hubungan ini. Desain potong lintang, menurut mereka, tidak memungkinkan kesimpulan tentang arah kaitan antara sarapan dan waktu di depan layar. Riset terdahulu yang mereka kutip menunjukkan sarapan yang jarang berkaitan dengan pola makan kurang baik dan perilaku sedentari lebih tinggi pada anak usia sekolah. Perilaku sedentari remaja juga dikaitkan dengan konsumsi makanan tinggi energi, lemak, dan natrium.

Karena itu, tim melihat keduanya sebagai bagian dari kebiasaan yang lebih luas. “Frekuensi sarapan dan perilaku sedentari mungkin hadir bersamaan sebagai bagian dari pengelompokan perilaku terkait kesehatan yang lebih luas pada masa remaja,” tulis Saraiva dan rekan (terjemahan). Penjelasan ini tidak menyebut mana yang menjadi penyebab. Sarapan dan waktu layar hanya digambarkan berjalan beriringan.

Puasa Semalam dan Energi untuk Bergerak

Untuk kaitan dengan aktivitas fisik, tim menyodorkan dua dugaan dari riset terdahulu. Pertama, energi dan zat gizi dari sarapan menambah ketersediaan energi sehingga mendukung kinerja saat bergerak. Kedua, kebiasaan melewatkan sarapan mungkin mencerminkan pola perilaku yang terkait dengan kelelahan mental dan fisik. Kelelahan itu pada gilirannya mungkin mengurangi keterlibatan remaja dalam aktivitas fisik.

Tim juga mengutip penelitian Vissers dan rekan terhadap anak Inggris berusia 9 sampai 10 tahun. Anak laki-laki yang sarapan berkualitas baik menghabiskan lebih sedikit waktu sedentari dan lebih banyak aktivitas fisik sedang hingga berat pada pagi akhir pekan dibanding yang melewatkan sarapan. Kaitan itu tidak terlihat pada anak perempuan. Menurut tim, ada kemungkinan manfaat sarapan hanya muncul pada remaja laki-laki yang lebih aktif.

Pada lemak tubuh, dugaan tim berangkat dari lamanya puasa semalam. Sarapan memperpendek masa tanpa makan itu, sehingga diduga membantu mencegah nafsu makan berlebihan pada waktu makan berikutnya dan menjaga kendali asupan. Riset yang dikutip tim mencatat orang yang sering sarapan cenderung mengonsumsi energi lebih banyak, tetapi lemak tubuhnya lebih rendah. Penjelasan yang ditawarkan, sarapan rutin mungkin membantu mengatur asupan energi sepanjang hari.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Tim mencatat sejumlah keterbatasan. Desain potong lintang tidak bisa memastikan hubungan sebab-akibat dan tidak bisa melihat perubahan dari waktu ke waktu. Aktivitas fisik dan perilaku sedentari diukur lewat laporan remaja sendiri, sehingga bisa memuat bias pelaporan. Penelitian ini juga tidak memiliki data pola makan dan kualitas diet secara keseluruhan, padahal remaja yang rutin sarapan mungkin juga makan lebih sehat sepanjang hari.

Persoalannya, kaitan yang ditemukan bisa sebagian dijelaskan oleh faktor makanan yang tidak terukur. Tim juga menegaskan bahwa koefisien korelasinya rendah, yang menunjukkan hubungan lemah. Frekuensi sarapan hanya menjelaskan sebagian kecil keragaman ukuran-ukuran kesehatan itu, sehingga temuan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Sebagai kekuatan, tim menyebut ukuran sampel yang relatif besar serta penyesuaian usia, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi.

Untuk penelitian berikutnya, tim menyarankan pengukuran objektif seperti akselerometer dan studi jangka panjang yang menguji upaya meningkatkan kebiasaan sarapan remaja, dengan memperhatikan pola makan orang tua. Mereka juga menyebut pentingnya kebijakan publik dan nasihat tenaga kesehatan. Pengasuh didorong memastikan anak sarapan secara teratur atau mengikutkan mereka dalam program sarapan sekolah bila tersedia.

Simpulan tim dirumuskan dalam satu kalimat. “Frekuensi sarapan yang lebih tinggi berkaitan dengan perilaku sedentari yang lebih rendah dan aktivitas fisik yang lebih tinggi, terlepas dari jenis kelamin, usia, dan status sosial ekonomi, pada remaja Brasil,” tulis mereka (terjemahan). Jejak di pinggang dan tekanan darah memudar begitu usia dan status sosial ekonomi diperhitungkan. Kebiasaan bergerak dan waktu layar tetap berjalan seiring piring sarapan.

Bagikan

Baca Juga

Minuman Manis dan Lama Duduk Terkait Prediabetes Remaja Jember
Rokok Kalahkan Belanja Gizi, Pakar UGM: Anak Rentan Stunting
Murid SD Portugal Sering Cuci Tangan, Tak Selalu Saat Masuk Kelas
Kematian Ibu di Pakistan Tinggi Seiring Persalinan oleh Kerabat
Siswa Afghanistan Paling Kesepian di Tiga Negara Asia Selatan
Warga Tokha Buang Obat dan Produk Perawatan Kedaluwarsa ke Sampah