- Para penulis mencatat 62 penyakit musiman, memasangkannya dengan 140 obat, lalu menandai 41 obat yang perlu dijaga pasokannya lebih dulu.
- Gangguan di sisi produksi menjadi masalah paling menonjol, tercatat pada 23 dari 41 obat atau 56,1 persen.
- Juli dan Agustus membawa puncak antimikroba, yakni 42 sampai 43 catatan permintaan.
- Catatan permintaan bukan jumlah obat yang benar-benar dipakai, diresepkan, dibeli, atau terjual.
Daftar Isi
Sekitar 2019, Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok memasukkan musim ke dalam daftar penyebab kelangkaan obat. Lembaga itu menyebut tiga faktor sekaligus, yakni pasokan bahan baku yang tidak stabil menurut musim, naik turunnya pemakaian obat, dan kegagalan pasar. Pada 2026, tujuh peneliti dari Nanjing menerbitkan telaah yang menandai obat musiman mana yang pasokannya perlu dijaga lebih dulu.
Daftar itu dimuat dalam naskah Jieying Zhang, Caixia Liu, Lei Gu, Yuhan Zhang, Ningying Mao, Jun Li, dan Yafei Lan berjudul Seasonal medicine shortages and pharmaceutical supply resilience in China: risk identification and policy optimization. Jurnal BMC Public Health menerbitkannya pada 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum diberi nomor volume. Ketujuh penulis bekerja di International Pharmaceutical Business School, China Pharmaceutical University, Nanjing.
Para penulis mencatat 62 penyakit musiman, memasangkannya dengan 140 obat, lalu menandai 41 obat yang perlu dijaga pasokannya lebih dulu. Obat prioritas itu dipilih karena sumber terbuka pernah melaporkan masalah pasokannya. Gangguan di sisi produksi menjadi masalah yang paling sering tercatat, yakni pada lebih dari separuh obat prioritas.
Sebelum 2019: penimbunan obat yang reaktif
Kebijakan awal Tiongkok soal obat musiman berpusat pada pencegahan dan pengendalian penyakit menular musiman. Kebijakan itu juga mencakup penimbunan obat darurat. Contoh yang disebut naskah adalah pengendalian penyakit yang ditularkan nyamuk dan penyediaan obat anak. Para penulis menyebut kebijakan pada masa itu sebagian besar bercorak model penimbunan reaktif.
Naskah itu lebih dulu memberi batasan pada pokok persoalannya. Kelangkaan obat musiman adalah keadaan ketika pasokan obat tidak cukup atau tidak stabil pada musim tertentu atau pada kondisi iklim tertentu. Pemicunya bisa lonjakan permintaan, hambatan di sisi pasokan, atau keduanya sekaligus. Faktor musim biasanya dapat diperkirakan, tetapi tetap menjadi sumber risiko.
Sisi pasokan punya musimnya sendiri. Sebagian bahan aktif obat diproduksi dengan pola musiman yang jelas, sementara panas atau kelembapan ekstrem dapat menurunkan mutu obat. Pabrik dan sistem rantai dingin juga rentan terganggu oleh kejadian yang terkait iklim. Bahan baku bisa hilang karena kondisi lingkungan, rusak di perjalanan, atau karena panen tanaman sumbernya rendah.
2020 sampai 2025: iklim masuk ke aturan obat
Sejak 2020, rancangan kebijakan bergeser ke pengelolaan seluruh rantai. Dua dokumen menjadi penandanya, yaitu National Climate Change Adaptation Strategy 2035 dan China National Climate Change Health Adaptation Action Plan 2024–2030. Keduanya untuk pertama kali menempatkan risiko penyakit musiman pada tingkat adaptasi iklim dan meminta sistem cadangan perbekalan medis dibangun serta diperbaiki.
Pada masa yang sama, otoritas jaminan kesehatan dan otoritas kesehatan ikut menyesuaikan aturan. Perubahan permintaan akibat penyakit musiman dan penyakit epidemi dimasukkan ke dalam pengadaan terpusat dan pengelolaan obat di layanan kesehatan dasar. Tekanannya ada pada pengadaan yang melihat ke depan dan pembagian stok yang bisa digeser ketika permintaan melonjak.
Pada 2025, perhatian beralih lagi ke pengawasan dan kewajiban kepatuhan perusahaan. Para penulis merangkum hasilnya sebagai satu rantai yang mencakup identifikasi risiko, pengaturan cadangan, kelenturan kapasitas, pengawasan pasar, dan kepatuhan perusahaan. Namun aturan itu kerap terbit dari lembaga yang berbeda. Menurut para penulis, aturan tersebut belum menyebut dengan jelas penyakit mana, obat mana, dan masa puncak mana yang harus didahulukan.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Juli 2022 sampai Agustus 2025: 62 penyakit didaftar
Kekosongan itulah yang diisi naskah ini. Para penulis menelaah informasi resmi National Disease Control and Prevention Administration dan Chinese Center for Disease Control and Prevention untuk kurun Juli 2022 sampai Agustus 2025. Dari sana terkumpul 62 penyakit yang punya pola musim, puncak musim, atau risiko khas musim tertentu.
Penyakit infeksi dan parasit menempati tempat pertama dengan 32 penyakit atau 51,6 persen. Cedera, keracunan, dan akibat lain dari sebab luar menyusul dengan 10 penyakit atau 16,1 persen. Penyakit pernapasan berada di urutan ketiga dengan delapan penyakit atau 12,9 persen. Penyakit kulit tercatat empat, penyakit mata tiga, dan penyakit peredaran darah dua.
Di dalam kelompok infeksi, penyakit infeksi usus paling banyak, yakni sembilan dari 32 penyakit atau 28,13 persen. Demam virus yang dibawa artropoda dan demam berdarah virus berjumlah lima penyakit. Penyakit bakteri zoonosis dan infeksi virus dengan lesi kulit serta selaput lendir masing-masing empat penyakit.
Sebanyak 39 dari 62 penyakit itu menular, setara 62,9 persen, dan 21 di antaranya masuk katalog penyakit menular wajib lapor nasional. Empat penyakit tergolong penyakit impor, yaitu dengue, malaria, chikungunya, dan demam virus lain yang dibawa nyamuk. Para penulis mengaitkan risikonya dengan bertambahnya pelancong dari Asia Tenggara dan Afrika serta iklim setempat yang mendukung penularan.
Maret sampai Agustus: kalender permintaan obat
Daftar penyakit itu lalu dipasangkan dengan 140 obat untuk pencegahan atau pengobatannya. Antimikroba menjadi golongan terbesar dengan 42 obat atau 30 persen, disusul obat kardiovaskular dengan 14 obat. Sebanyak 135 dari 140 obat merupakan obat kimia dan produk biologi, sedangkan sisanya obat paten Tiongkok.
Bulan Maret memberi puncak pertama, dengan kira-kira 100 catatan permintaan. Penyakit infeksi musim semi menyumbang 33 catatan dan penyakit kardiovaskular 10 catatan. Sebulan kemudian angkanya jatuh ke titik terendah setahun. April hanya mencatat 79 permintaan, dengan antimikroba turun ke 19 catatan dan obat kardiovaskular ke enam catatan.
Mei menjadi puncak tahunan obat kardiovaskular dengan 14 catatan permintaan. Para penulis menghubungkannya dengan suhu yang naik cepat dan selisih suhu siang-malam yang lebar pada akhir musim semi. Kedua hal itu, menurut naskah, mudah memicu naik turunnya tekanan darah.
Juli dan Agustus membawa puncak antimikroba, yakni 42 sampai 43 catatan permintaan. Obat pengatur cairan, elektrolit, dan keseimbangan asam-basa ikut menonjol dengan 16 catatan, sementara obat sistem genitourinari bertahan di 13 catatan. Pola ini sejalan dengan naiknya penyakit yang dibawa vektor, penyakit bakteri bawaan makanan, dan penyakit saluran kemih pada musim panas yang lembap.
Kalender penyakitnya bergerak searah. Setiap bulan ada 16 sampai 32 penyakit yang sedang berada di puncak, dan Juli sampai Oktober menjadi masa terpadat. Untuk penyakit menular, jumlahnya naik menjadi 17 pada Juni, memuncak 21 pada Juli, dan masih 18 pada September. Dari November sampai April, giliran penyakit infeksi pernapasan yang mendominasi.
Angka permintaan itu perlu dibaca dengan satu catatan dari para penulis sendiri. Catatan permintaan bukan jumlah obat yang benar-benar dipakai, diresepkan, dibeli, atau terjual. Angka itu hanya permintaan potensial yang diturunkan dari pasangan penyakit dan obat anjurannya. Satu obat yang cocok untuk beberapa penyakit bisa menyumbang beberapa catatan sekaligus.
Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Sejumlah obat muncul berulang pada banyak penyakit menular. Oralit paling dibutuhkan pada musim panas dan musim gugur untuk penyakit infeksi saluran cerna dan penyakit virus yang dibawa vektor. Naskah menyebutnya pilihan pertama di klinik sekaligus di kotak obat rumah tangga.
Antibakteri seperti siprofloksasin, penisilin, dan sefotaksim dipakai luas untuk meningitis serebrospinal epidemik, disentri, demam tifoid, dan kolera. Antivirus seperti ribavirin, oseltamivir, dan zanamivir terlibat dalam pengobatan influenza, ensefalitis Jepang, COVID-19, serta penyakit tangan, kaki, dan mulut. Asetaminofen dipakai pada hampir semua penyakit menular yang disertai demam tinggi.
Kebutuhan obat penyakit menular berlangsung sepanjang tahun, tetapi puncaknya jatuh pada dua masa. Yang pertama Juli sampai September, yang kedua November sampai Maret. Para penulis meminta permintaan besar yang menumpuk pada obat tertentu di musim tertentu diberi perhatian khusus.
Catatan lama: 41 obat yang pernah sulit didapat
Tahap terakhir menyaring obat yang punya riwayat. Sebuah obat masuk daftar prioritas bila sumber terbuka pernah melaporkan kelangkaan, kehabisan stok, pasokan yang ketat, atau gangguan pasokan lain. Dari 140 obat, 41 lolos saringan itu. Antimikroba kembali menjadi kelompok terbesar, yakni 13 obat atau 31,7 persen.
Gangguan di sisi produksi menjadi masalah paling menonjol, tercatat pada 23 dari 41 obat atau 56,1 persen. Putusnya pasokan bahan aktif obat dan lonjakan permintaan sama-sama tercatat pada 14 obat atau 34,1 persen. Efek gabungan beberapa kebijakan tercatat pada 13 obat atau 31,7 persen.
Contoh gangguan produksi dalam naskah itu berupa obat murah. Oralit dilaporkan sulit ditemukan di eceran karena labanya sangat tipis, minat menyetok menurun, dan produksi sempat dihentikan sementara. Serum antibisa ular menghadapi proses produksi yang rumit, insentif pasar yang terbatas, dan masa simpan yang pendek. Shidishui, obat untuk gangguan akibat sengatan panas, dikaitkan dengan laba tipis dan naiknya biaya bahan, tenaga kerja, serta kepatuhan.
Bahan baku punya contohnya sendiri. Pada salbutamol, musim alergi di musim semi dilaporkan bertepatan dengan persoalan harga bahan aktif dan kapasitas yang tidak cukup. Pada obat gawat darurat seperti norepinefrin dan dopamin, monopoli bahan aktif dan ketergantungan pada pemasok mengurangi kemampuan menjawab kebutuhan yang naik.
Lonjakan permintaan tercatat pada antivirus oseltamivir, zanamivir, dan baloxavir marboxil saat influenza memuncak. Loratadin naik pada musim semi, dan Huoxiang Zhengqi Shui pada musim panas. Asetaminofen menjadi contoh efek kebijakan. Permintaan musimannya datang ke pasar yang sudah tertekan batas harga tender, batas harga eceran, dan evaluasi konsistensi.
Kesimpulan para penulis sesudah itu ditulis dalam bahasa Inggris. “Temuan ini menunjukkan bahwa memperkuat ketahanan pasokan obat musiman menuntut peralihan dari penanganan kelangkaan yang reaktif menuju identifikasi risiko dan kesiapsiagaan yang proaktif,” tulis Jieying Zhang, Ningying Mao, Jun Li, dan rekan-rekannya dalam naskah itu.
Baca juga Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Sesudah daftar jadi: keterbatasan dan usulan
Para penulis mengakui tiga keterbatasan. Daftar mereka belum diuji dengan data pemakaian obat yang nyata, seperti basis data pengadaan rumah sakit dan klaim asuransi kesehatan. Analisis sisi pasokan bertumpu pada kasus tipikal dan dokumen kebijakan, tanpa data perusahaan. Rekomendasinya pun, menurut mereka sendiri, masih bersifat konseptual.
Usulan para penulis menyusul sesudah daftar itu. Pemantauan penyakit perlu disambungkan dengan data pengadaan, resep, persediaan, distribusi, dan penjualan eceran. Cadangan disusun bertingkat menurut pentingnya obat, ada tidaknya pengganti, dan riwayat pasokannya. Pembagian stok antarwilayah diperkuat, dan informasi ketersediaan obat disampaikan tepat waktu agar pembelian panik berkurang.
Daftar 41 obat itu berhenti pada data Agustus 2025. Pengujiannya dengan catatan pengadaan rumah sakit, data resep, dan klaim asuransi belum dikerjakan. Para penulis mencatatnya sebagai pekerjaan untuk penelitian berikutnya.















