Nama Daun Ritual Tabib Mentawai Menyimpan Pesan Jangan Bersedih

A A

Seorang sikerei meramu obat dari tumbuhan hutan di tepi sungai Pulau Siberut, Mentawai [Foto: Andrian salis/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Potsaila berasal dari kata Mentawai baputsa yang berarti jangan bersedih, dipakai saat menyembelih hewan kurban.
  • Taireureu dan suggru-sunggru dipakai dalam ritual ternak supaya babi yang dilepas ingat pulang ke pemiliknya.
  • Takaran delapan helai tercatat dalam ramuan aileppet, pakasele, dan taligegeng yang dicatat dari para tetua.
  • Penulis menyebut ritual memakai daun kini sangat jarang dijumpai di Maileppet, Siberut Selatan.
Daftar Isi
  1. Tanda Bahasa: Bunyi Nama dan Gagasan di Baliknya
  2. Arat Sabulungan: Kepercayaan bahwa Segala yang Bernama Punya Roh
  3. Potsaila: Daun yang Berpesan Jangan Bersedih
  4. Pueruk sampai Suggru-sunggru: Nama Penjaga Rumah dan Ternak
  5. Delapan Helai: Angka yang Berulang dalam Ramuan Obat
  6. Empat Fungsi Nilai: Simpulan dan Batas Catatan Ini

Petanda dan penanda, dua istilah ilmu bahasa yang terdengar jauh dari hutan Siberut, sebetulnya bisa dijelaskan dengan sehelai daun. Daun itu bisa dicium, dilihat, dipegang, dan punya nama. Di balik nama itu ada gagasan yang dititipkan pemakainya. Di Maileppet, Siberut Selatan, gagasan itu berupa permohonan: jangan bersedih, ikhlaslah, pulanglah.

Daun-daun yang dimaksud adalah daun yang dipakai sikerei, sebutan bagi tabib dan pelaku ritual Mentawai, ketika menyembelih hewan kurban, membuka lahan, menempati rumah baru, atau mengobati orang sakit. Setiap daun punya nama dalam bahasa Mentawai. Nama itulah yang ditelusuri sebuah penelitian bahasa, satu per satu, sampai ke artinya.

Penelitian itu ditulis Amelia Yuli Astuti dan Mikael Roberto dari Fakultas Sastra Universitas Ekasakti. Judulnya Linguistic Signs of The Names of Leaves Used by Sikerei in Maileppet South Siberut Mentawai, terbit di Jurnal JILP (Jurnal Ilmiah Langue and Parole) Volume 7 Nomor 2 tahun 2024. Keduanya mewawancarai tiga tetua Maileppet pada 21 November 2022.

Tanda Bahasa: Bunyi Nama dan Gagasan di Baliknya

Kedua penulis berangkat dari pengertian tanda bahasa menurut Ferdinand de Saussure. Maksudnya begini: tanda bahasa bukan tali antara sebuah benda dan sebuah nama, melainkan antara pola bunyi dan konsep. Pola bunyi adalah kesan yang tertinggal di benak pendengar. Konsep adalah gagasan tentang sesuatu, bukan sesuatunya itu sendiri.

Paper itu mengutip perumpamaan Saussure bahwa bunyi dan pikiran tidak terpisahkan, seperti dua sisi selembar kertas. Dalam tabel-tabel penelitian ini, sisi pertama diisi nama daun dalam bahasa Mentawai. Sisi kedua diisi makna yang dijelaskan para tetua. Dari situlah susunan penelitiannya terbentuk: nama di kolom kiri, arti di kolom kanan.

Penulis menyebut bahasa berperan penting untuk menelusuri dan mempelajari budaya; lewat bahasa, tulis mereka, orang bisa mengenal budaya suatu masyarakat. Yang mereka telusuri di Maileppet adalah tanda, simbol, dan makna yang terkandung pada daun-daun ritual itu. Selain makna, mereka mencatat pula rupa daun yang dipakai dan untuk apa daun itu digunakan.

Arat Sabulungan: Kepercayaan bahwa Segala yang Bernama Punya Roh

Menurut Teteu Liggai, salah seorang tetua Maileppet yang diwawancarai, pemakaian daun dalam ritual adalah bagian dari Arat Sabulungan. Paper menjelaskannya sebagai kepercayaan orang Mentawai pada masa lampau, sebelum Islam, Katolik, dan agama lain masuk ke kepulauan itu. Intinya keyakinan pada keberadaan roh.

Segala sesuatu yang punya sebutan, tulis kedua peneliti, diyakini memiliki roh yang disebut simagre: manusia, hewan, tumbuhan, benda, bahkan gejala yang muncul sesaat seperti pelangi dan langit tanpa awan. Bagian dari sesuatu yang lebih besar pun demikian. Rumah sebagai satu kesatuan punya roh, begitu pula lantai, atap, dan balok-baloknya.

Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai

Tentang asal pengetahuan daun itu, Teteu Liggai menuturkan kisah leluhur yang disebut Sibalu-balu, yang berarti delapan. Kisahnya tentang satu keluarga dengan delapan anak yang memiliki pengetahuan tentang penyakit. Merekalah yang memberi tahu orang tuanya daun apa untuk penyakit apa. Sosok-sosok ini, menurut penuturan yang dicatat paper, hidup melayang di udara, tidak seperti manusia pada umumnya.

Kapan persisnya orang Mentawai mulai mengenal daun-daun itu, para tetua tidak tahu. Mereka hanya menyebut pengetahuan itu sudah lama sekali diwariskan dari leluhur. Di Maileppet, tulis peneliti, setiap ritual atau pengobatan tidak lepas dari daun yang ditanam di dekat rumah atau dicari di hutan.

Delapan nama daun ritual dan pesan yang dibawanyaDaftar delapan nama daun ritual sikerei di Maileppet beserta maknanya menurut paper.Delapan nama daun ritual dan pesan yangdibawanyaMakna menurut tetua Maileppet, Siberut SelatanPotsailaJangan bersedih: untuk hewan kurban, lahan, danrumah baruAileppetRasa damai, ikhlas: mengikuti pemakaian potsailaMumunenRasa senang bagi hewan buruan yang akan matiPuerukMemperbaiki tempat dari hal-hal burukAddurukBerkumpul: menjaga keluarga dan ternakPilokMengembalikan hal gaib yang merugikanBakgakMelawan hal gaib yang dikirim orangSikluMenangkal hal buruk dari roh jahat
Sumber: Amelia Yuli Astuti dan Mikael Roberto, Linguistic Signs of The Names of Leaves Used by Sikerei in Maileppet South Siberut Mentawai, Jurnal JILP (Jurnal Ilmiah Langue and Parole), 2024. Grafik: Cekricek.id

Potsaila: Daun yang Berpesan Jangan Bersedih

Nama pertama dalam daftar adalah potsaila. Menurut paper, asal namanya dari kata Mentawai baputsa, yang berarti jangan bersedih. Daun ini dipakai saat menyembelih hewan kurban dalam acara adat, ketika mendapat hasil buruan di hutan atau di laut, saat membuka lahan kebun atau lahan ternak babi, dan dalam ritual rumah sebelum ditempati.

Pesannya mengikuti namanya. Hewan yang dikurbankan diminta tidak bersedih karena disembelih. Lahan yang dibuka diharapkan baik, tanpa penyakit dan hama. Rumah yang ditempati diharapkan aman dan nyaman, tanpa gangguan yang membuat keluarga penghuninya tidak betah.

Aileppet disebut mengikuti pemakaian potsaila. Tabel penelitian menulis maknanya sebagai rasa damai ketika hewan disembelih, sedangkan uraian Teteu Eli Liggai menyebutnya ikhlas. Jadi hewan kurban, hasil buruan, lahan yang dibuka, dan rumah yang baru berdiri sama-sama diminta ikhlas supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Paper juga mencatat rupa daun ini. Warnanya agak cokelat kemerahan, batangnya tidak tinggi, tidak seperti pohon jambu biji atau pohon berbatang tinggi lain. Orang Maileppet biasa menanamnya dekat rumah atau di ladang, supaya mudah diambil ketika suatu hari dibutuhkan untuk upacara.

Lalu ada mumunen, yang maknanya rasa senang. Maksudnya, babi, monyet, rusa, atau hewan buruan lain diharapkan tetap senang walaupun akan mati. Daun-daun semacam ini, tulis penulis, dipakai dalam ritual sebelum menyembelih hewan kurban untuk suatu acara atau ketika mendapat hasil buruan di hutan.

Pueruk sampai Suggru-sunggru: Nama Penjaga Rumah dan Ternak

Kelompok nama berikutnya berurusan dengan gangguan. Pueruk, yang menurut paper berarti memperbaiki dalam bahasa Mentawai, dipakai untuk memulihkan suatu tempat dari hal-hal buruk, misalnya tempat yang dianggap berpenghuni roh jahat. Namanya menjadi tanda perbaikan keadaan.

Adduruk dimaknai berkumpul untuk menjaga keluarga atau ternak. Daun ini dipakai dalam ritual membersihkan rumah dan ritual memelihara ternak, biasanya di peternakan babi. Di rumah, tandanya menjaga keutuhan keluarga. Di kandang, artinya hewan tidak mati oleh wabah yang biasanya diyakini bersebab gaib.

Pilok bermakna mengembalikan. Yang dikembalikan adalah hal gaib yang merugikan, seperti yang membuat anggota keluarga sering sakit atau ternak mati satu per satu tanpa sebab. Bakgak bermakna melawan. Daun ini menjadi tanda perlawanan terhadap kiriman buruk dari orang lain, yang oleh penulis disamakan dengan apa yang kini dikenal sebagai guna-guna.

Baca juga Babi bagi Orang Mentawai Tak Tergantikan, Tengkoraknya Dijaga

Siklu berarti menangkal. Paper menulis daun ini menjauhkan orang Maileppet dari apa yang disebut Sipualinggou, dari yang menghantui, dan dari hal buruk akibat roh jahat. Engeu dicatat bermakna menyesali hal buruk yang akan menimpa, dan dipakai supaya roh jahat atau bencana yang hendak datang lenyap.

Sebagian daun dipakai dalam upacara yang oleh paper disebut masibit-bit lalep, yakni membersihkan rumah dari kiriman semacam guna-guna yang bisa membuat anggota keluarga jatuh sakit. Di luar sembilan daun utama, ada pula ka bebeiliat, yang tandanya membuat roh jahat malas mengganggu orang maupun babi peliharaan.

Dua nama lain ditujukan kepada hewan peliharaan. Taireureu dimaknai membuat cemas. Menurut Teteu Katarinus, daun ini dipakai dalam ritual ternak supaya hewan pulang setelah keluar mencari makan. Babi berangkat pagi, pulang sore, lalu tidur di kolong rumah panggung pemiliknya. Fungsi tandanya mengingatkan hewan untuk pulang.

Suggru-sunggru berarti berbalik. Paper menerangkan latarnya: dahulu babi di Maileppet dipelihara lepas, bukan di dalam kandang seperti yang dikenal sekarang. Daun ini menjadi tanda agar ternak tidak pergi jauh dan tidak lupa kembali, sehingga babi dan ayam selalu ingat pulang ke pemiliknya.

Kepercayaan di balik ritual ternak itu juga dicatat. Babi yang sesekali mati tanpa sebab, menurut paper, diyakini orang Maileppet diganggu roh jahat. Secara umum, daun-daun itu dipercaya dapat menyembuhkan, melawan, dan melindungi dari hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan orang Maileppet.

Delapan Helai: Angka yang Berulang dalam Ramuan Obat

Bagian akhir daftar berisi daun obat, lengkap dengan cara pakainya. Aileppet muncul lagi di sini, untuk sakit yang diyakini disebabkan roh jahat. Delapan helai aileppet merah dan putih dipukulkan ke tubuh si sakit, rantingnya dipatahkan lalu dimasukkan ke cangkir untuk diminum. Daunnya kemudian dicampur minyak manis di piring dan dioleskan ke badan.

Takaran delapan helai tercatat pula pada dua ramuan lain. Pakasele untuk sakit perut memakai delapan helai yang dimasukkan ke bambu, lalu delapan helai lagi dimasukkan dengan arah berlawanan. Taligegeng untuk sakit mata juga delapan helai, diseduh air panas di piring, ditunggu dingin, lalu dipakai membasuh mata.

Cakupan catatan daun sikerei dari MaileppetSembilan daun menjadi fokus, tiga tetua diwawancarai, dan takaran delapan helai tercatat di tiga resep obat.Cakupan catatan daun sikerei dari MaileppetWawancara 21 November 2022 di Siberut Selatan9daun jadi fokuspaling sering dipakai3tetua diwawancaraiLiggai, Katarinus,Karmilus8helai dauntakaran di tiga resepobatJalan risetnyaWawancara tetuaNama dicatatMakna diuraikanEmpat fungsinilai
Sumber: Amelia Yuli Astuti dan Mikael Roberto, Linguistic Signs of The Names of Leaves Used by Sikerei in Maileppet South Siberut Mentawai, Jurnal JILP (Jurnal Ilmiah Langue and Parole), 2024. Grafik: Cekricek.id

Kiniu dipakai untuk sakit kepala. Daunnya diremas, ditaruh di piring berisi air, ditunggu beberapa menit, lalu airnya diminum dan sisanya dipijatkan ke kepala. Untuk sakit kepala yang datang pagi dan reda sore, paper mencatat ramuan tiga daun: apela dan alumantei digiling, dicampur koput dan minyak manis, lalu diikatkan di kepala.

Bisul diobati dengan buluk sibalu, yakni daun baru yang dihaluskan lalu ditempelkan di atasnya. Sakit perut di sekitar pusar diobati repa-repa yang dihaluskan bersama daun kiniu dan minyak kelapa, kemudian dioleskan sambil dipijat. Mumunen pun punya sisi obat: dicampur daun zaitun, diseduh air panas dalam gelas, ditunggu dingin, lalu diminum.

Baca juga Nama Orang Bugis Diambil dari Padi, Hujan, dan Tanda Lahir

Empat Fungsi Nilai: Simpulan dan Batas Catatan Ini

Dalam simpulannya, kedua penulis menyatakan daun adalah wujud yang bisa dicium, dilihat, dipegang, dan dirasakan, sedangkan maknanya adalah konsep yang terkait dengannya. Mereka menyebut ada hubungan antara tanda-tanda bahasa itu dan kehidupan orang Mentawai di Maileppet. Nilai yang dikandungnya mereka golongkan ke dalam empat fungsi: nilai kehidupan sehari-hari, kontrol sosial, hukum, dan religius.

Penulis juga menyampaikan kekhawatiran. Ritual yang memakai daun-daun ini, tulis mereka, kini sangat jarang dijumpai di Maileppet, dan banyak anak muda Mentawai melupakan budayanya. Penelitian ini mereka niatkan sebagai salah satu cara mengingatkan. “Budaya adalah kekayaan yang dimiliki setiap daerah dan harus dilestarikan,” tulis Amelia Yuli Astuti dan Mikael Roberto dalam kalimat yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Batas catatan ini mereka sebut sendiri. Penelitian hanya dilakukan di Maileppet, walau pemakaian daun dalam ritual disebut ada pula di pulau lain di Mentawai. Fokusnya sembilan daun yang menurut Teteu Eli Liggai paling sering dipakai. Narasumbernya tiga tetua, yakni Teteu Eli Liggai, Teteu Katarinus, dan Teteu Karmilus, yang dipilih karena dianggap memahami arti nama-nama itu.

Tidak semua pertanyaan terjawab pada kali pertama. Ketika ditanya sejak kapan daun dipakai sebagai media ritual, Teteu Katarinus hanya menjawab bahwa daun itu sudah lama digunakan, lalu menyarankan peneliti bertanya kepada tetua yang lebih paham. Penulis menyebut penelitiannya masih punya kekurangan dan berharap peneliti berikutnya memakainya sebagai rujukan untuk mencari jawaban bersama.

Kepada masyarakat Mentawai, khususnya di Maileppet, kedua penulis menyarankan adanya upaya melestarikan nilai yang terkandung dalam budaya ini. Nilai itu, tulis mereka, masih bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam cara memperlakukan tanah, hutan, dan hewan yang diberikan Tuhan sebagai sumber kehidupan. Potsaila, daun yang namanya berarti jangan bersedih, termasuk di dalamnya.

Bagikan

Baca Juga

Ladang Suku Arfak yang Diistirahatkan Lebih Subur di Tanah Liat
Pendapatan Suku Akit di Meranti Paling Terkait Utang Kecil
Anak Muda Muna Membawa Nyanyian Kantola ke Layar Ponsel
Rumah Panjang Sungai Utik, Tempat Anak Iban Belajar dari Tetua
Nyanyian Makalelon Minahasa Menitipkan Pesan Ibu bagi Perantau
Larangan Khitbah di Dusun Sade, Merariq Dijaga sebagai Identitas