- Pada Mei sampai Juni 2020, hanya 36,7 persen penduduk Spanyol berusia lima tahun ke atas berolahraga di luar ruang setidaknya sekali seminggu.
- Pada November 2020, prevalensi olahraga luar ruang naik menjadi 53,4 persen, atau bertambah 16,8 poin.
- Di antara orang yang tidak berolahraga di luar ruang pada awal pascalockdown, 41 persen mulai melakukannya pada masa new normal.
- Masih ada 37,0 persen penduduk yang tidak berolahraga di luar ruang pada kedua periode.
Daftar Isi
- Sebelum 2020: olahraga sebagai penopang aktivitas fisik
- Mei–Juni 2020: pintu dibuka, orang belum keluar
- November 2020: new normal dan lonjakan kelompok 65–74 tahun
- Lintasan 41 dan 25,3 persen: yang mulai dan yang berhenti
- Dari Inggris sampai Alpen: posisi temuan Spanyol
- Catatan de la Cámara dan rekan tentang batas data
- Yang bisa diperiksa pembaca di naskah 2026
Pada Maret 2020, pemerintah Spanyol memerintahkan kurungan rumah yang ketat, termasuk larangan keluar rumah untuk aktivitas fisik apa pun, dan larangan itu berlangsung hampir dua bulan. Spanyol saat itu tercatat sebagai salah satu negara Eropa dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi pada gelombang pertama pandemi. Pertanyaan yang tersisa sesudah pintu rumah dibuka kembali ternyata jarang dijawab dengan data nasional, yakni seberapa cepat orang kembali berolahraga di luar ruang.
Jawaban itu kini datang dari Miguel Ángel de la Cámara, Nerea Fernández de Larrea-Baz, Roberto Pastor-Barriuso, Pablo Fernández-Navarro, Marina Pollán, Beatriz Pérez-Gómez, dan ENE-COVID Study Group lewat artikel Evolution of outdoor sports during the COVID-19 post-lockdown in Spain: a nationwide population-based study di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Penulis pertamanya berasal dari University of Alcalá, sementara penulis lain bernaung di Centro Nacional de Epidemiología, Instituto de Salud Carlos III, serta CIBERESP di Madrid.
Sebelum 2020: olahraga sebagai penopang aktivitas fisik
Sebelum pandemi, para penulis mencatat, olahraga dipahami secara luas sebagai aktivitas fisik yang dilakukan untuk menjaga kebugaran, kesejahteraan mental, pergaulan, atau prestasi. Di negara berpenghasilan menengah dan tinggi, tempat pekerjaan yang banyak duduk mendominasi, olahraga menjadi salah satu penyumbang utama pemenuhan anjuran aktivitas fisik. Olahraga luar ruang bahkan dinilai berpotensi membawa manfaat tambahan karena pelakunya terpapar ruang hijau, ruang biru, dan lingkungan alam.
Namun, gambaran globalnya sudah suram sebelum virus datang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia yang dirujuk naskah ini, pada 2022 hampir sepertiga penduduk dewasa dunia, sekitar 1,8 miliar orang, kurang aktif secara fisik. Bila tren 2010 sampai 2022 berlanjut, target WHO untuk menurunkan inaktivitas fisik sebesar 15 persen pada 2030 tidak akan tercapai, dan pandemi dikhawatirkan membuat sasaran itu kian menjauh.
Mei–Juni 2020: pintu dibuka, orang belum keluar
Masa sesudah kurungan ketat dimulai pada 1 Mei 2020. Olahraga luar ruang mulai diperbolehkan, tetapi hanya satu jam sehari dan harus dilakukan sendiri atau bersama satu anggota rumah tangga. Belakangan pusat kebugaran dan fasilitas olahraga dibuka kembali dengan syarat masker wajib serta latihan dalam kelompok kecil, dan pada akhir Juni pembatasan itu dicabut sehingga Spanyol memasuki masa yang disebut new normal.
Pada Mei–Juni 2020 itu, hanya 36,7 persen penduduk Spanyol berusia lima tahun ke atas yang berolahraga di luar ruang setidaknya sekali seminggu. Angka tersebut berasal dari 64.258 peserta studi seroprevalensi nasional ENE-COVID. Laki-laki mencatat 43,0 persen, kelompok usia 15 sampai 24 tahun 50,3 persen, dan lulusan universitas 44,2 persen, sedangkan warga berusia di atas 85 tahun hanya 8,6 persen.
Jarak antarkelompok pada masa itu cukup lebar. Dibanding rerata penduduk, kelompok usia 75 sampai 84 tahun berada 19,9 poin di bawahnya dan kelompok 85 tahun ke atas 28,1 poin di bawahnya, sementara kelompok 15 sampai 24 tahun 13,5 poin di atasnya. Lulusan universitas 20,3 poin lebih tinggi daripada mereka yang belum menamatkan sekolah dasar, dan laki-laki 12,3 poin lebih tinggi daripada perempuan.
Angka lebih rendah juga ditemukan pada warga berkewarganegaraan selain Spanyol, orang yang tinggal serumah dengan orang rentan, penderita lebih dari dua penyakit kronis, penyandang disabilitas, orang dengan obesitas, dan perokok aktif. Warga provinsi dengan seroprevalensi SARS-CoV-2 sedikitnya 10 persen tercatat 12,8 poin lebih rendah dibanding warga provinsi dengan seroprevalensi di bawah 3 persen.
Para penulis menduga angka yang rendah itu terkait ketidakpastian soal cara virus menyebar dan rasa takut tertular sesudah gelombang pertama yang berat. “Anak muda barangkali memiliki persepsi risiko yang lebih rendah, yang dapat menjelaskan pulihnya olahraga luar ruang lebih awal, sebagaimana diisyaratkan hasil kami,” tulis de la Cámara dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Dugaan ini mereka sandarkan pada pola usia, bukan pada pengukuran rasa takut.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
November 2020: new normal dan lonjakan kelompok 65–74 tahun
Lima bulan memasuki new normal, pada November 2020, prevalensi olahraga luar ruang naik menjadi 53,4 persen dari 50.159 peserta, atau bertambah 16,8 poin. Kenaikan itu tidak merata. Keunggulan kelompok 15 sampai 24 tahun menyusut hingga hanya 1,9 poin di atas rerata, sedangkan kelompok 65 sampai 74 tahun justru baru melampaui rerata pada periode ini, dengan selisih 8,2 poin.
Anak berusia lima sampai sembilan tahun dan warga provinsi berseroprevalensi tinggi tak lagi tertinggal dari rerata. Warga lanjut usia memang mencatat kenaikan yang lebih besar, dan kelompok 65 sampai 84 tahun menunjukkan kenaikan partisipasi tertinggi, tetapi warga berusia 85 tahun ke atas tetap berada di bawah rata-rata dengan 29,5 persen. Pada masa new normal pula, kelompok 65 sampai 74 tahun menjadi kelompok dengan prevalensi tertinggi, baik pada laki-laki maupun pada perempuan.
Laki-laki tetap lebih banyak berolahraga di luar ruang di setiap kelompok usia dan pada kedua periode. Pada perempuan, puncak usia 15 sampai 24 tahun yang terlihat di awal pascalockdown bahkan hilang pada masa new normal. Penurunan pada usia paruh baya juga lebih curam dan mulai lebih muda pada perempuan, sedangkan penurunan sesudah puncak usia 65 sampai 74 tahun pun lebih tajam.
Peta provinsi menambah lapisan cerita. Pada awal pascalockdown, prevalensi yang disetarakan menurut usia dan jenis kelamin berkisar dari 22,9 persen di provinsi terendah sampai 61,0 persen di provinsi tertinggi, lalu bergeser menjadi 27,2 hingga 71,1 persen pada new normal. Untuk usia 5 sampai 17 tahun, prevalensinya melampaui 60 persen di sebagian besar provinsi pada periode kedua.
Pada kelompok di atas 34 tahun, provinsi pedalaman sempat tertinggal dari provinsi pesisir di awal pascalockdown. Pola itu hilang pada masa new normal, dan yang muncul justru kemungkinan pola utara ke selatan. Keragaman antarprovinsi tetap terlihat pada semua kelompok usia di kedua periode, bahkan di antara provinsi yang berada dalam satu wilayah yang sama.
Lintasan 41 dan 25,3 persen: yang mulai dan yang berhenti
Karena sebagian peserta diikuti pada kedua periode, para penulis bisa melihat perpindahan kebiasaan. Di antara orang yang tidak berolahraga di luar ruang pada awal pascalockdown, 41 persen mulai melakukannya pada masa new normal. Perubahan ini lebih sering terjadi pada anak usia 5 sampai 14 tahun, orang dewasa usia 65 sampai 74 tahun, lulusan berpendidikan tinggi, dan pekerja jarak jauh.
Sebaliknya, 25,3 persen orang yang berolahraga di luar ruang pada awal pascalockdown berhenti pada masa new normal. Kelompok yang berhenti ini lebih sering berisi perempuan, orang lanjut usia, mereka yang belum menamatkan sekolah dasar, penghuni wilayah berpendapatan rendah, orang dengan obesitas, dan perokok aktif. Mantan perokok, menurut penulis, justru lebih jarang berhenti, yang mungkin mencerminkan komitmen lebih tinggi terhadap kesehatan mereka.
Masih ada 37,0 persen penduduk yang tidak berolahraga di luar ruang pada kedua periode. Porsinya mencapai 66,3 persen pada kelompok tertua dan 50,3 persen pada kelompok berpendidikan paling rendah. Faktor seperti penyakit kronis dan disabilitas juga mencirikan kelompok ini, dan menurut penulis sebagian besar faktor itu sudah lama dikaitkan dengan rendahnya kepatuhan beraktivitas fisik dalam kepustakaan.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Dari Inggris sampai Alpen: posisi temuan Spanyol
Di sinilah temuan Spanyol disandingkan dengan riset sebelumnya. Studi di Inggris oleh Bu dan koleganya mencatat 29 persen orang dewasa mengurangi aktivitas fisik, angka yang oleh para penulis dinilai sejalan dengan 25,3 persen yang berhenti di Spanyol. Namun, studi yang sama menemukan hanya 9 persen penduduk yang menambah waktu beraktivitas, jauh di bawah 41 persen yang mulai berolahraga di Spanyol.
“Masa tindak lanjut yang lebih pendek dalam studi Inggris dan perbedaan karakteristik penduduk mungkin sebagian menjelaskan selisih ini,” tulis para penulis, dalam naskah berbahasa Inggris. Selisih serupa muncul pada anak. Liu dan koleganya menemukan sekitar 76 persen anak usia sekolah berolahraga di luar ruang minimal sekali seminggu pada gelombang pertama, jauh di atas estimasi Spanyol untuk anak dan remaja pada awal pascalockdown.
Pembanding dalam negeri datang dari Survei Kebiasaan Olahraga Spanyol. Pada 2015, 46,2 persen penduduk di atas 14 tahun berolahraga minimal sekali seminggu, atau 35,1 persen bila yang hanya berolahraga dalam ruang dikeluarkan. Survei September 2020 sampai Januari 2021 mencatat 54,8 persen, tetapi survei 2022 menunjukkan sedikit penurunan, sehingga penulis menilai kenaikan itu mungkin terbatas oleh waktu.
Temuan cepatnya kebiasaan pulih juga dinilai sejalan dengan studi Schöttl dan koleganya di kawasan Pegunungan Alpen Austria, Jerman, dan Italia. Adapun prevalensi rendah di awal pascalockdown dinilai mirip dengan laporan dari Lebanon pada masa lockdown pertamanya, tetapi lebih rendah daripada laporan dari Kanada. Para penulis sendiri mengingatkan bahwa perbedaan keparahan pandemi dan ketatnya pembatasan antarnegara sangat membatasi perbandingan langsung.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Catatan de la Cámara dan rekan tentang batas data
Penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Studi ini hanya mencakup penduduk yang tidak tinggal di institusi, sehingga penghuni panti dan hunian kolektif lain tidak terhitung. Tingkat partisipasi pada masa new normal juga lebih rendah daripada di awal pascalockdown, dan pertanyaannya khusus menanyakan olahraga luar ruang, sehingga hasilnya tidak bisa langsung disamakan dengan aktivitas fisik secara keseluruhan.
Aktivitas fisik di rumah tidak dihitung, dan perbedaan yang terlihat bisa sebagian disebabkan perpindahan tempat berolahraga. Jawaban peserta bersandar pada ingatan dan laporan diri sendiri, sementara tidak ada contoh baku tentang apa yang dianggap berolahraga. Ketiadaan ukuran olahraga luar ruang sebelum pandemi serta masa tindak lanjut yang terbatas membuat dampak pandemi belum tergambar utuh.
Yang bisa diperiksa pembaca di naskah 2026
Beberapa hal dalam naskah patut dicermati. Abstraknya menyebut tingkat dasar secara umum telah pulih “tujuh bulan kemudian,” padahal bagian lain menyebut periode kedua sebagai lima bulan pertama new normal. Klaim pulih ke tingkat dasar itu juga bersanding dengan pengakuan penulis sendiri bahwa mereka tidak memiliki ukuran olahraga luar ruang sebelum pandemi.
Selisih untuk provinsi berseroprevalensi tinggi ditulis 12,8 persen lebih rendah dengan interval 14,7 dan 11,0, urutan batas yang terbalik dibanding penulisan interval lain di naskah. Pada masa new normal, provinsi yang sama disebut tak lagi berprevalensi lebih rendah, dengan selisih 2,6 dan interval 0,1 sampai 5,1 yang seluruhnya di atas nol. Bagian metode juga menulis Hadley W sebagai pembuat ggplot2, sedangkan daftar pustaka nomor 28 menulis Handley W.
Pada akhirnya, naskah de la Cámara dan rekan-rekannya menambahkan satu mata rantai pada riset aktivitas fisik masa pandemi, yaitu potret nasional tentang bagaimana sebuah populasi kembali ke jalan dan taman sesudah dilarang keluar rumah. Temuan bahwa kelompok usia 65 sampai 74 tahun menjadi yang paling aktif, sementara kelompok tertua dan berpendidikan rendah tertinggal, menempatkan pemulihan itu sebagai proses yang berlapis dan tidak serempak.















