- Air menjadi tempat orang menyusun sendiri arti sehat, dari pikiran jernih hingga kepekaan terhadap danau yang menyusut.
- Menurut teori tersebut, berada di dekat, di dalam, di atas, atau di bawah air memicu keadaan pikiran yang ditandai ketenangan, kejernihan, dan keseimbangan emosi.
- Tubuh, dalam temuan ini, ikut membentuk arti sehat, bukan hanya pikiran.
- Rekrutmen lewat media sosial dan komunitas rekreasi air bisa terlalu banyak menjaring orang yang sejak awal menyukai kegiatan itu.
Daftar Isi
- Sejak Nichols 2014: Air yang Dipahami sebagai Penenang
- Warisan Utsmaniyah hingga 1960-an: Air dalam Hidup Sehari-hari
- Temuan 2026: Air sebagai Ruang Mengatur Emosi
- Melampaui Nichols: Pikiran Jernih dan Tubuh yang Terasa Muda
- Kesaksian 2025: Danau yang Mengering, Lumba-lumba yang Hilang
- Korpela dan Staats: Berkawan Sekaligus Menyepi
- Naskah 2026: Batas Kajian dan Catatan atas Tabel
Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, hamam tidak hanya dipakai untuk membersihkan badan, tetapi juga untuk melepas penat dan bergaul. Şifahane, rumah pengobatan pada masa itu, memanfaatkan khasiat air lewat hidroterapi dan unsur bunyi untuk menjaga keseimbangan fisik dan emosi. Menjelang akhir abad ke-19, berlayar pesiar mulai dilembagakan, meski awalnya hanya di lingkaran elite.
Jejak sejarah itu dibentangkan Cemal Yalçın dari Ankara University, Begüm Yaşar Sönmez dari Ministry of Youth and Sports of the Republic of Türkiye, dan Erdoğan Ekinci dari Artvin Çoruh University dalam artikel Constructing Health Meanings in Blue Spaces: A Blue Mind Perspective on Water-Based Leisure in Türkiye. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus artikel dalam cetak, sehingga belum bervolume dan bernomor. Di atas latar sejarah itu, ketiganya menguji satu teori yang belakangan sering dipakai dalam riset waktu luang.
Hasilnya menggeser cara teori itu biasa dibaca. Dari cerita sepuluh orang di berbagai wilayah Türkiye yang rutin berlayar, berselancar, menyelam, memancing, berkemah, dan mendayung papan berdiri, para peneliti mendapati bahwa air tidak sekadar menenangkan. Air menjadi tempat orang menyusun sendiri arti sehat, dari pikiran jernih hingga kepekaan terhadap danau yang menyusut. Di antara keduanya ada tubuh yang terasa lebih muda dan kawan-kawan baru.
Sejak Nichols 2014: Air yang Dipahami sebagai Penenang
Teori yang diuji itu bernama Blue Mind, dirumuskan W.J. Nichols dalam buku terbitan 2014. Menurut teori tersebut, berada di dekat, di dalam, di atas, atau di bawah air memicu keadaan pikiran yang ditandai ketenangan, kejernihan, dan keseimbangan emosi. Kontak dengan air, lanjut teori itu, meredakan stres, mendorong relaksasi, dan memulihkan perhatian, sehingga bukan hanya memberi damai di dalam diri, melainkan juga memperbaiki kerja pikiran.
Dalam rantai riset yang dirujuk naskah, penerapan teori itu di bidang waktu luang sebagian besar menekankan sisi tenang dan pulih. Tinjauan Britton dan kolega pada 2020 tentang intervensi ruang biru serta ulasan White dan kolega pada tahun yang sama termasuk yang dirujuk untuk pola tersebut. Ruang biru sendiri, dalam naskah ini, adalah sebutan bagi laut, danau, dan sungai.
Yalçın dan kolega melihat celah di situ. Menurut mereka, banyak studi menyebut Blue Mind secara deskriptif saja, tanpa cukup memperhatikan cara orang menafsirkan pengalamannya di air. “Apakah rekreasi berbasis air hanya berfungsi sebagai latar yang menenangkan atau sebagai konteks relasional aktif yang membentuk pengalaman masih belum cukup diteliti,” tulis Cemal Yalçın, Begüm Yaşar Sönmez, dan Erdoğan Ekinci dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Untuk menjawabnya, para peneliti menautkan pandangannya dengan pendekatan salutogenik yang dirujuk dari karya Antonovsky pada 1979 dan 1987. Dalam pandangan itu, sehat bukan sekadar tidak sakit, melainkan proses dinamis yang terus dirundingkan lewat pengalaman sehari-hari. Naskah juga membedakan persepsi kesehatan, yakni penilaian orang atas kesehatannya sendiri, dari makna kesehatan, yaitu pemahaman pribadi dan budaya tentang arti menjadi sehat.
Warisan Utsmaniyah hingga 1960-an: Air dalam Hidup Sehari-hari
Pilihan atas Türkiye bukan kebetulan. Negeri itu dikelilingi laut di tiga sisi, yakni Laut Mediterania, Laut Hitam, Laut Aegea, dan Laut Marmara, ditambah danau dan sungai di pedalaman. Menurut naskah, air di sana bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari kehidupan sosial, tampak dalam liburan, memancing amatir, dan kumpul keluarga di tepi air.
Pada awal masa Republik, kamp Heybeliada tahun 1933–1938 yang diselenggarakan Istanbul Children’s Rescue Home menjadi contoh rekreasi air yang dilembagakan. Anak-anak berenang dan berkemah di sana untuk menopang kesejahteraan fisik dan emosinya. Sejak 1960-an, perencanaan rekreasi meluas lewat inisiatif negara, termasuk penataan lanskap danau dan sungai oleh State Hydraulic Works.
Kini, menurut naskah, wisata pesisir, olahraga air, dan fasilitas termal menjadi wajah modern rekreasi air di negeri itu. Kesinambungan inilah yang membuat para peneliti menilai Türkiye layak diperiksa. Mereka mencatat riset ruang biru selama ini banyak bertumpu pada sudut pandang Barat, antara lain dengan merujuk tulisan Wheaton dan kolega pada 2020, sehingga pemahaman lintas budaya masih terbatas.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Temuan 2026: Air sebagai Ruang Mengatur Emosi
Dari wawancara itu lahir lima tema besar yang terbagi ke dalam sepuluh subtema. Tema pertama menempatkan air sebagai ruang untuk mengatur emosi. Para partisipan menggambarkan rekreasi air sebagai sumber ketenangan dan kejernihan, terutama ketika stres dan cemas datang. Seorang pendayung papan berdiri yang dicatat penulis sebagai P7 menyebut air punya efek menenangkan, rasanya seperti terapi.
Naskah menegaskan kontak dengan air bukan sekadar pelarian. Para partisipan memakainya secara sengaja untuk memulihkan keseimbangan batin. Ombak, kondisi yang berubah, dan tantangan fisik juga menjadi ajang menguji serta memperluas batas diri. Seorang pelayar dengan pengalaman 54 tahun, dicatat sebagai P5, mengatakan dulu ia tidak mengenal batas dirinya sampai lautan biru menunjukkan seberapa luas dirinya bisa berkembang.
Di titik ini para penulis mulai berbeda arah dari pembacaan lama atas Nichols. Menurut mereka, partisipan tidak memahami sehat sekadar sebagai rasa rileks sesaat seusai berada di air. “Sebaliknya, mereka menggambarkan kesehatan sebagai rasa keseimbangan emosi, ketahanan psikologis, dan kestabilan batin yang berkelanjutan, yang tumbuh lewat keterlibatan berulang dengan air,” tulis ketiga peneliti itu.
Melampaui Nichols: Pikiran Jernih dan Tubuh yang Terasa Muda
Tema kedua menyangkut pikiran. Kedekatan dengan air, menurut para partisipan, mengurangi kekusutan pikiran dan memunculkan gagasan baru. Seorang pelayar yang dicatat sebagai P1 bercerita bahwa semua idenya datang ketika ia berada di atas atau di dekat air. Air, dalam kisah-kisah itu, menjadi sumber ilham sekaligus tempat mengambil keputusan dengan lebih tenang.
Seorang pekemah perempuan yang dicatat sebagai P9 bahkan memilih jenis perairan sesuai persoalan yang ia hadapi. Untuk keputusan sulit ia menuju laut yang berombak, sedangkan untuk mencari ketenangan ia berkemah di tepi danau. Para penulis membaca air sebagai ruang peralihan tempat keputusan penting mengkristal, lalu gagasan itu dibawa pulang ke darat untuk dijalankan.
Tema ketiga bergeser ke tubuh. Para partisipan melaporkan daya tahan, kekuatan otot, kelenturan, dan keseimbangan yang membaik karena kontak berkelanjutan dengan air. Mereka juga menceritakan nyeri kronis yang berkurang, rasa menua dengan lebih sehat, dan tubuh yang terasa segar. Seorang pemancing dengan pengalaman 45 tahun, dicatat sebagai P3, merasa sanggup melakukan apa saja yang dikerjakan orang yang lebih muda.
Temuan ini, menurut naskah, sejalan dengan riset yang dirujuk dari Finlay dan kolega pada 2015 serta McCartan dan kolega pada 2023, yang menunjukkan paparan rutin pada ruang biru berkaitan dengan perasaan lebih muda dari usia sebenarnya. Tubuh, dalam temuan ini, ikut membentuk arti sehat, bukan hanya pikiran. Para penulis menyimpulkan pengalaman Blue Mind tidak terkurung pada proses mental semata.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Kesaksian 2025: Danau yang Mengering, Lumba-lumba yang Hilang
Tema keempat muncul dari mata yang terlatih mengamati. Karena menghabiskan banyak waktu di air, para partisipan merasa lebih cepat menangkap perubahan lingkungan, dari pencemaran sampai berkurangnya spesies. Pelayar P1 menuturkan bagaimana air perlahan surut, orang lain tidak memperhatikan, dan sebuah danau akhirnya kering sama sekali di depan mata mereka.
Seorang peselancar yang dicatat sebagai P8 mengenang masa ketika anjing laut biksu Mediterania, penyu, dan lumba-lumba masih mudah dijumpai. Kini, katanya, sebagian besar tempat bertelur satwa laut itu telah berubah menjadi hotel. Ia dan kawan-kawannya pernah menyelamatkan beberapa tukik dan melepasnya kembali ke alam, sementara sebagian lain ditemukan sudah mati.
Kepekaan itu, menurut naskah, berlanjut menjadi tindakan menjaga. Pendayung P7 kini ikut menggelar acara memungut sampah karena lelah hanya memberi peringatan. Bagi para penulis, ini menunjukkan makna sehat yang melebar ke luar diri. “Melalui keterlibatan yang terus-menerus dengan ruang biru, kesehatan dipahami bukan hanya sebagai kondisi individual, tetapi juga sebagai hubungan dengan lingkungan alam,” tulis Yalçın dan kolega.
Korpela dan Staats: Berkawan Sekaligus Menyepi
Tema kelima menyangkut hubungan dengan orang lain. Kegiatan di air, menurut partisipan, mempercepat terbentuknya pertemanan karena pengalaman dan risiko ditanggung bersama. Pemancing yang dicatat sebagai P10 menyebut orang dari pandangan hidup, tingkat sosial ekonomi, agama, dan kebangsaan berbeda bertemu di tempat yang sama. Pendayung P2 bahkan kini punya kawan dekat di kota yang belum pernah ia kunjungi.
Namun, air juga menjadi tempat menjauh dari keramaian. Beberapa partisipan sengaja pergi ke air untuk menyendiri dan lepas dari tuntutan sosial. Pekemah P9 mengatakan menarik diri sedikit terasa menyenangkan, seakan ia bisa bernapas lagi. Naskah menautkan pola ini dengan literatur tentang kesendirian yang memulihkan, termasuk tulisan Korpela dan Staats pada 2013.
Bagi para partisipan, kedua hal itu tidak saling bertentangan. Mereka memandang pertemanan dan waktu menyendiri sama pentingnya untuk menjaga kesejahteraan. Para penulis menyimpulkan pengalaman di ruang biru perlahan membentuk pemahaman bahwa sehat adalah keseimbangan antara keterhubungan sosial dan pemulihan pribadi, sehingga ruang biru dapat dipandang sebagai sumber daya kesehatan masyarakat.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Naskah 2026: Batas Kajian dan Catatan atas Tabel
Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri. Kelompok partisipannya spesifik, sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi. Rekrutmen lewat media sosial dan komunitas rekreasi air bisa terlalu banyak menjaring orang yang sejak awal menyukai kegiatan itu. Menurut para penulis, bias seleksi diri itu mungkin ikut membuat temuan cenderung positif, sehingga hasilnya lebih tepat dibaca sebagai pengalaman para pelaku rutin, bukan warga Türkiye pada umumnya.
Pembaca yang teliti juga akan menemukan ketidakcocokan dalam naskah. Teks menyebut delapan partisipan bergelar universitas, satu lulusan diploma, dan satu lulusan sekolah menengah atas. Tabel 1 justru mencatat tujuh sarjana, satu diploma, dan dua lulusan sekolah menengah atas, yaitu P3 dan P6. Teks juga menyebut sembilan orang masih bekerja dan satu pensiun, padahal tabel mencantumkan dua pensiunan, P5 dan P8.
Ada pula selisih kecil lain. Kriteria keikutsertaan menyebut berenang sebagai salah satu kegiatan, tetapi tak satu pun partisipan dalam tabel tercatat dengan aktivitas berenang. Selisih-selisih ini tidak mengubah lima tema temuan, tetapi layak diperiksa ulang ketika naskah dalam cetak itu memperoleh bentuk finalnya.
Dalam rantai riset ruang biru, kajian Yalçın, Sönmez, dan Ekinci menempati posisi sebagai perluasan atas pembacaan Nichols yang selama ini berpusat pada ketenangan. Ia menambahkan tubuh, lingkungan, dan hubungan sosial ke dalam arti sehat, serta menggeser sorotan dari negeri Barat ke perairan Türkiye. Mata rantai berikutnya, sebagaimana diusulkan penulisnya, adalah sampel yang lebih beragam dan orang-orang yang justru tak punya akses ke air.















