Kemiskinan Energi di Tiga Kota Eropa, dari Tagihan hingga Jiwa

A A

Deretan rumah bata sederhana berpintu warna-warni di Bramley, Leeds, Inggris [Foto: Humphrey Bolton/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Di Leeds dan Valencia, rasa cemas pada tagihan membuat peserta takut menyalakan kipas, pendingin ruangan, atau pemanas portabel.
  • Dari peserta yang menjawab soal pekerjaan, 14 orang atau 46,7 persen menganggur.
  • Suhu ekstrem mengganggu suasana hati dan kualitas tidur, sampai ada peserta yang pergi ke rumah teman, kerabat, atau taman umum untuk menghindari panas.
  • Namun banyak yang merasa tidak dianggap serius oleh dewan kota, asosiasi perumahan, atau pemilik rumah.
Daftar Isi
  1. Tagihan yang belum datang sudah lebih dulu menakutkan daripada rumah yang dingin atau panas
  2. Musim dingin yang depresif di Leeds, sikap menahan diri di Heerlen, dan musim panas yang mengerikan di Valencia
  3. Ibu yang terbangun berkali-kali, laptop yang didahulukan, dan satu kamar untuk seluruh keluarga
  4. Tamu yang batal diundang, tomat di depan pintu, dan kantor yang mengoper warga dari satu meja ke meja lain
  5. Sepuluh tema yang tinggal sembilan, dan tujuh puluh dua persen yang ternyata dihitung dari 32 orang

Anak-anak kecil itu terbangun, menendang selimut sampai tersingkap, lalu ditemukan ibunya dalam keadaan kedinginan. Ibu itu tinggal di Valencia, Spanyol. “Sebagai seorang ibu, hal itu membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang, saya terbangun beberapa kali,” katanya dalam kutipan yang dimuat naskah berbahasa Inggris. Malam, ketika suhu turun, adalah saat yang paling ditakuti para orang tua dalam cerita-cerita semacam ini.

Kisah itu tercatat dalam Shivering, sweating and struggling: a qualitative study exploring the relationship between energy poverty and mental wellbeing across three European cities, tulisan Pepa Ambrosio-Albala, Merel Stevens, Caroline van Ooij, Beverley Searle, Noemi Garcia, Pilar Jordá, Lucie Middlemiss, dan Amy van Grieken di jurnal BMC Public Health, yang memuatnya sebagai naskah dalam proses terbit pada 2026. Para penulis bernaung di University of Leeds, Erasmus Medical Center di Rotterdam, TNO di Belanda, serta dua lembaga di Valencia.

Yang mereka telusuri adalah kemiskinan energi, keadaan ketika rumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan energi untuk memanaskan, mendinginkan, menerangi rumah, dan menjalankan peralatan. Kaitannya dengan kesejahteraan mental digali lewat wawancara dengan 36 peserta program WELLBASED di Leeds, Heerlen, dan Valencia. Hasilnya tidak berhenti pada rasa dingin. Ia menjalar ke tidur, keluarga, tetangga, sampai kantor pemerintah.

Menurut naskah itu, sekitar sembilan persen penduduk Eropa kini kesulitan mendapat layanan energi yang layak di rumah. Tiga kota yang dipilih punya iklim yang berbeda. Leeds di Inggris dan Heerlen di Belanda beriklim maritim sedang, sedangkan Valencia adalah kota pesisir Mediterania yang lembap. Perbedaan itu terasa dalam cerita peserta, tetapi jalannya menuju kesehatan jiwa ternyata serupa.

Tagihan yang belum datang sudah lebih dulu menakutkan daripada rumah yang dingin atau panas

Seorang laki-laki di Valencia sebenarnya ingin punya pendingin ruangan. “Itu akan melegakan, tetapi ketika tagihan datang, ia akan membunuhmu. Jadi, kamu lebih memilih berkeringat dan mandi daripada tetap seperti itu... bangkrut,” ujarnya dalam kutipan yang dimuat naskah berbahasa Inggris. Keringat dipilih. Tagihan dihindari, dan pendingin ruangan tetap tinggal keinginan.

Ketakutan semacam itu, tulis para peneliti, dialami sebagian besar peserta ketika harga energi terus naik. Di Leeds dan Valencia, rasa cemas pada tagihan membuat peserta takut menyalakan kipas, pendingin ruangan, atau pemanas portabel. Sebagian peserta di tiga kota bahkan khawatir listrik dan air diputus, atau diusir dari flat sewaan karena tidak sanggup membayar tagihan.

Di Heerlen, ceritanya sedikit lain. Peserta di sana memandang terjangkau atau tidaknya tagihan sebagai soal untung-untungan, sebab sebagian sempat mengunci kontrak harga tetap sebelum harga energi naik. Seorang perempuan di Valencia menggambarkan rasa takutnya sebagai rantai kekhawatiran. Ia kedinginan, tetapi lebih takut menerima tagihan paling mahal yang tidak bisa ia bayar.

Menghemat energi lalu berubah menjadi pekerjaan tersendiri. Peserta menghabiskan banyak waktu untuk menimbang pemakaian energi dengan biayanya, dan mereka menyebut kegiatan itu membuat stres serta menekan kesejahteraan mental. Beberapa bahkan menggambarkan penghematan sebagai preokupasi, hal yang terus memenuhi pikiran sehari-hari. Seorang perempuan di Leeds harus memindahkan semua barang dan membersihkan rumah hampir setiap dua hari.

Kuesioner awal memperlihatkan seberapa sempit ruang gerak para peserta. Sebanyak 23 peserta menyatakan rumahnya tidak cukup hangat di musim dingin, 21 tidak cukup sejuk di musim panas, dan 12 tinggal di rumah yang bocor, lembap, atau lapuk. Dari peserta yang menjawab soal pekerjaan, 14 orang atau 46,7 persen menganggur.

Rumah yang tidak bisa dibuat nyamanTak hangat di musim dingin: Persen peserta +71,9%; Tak sejuk di musim panas: Persen peserta +65,6%; Menganggur: Persen peserta +46,7%; Ada bocor, lembap, lapuk: Persen peserta +41,4%.Rumah yang tidak bisa dibuat nyamanPersen dari peserta yang menjawab kuesioner25%50%75%0Tak hangat di musim dingin71,9%Tak sejuk di musim panas65,6%Menganggur46,7%Ada bocor, lembap, lapuk41,4%Jawaban kosong: 4 (suhu), 6 (pekerjaan), 7 (bocor/lembap).
Sumber: Pepa Ambrosio-Albala, Merel Stevens, Caroline van Ooij, Beverley Searle, Noemi Garcia, Pilar Jordá, Lucie Middlemiss, dan Amy van Grieken, Shivering, sweating and struggling: a qualitative study exploring the relationship between energy poverty and mental wellbeing across three European cities, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Musim dingin yang depresif di Leeds, sikap menahan diri di Heerlen, dan musim panas yang mengerikan di Valencia

Di ketiga kota, peserta tidak sanggup menjaga suhu rumah tetap layak, dan suasana hati mereka ikut terseret. Seorang perempuan di Leeds meringkas musim dinginnya dalam beberapa kata saja. “Ya, mental, depresif. Kami cuma menunggu satu hari di bulan Agustus [agar hangat]!” katanya dalam kutipan yang dimuat naskah berbahasa Inggris. Bulan Agustus menjadi satu-satunya harapan.

Heerlen memilih cara lain. Peserta di sana tampak menghadapi rumah yang dingin dengan sikap menahan saja, menjaga jarak secara mental dari rasa tidak nyaman. Seorang perempuan di Heerlen bercerita ia memakai pemanas sesedikit mungkin. Alasannya, dengan begitu tubuhnya sudah terbiasa dengan dingin untuk tahun berikutnya.

Valencia menghadapi musuh yang terbalik. Panas di dalam rumah menjadi sumber tekanan psikologis yang besar, dan musim panas disebut peserta sebagai masa yang mengerikan. Suhu ekstrem mengganggu suasana hati dan kualitas tidur, sampai ada peserta yang pergi ke rumah teman, kerabat, atau taman umum untuk menghindari panas.

“Panas itu memengaruhi suasana hatimu dan keinginanmu untuk berbuat sesuatu, dan kadang kamu jadi marah,” kata seorang perempuan di Valencia. Ia merasa otaknya melambat, seolah hanya separuh pekerjaan musim dingin yang bisa ia kerjakan. Di Heerlen dan Valencia, peserta menutup tirai atau menurunkan krey, sehingga siang dilewati dalam gelap yang mereka sebut muram dan sedih.

Dingin di utara, panas di selatanDingin di utara, panas di selatanDingin di utara, panas di selatanBeda pengalaman menurut kota, dari wawancara 36 pesertaLeeds dan HeerlenValenciaMusim dinginMusim panasMusim tersulitDepresifMasa mengerikanUngkapan pesertaTahan sajaMengungsiCara bertahanTak tercatatDemi lingkunganHemat energidimaknaiBantuan tak adilPolitik diamKeluhan ke otoritasDepresif: ungkapan di Leeds. Tahan saja: sikap di Heerlen.
Sumber: Pepa Ambrosio-Albala, Merel Stevens, Caroline van Ooij, Beverley Searle, Noemi Garcia, Pilar Jordá, Lucie Middlemiss, dan Amy van Grieken, Shivering, sweating and struggling: a qualitative study exploring the relationship between energy poverty and mental wellbeing across three European cities, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Meski begitu, rumah tidak semata menjadi beban. Sebagian peserta tetap memandang rumah sebagai tempat berlindung yang memberi kehangatan, rasa aman, stabilitas, dan kebebasan, bahkan ketika jamur dan dingin tidak pernah benar-benar pergi. Para peneliti menyebut rumah itu menjadi bermakna bukan meskipun ada kemiskinan energi, melainkan justru di dalamnya.

Rasa kehilangan kendali muncul di tiga kota. Banyak peserta merasa tidak bisa keluar dari keadaannya, tidak berdaya, dan tanpa ruang untuk memperbaiki nasib, meski sebagian tetap ingin mengurus diri sendiri tanpa bergantung pada bantuan. Yang lain sudah pasrah. “Rasa malu sudah lama hilang dari saya,” kata seorang perempuan di Heerlen, sebelum mengakui tidak ada yang bisa ia lakukan.

Ibu yang terbangun berkali-kali, laptop yang didahulukan, dan satu kamar untuk seluruh keluarga

Kecemasan paling tajam dirasakan peserta yang merawat anak. Di Leeds dan Valencia, orang tua khawatir rumah yang dingin, lembap, dan berjamur merusak kesehatan anak-anak, terutama pada malam hari. Ibu di Valencia yang terbangun berkali-kali itu hanya satu dari mereka. Rumah seperti itu, tulis para peneliti, memicu kecemasan yang terus-menerus.

Di Leeds, saran untuk mengurangi lembap tidak selalu bisa dijalankan. Membuka jendela, misalnya, sulit dilakukan ketika udara dingin atau berangin, dan orang tua juga memikirkan keselamatan anak. Seorang ayah di Leeds bercerita tentang badai yang datang silih berganti. Bunyi angin membuat anaknya takut, sampai mengira ada hantu.

Uang yang terbatas memaksa pilihan lain. Orang tua mendahulukan biaya pendidikan, kegiatan, dan kebutuhan dasar anak, meski itu berarti menunda perbaikan rumah, dan banyak yang merasa bersalah karena tidak mampu memberi pengalaman yang normal. Seorang ibu enam anak di Heerlen bekerja keras agar anak-anaknya punya laptop dan sepeda. “Dan itu lebih didahulukan daripada insulasi rumah,” katanya.

Di Leeds dan Valencia, rumah pun menyempit. Musim panas Valencia membuat kamar yang terkena matahari cepat tidak tertahankan, sementara pada musim dingin keluarga di kedua kota hanya memanaskan satu ruangan untuk menekan biaya. Beberapa anggota keluarga tidur di satu kamar. Bagi sebagian, kesesakan itu memicu ketegangan, hilangnya ruang pribadi, dan tidur yang terganggu.

Bagi sebagian lain, terutama di Valencia, kamar yang sama justru menjadi tempat berkumpul dan sumber keakraban. Seorang perempuan di Valencia bercerita tentang kasur yang dibawa ke satu ruangan supaya semua bisa tidur di sana bersama. Para peneliti menduga perbedaan ini bisa dijelaskan oleh beda budaya tentang peran keluarga dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

Tamu yang batal diundang, tomat di depan pintu, dan kantor yang mengoper warga dari satu meja ke meja lain

Kemiskinan energi juga menutup pintu rumah bagi orang luar. Sebagian peserta tetap menjadikan rumah tempat berkumpul, tetapi lebih banyak yang enggan mengundang tamu karena biaya energi, terutama di musim dingin, dan karena malu pada lembap, jamur, serta suhu yang tidak nyaman. Seorang laki-laki di Leeds menolak gagasan mengundang orang. Ruangannya sempit, katanya, lalu ada lembap dan jamur.

Jejaring tetangga, kawan, dan keluarga menjadi penyangga. Bantuan mereka berupa berbagi makanan, menjenguk saat cuaca dingin, atau menolong ketika tagihan sulit dibayar. “Saya mengobrol dengan semua orang, lalu saya pulang, dan saya menemukan tomat di depan pintu, juga mentimun,” kata seorang perempuan yang tinggal sendiri di Heerlen dalam kutipan yang dimuat naskah berbahasa Inggris.

Lalu ada kantor-kantor. Ketika pemerintah daerah menyediakan program dan bantuan, peserta merasa didengar dan lebih puas dengan keadaannya. Namun banyak yang merasa tidak dianggap serius oleh dewan kota, asosiasi perumahan, atau pemilik rumah. Mereka dioper dari satu tempat ke tempat lain tanpa mendapat bantuan, lalu berhenti mencoba karena prosesnya terlalu rumit.

Stigma memperberat langkah. Seorang perempuan di Valencia takut duduk di bar sambil minum soda atau bir, khawatir orang dari tempatnya meminta bantuan lewat dan menilai ia menghamburkan uang. Di Heerlen dan Leeds, banyak peserta merasa bantuan dibagi tidak adil. “Begitu kamu benar-benar berada di dasar, kamu akan dibantu. Tetapi kalau kamu bisa mengurus diri sendiri, tidak ada yang akan membantumu,” kata seorang perempuan di Heerlen.

Di titik inilah temuan paling tajam muncul. Ketidakpercayaan pada otoritas terlihat di ketiga negara, padahal menurut naskah itu Inggris dan Belanda menerapkan langkah fiskal yang lebih luas daripada Spanyol untuk melindungi rumah tangga pada krisis energi 2021 sampai 2023. “Kesaksian peserta menunjukkan bahwa kepercayaan pada institusi lebih sedikit dibentuk oleh besarnya belanja keseluruhan daripada oleh bagaimana bantuan dirancang, dibagikan, dan dialami,” tulis Ambrosio-Albala dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris.

Valencia menyimpan satu kejutan lagi. Sebagian peserta di sana memaknai hemat energi sebagai tindakan demi lingkungan dan generasi mendatang, dan keyakinan itu memberi rasa bermakna yang mengimbangi sebagian tekanan. “Kalau kamu tahu mengapa kamu tidak memboroskan energi, dan kalau alasannya sangat masuk akal, seperti lingkungan, apa lagi yang mau saya keluhkan?” kata seorang laki-laki di Valencia.

Dari semua cerita itu, para penulis sampai pada satu pernyataan. “Studi ini menunjukkan bahwa kemiskinan energi pada dasarnya adalah persoalan kesehatan masyarakat, karena ia membentuk penentu utama kesejahteraan mental di tingkat individu, keluarga, komunitas, dan struktural,” tulis delapan penulis itu, termasuk Profesor Lucie Middlemiss dari University of Leeds. Mereka menyarankan dokter umum dan petugas kesehatan komunitas ikut mengenali warga berisiko lalu merujuknya.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Sepuluh tema yang tinggal sembilan, dan tujuh puluh dua persen yang ternyata dihitung dari 32 orang

Para penulis mengakui batas studinya. Karena peserta terbagi di tiga negara, perbedaan antarkota hanya bisa dibaca sebagai petunjuk yang peka konteks, bukan perbandingan nasional yang rinci. Perempuan juga terlalu banyak terwakili, 26 dari 36 peserta, yang menurut mereka bisa ikut membentuk isu yang muncul. Makna hemat energi demi lingkungan pun baru terlihat di Valencia, sehingga masih perlu dikonfirmasi.

Pembaca yang teliti juga bisa menemukan beberapa hal yang tidak rapi. Naskah menyebut sepuluh tema di empat tingkat, tetapi bagian hasil hanya menguraikan sembilan subbab tema. Penomoran tingkat individu melompat dari 3.1.3 ke 3.1.5 tanpa 3.1.4, sementara bab hasil diberi nomor 2, sama dengan nomor bab metode di atasnya.

Angka persentase pun perlu dibaca bersama catatan kaki tabel. Teks hasil menulis 23 peserta, atau 72 persen, menilai rumahnya tidak cukup hangat di musim dingin. Dari 36 peserta, 23 orang setara sekitar 64 persen. Angka 72 persen ternyata dihitung dari 32 orang karena empat peserta tidak menjawab, dan keterangan itu hanya tertera di catatan tabel.

Satu hal lagi menyangkut judulnya sendiri. Kuesioner peserta tidak memuat ukuran kesejahteraan mental, hanya skor kesehatan yang dinilai sendiri dengan rata-rata 73,7 dari 100. Para penulis menyebut wawancara yang berfokus pada pengalaman kemiskinan energi, bukan kesehatan jiwa semata, sebagai pilihan yang disengaja dan etis agar cerita peserta lebih kaya dan tidak membebani.

Di Valencia, seorang ibu terbangun beberapa kali dalam semalam karena anak-anaknya menendang selimut dan kedinginan. Di Heerlen, tomat dan mentimun menunggu di depan pintu seorang perempuan yang tinggal sendiri. Keduanya tercatat di naskah yang sama, dari dua kota yang iklimnya berbeda, dan berangkat dari kemiskinan energi yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Petani Perempuan Mhondoro Ngezi Menanggung Sakit dari Iklim
The Last September: Lois Farquar Terasing di Rumah Besar Cork
Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Ramalan ISPA di 69 Distrik Türkiye, Model Sederhana Paling Jitu
Makan di Luar Rumah di Ghana, Lulusan Kejuruan Paling Jarang
Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli