- Panen yang gagal berulang kali berujung pada kurang gizi dan daya tahan tubuh yang melemah.
- Banyak laki-laki berangkat bekerja di tambang, sehingga perempuan tertinggal mengurus pangan rumah tangga sekaligus produksi ladang.
- Perempuan yang menikah dengan kepala desa atau pemimpin komunitas lebih mungkin menerima benih tahan kekeringan dan herbisida.
- Kata sakit dalam kajian ini adalah sakit menurut penuturan petani, bukan hasil pemeriksaan.
Daftar Isi
- Feminisasi pertanian: ladang yang ditinggal ke tambang
- Stres panas: tubuh yang terus bekerja di bawah terik
- Rawan pangan: makanan yang lebih dulu untuk anak
- Tekanan psikologis: cemas yang ikut dipanen
- Kesenjangan intragender: bergantung pada siapa suaminya
- Persepsi, bukan diagnosis: batas yang diakui penulis
Dampak kesehatan perubahan iklim yang berbeda menurut gender, dalam bahasa sehari-hari, berarti hujan yang tak kunjung turun bisa terasa di punggung, perut, dan kepala seorang perempuan petani. Begitulah petani perempuan di Mhondoro Ngezi, Zimbabwe, menggambarkan hidup mereka ketika panas dan kekeringan datang berulang.
Gambaran itu dihimpun Rumbidzai Matindike dan Walter Musakwa dari Department of Geography, Environmental Management and Energy Studies, University of Johannesburg, Afrika Selatan. Artikel mereka berjudul The gendered health impacts of climate change on smallholder women farmers in Mhondoro Ngezi, Zimbabwe. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Mhondoro Ngezi adalah distrik di Provinsi Mashonaland West, barat laut Zimbabwe. Luasnya sekitar 4.295 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 140.994 jiwa menurut sensus 2022. Pertaniannya bergantung pada hujan, dan jagung menjadi tanaman utama. Suhu rata-rata tahunannya tercatat 24,84 derajat Celsius.
Temuan pokoknya sederhana untuk diucapkan, tetapi berat untuk dijalani. Panas ekstrem dikaitkan dengan dehidrasi, stres panas, dan komplikasi kehamilan. Air yang menyusut membuat keluarga rentan kolera dan diare. Panen yang gagal berulang kali berujung pada kurang gizi dan daya tahan tubuh yang melemah.
Feminisasi pertanian: ladang yang ditinggal ke tambang
Istilah pertama yang perlu diterjemahkan adalah feminisasi pertanian. Maksudnya, perempuan menjadi pengelola utama ladang karena laki-laki pergi. Di Mhondoro Ngezi, penyebabnya ekonomi tambang. Banyak laki-laki berangkat bekerja di tambang, sehingga perempuan tertinggal mengurus pangan rumah tangga sekaligus produksi ladang.
Bedanya dengan sekadar membantu suami begini. Dalam naskah, perempuan di sana juga mengerjakan tugas yang biasanya dipegang laki-laki. Mereka menggembala sapi karena pasangannya pergi ke tambang. Mereka bangun sangat pagi untuk memerah sapi, menggembala seharian, lalu pulang larut malam.
Akibatnya langsung ke tubuh. Seorang responden digambarkan bekerja di ladang dari subuh sampai menjelang petang. Ia kelelahan, punggung dan kakinya nyeri, tetapi tetap diharapkan mengurus keluarga sesudahnya. Perempuan yang memerah sapi perah tradisional melaporkan nyeri lutut dan siku karena kerja yang mengandalkan tenaga itu.
Pola tidur ikut rusak. Para penulis mencatat jam kerja yang panjang itu terutama mengganggu pola tidur perempuan petani di sana. Selain lelah fisik, para partisipan melaporkan kecemasan, stres, dan rasa tidak pasti soal cuaca, tanggungan merawat keluarga, serta panen yang hilang.
Lahan juga menambah jam kerja. Tanah di sana komunal dan dibagi oleh kepala suku serta kepala desa. Perempuan sering mendapat lahan berupa semak yang belum pernah digarap. Lahan itu harus dibersihkan dulu sebelum ditanami, sehingga mereka bekerja lebih lama untuk mengejar target tanam dalam waktu yang sempit.
Stres panas: tubuh yang terus bekerja di bawah terik
Stres panas, singkatnya, adalah keadaan ketika tubuh kewalahan menghadapi suhu tinggi. Contoh dari naskah paling jelas datang dari seorang petani yang pernah hamil. Ia menuturkan bahwa bekerja di suhu tinggi saat hamil terasa sangat sulit. Ia bisa pusing, lemas, dan kadang jantungnya berdebar kencang. Ia tetap bekerja karena tanamannya bergantung padanya. Para penulis mencatat dehidrasi akibat suhu tinggi merugikan selama kehamilan, sebab kebutuhan tubuh sedang meningkat. Dehidrasi juga disebut bisa memengaruhi kebiasaan menyusui dan kesehatan ibu serta anak secara keseluruhan.
Masalahnya tidak berhenti di ladang. Petani perempuan bercerita kadang merasa pusing dan kelelahan karena panas, tetapi pusat kesehatan terdekat terlalu jauh. Mereka akhirnya beristirahat di rumah tanpa perawatan yang layak. Klinik desa pun sering kehabisan obat esensial. Kalau obat habis, pilihannya dua. Menempuh jarak jauh mencari pengobatan sambil menahan panas di perjalanan, atau tidak berobat sama sekali. Naskah mencatat perempuan sering tidak punya kendaraan atau uang untuk sampai ke sana. Tenaga kesehatan desa juga disebut kurang terlatih menangani penyakit yang terkait iklim.
Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit
Rawan pangan: makanan yang lebih dulu untuk anak
Rawan pangan berarti tidak pasti apakah besok ada cukup makanan. Di Mhondoro Ngezi, istilah itu punya wujud yang konkret. Para petani perempuan menuturkan bahwa karena kekeringan, panen mereka nyaris tidak ada. Ada hari ketika mereka tidur tanpa makan, sementara makanan yang sedikit disimpan untuk anak.
Maksudnya, ibu mengalah lebih dulu. Mereka tetap bekerja berjam-jam di ladang dengan asupan makanan yang terbatas. Menurut para penulis, keadaan itu merusak kesehatan mereka dan ikut menyumbang kurang gizi pada ibu maupun anak. Jam kerja yang panjang juga memotong waktu mereka untuk memberi makan bayi.
Air membawa persoalan yang lain. Petani perempuan dalam kajian ini menyebut bahwa karena suhu tinggi, sebagian besar sumber air kini hanya menyisakan air kotor dan tercemar. Mereka memandang air semacam itu mudah menularkan kolera dan diare, yang menyerang mereka dan anggota rumah tangganya.
Di semua sudut pandang yang ditemukan, para partisipan sepakat pada beberapa hal. Beban kerja perempuan petani bertambah, akses ke air bersih berkurang, dan gizi rumah tangga memburuk. Akses ke layanan kesehatan yang terbatas juga selalu ditempatkan sebagai tantangan besar.
Tekanan psikologis: cemas yang ikut dipanen
Tekanan psikologis di sini berarti beban pikiran yang datang bersama gagal panen. Bagi para petani perempuan, kehilangan panen berarti kehilangan pendapatan untuk bertahan hidup. Mereka mulai panik soal uang sekolah, makanan, dan utang ketika tekanannya terlalu berat. Ada pula duka atas kehilangan ekologis, yaitu rasa kehilangan karena ladang dan alam yang rusak. Para perempuan itu menggambarkan diri merasa tak berdaya dan putus asa. Ketidakpastian cuaca, yang sama sekali di luar kendali mereka, disebut memperparah stres itu.
Tekanan itu juga masuk ke dalam rumah. Sebagian perempuan mencari kerja kecil untuk memberi makan anak ketika kekeringan mengambil panen. Saat pulang terlambat, suami menuduh mereka tidak hormat. Mereka merasa terjebak, takut, dan putus asa, serta enggan membela diri karena takut dipukul atau disalahpahami.
Para penulis menyebut keadaan itu kekerasan emosional yang menggerus kesejahteraan jiwa. Namun, mereka juga mengakui para partisipan hanya sedikit sekali membuka pengalaman kekerasan secara langsung. Topiknya sensitif, dan komunitas desa yang saling kenal membuat kerahasiaan dan stigma menjadi soal. Kekerasan berbasis gender karena itu mungkin tercatat lebih kecil dari kenyataannya.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Kesenjangan intragender: bergantung pada siapa suaminya
Kesenjangan intragender artinya ketimpangan di antara sesama perempuan, bukan antara perempuan dan laki-laki. Seorang petani menjelaskan bahwa dengan siapa seorang perempuan menikah ikut menentukan seberapa berat dampak iklim yang ia tanggung.
Bedanya begini. Perempuan yang menikah dengan kepala desa atau pemimpin komunitas lebih mungkin menerima benih tahan kekeringan dan herbisida. Perempuan tanpa koneksi semacam itu menerima lebih sedikit. Petani perempuan yang kurang terhubung juga melaporkan keuntungan lebih rendah, padahal luas ladangnya serupa.
Menurut para penulis, ketimpangan itu melemahkan ketahanan pangan dan menambah stres pada perempuan yang kurang beruntung. Mereka menilai temuan ini bisa berguna bagi pembuat kebijakan ketika merancang program iklim dan pertanian yang peka gender. Perempuan elite, dalam catatan naskah, cenderung menikmati manfaat lebih besar.
Kajian ini sendiri berdiri di atas kerangka ekologi politik feminis, yakni cara membaca bagaimana relasi kuasa gender membentuk akses perempuan pada tanah, air, dan informasi. Para penulis menyebut hanya dua studi di Zimbabwe yang memakai kerangka ini untuk riset perubahan iklim, dan belum ada yang meneliti Mhondoro Ngezi.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Persepsi, bukan diagnosis: batas yang diakui penulis
Istilah terakhir justru yang paling penting untuk membaca seluruh temuan di atas. Kata sakit dalam kajian ini adalah sakit menurut penuturan petani, bukan hasil pemeriksaan. “Penting dicatat bahwa hasil kesehatan dalam studi ini didasarkan pada persepsi dan pengalaman yang dilaporkan sendiri, bukan data yang diverifikasi secara klinis atau data epidemiologis,” tulis Matindike dan Musakwa dalam naskah berbahasa Inggris.
Maksudnya, kolera, diare, atau malnutrisi dalam artikel ini tidak boleh dibaca sebagai diagnosis medis atau angka kejadian penyakit yang terukur. Kajian ini juga tidak memilah temuan menurut usia, status perkawinan, atau koneksi sosial. Perbedaan antara janda, perempuan muda, dan perempuan yang terisolasi belum bisa diperiksa secara sistematis.
Pembaca yang teliti juga akan menemukan beberapa hal yang tidak saling cocok. Tiga sudut pandang utama disebut menjelaskan 54 persen ragam jawaban di satu paragraf, tetapi 52 persen di paragraf lain dan di tabel. Pada tabel yang sama, angka kumulatif faktor kedua tertulis 43, padahal 28 ditambah 14 hasilnya 42.
Naskah juga mengutip ambang nilai eigen di atas 1,0 sebagai tanda faktor yang layak dipakai. Faktor keempat sampai keenam bernilai 1,6, 1,3, dan 1,2, tetapi tidak dibawa ke analisis karena masing-masing hanya diwakili satu partisipan. Di bagian lain, peserta disebut 20 petani perempuan per komunitas, padahal rinciannya 14 perempuan dan 6 laki-laki.
Ada pula selisih istilah. Pernyataan nomor 35 menyebut penyakit tular vektor, sementara uraian temuannya membahas kolera dan diare yang ditularkan lewat air. Kalimat tentang tambahan satu jam kerja per minggu yang menaikkan efek psikologis sebesar 0,53 ditulis sebagai temuan kajian ini, padahal angkanya dirujuk dari studi lain.
Yang tersisa dari kajian ini adalah kosakata yang diberi tubuh. Feminisasi pertanian, stres panas, dan rawan pangan di Mhondoro Ngezi bukan lagi istilah laporan, melainkan penuturan perempuan tentang punggung yang nyeri, piring yang disisihkan untuk anak, dan klinik yang terlalu jauh. Batasnya pun jelas: semua itu kesaksian, belum hasil periksa.















