- Pasien hipertensi paling banyak pergi ke toko obat swasta, yaitu 42,7 persen, disusul klinik swasta 34,5 persen.
- Dari setiap 100 taka yang dikeluarkan pasien hipertensi, hampir 63 taka habis untuk obat, atau 817 taka sebulan.
- Setelah faktor lain diperhitungkan, biaya langsung hipertensi di fasilitas pemerintah 54 persen lebih rendah daripada di toko obat.
- Dua penyakit dalam satu tubuh berarti pengeluaran hampir tiga kali pasien hipertensi saja.
Daftar Isi
Di desa-desa Dinajpur, Bangladesh, ada tempat berobat yang lebih kecil daripada klinik. Bentuknya apotek atau toko obat setempat, yang terutama menyediakan obat dan nasihat kesehatan informal, sering kali tanpa dokter yang berjaga penuh waktu. Ke tempat seperti itulah paling banyak pasien darah tinggi di sana pergi. Hampir 43 dari setiap 100 pasien hipertensi menyebutnya sebagai sumber perawatan mereka.
Gambaran itu dicatat Baby Naznin, M M Fardeen Kabir, Wubin Xie, Zahidul Quayyum, Tanmoy Sarker, Ali Ahsan, Md. Mokbul Hossain, Aysha Anan, Mst. Jakia Sultana, Lora L. Sabin, Brian Oldenburg, John Chambers, dan Malay Kanti Mridha. Tulisan mereka berjudul Cost of diabetes and hypertension care among patients in rural Bangladesh: a cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 806 tahun 2026.
Yang mereka hitung adalah uang yang keluar dari kantong pasien setiap bulan. Ada 832 orang berusia 40 tahun ke atas yang ditanyai di tiga subdistrik, yakni Biral, Parbatipur, dan Chirirbandar, pada Januari sampai Maret 2024. Sebanyak 635 orang sedang minum obat hipertensi dan 335 orang minum obat diabetes. Di antara mereka, 138 orang menanggung dua penyakit itu sekaligus.
Dinajpur berada di Divisi Rangpur, yang menurut para penulis termasuk divisi termiskin di Bangladesh. Biral digambarkan sebagai wilayah agraris, Parbatipur semi-urban, dan Chirirbandar cukup pedesaan. Hampir separuh pasien hipertensi berusia 60 tahun ke atas, lebih dari separuh pasien di kedua kelompok adalah perempuan, dan sekitar delapan dari sepuluh bekerja sendiri atau mengurus rumah tangga.
Toko obat di desa
Peta tempat berobat kedua penyakit itu tidak sama. Pasien hipertensi paling banyak pergi ke toko obat swasta, yaitu 42,7 persen, disusul klinik swasta 34,5 persen. Fasilitas pemerintah hanya dipakai 14,5 persen pasien, dan fasilitas milik lembaga swadaya masyarakat 8,4 persen. Artinya, lebih dari tiga perempat pasien darah tinggi berobat ke penyedia swasta.
Pasien diabetes punya urutan lain. Fasilitas lembaga swadaya masyarakat berada di tempat pertama dengan 30,8 persen, lalu toko obat swasta 26,6 persen dan klinik swasta 25,4 persen. Fasilitas pemerintah, yang mencakup rumah sakit dan pusat kesehatan milik negara, tetap berada di urutan bawah dengan 17,3 persen.
Toko obat punya satu keunggulan yang terbaca dari angka waktu. Biaya tak langsung, yaitu nilai waktu yang hilang karena perjalanan, menunggu, dan diperiksa, paling rendah di sana: 73 taka sebulan untuk pasien hipertensi dan 92 taka untuk pasien diabetes. Para penulis menyebut hal itu wajar karena toko obat dekat dari rumah dan waktu tempuhnya lebih pendek.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Isi kantong pasien
Berapa yang keluar dari kantong? Rata-rata 1.305 taka Bangladesh sebulan untuk hipertensi, setara 11 dolar Amerika Serikat. Untuk diabetes, angkanya 2.043 taka atau 17 dolar. Menurut para penulis, pengeluaran itu kira-kira 5 sampai 8 persen dari pendapatan bulanan median rumah tangga pedesaan.
Obat memakan bagian terbesar. Dari setiap 100 taka yang dikeluarkan pasien hipertensi, hampir 63 taka habis untuk obat, atau 817 taka sebulan. Pada diabetes, porsinya 61 persen, senilai 1.237 taka. Pemeriksaan penunjang menyusul di tempat kedua, yakni 177 taka pada hipertensi dan 321 taka pada diabetes.
Ongkos bertemu tenaga kesehatan justru kecil. Biaya konsultasi rata-rata hanya 59 taka sebulan untuk hipertensi dan 63 taka untuk diabetes. Jika digabung dengan pendaftaran, pemeriksaan, dan obat, biaya medis langsung mencapai 1.062 taka pada hipertensi dan 1.644 taka pada diabetes, kira-kira empat perlima dari seluruh pengeluaran.
Di luar itu ada ongkos jalan dan makan. Pasien hipertensi mengeluarkan 54 taka untuk perjalanan dan 70 taka untuk makan, sedangkan pasien diabetes 75 taka dan 151 taka. Pemberian informal seperti hadiah dan tip hanya 4 taka di kedua kelompok. Seluruh biaya nonmedis itu sekitar sepersepuluh dari total.
Lalu ada waktu. Pasien diabetes kehilangan rata-rata 94 menit sebulan untuk berobat, yang dinilai setara 150 taka, sementara pasien hipertensi kehilangan 64 menit atau 102 taka. Waktu pendamping yang ikut mengantar bernilai lebih kecil lagi, 19 taka dan 13 taka. Semua itu membentuk 8 sampai 9 persen dari biaya total.
“Perawatan diabetes jelas lebih mahal daripada hipertensi, kemungkinan mencerminkan kerumitan pengobatan dan pola pencarian layanan,” tulis Naznin dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Selisihnya terlihat di hampir setiap pos, dari obat sampai makan di perjalanan.
Fasilitas pemerintah dan klinik swasta
Dari toko obat, perbandingan bergeser ke tiga tempat berobat lain. Di fasilitas pemerintah, biaya langsung pasien hipertensi rata-rata 602 taka sebulan dan pasien diabetes 512 taka. Di klinik swasta, angkanya 1.624 taka dan 3.227 taka. Fasilitas lembaga swadaya masyarakat berada di antaranya, sekitar 1.550 taka untuk kedua penyakit.
Toko obat swasta sendiri menghasilkan biaya langsung 976 taka pada hipertensi dan 1.918 taka pada diabetes. Setelah faktor lain diperhitungkan, biaya langsung hipertensi di fasilitas pemerintah 54 persen lebih rendah daripada di toko obat. Pada diabetes, selisihnya lebih lebar lagi: 85 persen lebih rendah.
Arah sebaliknya terjadi pada dua tempat lain. Dibandingkan dengan toko obat, biaya langsung hipertensi di fasilitas lembaga swadaya masyarakat 108 persen lebih tinggi, dan di klinik swasta 34 persen lebih tinggi. Para penulis merangkum bahwa pasien klinik swasta atau fasilitas lembaga swadaya menanggung biaya langsung dua sampai enam kali pasien fasilitas pemerintah.
Mengapa orang tidak ramai-ramai ke fasilitas pemerintah, yang memberi konsultasi dan obat secara gratis atau bersubsidi? Naskah menyebut tiga hal di sana: kepadatan, ketersediaan obat yang terbatas, dan jam buka yang pendek. Ada pula harga waktu. Biaya tak langsung pasien hipertensi di fasilitas pemerintah 99 persen lebih tinggi daripada di toko obat, dan pada diabetes 134 persen lebih tinggi.
“Meskipun beban keuangan dari penyedia swasta lebih tinggi, sebagian besar pasien dalam studi kami mengandalkan toko obat dan klinik swasta, yang menegaskan terbatasnya ketersediaan, keterjangkauan, atau mutu layanan sektor publik sebagaimana dipersepsikan,” tulis Naznin, Kabir, Xie, Quayyum, dan rekan-rekan mereka. Kalimat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Bangku sekolah dan harta rumah tangga
Di dalam rumah tangga, pola lain muncul. Makin tinggi sekolah seorang pasien, makin besar biaya berobatnya. Pasien hipertensi tanpa sekolah formal mengeluarkan biaya langsung 638 taka sebulan, lulusan sekolah dasar 1.174 taka, dan lulusan sekolah menengah atau lebih tinggi 1.903 taka. Pada diabetes, urutannya 896 taka, 1.661 taka, dan 3.357 taka.
Harta rumah tangga bergerak searah. Pasien hipertensi dari kelompok paling miskin mengeluarkan 752 taka, sedangkan kelompok paling berada 1.485 taka. Pasien yang bekerja atau sudah pensiun menanggung 2.539 taka, jauh di atas 1.048 taka pada mereka yang bekerja sendiri atau mengurus rumah tangga. Setelah disesuaikan, selisih itu 77 persen.
Laki-laki juga membayar lebih. Biaya langsung hipertensi pasien laki-laki 1.495 taka, pasien perempuan 950 taka. Pada diabetes, 2.130 taka berbanding 1.693 taka. Pasien yang menikah pun mengeluarkan lebih banyak daripada yang tidak, yakni 1.254 taka berbanding 919 taka pada hipertensi.
Para penulis membaca pola itu dengan hati-hati. Biaya yang lebih tinggi pada kelompok berpendidikan dan berada, menurut mereka, kemungkinan mencerminkan kemampuan membayar, kesadaran akan penyakit penyerta, dan pemakaian penyedia swasta termasuk layanan spesialis. Sebaliknya, pasien miskin mungkin menunda berobat atau memilih penyedia murah, sehingga pengeluarannya kecil tetapi kesehatannya bisa terkorbankan.
Jantung dan kolesterol
Penyakit jarang datang sendiri. Pasien hipertensi yang juga punya penyakit kardiovaskular mengeluarkan biaya langsung 1.820 taka sebulan, sedangkan yang tidak 1.084 taka. Kolesterol tinggi menaikkan angkanya lebih jauh, menjadi 2.637 taka berbanding 1.032 taka. Setelah disesuaikan, penyakit kardiovaskular berkaitan dengan biaya 78 persen lebih tinggi dan kolesterol tinggi 116 persen lebih tinggi.
Pola serupa tampak pada diabetes. Pasien dengan penyakit kardiovaskular mengeluarkan 2.984 taka, tanpa penyakit itu 1.804 taka. Dengan kolesterol tinggi 3.223 taka, tanpa kolesterol tinggi 1.710 taka. Naznin dan rekan-rekannya menyebut hal ini sesuai dugaan, karena pasien perlu pemantauan lebih sering dan obat tambahan.
Beban terberat jatuh pada mereka yang menanggung hipertensi dan diabetes sekaligus. Rata-rata biaya total kelompok itu 2.596 taka sebulan. Pasien yang hanya mengidap diabetes mengeluarkan 1.691 taka, dan yang hanya mengidap hipertensi 950 taka. Dua penyakit dalam satu tubuh berarti pengeluaran hampir tiga kali pasien hipertensi saja.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Catatan pada naskah
Ada batas yang diakui para penulis. Semua angka biaya berasal dari ingatan pasien tentang 30 hari terakhir, sehingga bisa meleset. Daftar pertanyaannya belum divalidasi secara formal. Data diambil pada satu waktu, jadi kaitan antara biaya dan faktor-faktornya tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat. Jarak ke fasilitas kesehatan dan tingkat keparahan penyakit juga tidak terukur.
Wilayahnya pun hanya Dinajpur. Para penulis sendiri mengingatkan bahwa temuan ini belum tentu berlaku di kota atau di pedesaan lain yang sistem layanannya berbeda. Angka 1.305 taka dan 2.043 taka adalah potret tiga subdistrik, bukan potret Bangladesh.
Pembaca yang teliti akan menemukan dua hal kecil. Abstrak naskah menulis biaya bulanan 1.308 taka untuk hipertensi dan 2.064 taka untuk diabetes, sedangkan tabel dan uraian hasilnya menulis 1.305 taka dan 2.043 taka. Selain itu, bagian pembahasan menyebut obat sekitar 60 persen dari biaya medis langsung, padahal di tabel porsi itu dihitung terhadap biaya total.
Usulan para penulis kembali ke tempat-tempat tadi. Mereka meminta obat esensial hipertensi dan diabetes selalu tersedia di fasilitas pemerintah, layanan dibawa lebih dekat ke warga lewat pemeriksaan berbasis komunitas dan petugas kesehatan komunitas, serta penyedia swasta diatur lebih ketat dan dimasukkan ke jaringan rujukan. Semua itu mereka ajukan untuk Dinajpur dan wilayah yang serupa.
Sampai itu terjadi, toko obat kecil di desa tetap menjadi tujuan terdekat. Tempat yang sering tidak punya dokter penuh waktu itu menghemat waktu pasien, tetapi tidak menghemat uang sebanyak fasilitas pemerintah. Di sanalah sebagian besar dari 817 taka obat darah tinggi itu dibelanjakan setiap bulan.















