Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

A A
  • Enam belas orang tua remaja di pesisir Karnataka mengaku paham pentingnya pola hidup sehat, namun tekanan akademik membuat kebiasaan itu sulit konsisten dijalankan, menurut penelitian K. Vaishali dan tim dari Manipal Aca
Daftar Isi
  1. 16 Orang Tua, 45–60 Menit Wawancara lewat Telepon
  2. Paham tapi Tak Selalu Konsisten Menjalankannya
  3. Rumah sebagai Ruang Negosiasi, Bukan Ruang Kontrol Penuh
  4. Tekanan Akademik Mengubah Jadwal Makan dan Gerak Tubuh
  5. Sekolah Dipercaya, tapi Perlindungannya Menyusut di Kelas Tinggi
  6. Kendala Gender dan Budaya yang Belum Dimanfaatkan Optimal
  7. Keterbatasan: Hanya Perspektif Orang Tua di Satu Wilayah

Enam belas orang tua remaja di pesisir Karnataka, India, berbagi cerita yang senada: mereka tahu betul pentingnya makan sehat dan rutin bergerak bagi anak mereka, tapi tuntutan sekolah membuat pengetahuan itu sulit dipraktikkan setiap hari.

Cerita itu terekam dalam penelitian K. Vaishali, Revati Amin, Muralidhar M. Kulkarni, dan tim dari Manipal Academy of Higher Education dalam artikel Parental Perspectives on Physical Inactivity and Unhealthy Diet as Linked Non-Communicable Disease Risk Factors among Adolescents in Coastal Karnataka, India: A Qualitative Study di jurnal BMC Public Health Volume 26 tahun 2026.

Penyakit tidak menular menyumbang lebih dari 70 persen kematian secara global, dengan proporsi yang terus meningkat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk India, tempat penyakit tidak menular kini menyebabkan lebih dari 60 persen dari seluruh kematian. Lebih dari 80 persen remaja usia 11–17 tahun secara global pun tercatat belum memenuhi anjuran aktivitas fisik harian.

16 Orang Tua, 45–60 Menit Wawancara lewat Telepon

Sepuluh ibu dan enam ayah dari remaja berusia 11 hingga 17 tahun di tiga wilayah sekolah Distrik Udupi, yakni Udupi, Karkala, dan Kundapura, Karnataka, diwawancarai lewat telepon oleh peneliti selama 45 hingga 60 menit. Sembilan anak dari orang tua yang diwawancarai bersekolah di sekolah negeri, delapan lainnya di sekolah swasta.

Rata–rata usia orang tua yang diwawancarai adalah 48 tahun. Wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris, bahasa Kannada, atau campuran keduanya, tergantung kenyamanan masing–masing orang tua.

Hasil wawancara itu dianalisis secara tematik dan memunculkan enam tema utama yang saling berkaitan tentang bagaimana orang tua memandang kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat sebagai dua faktor risiko yang saling menguatkan bagi penyakit tidak menular di masa depan.

Paham tapi Tak Selalu Konsisten Menjalankannya

Hampir seluruh orang tua yang diwawancarai memahami bahwa aktivitas fisik dan pola makan sehat adalah fondasi kesehatan anak mereka, sekaligus kunci mencegah penyakit di masa depan seperti obesitas dan diabetes. Bagi mereka, olahraga membantu menjaga kebugaran dan menstabilkan emosi anak, sementara pola makan yang baik dikaitkan dengan daya tahan tubuh jangka panjang.

Meski pemahaman itu tinggi, orang tua mengaku kesulitan menjaga konsistensi. Kesenjangan antara pengetahuan dan praktik nyata ini muncul karena kepentingan yang saling bersaing, preferensi pribadi remaja, dan berbagai kendala situasional sehari–hari yang sulit dihindari.

Menurut peneliti, kesenjangan ini terjadi bukan karena orang tua kurang pengetahuan, melainkan karena keterbatasan waktu dan kesempatan akibat padatnya jadwal akademik anak, sehingga sikap dan motivasi positif orang tua tidak selalu berhasil diterjemahkan menjadi kebiasaan yang konsisten dijalankan setiap hari.

Rumah sebagai Ruang Negosiasi, Bukan Ruang Kontrol Penuh

Bagi orang tua yang diwawancarai, rumah dipandang sebagai benteng utama melawan pola makan tidak sehat. Masakan rumahan berbahan tradisional seperti nasi, dhal, sayur, idli, dosa, chapatti, dan kari dianggap jauh lebih menyehatkan dibanding jajanan luar. Sebagian besar orang tua juga merasa bertanggung jawab menyiapkan makanan sehat bagi anak, terutama di masa awal remaja ketika anak mulai menunjukkan kemandirian lebih besar dari keluarganya.

Namun seiring bertambahnya usia anak, orang tua lebih banyak menempuh jalan negosiasi ketimbang menegakkan aturan ketat soal makanan dan aktivitas fisik. Cara ini dianggap wajar secara perkembangan anak, meski negosiasi yang berulang berpotensi membuat kebiasaan tidak sehat lambat laun dianggap normal.

Orang tua cenderung meremehkan risiko kesehatan dari makanan cepat saji, kue kemasan, dan camilan manis selama konsumsinya dibingkai sebagai hal yang jarang terjadi, seperti sebulan sekali atau hanya saat perayaan tertentu. Pola pikir yang sama juga berlaku pada kurangnya aktivitas fisik, yang dianggap konsekuensi wajar dari padatnya tuntutan akademik dan sosial anak.

Peneliti mencatat, pola meremehkan risiko semacam ini juga ditemukan pada penelitian serupa di negara berpenghasilan tinggi maupun menengah ke bawah. Padahal, menurut peneliti, paparan sesekali terhadap kebiasaan tidak sehat tetap berpotensi meningkatkan kecenderungan gaya hidup pasif, kenaikan berat badan berlebih, dan risiko metabolik pada remaja dalam jangka panjang.

Tekanan Akademik Mengubah Jadwal Makan dan Gerak Tubuh

Orang tua sepakat, remaja yang lebih muda cenderung lebih aktif bergerak karena beban akademiknya belum seberat kakak kelasnya. Begitu memasuki jenjang lebih tinggi menjelang ujian akhir, aktivitas fisik anak menurun drastis akibat tumpukan tugas sekolah dan les tambahan.

Jam sekolah yang panjang ditambah les tambahan dan pekerjaan rumah turut mengacaukan jadwal makan reguler anak, membuat waktu makan tidak teratur, camilan makin sering, dan orang tua kesulitan memantau asupan makanan anak mereka sehari–hari.

Orang tua secara konsisten menempatkan prestasi akademik di atas aktivitas fisik, khususnya menjelang tahun–tahun akhir masa sekolah anak. Peneliti menyimpulkan tekanan akademik menjadi faktor hulu yang paling menonjol memengaruhi rutinitas harian remaja, baik dari sisi pola makan maupun gerak tubuh mereka.

Sekolah Dipercaya, tapi Perlindungannya Menyusut di Kelas Tinggi

Banyak orang tua menaruh kepercayaan besar pada sekolah sebagai institusi yang melindungi anak dari kebiasaan tidak sehat, lewat program makan siang bergizi maupun kegiatan pendidikan jasmani seperti yoga, karate, dan olahraga lainnya.

Orang tua menyebut makan siang di sekolah, seperti nasi, sambar, dan sayur, sebagai menu yang mereka percaya cukup sehat untuk anak mereka. Program pendidikan jasmani berupa yoga, karate, dan berbagai cabang olahraga di sekolah pun dinilai membantu mengisi kebutuhan gerak tubuh anak yang mungkin tidak terpenuhi di rumah.

Namun kepercayaan itu, menurut orang tua, tidak bertahan selamanya. Semakin tinggi jenjang sekolah, remaja makin mandiri, makin mudah mengakses jajanan kantin, dan waktu pendidikan jasmani pun makin berkurang, sehingga perlindungan yang diberikan sekolah kian melemah.

Kendala Gender dan Budaya yang Belum Dimanfaatkan Optimal

Orang tua mengakui ada batasan berbeda antara anak laki–laki dan perempuan dalam beraktivitas fisik, terutama untuk kegiatan yang berat atau dilakukan di luar ruangan. Tanggung jawab rumah tangga, kekhawatiran soal keamanan, dan ekspektasi sosial menjadi kendala tersendiri bagi partisipasi anak perempuan.

Di sisi lain, orang tua sebenarnya menghargai nilai kesehatan dari praktik budaya tradisional seperti yoga, tari, seni bela diri, dan pertunjukan Yaksagana yang menuntut kekuatan fisik besar. Sayangnya, remaja dinilai punya waktu dan minat terbatas untuk terlibat dalam kegiatan budaya semacam ini, sehingga potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mencegah penyakit tidak menular.

Pola serupa soal beban ganda remaja antara tuntutan akademik dan kesehatan juga tercermin dari riset lain yang pernah ditulis Cekricek.id soal skrining kesehatan mental remaja di Indonesia.

Keterbatasan: Hanya Perspektif Orang Tua di Satu Wilayah

Peneliti mengingatkan, penelitian ini hanya menangkap sudut pandang orang tua, tanpa melibatkan pandangan remaja maupun guru yang juga berperan penting membentuk kebiasaan hidup sehat anak. Ketiadaan dua perspektif ini membuat gambaran yang didapat belum sepenuhnya utuh.

Di sisi lain, peneliti menyebut penelitian ini memiliki kekuatan tersendiri, yakni kerangka analisis yang disusun matang secara teori, kepatuhan pada pedoman pelaporan riset kualitatif COREQ, serta keterwakilan orang tua dari berbagai latar belakang jenis sekolah anak.

Penelitian ini juga hanya dilakukan di wilayah pesisir Karnataka, sehingga temuannya belum tentu bisa diterapkan begitu saja pada wilayah lain dengan latar sosial budaya dan pendidikan yang berbeda. Kemungkinan bias sosial turut diakui peneliti, mengingat orang tua bisa saja melaporkan kebiasaan diri dan anaknya secara lebih baik dari kondisi sebenarnya.

Peneliti menyarankan agar program pencegahan ke depan turut melibatkan sekolah dan keluarga sekaligus, dengan memanfaatkan praktik budaya yang sudah dikenal masyarakat, ketimbang mengandalkan model intervensi tunggal yang belum tentu cocok diterapkan di semua daerah.

Peneliti menilai, temuan-temuan ini menegaskan perlunya strategi pencegahan penyakit tidak menular pada remaja yang dirancang sesuai konteks budaya dan pendidikan setempat, alih–alih memakai satu pendekatan seragam untuk semua wilayah, sebagaimana tantangan obesitas remaja yang juga tercatat meningkat tajam di berbagai negara lain, termasuk pada lonjakan obesitas anak di Thailand pascapandemi dan sikap terhadap obesitas di kalangan mahasiswa kesehatan Hanoi.

Bagikan

Baca Juga

TCBI Kumulatif Tinggi Perbesar Risiko Penyakit Kardiovaskular
PM2.5 dan NO2 Naikkan Rawat Inap Neurologis di Harbin
Perempuan Dominasi Rawat Inap Korban Kapal Karam di Gambia
Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang