- Hampir separuh pemanggang injera di Addis Ababa sakit akibat panas.
- Jarak tubuh mereka ke sumber panas hanya sekitar 20 sentimeter.
- Di pusat pemanggangan, ambang itu terlampaui dari pukul 10.00 sampai 16.00.
- Tidak adanya air minum dingin menaikkan peluang 4,3 kali.
Daftar Isi
Hampir separuh pemanggang injera di Addis Ababa sakit akibat panas. Angkanya 46,1 persen, sedangkan pada pekerja pasar di dekatnya hanya 9,7 persen. Beban panas di tempat mereka memanggang juga melampaui ambang internasional sepanjang pukul 10.00 sampai 16.00.
Temuan itu ditulis Belay Gezahegn, Meaza Gezu Shentema, Samson Wakuma Abaya, Walelign Erkalo, Mulugeta Ayalew Eshete, dan Abera Kumie Takele. Judulnya Heat stress and illness among injera baking workers in Addis Ababa. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1153 tahun 2026.
Lima penulis bernaung di School of Public Health, Addis Ababa University, Etiopia. Eshete berasal dari Mizan Aman College of Health Science. Mereka membandingkan 309 perempuan pekerja di subkota Lemi Kura pada 17 Februari sampai 2 Maret 2025.
Injera dan mitad
Injera adalah makanan pokok jutaan orang di Etiopia. Ia dipanggang di atas wajan tanah liat panas bernama mitad, yang memancarkan panas radiasi kuat. Hampir semua pekerja di sektor ini perempuan, dan mereka sering bekerja di ruang tertutup atau setengah tertutup berventilasi buruk.
Penulis menyoroti sisi gender pekerjaan ini. Menurut mereka, ketimpangan dalam keselamatan kerja, akses layanan kesehatan, dan pengambilan keputusan membuat kerentanan pekerja perempuan patut diperhatikan khusus. Sarana pendingin di tempat kerja mereka juga terbatas.
Kajian panas di tempat kerja sudah ada untuk pekerja kebun bunga, dapur, dan pabrik. Namun, menurut penulis, belum ada riset terbit yang khusus menakar tekanan panas pada pemanggang injera. Celah itu yang hendak mereka isi.
Gudang besi Lemi
Lemi Injera Baking Centre berdiri pada 2023 sebagai fasilitas produksi pangan skala besar. Bangunannya berupa gudang logam dari lembaran besi tebal, tempat lebih dari 490 pekerja memanggang injera. Kompor listrik berjajar berdekatan di dalamnya.
Tiap pekerja biasanya mengurus tiga kompor sekaligus. Jarak tubuh mereka ke sumber panas hanya sekitar 20 sentimeter. Kebanyakan bekerja mandiri atau informal dengan upah borongan, sehingga bayaran bergantung pada jumlah injera yang dihasilkan.
Giliran kerjanya panjang dan terus-menerus, mengikuti permintaan pelanggan. Bebannya tergolong sedang sampai berat karena tangan bergerak berulang, badan sering membungkuk, dan pekerja lama berdiri di dekat panas radiasi. Pekerja sendiri menyebut tugasnya berat secara fisik dan melelahkan.
Sistem ventilasi pembuangan sebenarnya terpasang, tetapi tidak berfungsi. Manajemen menghentikan pemakaiannya karena dianggap mengubah kualitas. Bukaan alaminya kecil, salah letak, dan tidak searah dengan angin timur, sehingga panas menumpuk.
Air minum datang dari truk tangki keliling yang tidak selalu ada, sehingga sebagian pekerja membawa air dari rumah. Toilet dan tempat cuci tangan yang bersih juga kurang. Kebanyakan pekerja memakai pakaian kerja berlapis, termasuk seragam ganda yang menghambat pelepasan panas.
Pasar sebagai pembanding
Pembandingnya Local Market Centre di subkota yang sama, dengan lebih dari 500 pekerja. Pasar itu semi-terbuka, kiosnya lebar, dan teduh tanpa peralatan penghasil panas. Pekerjanya memilah, memajang, dan mengangkut barang sambil melayani pembeli.
Bebannya ringan sampai sedang. Saat jam terpanas, pembeli sepi sehingga kerja siang pun lebih ringan. Air minum juga lebih terjamin, sering dari toko sekitar atau dibawa dari rumah, dan pakaiannya umumnya katun yang mendukung kenyamanan termal.
Menurut penulis, kedua kelompok sebanding dari segi umur, pendidikan, dan status perkawinan. Keduanya didominasi perempuan dengan latar sosial ekonomi yang mirip. Perbedaan utamanya ada pada sumber panas di tempat kerja.
Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit
Panas melewati ambang
Beban panas diukur dengan indeks WBGT. Nilai tengahnya selama jam kerja di pusat pemanggangan 25 derajat Celsius, dengan rentang 20,8 sampai 32,4. Di pasar, nilai tengahnya 19,5 derajat dengan rentang 13 sampai 22.
Pada giliran siang, angka di pusat pemanggangan naik dari 20,8 derajat pukul 08.00. Puncaknya 32,4 derajat pukul 11.00, lalu 32,3 derajat pukul 12.00. Pukul 13.00 angka turun lebih nyata karena pemanggangan berhenti.
Setelah itu angka naik lagi ke 31,1 derajat pukul 15.00. Menjelang pukul 17.00, angkanya turun perlahan ke 25,2 derajat. Pola di pasar lebih landai, dari 13 derajat pukul 08.00 ke puncak 22 derajat pukul 13.00.
Ambang ACGIH untuk kerja sedang adalah 28,5 derajat. Di pusat pemanggangan, ambang itu terlampaui dari pukul 10.00 sampai 16.00. Penulis mengaitkan puncak siang dengan suhu luar yang naik, sinar matahari, dan panas yang menumpuk di dalam ruangan.
Giliran malam lebih rendah. Puncaknya 27,4 derajat pukul 22.00, saat pemanggangan paling cepat dan staf lengkap. Titik terendah 21,3 derajat tercatat tengah malam, ketika pemanggangan berhenti, lalu angka naik lagi hingga pukul 03.00.
Dengan beban sedang dan angka di atas 28,5 derajat, pekerja semestinya mendapat 25 persen istirahat tiap jam. Anjuran standar ACGIH itu berlaku antara pukul 10.00 dan 16.00. Tujuannya menjaga suhu inti tubuh di bawah 38 derajat.
Keringat dan lelah
Seorang pekerja dihitung sakit akibat panas bila mengalami sedikitnya empat gejala saat bekerja di waktu panas dalam 12 bulan terakhir. Gejalanya antara lain keringat berlebih, lelah, kram otot, sakit kepala, mual, pusing, atau pingsan. Dengan batas itu, 71 pemanggang atau 46,1 persen tergolong sakit akibat panas, sedangkan di pasar 15 orang atau 9,7 persen. Risiko relatifnya lebih dari 4,7 kali.
Keluhan paling umum pada pemanggang adalah keringat berlebih, 85,7 persen, disusul lelah, 80,5 persen. Di pasar, angkanya 28,4 persen dan 49,7 persen. Pekerja pasar justru lebih banyak mengeluh lelah ketimbang berkeringat.
Selisih besar juga tampak pada gejala lain. Kram otot dialami 42,9 persen pemanggang dan 7,1 persen pekerja pasar, sedangkan sakit kepala 46,1 persen berbanding 12,3 persen. Mual atau muntah dilaporkan 34,4 persen pemanggang dan 8,4 persen pekerja pasar.
Jantung berdebar dialami 26,6 persen pemanggang dan bingung 13,6 persen. Pingsan jarang, 6,5 persen, dan tidak tercatat pada pekerja pasar. Penulis menduga perbedaan ini lahir dari paparan panas radiasi yang lama dan langsung di dekat kompor.
Empat faktor terkait
Setelah faktor lain diperhitungkan, bekerja di pusat pemanggangan berkaitan paling kuat dengan sakit akibat panas. Peluangnya 13,2 kali pekerja pasar. Rentang kepercayaannya lebar, dari 3,4 sampai 50,7.
Tidak adanya air minum dingin menaikkan peluang 4,3 kali. Istirahat yang tidak cukup menaikkan peluang 3,5 kali. Minum kurang dari tiga liter sehari berkaitan dengan peluang 3,9 kali.
Semua angka itu menunjukkan keterkaitan, bukan sebab-akibat. Riset ini memotret pekerja pada satu waktu, bukan mengikuti mereka dari sehat hingga sakit. Jam kerja lebih dari delapan jam, kipas angin, pakaian tebal, umur, dan indeks massa tubuh tidak bermakna setelah penyesuaian.
Penulis menyandingkan temuan dengan studi di pabrik aluminium dekat Addis Ababa. Di sana, pekerja pabrik punya peluang hampir sepuluh kali kelompok pembanding. Riset lain di industri mencatat peluang lima kali pada peminum kurang dari tiga liter.
Lembaga NIOSH menganjurkan asupan cairan 5,7 sampai 9,5 liter sehari bagi pekerja di lingkungan panas. Kurang minum, menurut penulis, mengganggu kemampuan tubuh mengatur suhunya. Karena itu, akses air minum mereka sebut langkah pencegahan yang vital.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
“Pekerja pemanggang injera terpapar tingkat panas yang secara bermakna lebih tinggi daripada pekerja pasar lokal,” tulis Gezahegn dan kawan-kawan dalam kesimpulan berbahasa Inggris. Mereka mendesak intervensi di tempat kerja untuk menekan paparan panas serta memperbaiki kebiasaan minum dan istirahat. Usulan mereka mencakup jadwal kerja dan istirahat yang lebih tertata, akses air, serta edukasi pekerja. Ketiganya ditujukan untuk menekan risiko sakit akibat panas di tempat kerja.
Batas riset
Penulis mengakui beberapa keterbatasan. Gejala dilaporkan sendiri oleh pekerja, sehingga ingatan yang keliru atau keinginan menjawab sesuai harapan bisa membuat gejala terlapor lebih banyak atau lebih sedikit. Semua peserta juga perempuan di pekerjaan informal yang terpisah menurut gender.
Peran mengasuh, kerentanan ekonomi, atau ketidakpastian kerja bisa ikut memengaruhi paparan dan laporan gejala. Riset juga hanya di satu kota dan satu industri. Hasilnya belum tentu berlaku untuk wilayah, iklim, atau kelompok kerja lain.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Catatan pada naskah
Jumlah peserta tidak konsisten. Abstrak menyebut 159 pemanggang dan 150 pekerja pasar. Tabel 1 dan Tabel 3 justru berjumlah 154 pemanggang dan 155 pekerja pasar.
Tabel 3 memuat angka yang arahnya berlawanan. Proporsi sakit akibat panas pada peminum kurang dari tiga liter 15,7 persen, lebih rendah dari 30,2 persen pada peminum tiga liter ke atas. Namun, rasio peluangnya tetap dilaporkan 2,33 dan 3,9.
Tafsir angka 3,9 itu pun berbeda. Bagian hasil menyebutnya lebih dari tiga kali, sedangkan pembahasan menyebutnya lebih dari dua kali. Pembahasan juga menyebut prevalensi 46,1 persen jauh lebih rendah dari studi pabrik baja dan Pepsi-Cola, yakni 83,9 dan 12,6 persen. Padahal 46,1 persen lebih tinggi dari 12,6 persen.
Di Lemi, gudang besi dan tiga kompor per orang mendorong panas melewati ambang setiap siang. Hampir separuh pemanggangnya merasakan akibatnya.














