- Hasilnya, 168 dari 183 pengajuan, atau 92 persen, berisi keberatan terhadap pembangunan gerai tersebut.
- Tanggapan dewan untuk semua pengajuan sama: tidak perlu perubahan.
- Wawancara pascapembangunan memperlihatkan bahwa pengalaman warga mencerminkan semua persoalan yang dulu mereka ramalkan.
- Karena itu, menurut naskah, edukasi harus dilengkapi reformasi struktural.
Daftar Isi
- Trapp 2021 dan 2023: gerai yang mendekati sekolah
- Desember 2021: 183 surat untuk dewan kota
- Desember 2023: kabar yang datang lewat papan nama
- Januari–Mei 2024: dugaan yang menjadi keseharian
- Nutrition Decadal Plan 2019: ketika edukasi tidak cukup
- Keeble 2019: peta jalan dari Inggris
- Catatan pada naskah Giglia dan rekan
Selama bertahun-tahun, lingkungan pangan kota modern makin dipenuhi gerai cepat saji, terutama di kawasan kurang beruntung di sekitar sekolah. Di Australia, gelombang itu terus bergerak: sepanjang 2023 saja, 227 gerai rantai cepat saji dan restoran saji cepat baru dibuka, termasuk 25 gerai McDonald’s. Perusahaan itu bahkan menyatakan ingin sebagian besar warga Australia tinggal tak lebih dari lima menit berkendara dari salah satu gerainya.
Satu gerai dari gelombang itu, di pinggiran kota Perth, Australia Barat, menjadi bahan kajian Roslyn Giglia, Jacinta Francis, Jana Buckle, Clare Whitton, Ros Sambell, Frith Klug, Lukar Thornton, Siobhan Hickling, Katherine Kent, dan Gina Trapp dalam Living next door to McDonald’s: a qualitative study of community submissions and resident realities pre- and post development, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bernaung di Edith Cowan University.
Trapp 2021 dan 2023: gerai yang mendekati sekolah
Rantai riset yang dirujuk naskah sudah lama menandai persoalan ini. Kajian Gina Trapp dan rekan pada 2023 menelusuri ketersediaan gerai cepat saji di dekat sekolah di Perth, sedangkan kajian mereka pada 2021 mengaitkan ketersediaan gerai di sekitar sekolah menengah dengan pembelian makanan tak sehat oleh remaja Australia. Menurut naskah, gerai di sekitar sekolah berhubungan dengan meningkatnya pembelian makanan diskresioner dan prevalensi obesitas.
Namun, riset semacam itu umumnya memetakan sebaran gerai, bukan pengalaman orang yang tinggal di sebelahnya. Naskah Giglia dan rekan mencatat bahwa kajian tentang menjamurnya gerai cepat saji sudah banyak, tetapi kisah pribadi warga yang paling terdampak masih absen dari literatur akademik. Kajian tentang gerai McDonald’s baru yang dirujuk naskah, karya Lukar Thornton dan rekan pada 2016, menelusuri pengaruhnya terhadap perilaku makan warga.
Posisi dewan kota juga sudah dicatat riset sebelumnya. Kajian Rose, Reeve, dan Charlton pada 2022, menurut naskah, menunjukkan kemampuan pemerintah daerah menolak gerai cepat saji kerap dibatasi kerangka perencanaan negara bagian, sehingga pertimbangan kesehatan masyarakat hanya masuk sejauh aturan itu mengizinkan. Padahal mulai Juni 2026, seluruh pemerintah daerah di Australia Barat wajib menyusun rencana kesehatan masyarakat di bawah Public Health Act 2016.
Desember 2021: 183 surat untuk dewan kota
Gerai yang diteliti berdiri di atas lahan 2.581 meter persegi dengan drive-through dua lajur, bersebelahan dengan SPBU 7-Eleven dan berbatasan langsung dengan jalan permukiman. Jaraknya 550 meter dari sekolah menengah atas setempat, 600 meter dari pusat pendidikan anak usia dini, dan 950 meter dari sekolah dasar terdekat. Kawasan itu dipromosikan sebagai komunitas berkelanjutan berperingkat green star yang ramah pejalan kaki dan keluarga.
Rencana gerai dibuka untuk konsultasi publik pada 23 Desember 2021 dan ditutup 14 Januari 2022. Dewan kota menyurati 271 pemilik dan penghuni dalam radius sekitar 350 meter serta memasang pemberitahuan di koran lokal. Hasilnya, 168 dari 183 pengajuan, atau 92 persen, berisi keberatan terhadap pembangunan gerai tersebut. Angka itu menjadi titik berangkat seluruh temuan naskah.
Isi keberatan itu beragam. Kekhawatiran yang paling sering muncul adalah jumlah gerai cepat saji yang sudah ada di kawasan, disebut 110 kali, disusul kemacetan dan parkir 74 kali, perilaku antisosial 46 kali, gaya hidup tidak sehat 42 kali, serta kedekatan dengan permukiman dan sekolah 40 kali. Warga juga menyinggung estetika perumahan, bising, bau, sampah, cahaya, dan nilai properti.
Sebanyak 21 kali warga bahkan mengusulkan pengganti, seperti kafe sehat, kantor pos, atau perpustakaan. Tanggapan dewan untuk semua pengajuan sama: tidak perlu perubahan. Menurut naskah, administrasi dewan menilai keberatan itu tidak sejalan dengan atau berada di luar pertimbangan perencanaan yang sah, sehingga seluruh keberatan warga ditolak atas dasar perencanaan.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Desember 2023: kabar yang datang lewat papan nama
Gerai itu dibuka pada 9 Desember 2023. Sebelas warga yang tinggal dalam radius 300 meter kemudian diwawancarai antara Januari dan Mei 2024, delapan di antaranya perempuan dan lima tinggal bersama anak usia sekolah. Sebagian dari mereka mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan resmi dari dewan dan baru tahu dari obrolan tetangga, media sosial, atau papan nama di lokasi proyek.
Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai Partisipan #10 menuturkan, “Kami belum pindah ke rumah karena rumahnya masih dibangun… jadi kami baru tahu setelah melihatnya di sebuah halaman Facebook.” Kutipan itu aslinya berbahasa Inggris. Partisipan #1 menambahkan, ketika membeli tanah mereka diberi tahu bahwa lahan itu kemungkinan akan menjadi praktik dokter, fisioterapi, atau kafe.
Kekecewaan pada dewan menjadi nada yang berulang. Partisipan #1 menyebut dewan terang-terangan mengabaikan apa yang dikatakan warga, sementara Partisipan #9 mengaku sebenarnya netral tetapi yakin keputusan akan tetap diambil apa pun pendapat warga. Partisipan #10 merasa sangat negatif melihat lingkungannya berubah menjadi pusat makanan cepat saji. Para penulis mencatat persepsi warga terhadap dewan sebagian besar negatif, dari kecewa sampai merasa diacuhkan.
Januari–Mei 2024: dugaan yang menjadi keseharian
Wawancara pascapembangunan memperlihatkan bahwa pengalaman warga mencerminkan semua persoalan yang dulu mereka ramalkan. Soal kesehatan, Partisipan #1 mempertanyakan kewajiban orang dewasa menjaga anak-anak, lalu mengaitkan makanan murah dari gerai dengan masalah obesitas, diabetes, dan beban sistem kesehatan. Partisipan #7 menyebut makanannya sangat tidak sehat dan membuatnya merasa tidak enak sesudahnya.
Letak gerai juga dipersoalkan. Partisipan #5 menghitung McDonald’s, dua Hungry Jacks, dan Taco Bell di sekitarnya, lalu bertanya berapa banyak McDonald’s yang dibutuhkan dalam satu atau dua kilometer. Partisipan #7 cukup berkata ia bisa melihat McDonald’s dari jendelanya, sedangkan Partisipan #2 melihat anak-anak sepulang sekolah kini menyeberangi jalan raya menuju gerai dan nongkrong di sana.
Keselamatan menjadi lapisan berikutnya. Partisipan #7 bersiap memasang kamera setelah sepatu kerjanya yang mahal dicuri, dan ia mengaitkan pencurian itu dengan kehadiran gerai. Partisipan #4 menggambarkan bundaran yang padat tanpa penyeberangan, tempat anak-anak berlari menyeberang ke sekolah, sementara Partisipan #1 mengaku waswas soal gerai 24 jam dan pintu keluar keduanya yang mengarah ke perumahan.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Polusi datang dalam empat rupa. Partisipan #1 melihat tempat sampah dewan di taman seberang gerai meluap oleh sampah McDonald’s. Partisipan #10 mendengar mobil bising dari kamar tidur utama karena jalur drive-through melintas di sisi jalannya, dan ia mencium bau gerai begitu membuka jendela. Soal cahaya, sebagian warga terganggu, tetapi Partisipan #3 tidak, karena jarang keluar rumah malam hari.
Uang pun ikut terseret. Partisipan #3 bercerita tentang seorang perempuan yang sangat terpukul karena rumah pertama yang dibelinya menghadap langsung ke McDonald’s dan ia merasa nilainya turun. Sebagian partisipan lain menyoroti biaya rutin membeli makanan cepat saji karena gerainya begitu praktis dan mudah dijangkau. Menurut naskah, semua dampak yang dilaporkan warga sesudah gerai beroperasi bersifat negatif.
Nutrition Decadal Plan 2019: ketika edukasi tidak cukup
Ketika ditanya jalan keluar, warga menawarkan dua arah. Yang pertama edukasi, dari pelajaran makanan sehat sejak sekolah dasar, hari pangan komunitas di sekolah, pendidikan untuk orang tua, sampai promosi kesehatan di acara-acara kota. Yang kedua tata kota: batas jarak gerai dari sekolah, pembatasan jumlah gerai di lingkungan, dan promosi gerai makanan sehat. Partisipan #10 bahkan mengira aturan jarak semacam itu sudah ada.
Di titik inilah para penulis mengambil jarak dari sebagian usulan warga. “Pendidikan saja tidak dapat mengatasi pendorong struktural yang lebih luas yang sedang bekerja,” tulis Giglia dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka merujuk Pilar 1 Nutrition Decadal Plan 2019, yang mengakui bahwa kesehatan terkait pola makan dibentuk faktor sosial dan lingkungan yang kompleks, termasuk desain kota dan pengaruh komersial.
Karena itu, menurut naskah, edukasi harus dilengkapi reformasi struktural. Para penulis juga menulis bahwa sistem perencanaan saat ini “secara tidak sengaja dapat melanggengkan ketimpangan kesehatan dengan mendahulukan kepentingan korporasi dan ekonomi di atas kesejahteraan lokal,” kalimat yang aslinya juga berbahasa Inggris. Menurut mereka, kemampuan dewan menolak gerai tampak dibatasi undang-undang perencanaan negara bagian yang mengutamakan pertimbangan komersial dan zonasi.
Keeble 2019: peta jalan dari Inggris
Untuk arah reformasi, naskah menoleh ke kajian Keeble dan rekan pada 2019 tentang Inggris. Di sana, otoritas perencanaan menerapkan zona larangan di sekitar sekolah dan taman, membatasi kepadatan gerai termasuk jumlah gerai yang berjajar, mengendalikan dampak seperti bising, sampah, papan reklame, dan lalu lintas, serta mewajibkan kajian dampak kesehatan bagi gerai makanan bawa pulang.
Giglia dan rekan menilai strategi serupa bisa memperkuat kerangka perencanaan di Australia dan memberi dewan kota kemampuan menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan tujuan kesehatan masyarakat. Kesimpulan mereka ringkas: “Temuan ini mengungkap keterputusan yang jelas antara apa yang diinginkan komunitas dan apa yang dihasilkan sistem perencanaan,” tulis mereka dalam abstrak berbahasa Inggris.
Catatan pada naskah Giglia dan rekan
Para penulis mengakui jumlah warga yang diwawancarai kecil, hanya sebelas orang. Mereka juga menulis bahwa mungkin hanya warga yang kecewa yang bersedia diwawancarai, sementara warga yang mendukung gerai kurang terwakili, dan karena semua partisipan tinggal dalam 300 meter dari gerai, temuan ini harus hati-hati bila diterapkan ke komunitas lain. Meski begitu, mereka menunjuk 168 keberatan sebagai tanda kepedulian yang lebih luas.
Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Naskah menyebut hanya sebelas warga yang diwawancarai, tetapi satu kutipan tentang promosi makanan sehat di acara kota diatribusikan kepada Partisipan #15. Bagian metode menulis durasi wawancara 10 sampai 40 menit, sedangkan bagian keterbatasan menyebut sebagian besar wawancara berlangsung 30 sampai 40 menit, tanpa rincian per partisipan.
Daftar kontribusi penulis memuat inisial LK, padahal tidak ada penulis berinisial itu di antara sepuluh nama, dan Lukar Thornton semestinya tercatat LT. Masa konsultasi juga disebut diperpanjang menjadi 21 hari, sementara rentang 23 Desember 2021 hingga 14 Januari 2022 yang tertulis di naskah sedikit lebih panjang dari itu.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Dalam rantai riset yang dimulai dari peta sebaran gerai di sekitar sekolah Perth dan kajian perilaku makan, penelitian Giglia dan rekan menambahkan satu mata rantai yang sebelumnya kosong, yakni suara warga sebelum dan sesudah gerai berdiri. Di antara keduanya terbentang hampir dua tahun, 168 keberatan, dan satu keputusan yang tidak berubah, sementara warga kini hidup dengan akibat pembangunan yang tidak mereka inginkan.














