- Houthi mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Riyadh dengan rudal balistik dan drone.
- Juru bicara koalisi pimpinan Saudi Turki al-Maliki menyebut klaim itu menyesatkan.
- Koalisi menyatakan melakukan 97 operasi penargetan terhadap bala bantuan Houthi di Tor al-Baha dan Taiz.
Cekricek.id — Kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang fasilitas Aramco di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, saat pertempuran antara kelompok yang bersekutu dengan Iran itu dan pemerintah Yaman dukungan Saudi kian sengit.
Dalam pernyataan di X pada Sabtu, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya melancarkan “operasi militer dengan rudal balistik dan drone” yang menyasar Aramco di Riyadh, menurut laporan Al Jazeera, Minggu (4/10/2026). Ia mengklaim serangan itu “tepat dan langsung” serta “memicu kebakaran” di lokasi. Kepulan asap besar dan api terlihat membubung di dekat fasilitas Aramco di Riyadh pada Sabtu.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman, Turki al-Maliki, kemudian menyebut klaim Houthi soal sasaran di Riyadh “menyesatkan”, dalam pernyataan yang dimuat media Saudi.
Minggu dini hari, koalisi menyatakan angkatan bersenjatanya melakukan 97 “operasi penargetan presisi” terhadap bala bantuan Houthi di front Tor al-Baha dan poros Taiz, memakai pesawat tempur, drone, artileri, rudal, dan penembak jitu. Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nazili, mengatakan serangan itu menyasar “sedikitnya 260 petempur Houthi dan menghancurkan atau melumpuhkan 44 kendaraan militer”.
Akhir bulan lalu, Houthi menyatakan menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, pelabuhan Laut Merah di pesisir barat Arab Saudi. Saudi saat itu menyatakan mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan ke arah Taif dan Yanbu dan melaporkan tidak ada kerusakan di lokasi Aramco. Pekan ini, koalisi juga menyebut Houthi menyerang pembangkit listrik di kota suci Madinah pada Selasa.
Pertempuran meningkat sejak gencatan senjata rapuh 2022 runtuh pada Juli. Pertengahan September, Houthi merebut kota pelabuhan Mocha dan pulau-pulau strategis di Selat Bab al-Mandeb, jalur vital pengiriman minyak dunia, sebelum pasukan anti-Houthi menstabilkan garis depan. Ratusan ribu orang mengungsi sejak pertempuran kembali pecah.















