- Dari 146 siswa SMA di Jember yang diperiksa sesudah puasa delapan jam, 22 orang tergolong prediabetes.
- Minuman rasa susu diminum 132 dari 146 responden, menjadikannya minuman berpemanis yang paling sering dikonsumsi.
- Dari 22 siswa prediabetes, 20 berasal dari kelompok yang duduk lima jam per hari atau lebih.
- Uji Mann-Whitney tidak menemukan perbedaan bermakna kejadian prediabetes antara remaja perkotaan dan perdesaan.
Daftar Isi
Delapan jam tanpa makan menjadi syarat yang sama bagi 146 siswa SMA di Jember, Jawa Timur. Sesudah puasa itu, kadar gula darah mereka diukur dengan glukometer pada Maret sampai April 2025. Hasilnya memisahkan dua kelompok. Sebanyak 124 remaja bergula darah puasa normal, sementara 22 lainnya sudah berada di wilayah prediabetes.
Kesembilan sekolah itu tersebar di wilayah kerja dua puskesmas. Puskesmas Jember Kidul melayani kawasan perkotaan, sedangkan Puskesmas Lojejer melayani kawasan perdesaan. Di dua wilayah itulah insidens diabetes tertinggi di Kabupaten Jember tercatat. Jawa Timur sendiri disebut sebagai provinsi dengan prevalensi diabetes tertinggi kelima di Indonesia.
Pemeriksaan itu dikerjakan Putri Diajeng Lorenza, Farida Wahyu Ningtyias, dan Septy Handayani dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Laporan mereka, Association of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) consumption and sedentary behavior with prediabetes among adolescents, terbit di Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) volume 14 nomor 2 tahun 2026. Selain gula darah, tim mencatat seberapa sering para siswa minum minuman berpemanis dan berapa lama mereka duduk tanpa banyak bergerak setiap hari.
Sembilan Sekolah, Dua Puskesmas
Para siswa itu berusia 15 sampai 18 tahun. Kelompok terbesar berusia 17 tahun, yakni 47 orang, disusul 44 siswa berusia 16 tahun dan 43 siswa berusia 18 tahun. Laki-laki sedikit lebih banyak, 80 orang, dibanding perempuan yang berjumlah 66 orang. Sebagian besar dari mereka tinggal di perkotaan. Jumlahnya 111 siswa, sementara 35 siswa lainnya tinggal di perdesaan. Dari ukuran indeks massa tubuh, 58 siswa berstatus gizi normal, 40 tergolong berat badan kurang, 20 kelebihan berat badan, dan 28 obesitas.
Riwayat keluarga ikut ditanyakan. Sebanyak 98 siswa tidak punya anggota keluarga dengan diabetes, sedangkan 48 siswa punya. Pertanyaan utama tim adalah apakah konsumsi minuman berpemanis dan perilaku sedenter berhubungan dengan prediabetes pada remaja.
Prediabetes, menurut paper, adalah keadaan ketika gula darah di atas normal tetapi belum memenuhi kriteria diabetes. Untuk gula darah puasa, rentangnya 100 sampai 125 mg/dL menurut Asosiasi Diabetes Amerika. Keadaan ini masih bisa kembali normal, tetapi juga bisa berlanjut menjadi diabetes.
Masalahnya, keadaan itu sering tidak terasa. “Prediabetes tidak menunjukkan tanda gejala, sehingga sebagian besar orang tidak menyadari kondisi prediabetesnya,” tulis Lorenza dan rekan dalam bagian latar belakang, dalam terjemahan bebas dari naskah berbahasa Inggris. Mereka juga mencatat sekitar 37 persen penyandang prediabetes berisiko mengalami diabetes tipe 2.
Gambaran nasionalnya ikut dikutip tim. Prevalensi prediabetes pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun di Indonesia mencapai 10,8 persen. Penyandang diabetes tipe 2 di Indonesia tercatat 19,5 juta orang pada 2024 dan diperkirakan menjadi 28,5 juta orang pada 2045.
Minuman Rasa Susu di Urutan Teratas
Di daftar minuman para siswa, satu jenis menonjol. Minuman rasa susu diminum 132 dari 146 responden, atau 90,4 persen, sehingga menjadi minuman berpemanis yang paling sering dikonsumsi. Kopi menyusul dengan 117 responden, lalu teh dengan 115 responden. Minuman rasa buah dikonsumsi 110 siswa, minuman bersoda 87 siswa, dan minuman olahraga 74 siswa. Minuman energi berada di ujung paling bawah. Hanya 15 siswa, atau 10,2 persen, yang meminumnya. Paper menyebut pola serupa juga dilaporkan riset lain, termasuk pada remaja di Malaysia.
Baca juga Minuman Energi Lebih Sering Diminum Orang Jepang Ekstrovert
Seberapa sering minuman itu diminum juga dicatat. Frekuensinya berkisar satu sampai delapan kali seminggu, dengan median tiga kali. Sebanyak 101 siswa tergolong berfrekuensi rendah, yaitu kurang dari tiga kali seminggu, sedangkan 45 siswa tergolong berfrekuensi tinggi, tiga kali seminggu atau lebih. Di Kota Jayapura, riset terdahulu yang dirujuk paper menemukan 63 persen remaja juga berada di kelompok konsumsi rendah. Namun rata-rata konsumsi di sana lima sampai enam kali seminggu. Median di Jember, tiga kali seminggu, lebih rendah dari angka itu.
Jumlah gula dari minuman itu dihitung terpisah. Asupannya berkisar dari 10,32 sampai 72,39 gram per hari. Sebanyak 105 siswa berada di bawah 50 gram per hari, sementara 41 siswa masuk kategori berlebih, yakni 50 gram per hari atau lebih.
Paper juga menjelaskan jenis gula yang lazim dipakai dalam minuman berpemanis, yaitu sirup jagung tinggi fruktosa. Menurut tim, konsumsi yang meningkat dapat menaikkan kadar gula darah. Salah satu jalannya adalah lipogenesis de novo, proses yang mengubah kelebihan fruktosa menjadi asam lemak.
Layar Ponsel dan Laptop
Di antara kebiasaan duduk para siswa, layar menempati urutan teratas. Penggunaan ponsel, komputer, atau laptop untuk hiburan, seperti bermain gim daring dan bermedia sosial, rata-rata menyita 4,3 jam per hari. Itu perilaku sedenter yang paling menonjol di antara para responden. Di urutan berikutnya ada duduk-duduk santai, mengobrol dengan teman, atau bertelepon, rata-rata 3,4 jam per hari. Mengikuti les menyita 2,5 jam, mengerjakan kerajinan atau hobi 2,2 jam, dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan maupun tanpa komputer masing-masing 2,1 jam.
Perjalanan dengan mobil, bus, kereta, sepeda, atau sepeda motor tercatat dua jam per hari. Membaca untuk hiburan 1,9 jam, menonton video 1,7 jam, menonton televisi 1,2 jam, dan bermain alat musik 1,1 jam. Kegiatan ibadah berada paling bawah dengan 0,8 jam per hari.
Bila semua kegiatan itu digabung, median lama duduk siswa adalah 4,57 jam per hari, dengan rentang 1,09 sampai 8,15 jam. Hanya 10 siswa yang tergolong rendah, kurang dari dua jam per hari. Sebanyak 84 siswa tergolong sedang, sedangkan 52 siswa tergolong tinggi, lima jam per hari atau lebih.
Di Jombang, riset yang dirujuk paper menemukan pola yang mirip, yaitu 54,55 persen remaja di kategori sedang dan 39,34 persen di kategori tinggi. Paper juga mencatat bahwa bermain gim dan menonton konten yang memikat di media sosial dapat mengurangi motivasi remaja untuk bergerak.
Baca juga Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari
Angka di Glukometer
Ketika kebiasaan itu disandingkan dengan hasil glukometer, polanya mulai terlihat. Dari 22 siswa prediabetes, 17 berasal dari kelompok berfrekuensi minum minuman berpemanis tinggi, atau 11,7 persen dari seluruh responden. Lima lainnya berasal dari kelompok berfrekuensi rendah. Uji Spearman menunjukkan hubungan yang bermakna antara frekuensi minum minuman berpemanis dan prediabetes, dengan nilai p kurang dari 0,001. Koefisien korelasinya 0,424, yang oleh tim disebut hubungan positif berkekuatan sedang. Menurut tim, artinya makin sering minuman itu diminum, makin tinggi kadar gula darah puasa.
Jumlah gula memberi gambaran serupa, tetapi lebih lemah. Sebanyak 13 siswa prediabetes berasal dari kelompok asupan gula berlebih dan 9 dari kelompok di bawah 50 gram per hari. Hubungannya bermakna dengan p kurang dari 0,001, tetapi koefisiennya 0,291, yang disebut hubungan positif lemah.
Lama duduk diuji dengan cara yang sama. Sebanyak 20 siswa prediabetes berasal dari kelompok sedenter tinggi, dua dari kelompok sedang, dan tidak satu pun dari kelompok rendah. Koefisien korelasinya 0,467 dengan p kurang dari 0,001, hubungan positif berkekuatan sedang.
Paper menguraikan dugaan jalannya. Asupan gula yang berulang dapat memicu lonjakan gula darah dan beban metabolik pada pankreas. Perilaku sedenter dapat mengurangi kerja enzim lipoprotein lipase, yang bergantung pada gerak dan kontraksi otot, sehingga pemakaian gula dan lemak oleh sel ikut menurun.
Remaja Kota dan Remaja Desa
Menurut tempat tinggal, sebaran siswa prediabetes tidak sama. Delapan belas siswa prediabetes tinggal di perkotaan, sedangkan empat siswa tinggal di perdesaan. Dalam tabel paper, keduanya setara 12,3 persen dan 2,8 persen dari seluruh 146 responden. Namun uji Mann-Whitney memberi nilai p 0,531. Menurut tim, angka itu menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dalam kejadian prediabetes antara remaja perkotaan dan perdesaan. Perbedaan karakteristik wilayah tidak berpengaruh bermakna pada kadar gula darah puasa responden.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Paper menyebut faktor geografis bukan penentu utama keadaan metabolik remaja. Yang lebih berpengaruh, menurut tim, adalah gaya hidup, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Paper juga mengutip pola serupa dari Organisasi Kesehatan Dunia, yakni prevalensi 7,3 persen di masyarakat perkotaan dan 3,1 persen di perdesaan.
Sekolah dan Puskesmas
“Konsumsi minuman berpemanis dan perilaku sedenter berhubungan signifikan dengan prediabetes pada remaja, sedangkan perbedaan karakteristik geografis tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kadar glukosa darah puasa,” tulis Lorenza, Ningtyias, dan Handayani, dalam terjemahan bebas. Dari temuan itu, tim menyarankan skrining dini prediabetes pada remaja oleh sektor kesehatan dan sekolah. Pemantauannya difokuskan pada konsumsi minuman berpemanis dan perilaku sedenter. Pencegahan, menurut paper, dapat dilakukan lewat edukasi gizi, pembatasan akses minuman tinggi gula, dan peningkatan aktivitas fisik.
Data penelitian ini berasal dari 146 siswa di sembilan SMA pada wilayah kerja Puskesmas Jember Kidul dan Puskesmas Lojejer, yang dikumpulkan dengan desain potong lintang pada Maret dan April 2025.















