Nenek dan Cucu di Desa Shandong Sama-sama Tersendat Saat Berobat

A A

Nenek beruban tersenyum sambil menggendong cucu balita berbaju kuning di halaman rumah [Foto: Bhen777/Pexels]

  • Sembilan dari 13 peserta hidup dengan dua penyakit kronis atau lebih.
  • Hambatan transportasi disebut oleh 10 dari 13 peserta dalam penelitian ini.
  • Empat dari 13 peserta sudah tidak berharap sembuh.
  • Sembilan dari 13 peserta berpenghasilan kurang dari 1.500 yuan sebulan, dan delapan menjadikan tunjangan pensiun satu-satunya pemasukan.
Daftar Isi
  1. Sakit yang ditanggung sang nenek
  2. Sakit yang menimpa sang cucu
  3. Uang yang datang dari kota
  4. Kabar yang datang dari kota
  5. Siapa yang dimintai tolong
  6. Siapa yang sebenarnya ditanya

Sebuah kamera pengawas yang dipasang seorang anak dari Qingdao dan seekor serangga yang merayap masuk ke telinga seorang bocah ketika neneknya sibuk mengupas tongkol jagung tampaknya tidak punya hubungan apa pun. Keduanya ternyata tercatat dalam cerita yang sama. Itulah cerita para nenek di dua desa di Provinsi Shandong, China, yang merawat cucu sambil menanggung penyakit mereka sendiri, sementara anak-anak mereka bekerja di kota.

Cerita itu dihimpun Xuewen Zhang, Jing Liu, Chunying Wang, Junxin Zhang, Yueying Pan, Xiaoqin Chong, Min Wang, dan Yuanlei Yue dalam Seeking medical services among rural “grandmother-grandchildren” left-behind families in China: a qualitative study, yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bernaung di Jining Medical University, sedangkan Min Wang berasal dari Hubei University of Chinese Medicine di Wuhan. Semua kutipan dalam tulisan ini diterjemahkan dari naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Para peneliti mewawancarai 13 anggota keluarga nenek-cucu pada Juni hingga Agustus 2025. Mereka memusatkan perhatian pada dua generasi yang tinggal satu atap, yakni nenek yang menua bersama penyakit kronis dan cucu yang masih bertumbuh. Pertanyaannya sederhana, yaitu bagaimana keduanya mencari pengobatan ketika generasi di tengah, orang tua si cucu, tidak ada di rumah.

Rumah tangga semacam ini bukan jumlah kecil. Mengutip survei gabungan tiga kementerian China, penulis menyebut jumlah anak yang ditinggal merantau di negeri itu sudah melampaui 9,02 juta, dan 89,3 persen di antaranya diasuh kakek-nenek. Menurut naskah, yang biasanya bertahan di desa untuk mengasuh adalah perempuan berusia 60 tahun ke atas dengan pendidikan terbatas dan pekerjaan yang tidak menentu.

Sakit yang ditanggung sang nenek

Sembilan dari 13 peserta hidup dengan dua penyakit kronis atau lebih. Seorang peserta yang dicatat penulis sebagai Partisipan 2 menyebut gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan bantalan tulang punggung yang bergeser sekaligus. Partisipan 4 bercerita sering dirawat inap karena penyakit jantung koroner, hipertensi, gula darah tinggi, dan katarak, sedangkan biaya operasi dianggapnya terlalu mahal.

Cara mereka menghadapi penyakit itu mirip satu sama lain. Delapan peserta cenderung menganggap gejala sebagai hal biasa sampai tubuhnya tak lagi bisa digerakkan. Partisipan 1 mengaku dokter menyuruhnya minum satu pil radang sendi di pagi hari, tetapi ia menelan dua. Partisipan 11 membiarkan tulang rusuknya yang bergeser setelah tertabrak hanya dengan minum obat, sampai hasil rontgen menunjukkan cederanya memburuk.

Empat dari 13 peserta sudah tidak berharap sembuh. Partisipan 6 menuturkan bahwa sejak operasi lambung ia tak bisa makan dan tak bisa bekerja, tetapi masih harus mengurus cucunya yang kecil. Penulis membaca sikap semacam ini sebagai cara menjaga martabat ketika sumber daya terbatas, yakni dengan menganggap penyakit sebagai bagian biasa dari menua.

Pekerjaan pun tidak berhenti karena sakit. Partisipan 12, yang jantungnya sering berdebar sehingga membatasi tenaganya, tetap mengambil kerja borongan. “Saya tetap memetik cabai kapan pun saya bisa, duduk diam di rumah justru lebih buruk,” ujar peserta yang dicatat penulis sebagai Partisipan 12 itu. Peserta lain menggarap lima mu ladang sambil memetik bawang putih dan cabai untuk tambahan uang.

Beban yang paling sering muncul di 13 keluargaMengurus sakit ringan sendiri: Jumlah peserta +11; Berpendidikan rendah: Jumlah peserta +11; Terhambat transportasi: Jumlah peserta +10; Dua penyakit kronis atau lebih: Jumlah peserta +9; Penghasilan di bawah 1.500 yuan: Jumlah peserta +9; Pensiun satu-satunya pemasukan: Jumlah peserta +8; Menantu bercerai dari anaknya: Jumlah peserta +6; Tak lagi berharap sembuh: Jumlah peserta +4.Beban yang paling sering muncul di 13 keluargaJumlah peserta yang mengalami atau menyebutnya, dari 13 orang5100Mengurus sakit ringan sendiri11Berpendidikan rendah11Terhambat transportasi10Dua penyakit kronis atau lebih9Penghasilan di bawah 1.500 yuan9Pensiun satu-satunya pemasukan8Menantu bercerai dari anaknya6Tak lagi berharap sembuh4Dua desa di Provinsi Shandong, China, Juni-Agustus 2025.
Sumber: Xuewen Zhang, Jing Liu, Chunying Wang, Junxin Zhang, Yueying Pan, Xiaoqin Chong, Min Wang, dan Yuanlei Yue, Seeking medical services among rural “grandmother-grandchildren” left-behind families in China: a qualitative study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sakit yang menimpa sang cucu

Di sisi cucu, empat dari 13 keluarga melaporkan anak yang pernah sakit serius, seperti kejang demam atau miokarditis. Sembilan keluarga lainnya mencatat sakit ringan hingga sedang semacam flu. Angka itu nyaris sejajar dengan sisi nenek, yang mencatat lima penderita penyakit kronis berat dan delapan penderita penyakit kronis ringan di antara 13 peserta.

Persoalannya bukan hanya penyakit, melainkan jarak antara gejala dan pertolongan. Sebelas dari 13 peserta berpendidikan rendah dengan literasi kesehatan terbatas, sehingga menurut penulis mereka kerap meremehkan betapa cepat penyakit anak berkembang. Partisipan 5 mengenang malam ketika cucunya masuk angin, ia sendirian dan jalan sulit terlihat, sehingga ia memberi obat dan air lalu menunggu pagi untuk ke klinik.

Hambatan transportasi disebut oleh 10 dari 13 peserta dalam penelitian ini. Seorang peserta mengingat masa ketika belum ada skuter listrik dan yang tersedia hanya sepeda untuk membawa cucu yang demam tinggi dan kejang. Bila sampai pun, klinik belum tentu siap. Partisipan 5 bercerita perawat di klinik desa Chishan gagal menemukan pembuluh darah bayi berumur empat bulan dan tak bisa memasang infus.

Naskah menaruh cerita itu di atas angka yang lebih luas. Pada 2018, desa di China hanya punya 1,8 dokter per 1.000 penduduk, dibanding 4,0 di kota. Pada 2021, fasilitas layanan primer mencakup 94,8 persen institusi kesehatan tetapi hanya mempekerjakan 29,4 persen tenaga kesehatan, sementara 1,1 persen rumah sakit publik menampung 49,1 persen tenaga medis.

Pengawasan nenek juga terbagi. Partisipan 10 sedang mengupas tongkol jagung pada musim sibuk ketika seekor serangga masuk ke telinga cucunya hingga berdarah. Para peserta mengaku mengasuh cucu yang sakit lebih melelahkan daripada dulu mengasuh anak sendiri, dan penulis merangkum beban itu dengan ungkapan hati yang mau, tetapi tubuh yang tak lagi sanggup.

Ketika nenek dan cucu sakit bersamaan, urutannya jelas. “Kalau anak dan saya sama-sama flu, saya harus mengobati anak dulu. Saya cukup minum obat dan menahannya sendiri. Lagi pula saya sudah tua dan toh tidak akan hidup lebih lama lagi,” kata peserta yang dicatat penulis sebagai Partisipan 3. Ia hidup dari tunjangan pemerintah 500 yuan sebulan, ditambah 80 yuan untuk suaminya yang memegang sertifikat disabilitas.

Dua generasi, dua catatan sakitDua generasi, dua catatan sakitDua generasi, dua catatan sakitKondisi kesehatan di 13 keluarga nenek-cucuNenekCucu5 dari 134 dari 13Sakit berat atauserius8 dari 139 dari 13Sakit ringanJantung koronerMiokarditisContoh sakit beratDitahan sendiriDiobati duluSaat flubersamaanSakit ringan nenek berupa penyakit kronis.
Sumber: Xuewen Zhang, Jing Liu, Chunying Wang, Junxin Zhang, Yueying Pan, Xiaoqin Chong, Min Wang, dan Yuanlei Yue, Seeking medical services among rural “grandmother-grandchildren” left-behind families in China: a qualitative study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Uang yang datang dari kota

Sisi ekonomi memperlihatkan pola yang sama rapuhnya. Sembilan dari 13 peserta berpenghasilan kurang dari 1.500 yuan sebulan, dan delapan menjadikan tunjangan pensiun satu-satunya pemasukan. Anak-anak di kota, menurut naskah, hanya memberi dukungan yang terputus-putus, cukup untuk listrik dan biaya hidup dasar cucu, tetapi membiarkan rumah tangga di desa tetap rawan secara ekonomi.

Partisipan 3 menyebut anaknya yang bekerja di Qingdao biasanya tidak memberi uang, tetapi membayar biaya hidup cucu dan tagihan listrik. Partisipan 5 menuturkan anaknya baru membeli apartemen di kota dan harus mencicil 6.000 sampai 7.000 yuan per bulan. Karena itu, kata penulis, kebanyakan nenek bertani dan mengambil kerja serabutan untuk menutup biaya rumah tangga sambil mengasuh cucu.

Beban itu bertambah dari arah lain. Enam dari 13 peserta melaporkan menantu perempuan mereka bercerai dari anak laki-lakinya ketika cucu masih bayi, lalu menyerahkan anak itu sepenuhnya kepada kakek-nenek. Sebelas peserta hanya mampu memenuhi kebutuhan fisik cucu dan tak bisa membantu pelajaran sekolah, sehingga keluarga beralih ke les tambahan yang menaikkan biaya hidup.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Kabar yang datang dari kota

Jika uang datang tidak menentu, perhatian datang lewat layar. Anak-anak di kota menanyakan keadaan rumah melalui telepon dan panggilan video. “Ia memasang kamera pengawas untuk saya, khawatir saya jatuh sakit. Tetapi karena di rumah tidak banyak yang terjadi, ia tidak datang,” kata Partisipan 3 tentang anaknya. Partisipan 7 menyebut anaknya hanya pulang saat Festival Musim Semi.

Di sisi nenek, penulis mencatat kecenderungan menyembunyikan kabar buruk soal kesehatan dari anak karena takut membuat mereka cemas. Para lansia menerima alasan anaknya merantau dan memaafkan ketidakhadiran mereka saat berobat, tetapi tetap merindukan rasa aman yang dibawa kehadiran itu. Dalam situasi yang tidak darurat, kebanyakan memilih tidak merepotkan anak-anaknya.

Dari dua arah itu, penulis sampai pada kesimpulan tentang kedua generasi sekaligus. “Data kualitatif kami dengan demikian mengungkap bagaimana keterpisahan keluarga akibat migrasi menjelma menjadi risiko kesehatan yang nyata bagi kedua generasi, sebuah nuansa yang kerap luput dalam studi berbasis survei,” tulis Xuewen Zhang dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Penulis juga menolak membaca beban ini sebagai nasib pribadi. Dalam sistem keluarga patrilineal, anak laki-laki yang merantau meninggalkan ibunya dengan dua peran sekaligus, yakni penopang antargenerasi dan pengasuh cucu. “Pola yang terlembagakan ini menjadikan kerentanan layanan kesehatan perempuan lansia sebagai ciri struktural rezim migrasi pedesaan China, bukan sekadar kemalangan individu,” tulis mereka.

Siapa yang dimintai tolong

Ketika sakit datang, urutan pertolongannya bertingkat. Untuk sakit ringan, 11 peserta memilih mengurus sendiri dan tidak merepotkan siapa pun selama masih bisa bergerak. Bila tak sanggup, mereka beralih ke kerabat. Partisipan 2 menelepon kakek ketiga dan nenek ketiga si cucu setiap kali anak itu flu, sementara Partisipan 11 ditemani menantu laki-lakinya dari Zhengzhou saat operasi katarak.

Tetangga berada di anak tangga berikutnya, dan bagi sebagian peserta justru yang paling bisa diandalkan. Partisipan 3 mengenang tetanggalah yang membawa suaminya ke dokter ketika ia jatuh. “Tetangga dekat mengalahkan kerabat jauh, kerabat terbaik pun tidak akan tahu kecuali kamu memberi tahu mereka,” kata Partisipan 9. Penulis menilai jaring ini rapuh dan menyarankan penguatan dukungan berbasis komunitas bagi lansia desa.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Siapa yang sebenarnya ditanya

Pertanyaan itu layak diajukan kepada naskahnya sendiri. Kriteria di bagian metode menyebut peserta harus perempuan berusia di atas 60 tahun. Namun, Tabel 2 mencatat satu peserta laki-laki dan delapan peserta berusia 55 sampai 60 tahun. Partisipan 1 pun berbicara tentang istrinya yang lumpuh, dan bagian keunggulan menyebut sampelnya 92,31 persen perempuan, bukan seluruhnya.

Hitungan kategori juga tidak seragam. Bagian analisis menyebut proses pengodean menghasilkan enam kategori besar, sedangkan bagian hasil dan diskusi berbicara tentang lima tema dan 17 subtema. Klaim bahwa enam sampai 12 wawancara sudah memadai dinisbatkan kepada Guest dan rekan pada rujukan nomor 36, padahal rujukan nomor itu tulisan Sheng dan Lu tentang strategi pendidikan kesehatan. Rujukan nomor 48 dan 49 juga identik.

Penulis sendiri mengakui batas temuannya. Penelitian ini hanya mengambil dua desa terpilih di Shandong, yang menurut mereka mungkin tidak mencerminkan keragaman sosial ekonomi pedesaan China, terutama wilayah barat. Datanya bersandar pada penuturan peserta, pewawancaranya belum berpengalaman di lapangan, dan sebagian calon peserta menolak ikut, sehingga emosi negatif dan kesulitan berobat mungkin justru kurang terlaporkan.

Nenek dan cucu dalam penelitian ini menanggung sakit dengan cara yang berbeda, yang satu menahan dan yang lain didahulukan. Keduanya bergantung pada orang yang sama, yakni perempuan tua yang harus memilih siapa yang dibawa ke klinik lebih dulu. Sementara itu, kamera dari Qingdao tetap merekam rumah yang, menurut anaknya, tidak banyak menyimpan kejadian.

Bagikan

Baca Juga

Olahraga Luar Ruang Spanyol Pascalockdown Naik ke 53,4 Persen
Tradisi Cuci Tangan Sebaskom di Mali Bertahan demi Keluarga
Vaksin Malaria RTS,S Melindungi Lewat Dua Sasaran Antibodi
Dark Kitchen di Sydney Cepat Berganti Nama, Menunya Serba Goreng
Pedagang Makanan Jalanan Pune: 68,8 Persen Tak Patuh Higiene
Gigitan Anjing di Khash, Iran, Terbanyak dari Anjing Berpemilik