- Sebanyak 302 peserta, atau 74 persen, mengalami sedikitnya satu gejala saluran napas atas dalam dua pekan.
- Sakit kepala menjadi keluhan paling luas, 77 persen, disusul sulit tidur 62 persen.
- Sebanyak 86 persen peserta menyebut mutu air Sungai Tijuana dan perairan di dekatnya sangat buruk.
- Skor gejala pencernaan 3,51 kali lipat pada kelompok yang menilai udara berbahaya.
- Para penulis menyatakan hubungan sebab-akibat tidak bisa ditarik dari survei satu waktu ini.
Daftar Isi
Warga di tepi Sungai Tijuana ramai mengeluh pilek, mual, dan pusing. Tiga dari empat orang melaporkan gejala saluran napas atas dalam dua pekan. Keluhan itu lebih banyak pada warga yang menilai udara di lingkungannya buruk.
Temuan itu ditulis Yu Ni, Elizabeth A. Mikita, Christine T. Loftus, dan 15 peneliti lain. Judul artikelnya Tijuana river pollution crisis: health symptoms and environmental perceptions from the Healthy Water Healthy Air Study. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus naskah terbitan awal yang belum disunting akhir.
Sebagian besar penulis bernaung di San Diego State University, California. Ada pula peneliti dari University of California San Diego dan University of Washington. Survei mereka diberi nama Healthy Water Healthy Air Study, artinya studi air sehat dan udara sehat.
Sungai lintas batas
Sungai Tijuana mengalir dari Meksiko ke Amerika Serikat. Daerah aliran sungainya lebih dari 4.400 kilometer persegi dan dihuni lebih dari 2,8 juta orang di kedua sisi perbatasan. Aliran lintas batas itu sudah lama tercemar limbah. Riset lain yang dirujuk naskah menemukan pestisida terlarang, logam berat, dan patogen kebal antibiotik di dalamnya.
Akhir Juli 2024 keadaan memburuk. Prasarana pengolahan limbah gagal, lalu air limbah meluap lebih dari 50 juta galon per hari tanpa hujan. Bau menyengat menyelimuti Lembah Sungai Tijuana selama lima bulan berikutnya.
Udara ikut tercemar. Pada musim panas 2024, kadar hidrogen sulfida malam hari di permukiman dekat sungai melonjak sampai 4.500 bagian per miliar. Kadar yang lazim di udara kota kurang dari 1 bagian per miliar.
Warga mengadu. Pada 9 September 2024, otoritas pengendali pencemaran udara San Diego County menerima 233 laporan bau, jumlah tertinggi yang pernah tercatat. Pada bulan-bulan sebelumnya, laporan harian lazimnya hanya 5 sampai 10. Survei kesehatan ini lahir sebagai jawaban atas kegelisahan itu.
Siapa yang menjawab
Survei daring dibuka dalam bahasa Inggris dan Spanyol sejak 1 September 2024. Sampai 31 Oktober 2025, sebanyak 409 orang dewasa menuntaskan survei awal. Mereka tinggal atau bekerja di permukiman perbatasan di selatan San Diego County.
Imperial Beach menyumbang peserta terbanyak, 241 orang atau 59 persen. Kawasan Otay dan perbatasan San Diego menyusul dengan 104 orang. Sisanya datang dari San Ysidro, Chula Vista, Coronado, dan National City.
Peserta didominasi perempuan, 305 orang atau 76 persen. Delapan dari sepuluh menyebut dirinya berkulit putih. Sebanyak 27 persen berpenghasilan rumah tangga 100.000 sampai 149.999 dolar AS setahun, dan 24 persen di atas itu. Hampir semua peserta, 98 persen, mengisi survei dalam bahasa Inggris.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Napas, perut, kepala
Gejala saluran napas atas paling sering muncul. Sebanyak 302 peserta, atau 74 persen, mengalami sedikitnya satu gejala dalam dua pekan. Pilek menjadi keluhan yang paling umum. Gejala alergi dilaporkan 55 persen peserta, dan 73 persen di antaranya minum obat untuk meredakannya.
Gejala saluran napas bawah dialami 25 persen peserta. Sebanyak 44 orang menerima diagnosis asma baru dalam 12 bulan terakhir. Lalu 38 orang butuh pengobatan lebih intensif dari biasanya karena mengi berat atau serangan asma.
Perut pun terganggu. Separuh peserta merasa mual sedikitnya satu sampai dua hari dalam sepekan, dan kembung dilaporkan 52 persen. Hampir seperempat peserta mengalami diare satu sampai dua hari sepekan. Sebanyak 23 persen lain mengalaminya lebih sering, dari tiga hari sepekan sampai setiap hari.
Sakit kepala menjadi keluhan paling luas, 77 persen. Sulit tidur dialami 62 persen dan sulit berkonsentrasi 45 persen. Nilai tengahnya empat gejala tekanan psikologis per orang dalam dua pekan.
Lebih dari 20 persen peserta juga kehilangan nafsu makan, gelisah, pening, atau merasa pikirannya berkabut. Dada sesak dilaporkan 14 persen. Jantung berdebar dilaporkan 8,6 persen.
Perilaku berisiko jarang bertambah. Hanya 4,4 persen peserta minum alkohol lebih banyak. Konsumsi rokok naik pada 2,2 persen dan obat terlarang pada 0,7 persen.
Sebagian peserta melaporkan penyakit kronis baru dalam 12 bulan. Hipertensi disebut 8,3 persen, diabetes 4,2 persen, dan kanker 3,4 persen. Penyakit paru obstruktif kronis dan penyakit jantung masing-masing 2,7 persen.
Udara dan air
Hanya 40 peserta, atau 10 persen, menilai udara di lingkungannya baik atau sedang. Sebanyak 34 persen menyebutnya berbahaya dan 25 persen sangat tidak sehat. Hampir 85 persen peserta mencium bau setiap pekan. Sebanyak 101 orang, atau 26 persen, menciumnya setiap hari.
Air sungai dinilai lebih buruk lagi. Sebanyak 86 persen peserta menyebut mutu air Sungai Tijuana dan perairan di dekatnya sangat buruk. Lalu 59 persen pernah menerima imbauan merebus air dalam 12 bulan terakhir.
Makin buruk, makin sakit
Penilaian atas udara berjalan seiring dengan keluhan. Peserta yang menilai udara berbahaya 1,8 kali lebih sering melaporkan gejala napas atas daripada peserta yang menilai udara baik atau sedang. Skor gejala pencernaan lebih mencolok, 3,51 kali lipat pada kelompok yang sama. Pada kelompok yang mencium bau setiap hari, skor itu 3,08 kali lipat.
Gejala tekanan psikologis dan perilaku berisiko, dihitung bersama, kira-kira dua kali lipat pada penilaian udara terburuk. Imbauan merebus air berkaitan dengan skor pencernaan 1,41 kali lipat. Untuk gejala napas bawah, arahnya serupa tetapi angkanya tidak cukup presisi.
Para penulis menyebut beberapa jalur paparan yang masuk akal. Salah satunya iritasi akibat udara yang terhirup. Jalur lain bekerja tidak langsung, lewat stres.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Jendela ditutup rapat
Warga menyesuaikan diri. Sebanyak 65 persen lebih sering menutup jendela dan 59 persen mengurangi waktu di luar rumah. Hampir separuh, 47 persen, memasang penyaring udara di rumah. Sebanyak 36 persen membatasi undangan tamu, 32 persen memindahkan olahraga ke dalam ruangan, dan 15 persen memakai masker.
Langkah berjaga ini paling banyak pada warga yang menilai udara buruk. Jumlahnya 4,16 kali lipat pada kelompok yang menyebut udara berbahaya. Berjaga juga butuh uang. Bagi keluarga berpenghasilan di bawah 30.000 dolar AS setahun, yang mencakup 8 persen peserta, biayanya setara 2 sampai 5 persen pendapatan.
Pemerintah San Diego County meluncurkan program pembagian pemurni udara pada musim semi 2025. Sampai Desember 2025, hampir 10.000 keluarga South Bay menerima satu unit. Tim peneliti juga memaparkan hasil survei kepada lebih dari seratus warga dalam forum 27 Maret 2025.
Beban ganda warga
Para penulis membaca temuan ini sebagai dua beban sekaligus. “Warga di Lembah Sungai Tijuana menghadapi beban ganda yang belum pernah terjadi sebelumnya: dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat dari pencemaran limbah, diperberat kesenjangan kesehatan sistemik yang sudah berlangsung lama,” tulis Yu Ni, peneliti San Diego State University, bersama rekan-rekannya. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.
Permukiman perbatasan di sisi Amerika Serikat dihuni banyak warga Hispanik atau Latino, 53 sampai 93 persen. Sebanyak 20 sampai 30 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Naskah menyebut kebutuhan mereka lama terabaikan.
Kajian kesehatan tentang krisis ini masih langka, dan naskah hanya mengetahui dua studi terdahulu. Satu mengaitkan debit sungai dengan kunjungan gawat darurat karena diare pada musim panas 2023. Studi kedua dilakukan di El Bordo, kawasan tepi kanal di Tijuana, Meksiko. Di sana tercatat infeksi kulit pada 47 persen penghuni, dehidrasi pada 40 persen, dan diare pada 28 persen.
Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Batas survei
Survei ini memotret satu waktu. Gejala dan penilaian lingkungan ditanyakan dalam rentang dua pekan yang sama. Karena itu, para penulis menyatakan hubungan sebab-akibat tidak bisa ditarik.
Peserta tidak dipilih secara acak. Warga Hispanik atau Latino hanya 39 persen peserta, lebih kecil dari porsinya di permukiman itu. Warga tanpa akses internet juga bisa terlewat. Warga mungkin pula lebih terdorong ikut saat bau menyengat atau gejala memuncak, sehingga dampak kesehatan bisa terhitung berlebih.
Semua keluhan dilaporkan sendiri oleh peserta. Sakit kepala, dada sesak, dan sulit berkonsentrasi bisa lahir dari stres. Gejala itu juga bisa berasal dari efek langsung hidrogen sulfida.
Survei lanjutan bulanan direncanakan berjalan setahun bagi peserta yang bersedia. Tim peneliti berencana memadukan catatan itu dengan pengukuran udara dan air dari jaringan pemantau.















