- Semua responden dalam survei ini memiliki ponsel pintar.
- Setelah disesuaikan, hanya kesejahteraan mental rendah yang tetap bermakna, dengan odds 1,99, atau hampir dua kali lipat dibanding mahasiswa yang kesejahteraannya normal.
- Kelompok pertama berisi 270 mahasiswa yang skornya melewati ambang kecanduan pada skala SAS-SV, yakni 31 untuk laki-laki dan 33 untuk perempuan.
- Seluruh model hanya menjelaskan sekitar 21 persen variasi risiko kecanduan, sehingga sebagian besar perbedaan antarmahasiswa masih berada di luar faktor yang diukur.
Daftar Isi
Waktu yang habis untuk menatap ponsel dan waktu yang dipakai untuk berolahraga atau bertemu teman tampak seperti dua urusan yang terpisah, padahal keduanya diambil dari jatah hari yang sama. Dari cara pandang itulah seorang ekonom di Sylhet membaca kebiasaan mahasiswa Bangladesh. Hasilnya, 54 persen dari 500 mahasiswa yang ia survei tergolong berisiko tinggi kecanduan ponsel.
Temuan itu ditulis Apu Chandra Das, peneliti Department of Economics, Shahjalal University of Science and Technology, Sylhet, dalam Smartphone addiction as utility-reducing consumption: evidence from university students in Bangladesh, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Respondennya adalah mahasiswa universitas negeri di Bangladesh yang mengisi kuesioner daring pada tahun akademik 2024.
Das menyebut pemakaian ponsel yang berlebihan sebagai konsumsi yang menurunkan utilitas. Dalam naskahnya, utilitas adalah nilai yang diterima seseorang dari konsumsi dan dari cara ia membagi waktu. Pemakaian ponsel berubah jadi rugi ketika kepuasan sesaat yang diberikannya menggerus mutu hidup secara keseluruhan, karena jam yang terpakai tidak lagi tersedia untuk kegiatan yang lebih menyejahterakan.
Pada satu sisi, ponsel memberi kepuasan cepat. Di sisi lain, waktu yang dipakainya bisa saja diambil dari aktivitas fisik dan pergaulan tatap muka, dua kegiatan yang dalam kerangka Das tergolong menambah kesejahteraan. Karena itu ia memperlakukan kesejahteraan mental sebagai ukuran hasil, sedangkan olahraga dan pergaulan diperlakukan sebagai penanda cara mahasiswa membagi jam hariannya.
“Konsumsi ponsel yang berlebihan kemungkinan didorong oleh pola memaksimalkan utilitas jangka pendek yang harus dibayar dengan ongkos kesejahteraan jangka panjang,” tulis Das dalam naskahnya yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu menjadi poros seluruh pembacaannya, yaitu bahwa ponsel dan kesejahteraan berada di dua ujung timbangan yang sama.
Sisi pertama: 270 mahasiswa yang berisiko tinggi
Kelompok pertama berisi 270 mahasiswa yang skornya melewati ambang kecanduan pada skala SAS-SV, yakni 31 untuk laki-laki dan 33 untuk perempuan. Skor skala itu berkisar 10 sampai 60, dan makin tinggi skornya makin besar risikonya. Semua responden dalam survei ini memiliki ponsel pintar. Yang membedakan kelompok ini bukan kepemilikan ponselnya, melainkan kondisi batin para pemiliknya ketika hasil survei dipilah.
Hampir separuh anggota kelompok ini, tepatnya 48,9 persen, memiliki kesejahteraan mental rendah menurut indeks WHO-5. Sebanyak 43,0 persen tercatat memiliki harga diri rendah, dan 21,8 persen menilai kualitas hidupnya buruk. Pada aktivitas fisik di luar olahraga terorganisasi, 28,9 persen dari mereka hanya bergerak nol sampai satu kali seminggu. Semua angka ini dihitung di dalam kelompok itu sendiri.
Kelompok ini juga menyimpan sebuah paradoks. Sebanyak 58 persen dari seluruh responden menilai pemakaian ponselnya sendiri bermasalah, dan seperempat responden sering berpikir untuk mengurangi. Di antara 125 mahasiswa yang sering mencoba mengurangi itu, 80 persen justru masuk kelompok berisiko tinggi, dibanding 45,3 persen pada mereka yang jarang atau tidak pernah mencoba.
Das membaca angka itu sebagai tanda bahwa sadar belum tentu berarti berubah. “Pola ini menunjukkan jurang yang mencolok antara kesadaran akan pemakaian berlebihan dan keberhasilan menyesuaikan perilaku,” tulisnya, juga dalam bahasa Inggris. Kesadaran ada di satu sisi, sedangkan kebiasaan yang bertahan ada di sisi yang lain.
Sisi kedua: 230 mahasiswa yang berisiko rendah
Kelompok kedua berisi 230 mahasiswa yang skornya berada di bawah ambang tadi. Pada kelompok ini, porsi mahasiswa dengan kesejahteraan mental rendah hanya 21,3 persen, kurang dari separuh porsi di kelompok pertama, atau sekitar dua dari setiap sepuluh mahasiswa. Harga diri rendah tercatat pada 19,6 persen, sementara kualitas hidup buruk hanya dilaporkan 4,3 persen anggota kelompok.
Pada aktivitas fisik, polanya berbalik. Sebanyak 45,2 persen mahasiswa berisiko rendah bergerak lebih dari tiga kali seminggu, sedangkan di kelompok berisiko tinggi porsinya 31,3 persen. Mereka yang hanya bergerak nol sampai satu kali seminggu mencapai 20,0 persen, lebih kecil dibanding 28,9 persen di kelompok pertama. Menurut Das, risiko yang lebih rendah pada mereka yang lebih banyak bergerak dan bergaul sejalan dengan gagasan penggunaan waktu alternatif.
Kedua kelompok juga punya banyak kesamaan. Usia dan jenis kelamin tidak membedakan keduanya secara bermakna, dengan porsi risiko tinggi 55,6 persen pada laki-laki dan 52,4 persen pada perempuan. Partisipasi dalam olahraga terorganisasi pun tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok, sehingga yang memisahkan mereka lebih tampak pada sisi batin dan kebiasaan harian.
Tempat tinggal dan pekerjaan sempat tampak berpengaruh ketika data dipilah sederhana. Mahasiswa yang tinggal sendiri dilaporkan berisiko lebih rendah dibanding yang tinggal bersama orang lain, dan mahasiswa yang bekerja paruh waktu berisiko lebih tinggi dibanding yang tidak bekerja. Kedua perbedaan itu kelak diuji ulang ketika faktor lain ikut diperhitungkan.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Hitungan kasar: banyak faktor tampak ikut menentukan
Pada perhitungan pertama, setiap faktor ditimbang sendiri-sendiri. Mahasiswa dengan kesejahteraan mental rendah punya odds berisiko tinggi 2,13 kali dibanding yang kesejahteraannya normal. Kualitas hidup buruk mencatat angka 2,15, dan harga diri rendah 1,91. Ketiganya mengarah ke sisi yang sama, yakni kondisi batin yang lebih rapuh berjalan bersama risiko kecanduan yang lebih besar.
Faktor waktu luang mengarah ke sisi sebaliknya. Mahasiswa yang bergaul dengan teman lebih dari tiga hari seminggu mencatat odds 0,44, dan yang mengikuti olahraga terorganisasi lebih dari tiga kali seminggu juga 0,44. Das menempatkan keduanya sebagai kemungkinan pengganti pemakaian ponsel, sejalan dengan teori alokasi waktu yang ia pakai sejak awal.
Pada tahap ini, gambaran yang muncul cukup rapi. Batin yang rapuh berada di satu sisi timbangan, sementara olahraga dan pergaulan berada di sisi lain. Das menulis bahwa harga diri, kualitas hidup, aktivitas fisik, dan interaksi sosial memang berkaitan dengan kecanduan ponsel dalam analisis kasar. Ia juga mencatat bahwa dalam studi-studi sebelumnya, kekuatan hubungan olahraga dan pergaulan dengan kecanduan ponsel berbeda dari satu studi ke studi lain.
Hitungan disesuaikan: hanya satu faktor yang bertahan
Gambaran itu menyempit ketika semua faktor dimasukkan bersamaan. Setelah disesuaikan, hanya kesejahteraan mental rendah yang tetap bermakna, dengan odds 1,99, atau hampir dua kali lipat dibanding mahasiswa yang kesejahteraannya normal. Harga diri rendah turun ke 1,44, sedangkan pergaulan dan olahraga tetap berada di bawah satu tetapi tidak lagi bermakna.
Das menafsirkan penyusutan itu dengan dua kemungkinan. Faktor-faktor tadi mungkin bekerja melalui kesejahteraan mental, atau kesejahteraan mental justru menjadi faktor pengganggu yang menumpang pada hubungan lain. Ia juga menulis bahwa kesejahteraan mental menangkap kerentanan psikologis yang lebih luas daripada sekadar cara seseorang menilai dirinya sendiri. Menurutnya, faktor psikologis lebih berpengaruh daripada faktor sosial demografis dasar seperti usia dan jenis kelamin.
Tempat tinggal dan status kerja paruh waktu juga kehilangan kestabilannya setelah faktor psikologis masuk. Seluruh model hanya menjelaskan sekitar 21 persen variasi risiko kecanduan, sehingga sebagian besar perbedaan antarmahasiswa masih berada di luar faktor yang diukur. Dari sisi ini, kesejahteraan mental menjadi penanda yang paling kokoh, tetapi bukan penjelasan tunggal.
Dari temuan itu Das menurunkan beberapa usulan. Ia menyebut layanan konseling, program manajemen stres, serta skrining dini kecemasan dan depresi sebagai langkah yang mungkin relevan. Ia juga mengingatkan agar pembatasan akses atau waktu layar tidak dipakai sendirian, dan menyebut alat kesejahteraan digital serta umpan balik pola pemakaian sebagai pelengkap. Menurutnya, mahasiswa adalah bagian penting tenaga kerja masa depan, sehingga kesejahteraan mereka bisa berkaitan dengan modal manusia dan produktivitas.
Das sendiri membatasi tafsirnya. Studi ini memotret satu titik waktu, sehingga tidak bisa menunjukkan mana yang lebih dulu, batin yang rapuh atau ponsel yang berlebihan, dan hubungan keduanya bisa berjalan dua arah. Semua data berasal dari laporan mahasiswa sendiri, dan sampelnya terbatas pada universitas negeri yang direkrut lewat media sosial dan jaringan teman.
Ia juga menegaskan bahwa teori ekonomi yang menjadi bingkai tulisannya tidak diuji langsung. “Kerangka teoretis itu diterapkan sebagai lensa tafsir, bukan sebagai mekanisme yang diuji secara empiris,” tulisnya dalam naskah berbahasa Inggris. Tingkat diskonto dan modal kecanduan, dua parameter penting dalam teori itu, tidak ikut diukur. Ia menambahkan bahwa hubungan yang ditemukan bisa saja dikacaukan faktor lain yang tidak teramati.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Yang tertulis di badan naskah
Di badan naskah, arah temuan dirumuskan dengan konsisten. Interaksi sosial yang lebih sering disebut berkaitan dengan risiko kecanduan yang lebih rendah, aktivitas fisik disebut berasosiasi negatif dengan kecanduan, dan kelompok berisiko tinggi disebut berisi 270 orang. Pembahasan juga menegaskan bahwa hanya kesejahteraan mental yang bermakna setelah penyesuaian.
Namun, bagian kesimpulan menyebut kesejahteraan mental rendah dan harga diri rendah sama-sama berkaitan secara konsisten dengan risiko lebih tinggi. Bagian keterbatasan menyebut survei daring dipilih karena COVID-19, padahal naskah mencatat data dikumpulkan pada tahun akademik 2024. Teks juga menyebut hampir separuh mahasiswa bekerja paruh waktu. Di bagian implikasi kebijakan, dua usulan berurutan sama-sama dibuka dengan kata first, lalu urutannya langsung melompat ke third.
Yang tertulis di tabel-tabelnya
Tabel-tabel naskah tidak selalu sejalan dengan badan teksnya. Tabel pertama mencatat 290 mahasiswa menilai pemakaiannya bermasalah dan semuanya masuk kelompok berisiko tinggi, padahal kelompok itu hanya berisi 270 orang. Pada baris tempat tinggal, jumlah mahasiswa berisiko tinggi hanya 190 bila dijumlahkan, bukan 270. Tabel itu memberi label living alone pada kategori pertama, sedangkan tabel ketiga menamai kategori pembandingnya 0 person.
Pada baris interaksi sosial, mahasiswa yang bergaul lebih dari tiga hari seminggu justru mencatat porsi risiko tinggi terbesar, 80,0 persen, berlawanan dengan uraian di teks. Tabel yang sama mencatat 54,0 persen mahasiswa bekerja paruh waktu, sedangkan teks menyebut hampir separuh. Angka 328 mahasiswa pada baris olahraga terorganisasi ditulis sebagai 63,6 persen dari 500.
Tabel ketiga menyimpan kejanggalan lain. Rasio odds kasar harga diri rendah tertulis 1,91 dengan rentang kepercayaan 0,55 sampai 1,65, sehingga angkanya berada di luar rentangnya sendiri, dan pola serupa muncul pada odds disesuaikannya. Odds disesuaikan untuk kesejahteraan mental dan kualitas hidup sama persis 1,99 dengan batas atas 4,79, sementara aktivitas fisik lebih dari tiga kali seminggu tercatat 1,45.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Jadi, di satu sisi ada 270 mahasiswa yang batinnya lebih sering rapuh, dan di sisi lain ada 230 mahasiswa yang lebih sering bergerak dan merasa baik. Naskah Das tidak memenangkan salah satu cara membaca keduanya, entah sebagai soal ekonomi waktu atau soal kesehatan batin, sebab datanya hanya memperlihatkan keduanya berjalan beriringan dalam satu potret di kampus-kampus negeri Bangladesh.














