Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun

A A

Foto arsip rumah desa di tepi air, Fiji [Foto: Special Collections, University of Newcastle/Wikimedia Commons Domain Publik]

Daftar Isi
  1. Bau, Distrik dengan Insiden Tertinggi
  2. Puncak yang Berulang Tiap Januari
  3. Curah Hujan yang Tidak Berbicara
  4. Dua Divisi, Dua Arah Suhu
  5. Suva, Vuda, dan Bau
  6. Angka yang Berbeda di Dua Tempat

Dua belas stasiun cuaca berdiri di seantero Fiji, dirawat Badan Meteorologi Fiji, mencatat curah hujan, suhu, dan kelembapan setiap hari sejak awal 2016. Stasiun Nadi mengirim datanya untuk dua distrik sekaligus, Nadi dan Nawaka, sementara stasiun Navua menanggung beban serupa untuk Serua dan Veivatuloa.

Dari catatan harian yang dirata-rata jadi angka bulanan itulah, delapan tahun kemudian, sebuah pola berulang tersingkap di 14 distrik Divisi Tengah dan Divisi Barat Fiji. Datanya disandingkan dengan catatan pengawasan penyakit dari sistem peringatan dini kesehatan, bukan dari survei baru.

Temuan itu ditulis Suliasi Mekerusa Batikawai, Nicholas J. Osborne, Phu Do, Luke Vonotabua, Anaseini Vesikula, dan Simon A. Reid dalam Seasonal and meteorological determinants of district level acute watery diarrhea incidence in Fiji, 2016–2023: a time-series analysis, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1377, tahun 2026.

Batikawai dan Reid berafiliasi ke School of Public Health, University of Queensland, Australia. Vonotabua dan Vesikula bekerja di Ministry of Health and Medical Services, Suva, Fiji, lembaga yang juga menyediakan data pengawasan kasus untuk seluruh analisis dalam naskah ini.

Bau, Distrik dengan Insiden Tertinggi

Di antara 14 distrik yang datanya dipakai, Bau di Divisi Tengah mencatat insiden diare akut balita tertinggi, 19,63 kasus per 1.000 penduduk, disusul Rakiraki di Divisi Barat dengan 13,93. Angka median kasus bulanan di Bau sendiri tercatat 66 pada balita.

Untuk kelompok usia lima tahun ke atas, angka insiden tertinggi justru ada di Lomaivuna, 4,05 per 1.000, sementara Serua dan Veivatuloa mencatat yang terendah, hanya 0,82. Median kasus bulanan tertinggi untuk kelompok ini justru berada di Suva, lebih dari 265 kasus.

Rentang angka setiap distrik itu diolah lewat regresi binomial negatif efek campuran, dipilih setelah model Poisson menunjukkan sebaran data terlalu melebar untuk ditangani model yang lebih sederhana. Nilai kecocokan model binomial negatif jauh lebih baik pada kedua kelompok usia.

Model itu memasukkan suku autoregresif, indikator kuartal musiman, dan populasi distrik sebagai penyeimbang, dengan Kuartal 4 Oktober-Desember dijadikan pembanding karena rata-rata insidennya paling rendah sepanjang tahun. Dari 1.125 observasi bulanan yang terkumpul, pola yang muncul jauh lebih tajam daripada yang diduga sebelum data diproses.

Puncak yang Berulang Tiap Januari

Kuartal 1, Januari sampai Maret, secara konsisten menaikkan risiko diare akut dibanding Kuartal 4: dua puluh persen lebih tinggi pada balita dan dua puluh lima persen lebih tinggi pada kelompok usia lima tahun ke atas. Kenaikan ini muncul di kedua kelompok usia sekaligus, bukan hanya salah satunya.

Kuartal 3, Juli sampai September, berlaku sebaliknya. Risiko turun sebelas persen pada balita dan sembilan persen pada kelompok yang lebih tua, menjadikannya kuartal dengan insiden paling rendah di sepanjang tahun kalender Fiji. Kuartal 2 di antara keduanya tidak menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik pada kedua kelompok usia.

Perubahan risiko diare akut per kuartalKuartal 1 (Jan-Mar): Balita (U5) +20%, Usia 5+ (O5) +25%; Kuartal 3 (Jul-Sep): Balita (U5) −11%, Usia 5+ (O5) −9%.Perubahan risiko diare akut per kuartalDibanding Kuartal 4 (Okt-Des) sebagai acuanBalita (U5)Usia 5+ (O5)−20%−10%10%20%30%0Kuartal 1 (Jan-Mar)+20%+25%Kuartal 3 (Jul-Sep)−11%−9%RR dari model binomial negatif, disesuaikan musim dan kasus bulansebelumnya.
Sumber: Suliasi Mekerusa Batikawai, Nicholas J. Osborne, Phu Do, Luke Vonotabua, Anaseini Vesikula, dan Simon A. Reid, Seasonal and meteorological determinants of district level acute watery diarrhea incidence in Fiji, 2016–2023: a time-series analysis, BMC Public Health, 26(1377), 2026. Grafik: Cekricek.id

Kasus bulan sebelumnya juga ikut memprediksi kasus bulan berjalan, konsisten pada balita maupun kelompok usia lebih tua. Pola ini bertahan setelah faktor musiman dan meteorologi diperhitungkan, seolah beban kasus yang sudah ada punya daya dorongnya sendiri untuk bulan berikutnya.

Kasus dua bulan sebelumnya, sebaliknya, tidak lagi berkaitan bermakna dengan kasus bulan berjalan pada kedua kelompok usia. Daya prediksi paling kuat tetap berasal dari satu bulan paling dekat, bukan dari jarak yang lebih jauh ke belakang.

Curah Hujan yang Tidak Berbicara

Yang justru tidak muncul dalam data adalah asosiasi antara curah hujan, suhu, dan kelembapan rata-rata bulanan dengan insiden diare akut, baik untuk bulan berjalan maupun tertunda satu sampai dua bulan, setelah pola musiman dan autokorelasi disingkirkan dari perhitungan. Padahal Divisi Tengah menerima curah hujan hampir 187 milimeter per bulan dengan kelembapan 81 sampai 84 persen, jauh di atas Divisi Barat yang hanya sekitar 147 milimeter dan kelembapan 73 sampai 78 persen. Perbedaan iklim sebesar itu ternyata tidak langsung tercermin pada perbedaan rata-rata insiden nasional.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

“Ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa iklim tidak relevan; sebaliknya, beban dasar musiman AWD yang bisa diprediksi didorong oleh faktor-faktor di luar fluktuasi meteorologis jangka pendek,” tulis Suliasi Mekerusa Batikawai dan Simon A. Reid dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi this should not be interpreted as evidence that climate is irrelevant; rather, the predictable seasonal baseline burden of AWD is driven by factors beyond short-term meteorological fluctuations, ditulis dalam bagian pembahasan naskah setelah seluruh model regresi selesai dijalankan.

Dua Divisi, Dua Arah Suhu

Ketika data dipecah per divisi, gambarannya berubah. Di Divisi Barat, kenaikan suhu bulan berjalan justru menurunkan risiko pada balita, satu-satunya asosiasi suhu yang bermakna secara statistik di divisi itu untuk kelompok usia tersebut.

Di Divisi Tengah, arahnya terbalik total. Suhu yang lebih tinggi menaikkan risiko baik pada balita maupun kelompok usia lebih tua, dan kelembapan yang lebih tinggi turut menaikkan risiko pada balita, dengan nilai kepastian statistik yang tergolong ketat.

Suhu maksimum tertinggi sepanjang periode penelitian sendiri tercatat bukan di Divisi Tengah yang lembap, melainkan di Tavua, Divisi Barat, mencapai 27,3 derajat Celsius. Kontras ini menjadi salah satu alasan peneliti menahan diri untuk menggeneralkan temuan satu divisi ke divisi lainnya.

Divisi Tengah vs Divisi Barat FijiDivisi Tengah vs Divisi Barat FijiDivisi Tengah vs Divisi Barat FijiCurah hujan, kelembapan, dan arah efek suhu bulan berjalanDivisi TengahDivisi Barat187 mm147 mmCurah hujanrata-rata81-84%73-78%Kelembapan udaraRR 1,03RR 0,98Efek suhu padaAWD balitaRR 1,05tak bermaknaEfek suhu padaAWD usia 5+RR 1,02tak bermaknaEfek kelembapanpada balitaRR di atas 1 = risiko naik; "tak bermakna" = rentang kepercayaanmelewati 1.
Sumber: Suliasi Mekerusa Batikawai, Nicholas J. Osborne, Phu Do, Luke Vonotabua, Anaseini Vesikula, dan Simon A. Reid, Seasonal and meteorological determinants of district level acute watery diarrhea incidence in Fiji, 2016–2023: a time-series analysis, BMC Public Health, 26(1377), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola musiman di Divisi Barat juga lebih tajam dibanding Divisi Tengah, dengan lonjakan Kuartal 1 yang jauh lebih curam pada kedua kelompok usia. Peneliti menduga ini berkaitan dengan iklim leeward Divisi Barat yang lebih kering, sehingga lebih rentan terhadap banjir dan hujan orografis yang datang tiba-tiba. Divisi Tengah, sebaliknya, menerima curah hujan yang lebih merata sepanjang tahun, sehingga fluktuasi musimannya tidak setajam Divisi Barat meski curah hujan rata-ratanya justru lebih tinggi.

Suva, Vuda, dan Bau

Dari penilaian kerentanan yang menggabungkan beban dasar kasus, faktor lonjakan Kuartal 1, dan variabilitas jumlah kasus, tiga distrik masuk prioritas tertinggi untuk kesiapsiagaan: Suva, Vuda, dan Bau, dengan faktor lonjakan masing-masing melebihi rata-rata tahunan. Bau mencatat faktor lonjakan musiman tertinggi di antara ketiganya, 1,11, sementara Suva dan Vuda menyumbang dua dari tiga pusat perkotaan terbesar Fiji, sehingga lonjakan musiman di sana berarti menyangkut wilayah yang jauh lebih padat penduduknya.

Nadi dan Nawaka, meski menaungi pusat urban besar ketiga Fiji, justru masuk kategori prioritas sedang karena insiden Kuartal 1 di sana berada di bawah rata-rata tahunan, dengan faktor lonjakan 0,94. Rakiraki dan Nasigatoka menunjukkan pola serupa di bawah ambang itu, sedangkan Baravi, Lomaivuna, Serua dan Veivatuloa, serta Tavua masuk prioritas rendah karena beban dasar dan variasi musimannya sama-sama kecil dibanding distrik lain.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Angka yang Berbeda di Dua Tempat

Ada satu selisih kecil yang layak diperiksa pembaca yang teliti di naskah ini. Risiko relatif Kuartal 3 untuk kelompok usia lima tahun ke atas ditulis 0,91 di bagian ringkasan abstrak, tetapi tabel hasil penelitian yang sama menuliskan angka itu sebagai 0,905.

Rentang kepercayaan pada kedua versi angka itu identik persis, sehingga selisihnya kemungkinan besar hanya soal pembulatan. Namun demikian, dua versi angka untuk temuan yang sama tetap tercantum berdampingan di naskah yang telah terbit.

Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus

Peneliti sendiri mengakui desain ekologis penelitian ini tidak bisa menyimpulkan hubungan pada tingkat individu, dan ada perancu tak terukur seperti kebiasaan higiene rumah tangga yang bisa saja memengaruhi hasil tanpa tertangkap data. Peristiwa cuaca ekstrem seperti siklon dan banjir juga tidak dimodelkan karena data kejadiannya tidak tersedia, padahal disebut sebagai pendorong penting diare akut di Fiji pada penelitian-penelitian sebelumnya.

Dua belas stasiun cuaca itu terus mengirim data setiap hari, dan Bau tetap menjadi distrik dengan insiden diare akut tertinggi di antara 14 yang diteliti, kali ini bukan sekadar catatan geografis melainkan penanda pada peta kerentanan yang disusun dari delapan tahun angka. Pola yang berulang di Kuartal 1 setiap tahun, dan yang menyusut di Kuartal 3, tampak lebih kuat berbicara daripada rata-rata cuaca bulanan yang selama ini dianggap penyebab utamanya.

Bagikan

Baca Juga

Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata
Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan