The Last September: Lois Farquar Terasing di Rumah Besar Cork

A A

Ruang tamu Bantry House dengan permadani dinding merah dan perapian marmer, County Cork, Irlandia [Foto: Christopher Holt/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Pada 1929, Elizabeth Bowen menerbitkan novel The Last September.
  • Perang sedang berlangsung, tetapi hidup keluarga Naylor nyaris tak terganggu.
  • Laurence kuliah di Oxford dan bercita-cita menjadi penulis.
  • Menurut para peneliti, inilah kali pertama novel mengakui kekerasan di sekitar Danielstown.
Daftar Isi
  1. Abad ke-17 sampai 1929: rumah besar di County Cork
  2. Bagian pertama: Danielstown yang nyaris tak tersentuh
  3. Pertengahan kisah: Lois, Gerald, dan Laurence
  4. Menjelang akhir: pria bersenjata di penggilingan
  5. Bagian ketiga: Danielstown terbakar, Lois pergi
  6. Terbit 2025: yang janggal di dalam naskah

Pada 1929, Elizabeth Bowen menerbitkan novel The Last September. Novel itu bercerita tentang keluarga Anglo-Irlandia di rumah besar Danielstown, Cork. Latarnya adalah Perang Kemerdekaan Irlandia dari Inggris. Hampir seabad kemudian, tiga peneliti Universitas Padjadjaran membaca ulang tokoh remajanya, Lois Farquar.

Kajian itu ditulis Ida Ayu Eka Vania Cahya Nita, Aquarini Priyatna, dan Ari Jogaiswara Adipurwawidjana dari Fakultas Ilmu Budaya. Judulnya Alienated Female Anglo-Irish Youth in Elizabeth Bowen’s The Last September. Artikel tersebut terbit di jurnal Metahumaniora volume 15 nomor 1 tahun 2025.

Pokok temuan mereka dinyatakan terang di abstrak berbahasa Indonesia. “Karena itu, kami menawarkan gagasan bahwa novel ini, dengan narasi modernis yang berpusat pada interioritas perempuan Anglo-Irlandia, menampilkan Lois, dan para pemuda Anglo-Irlandia, sebagai orang asing yang membeku dalam waktu,” tulis ketiganya.

Kalimat itu berlanjut dengan satu akibat. Para pemuda tersebut, menurut mereka, tidak mampu mewarisi warisan kelas sosialnya atau mengalami transformasi. Seluruh pembahasan sesudahnya menguji klaim ini pada Lois, dari halaman awal novel sampai kepergiannya. Lois mereka tempatkan sebagai wakil perempuan anggota masyarakat Anglo-Irlandia.

Abad ke-17 sampai 1929: rumah besar di County Cork

Kronologi Bowen sendiri dicatat singkat dalam naskah. Ia lahir pada 1899 dan wafat pada 1973. Ia pengarang perempuan Anglo-Irlandia yang menulis dalam bahasa Inggris. Novel pertamanya, The Hotel, terbit pada 1927. Merujuk Ellmann, naskah menyebutnya salah satu penulis terbaik sekaligus teraneh abad ke-20.

Pengakuan luas baru datang dua tahun kemudian, lewat The Last September. Bowen sendiri menyebut novel itu paling dekat dengan hatinya di antara semua bukunya. Kajian ini juga mencatat bahwa seluruh karya Bowen, fiksi maupun nonfiksi, masih terus dicetak.

Garis keluarganya lebih tua lagi. Dengan merujuk Lassner, para peneliti menyebut keluarga Bowen dapat dilacak sampai mereka yang datang ke Irlandia pada abad ke-17, bersama penaklukan Inggris. Bowen kelak menjadi pewaris tunggal Bowen’s Court, rumah besar di county Cork.

Karena itu novel ini terasa nyaris otobiografis. Menurut para peneliti, novel itu bukan penceritaan ulang satu-satu, tetapi memuat kesamaan yang berarti. Salah satunya menyangkut pemberontakan Irlandia. Seperti Lois, kontak tunggal Bowen dengan pemberontakan itu hanya lewat romansa singkat dengan seorang tentara Inggris.

Catatan lain menyusul dari ujung perang. Saat rumah-rumah di lingkungannya dibakar, Bowen tercatat sedang bepergian di Italia. Bagi para peneliti, novel ini memperlihatkan dengan saksama cara orang Anglo-Irlandia menjaga jarak dari kekerasan di sekitar rumah mereka sendiri. Rumah itu menjadi panggung kekerasan, tetapi mereka menolak mengakui ikut terlibat.

Dari Bowen ke kajian UnpadBowen lahir 1899, The Hotel terbit 1927, The Last September 1929, Bowen wafat 1973, kajian Unpad terbit 2025.Dari Bowen ke kajian UnpadTitik waktu yang dicatat dalam naskah1899Elizabeth Bowen lahir, kelak menjadi pengarangAnglo-Irlandia1927Novel pertamanya, The Hotel, terbit1929The Last September terbit dan membawa pengakuanluas1973Bowen wafat2025Tiga peneliti Universitas Padjadjaran membaca ulangLois Farquar
Sumber: Ida Ayu Eka Vania Cahya Nita, Aquarini Priyatna, dan Ari Jogaiswara Adipurwawidjana, Alienated Female Anglo-Irish Youth in Elizabeth Bowen’s The Last September, Metahumaniora, 15(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Bagian pertama: Danielstown yang nyaris tak tersentuh

Novel dibuka di Danielstown. Penghuni utamanya Sir Richard sebagai kepala keluarga dan Lady Naylor sebagai nyonya rumah. Lois adalah keponakan Sir Richard. Laurence, sepupu Lois, adalah keponakan Lady Naylor. Tamu datang silih berganti, termasuk tentara Inggris yang ditempatkan di sekitar rumah.

Perang sedang berlangsung, tetapi hidup keluarga Naylor nyaris tak terganggu. Para peneliti menyebut keadaan ‘nyaris tak tersentuh’ itu sebagai motif sampai bagian ketiga novel. Pada bagian pertama dan kedua, hanya orang Irlandia dan tentara Inggris yang terdampak konflik.

Motif itu, menurut ketiganya, menandai privilese orang Anglo-Irlandia. Gangguan memang mulai datang seiring cerita berjalan. Namun, gangguan itu terus ditepis dan diabaikan sampai paruh akhir novel. Sikap mengabaikan inilah yang mereka sebut sebagai tenaga yang mendorong kemunduran rumah besar.

Pada tahap ini Lois sudah terlihat terkurung. Isolasi bawaan rumah besar, tulis para peneliti, menghambatnya menjelajahi identitas sebagai perempuan muda. Isolasi itu mereka sebut ‘penyakit’ kelas Anglo-Irlandia. Gejalanya tanpa arah, lumpuh, dan perkembangan diri yang mandek. Penyakit itu, menurut mereka, perlahan menggerogoti kelas tersebut sampai lenyap.

Satu adegan di ruang tamu menjadi contohnya. Lois bertanya apakah malam itu mereka bisa duduk di tangga luar. Tidak ada yang menjawab atau peduli, dan percakapan berlanjut tanpa dirinya. Bowen menulis Lois merasa sangat kesepian, kembali mencurigai semacam takdir tersisih bagi dirinya.

Ruang tamu itu, catat para peneliti, adalah ruang sosial di dalam rumah. Hampir semua penghuni Anglo-Irlandia hadir di sana. Usaha Lois ikut serta dijawab singkat atau dibalas diam. Rumah besar, menurut mereka, mengunci Lois pada peran pasif yang sudah ditetapkan untuknya.

Baca juga Tujuh Cerpen Horison 1969 dan Keyakinan Redaksinya

Pertengahan kisah: Lois, Gerald, dan Laurence

Di bagian tengah novel, Lois terus bertanya tentang masa depannya. Namun, ia takut memberi makna pada dirinya. Dalam novel, ia tidak ingin tahu siapa dirinya karena pengetahuan itu akan menghentikan, menyegel, dan mengakhiri seseorang. Kutipan Bowen itu berbahasa Inggris dalam naskah.

Penolakan itu ia arahkan pula kepada Gerald, tentara Inggris yang mencintainya. Lois yakin Gerald punya ilusi tentang dirinya. Gerald sendiri akhirnya menyimpulkan Lois tidak punya gambaran tentang siapa dirinya. Para peneliti membaca bagian ini lewat wacana tak langsung bebas, suara tokoh yang melebur dengan suara narator.

Menurut ketiganya, teknik itu membangun Lois sebagai remaja gelisah yang ingin menghindari identifikasi. Teknik yang sama menandai interioritas novel sebagai interioritas perempuan. Akibatnya, teks yang hanya mengurus urusan di dalam rumah ikut mengisolasi perempuan Anglo-Irlandia dari dunia luar.

Lois sendiri mengakui hidupnya serba kurang. Bowen menulis bahwa dalam hidup Lois tidak ada kesempatan untuk berani. Keberanian itu, seperti otot yang tak terpakai, mengendur dan tertidur. Kesempatan melatih otot itu baru muncul belakangan, dan selalu di luar pagar rumah besar.

Pada titik ini para peneliti menghadirkan Laurence sebagai pasangan lawan gender Lois. Keduanya sebaya dan yatim piatu. Keduanya menumpang di rumah paman dan bibi. Keduanya juga terkekang oleh rumah tempat mereka tinggal. Hubungan mereka, tulis para peneliti, justru paling jujur di rumah itu.

Bedanya muncul di jalan keluar. Laurence kuliah di Oxford dan bercita-cita menjadi penulis. Ia punya ‘rumah’ lain yang menunggunya. Lois tidak mampu membayangkan masa depan di luar dinding rumah besar. Pembacaan Cao tentang sosok ibu pengganti dan kisah ibu yang hilang lalu diuji di sini.

Menurut para peneliti, dua faktor itu juga ada dalam kisah Laurence. Namun, Laurence tetap mencapai individualitas yang tidak bisa dicapai Lois. “Karena itu, tradisi dan norma Anglo-Irlandia secara khusus menghambat perempuan muda mencapai penentuan diri dan individualitas,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris.

Lois dan Laurence di DanielstownLois dan Laurence sama-sama yatim piatu di rumah kerabat; Laurence kuliah di Oxford dan bercita jadi penulis, Lois tak punya jalan lain selain menikah.Lois dan Laurence di DanielstownDua remaja sebaya di rumah besar yang samaLoisLaurenceYatim piatuYatim piatuStatusRumah pamanRumah bibiTinggal diMenikahKuliah OxfordJalan keluarTak terbayangPenulisCita-citaTidak adaAdaRumah lainTak tercapaiTercapaiIndividualitasLois keponakan Sir Richard, Laurence keponakan Lady Naylor.Pembanding ini disusun penulis kajian.
Sumber: Ida Ayu Eka Vania Cahya Nita, Aquarini Priyatna, dan Ari Jogaiswara Adipurwawidjana, Alienated Female Anglo-Irish Youth in Elizabeth Bowen’s The Last September, Metahumaniora, 15(1), 2025. Grafik: Cekricek.id

Tokoh ketiga, Marda, datang sebagai tamu. Ia digambarkan penuh semangat, tegas, dan memikat. Hugo Montmorency, lelaki Anglo-Irlandia yang sudah beristri, jatuh hati kepadanya. Marda justru memilih menikah dengan Leslie Lawe, pialang saham Inggris, untuk keluar dari lingkungan keluarganya.

Pilihan itu, menurut para peneliti, lahir dari pemahaman Marda atas kebutuhannya sendiri. Namun, Marda bukan teladan ideal bagi Lois. Pernikahannya akan membawanya ke masyarakat patriarkal yang justru ia nasihatkan agar dihindari Lois. Semua tokoh perempuan muda, simpul mereka, tetap terjerat kelumpuhan generasi tua.

Baca juga Lima Lukisan Retno Amalia Pratiwi Menjawab Novel Gibran

Menjelang akhir: pria bersenjata di penggilingan

Pikiran untuk menikahi Gerald muncul dua kali, selalu dalam kepanikan. Pertama, saat Lois merenungkan pertunangan Marda. Ia takut dirinya dan kebersamaannya dengan Marda akan dilupakan. Ia lebih rela kenangan itu, juga rumahnya, terbakar daripada pudar diam-diam. Para peneliti membacanya sebagai pertanda pembakaran Danielstown di bagian ketiga.

Kali kedua terjadi di sebuah penggilingan. Lois dan Marda memergoki seorang pria bersenjata. Pria itu menyuruh keduanya berhenti berjalan-jalan. Kalau tidak ada urusan lain, katanya, lebih baik mereka tinggal di rumah selagi rumah itu masih mereka miliki. Menurut para peneliti, Lois dan Marda di sini tampil sebagai gadis yang terancam, motif Gotik khas novel rumah besar.

Menurut para peneliti, inilah kali pertama novel mengakui kekerasan di sekitar Danielstown. Teks tetap tidak menyebut pria itu pemberontak Irlandia. Adegan ini juga kali pertama kuasa patriarkal secara terang memerintahkan perempuan Anglo-Irlandia tetap di ranah domestik. Merujuk Lassner, mereka mencatat bahwa pemberontakan pun ternyata meniru cara-cara penindas.

Sesudah peristiwa itu, Lois merasa tidak ada apa-apa lagi untuknya di rumah besar. Ia merasa harus menikahi Gerald. Para peneliti mencatat tidak ada satu momen pun di novel ketika Lois menyatakan cinta yang tulus kepada Gerald. Pernikahan muncul hanya sebagai jalan terakhir.

Lady Naylor keras menentang rencana itu. Menurut para peneliti, alasannya adalah Gerald tidak berlatar aristokrat dan tidak punya cukup sumber daya. Penolakan itu mereka baca sebagai kesetiaan pada praktik sosial Anglo-Irlandia yang usang. Lois sendiri tahu pernikahan tidak adil bagi perempuan, tetapi tetap menginginkannya.

Keterasingan Lois dari negerinya juga tercatat di bagian ini. Menurut Bowen, Lois tidak bisa membayangkan negerinya secara emosional. Baginya Irlandia hanya sebuah cara hidup. Lois bahkan mengeluh bahwa di negeri yang semestinya penuh kenyataan keras itu, yang tersisa baginya hanya pakaian dan omongan orang.

Keluhan itu ditutup dengan satu kata, kepompong. Para peneliti memakainya sebagai kunci. Rumah besar dan identitas Anglo-Irlandia, tulis mereka, adalah kepompong yang tidak melindungi. Kepompong itu justru mengasingkan Lois dari kenyataan dan mencegahnya membentuk identitas kebangsaan yang jelas. Lois hanya bisa tumbuh di luar kepompong itu.

Bagian ketiga: Danielstown terbakar, Lois pergi

Di bagian ketiga, kepompong itu pecah. Danielstown dibakar habis. Gerald tewas mengenaskan menjelang akhir novel, sehingga pernikahan yang ditakuti Lois tidak pernah terjadi. Lois tidak punya pilihan selain mencari masa depan di luar rumah besar. Sejak awal, tulis para peneliti, rumah itu bukan sekadar latar, melainkan cermin kemunduran kelas Anglo-Irlandia.

Kepergiannya berlangsung mendadak, dua minggu setelah kematian Gerald. Kabar kepergiannya ke luar negeri disampaikan Lady Naylor tanpa Lois hadir. Para peneliti menyebut akhir ini terbuka dan memberi kesan ada peluang bagi sang tokoh.

Kepergian itu mereka baca sebagai perpindahan dari ranah domestik ke ranah publik. Dengan merujuk Warhol, mereka mengingatkan bahwa masyarakat Inggris kelas atas abad ke-19 memisahkan ruang secara gender. Rumah dianggap feminin. Perdagangan, agama, pendidikan tinggi, politik, dan hukum dianggap maskulin.

Kajian ini punya batas yang jelas. Seluruh temuannya adalah tafsir atas satu novel dan berpusat pada satu tokoh, yakni Lois. Temuan itu tidak mengukur kehidupan keluarga Anglo-Irlandia yang nyata, meski para peneliti tetap memasukkan pertimbangan sejarah di luar teks.

Ada pula yang tidak terlihat di dalam novel. Para peneliti mencatat pekerja Irlandia pribumi nyaris tak hadir di teks. Rumah sebesar Danielstown mustahil berjalan tanpa banyak pelayan. Namun, novel hanya menyebut mereka sekilas lewat lirikan dan dialog pendek. Teks memandang lewat lensa Anglo-Irlandia yang menghapus kehadiran mereka.

Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh

Terbit 2025: yang janggal di dalam naskah

Pembaca yang menelusuri naskah ini akan menemukan beberapa kejanggalan. Kalimat penutup pembahasan menyebut Lois “is not unable to survive and thrive” dalam budaya yang melahirkannya, sehingga ia harus pergi. Negasi ganda itu berarti Lois mampu bertahan, berlawanan dengan seluruh argumen naskah.

Kejanggalan kedua ada di tinjauan pustaka. Nama Momoo, Wells-Lassagne, Nagashima, Wurtz, dan Williams disebut sebagai kajian terdahulu. Namun, kelima nama itu tidak muncul di daftar pustaka. Entri Yamaneki tahun 2014 juga hanya mencantumkan judul dan satu kata, Persica.

Ada pula selisih kecil antara dua abstrak. Versi Inggris menyebut keluarga Naylor sebagai Anglo-Irish gentry family. Versi Indonesia menerjemahkannya menjadi keluarga pemilik tanah asal Inggris. Selain itu, pendekatan yang di bagian metode dirujuk sebagai Warhol 2012, di pembahasan dicatat sebagai Herman dan kawan-kawan 2012.

Novel Bowen terbit pada 1929 dan berakhir dengan Danielstown yang terbakar. Kajian ketiga peneliti Universitas Padjadjaran terbit pada April 2025. Lois, dalam catatan terakhir mereka, sudah meninggalkan rumah besar menuju luar negeri. Negara tujuannya tidak disebutkan.

Bagikan

Baca Juga

Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Makan di Luar Rumah di Ghana, Lulusan Kejuruan Paling Jarang
Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli
Tiongkok Mendata 41 Obat yang Rawan Habis Saat Musim Penyakit
Rekreasi Air di Türkiye Membentuk Makna Sehat, Bukan Cuma Tenang
Nenek dan Cucu di Desa Shandong Sama-sama Tersendat Saat Berobat