Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli

A A

Ilustrasi deretan rapat kaleng minuman aluminium perak polos tanpa merek dilihat dari atas [Foto: Pexels]

  • Antara 2010 dan 2024, penjualan minuman energi di Uruguay naik 1.325 persen, hingga kira-kira 1,7 liter per orang setiap tahun.
  • Dari empat rancangan, hanya satu yang benar-benar menggeser penilaian.
  • Kaleng dari merek terkenal mendapat peluang 520 persen lebih besar untuk dinilai dengan niat beli yang lebih tinggi daripada merek yang kurang dikenal.
  • Kira-kira tiga dari empat peserta memilih peringatan soal jantung.
Daftar Isi
  1. Susah tidur dan jantung berdebar, dua peringatan di kaleng yang sama
  2. Hanya satu dari empat label yang menggoyang niat beli
  3. Yang diingat dari label hanya penyakit yang tertulis di situ
  4. Di luar label, merek terkenal dan kebiasaan minum ikut menentukan
  5. Bagi sebagian peserta, susah tidur justru alasan mereka minum
  6. Niat di layar, bukan belanja di toko

Susah tidur dan jantung berdebar sama-sama bisa dicetak sebagai peringatan di kaleng minuman energi, tetapi di mata anak muda Uruguay keduanya tidak sama beratnya. Yang satu dianggap perkara sehari-hari, bahkan kadang justru dicari. Yang lain terdengar seperti urusan jantung, dan urusan jantung membuat orang berpikir dua kali sebelum mengambil kaleng dari rak.

Perbandingan itu diuji Lucía Antúnez, Milene Gaites, Sofía Giacummo, Juan Villalba, Leticia Varela, Leandro Machín, dan Gastón Ares dalam Impact of warning labels on energy drink perceptions and purchase intentions among emerging adults in Uruguay, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang masih dalam proses cetak. Ketujuhnya bekerja di Universidad de la República, Uruguay.

Antara 2010 dan 2024, penjualan minuman energi di Uruguay naik 1.325 persen, hingga kira-kira 1,7 liter per orang setiap tahun. Sebanyak 81,8 persen siswa sekolah menengah mengaku pernah mencobanya paling tidak sekali. Meski begitu, menurut naskah itu, belum ada aturan khusus di negara tersebut yang menyasar konsumsi minuman ini.

Uruguay sebenarnya sudah mewajibkan label peringatan di bagian depan kemasan untuk makanan dan minuman yang gula, natrium, atau lemaknya melewati ambang. Banyak minuman energi bergula karena itu membawa tanda kelebihan gula. Tentang kafein, tidak ada kewajiban apa pun. Celah itulah yang dimasuki para peneliti dengan empat rancangan label baru.

Susah tidur dan jantung berdebar, dua peringatan di kaleng yang sama

Keempat label memuat kata peringatan, segitiga hitam bertanda seru, dan satu kalimat: konsumsi minuman energi dapat menyebabkan insomnia, atau dapat menyebabkan takikardia. Insomnia adalah gangguan tidur, sedangkan takikardia oleh para penulis digolongkan sebagai gejala pada jantung dan pembuluh darah. Tiap pesan hadir dalam dua rupa, hanya tulisan atau tulisan yang disertai gambar.

Sebanyak 340 orang berusia 18 sampai 30 tahun, semuanya peminum minuman energi paling tidak sesekali, dibagi acak ke lima kelompok. Satu kelompok melihat kaleng tanpa label, empat lainnya melihat kaleng dengan salah satu label. Kalengnya nyata: merek pemimpin pasar Monster dan merek yang kurang dikenal, Baly, masing-masing dalam varian biasa dan varian tanpa gula tambahan.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Kedua peringatan dipilih bukan tanpa alasan. Menurut para penulis, susah tidur dan jantung berdebar sering disebut anak muda Uruguay dalam survei sebelumnya, sama-sama nyata dan dekat dengan pengalaman pribadi, dan sama-sama bisa digambar. Bedanya terletak pada bobot. Sejak awal takikardia diperkirakan akan dipandang lebih parah daripada insomnia, sehingga keduanya bisa diadu.

Hanya satu dari empat label yang menggoyang niat beli

Hasilnya timpang. Dibanding kaleng polos, kaleng berlabel takikardia bergambar membuat peluang peserta memberi nilai niat beli yang lebih tinggi turun 44 persen. Tiga label lain, yakni insomnia bergambar, insomnia berupa teks, dan takikardia berupa teks, tidak menghasilkan perbedaan yang bermakna secara statistik dari kelompok tanpa label.

Pola yang sama muncul ketika peserta diminta menilai seberapa sehat minuman itu. Mereka yang melihat label takikardia bergambar punya peluang 70 persen lebih rendah untuk memberi nilai kesehatan yang lebih tinggi. Pada tiga label lainnya, lagi-lagi tidak tampak selisih yang berarti. Dari empat rancangan, hanya satu yang benar-benar menggeser penilaian.

Label jantung berdebar bergambar, sekilasLabel jantung berdebar bergambar, sekilasLabel jantung berdebar bergambar, sekilasDibandingkan dengan kaleng tanpa label peringatan340anak mudausia 18-30 tahundi Uruguay44%lebih rendahpeluang niat belilebih tinggi70%lebih rendahpeluang menilailebih sehat3label laintak berbeda daritanpa labelJalan risetnyaKaleng diberi labelPeserta menilaiDibanding tanpa label
Sumber: Lucía Antúnez, Milene Gaites, Sofía Giacummo, Juan Villalba, Leticia Varela, Leandro Machín, dan Gastón Ares, Impact of warning labels on energy drink perceptions and purchase intentions among emerging adults in Uruguay, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Nilai yang diberikan peserta secara umum rendah. Rata-rata niat beli di semua kelompok hanya 2,6 pada skala lima, sedikit di bawah jawaban tengah “mungkin ya, mungkin tidak”. Rata-rata nilai kesehatan lebih rendah lagi, 2,0, setara dengan pilihan “buruk bagi kesehatan”. Menurut para penulis, angka itu berarti minuman energi rata-rata dinilai negatif.

Di sisi lain, para penulis sendiri menahan diri. Menurut mereka, hasil ini tidak membuktikan label takikardia bergambar lebih unggul secara statistik daripada tiga rancangan lain dalam mengubah penilaian kesehatan dan niat beli. Yang terbukti hanyalah bahwa label itu berbeda dari kaleng polos, sementara tiga lainnya tidak.

Yang diingat dari label hanya penyakit yang tertulis di situ

Peserta juga diminta mencentang akibat apa saja yang mungkin mereka rasakan setelah meminum tiap kaleng. Jawaban buruk ternyata paling ramai: takikardia, insomnia, dan cemas dipilih oleh 52,6 sampai 63,3 persen peserta. Akibat baik menyusul di bawahnya, yakni tenaga bertambah pada 49,6 persen dan lelah berkurang pada 43,5 persen. Hanya 9,9 persen merasa tak akan terjadi apa-apa.

Di sinilah keempat label bekerja, masing-masing di jalurnya sendiri. Dua label takikardia membuat peserta lebih sering mencentang takikardia. Dua label insomnia membuat peserta lebih sering mencentang insomnia. Tak ada label yang menular ke akibat buruk lain, dan tak ada yang mengurangi centang pada manfaat seperti konsentrasi, tenaga, atau prestasi olahraga dan belajar.

“Namun, pengaruh peringatan itu sangat spesifik: peserta lebih cenderung mengiyakan akibat kesehatan tertentu yang ditampilkan dalam peringatan, tetapi tidak akibat buruk lainnya,” tulis Lucía Antúnez, peneliti Universidad de la República, bersama enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Pola serupa, menurut mereka, pernah ditemukan pada penelitian tentang label peringatan minuman beralkohol.

Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi

Di luar label, merek terkenal dan kebiasaan minum ikut menentukan

Label bukan satu-satunya yang berkaitan dengan penilaian peserta. Merek muncul sebagai penentu kuat niat beli. Kaleng dari merek terkenal mendapat peluang 520 persen lebih besar untuk dinilai dengan niat beli yang lebih tinggi daripada merek yang kurang dikenal. Peluangnya dinilai lebih sehat pun dua kali lipat.

Varian tanpa gula tambahan punya ceritanya sendiri. Niat beli terhadapnya tidak berbeda dari varian biasa, tetapi peluangnya dinilai lebih sehat 86 persen lebih besar. Varian ini juga lebih jarang dikaitkan dengan takikardia dan lebih sering dianggap tidak menimbulkan akibat apa pun. Ciri pribadi seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, dan tempat tinggal tidak berkaitan dengan niat beli.

Kebiasaan minum, berbeda dari ciri pribadi tadi, berkaitan dengan penilaian peserta. Mereka yang minum kurang dari sekali sebulan punya peluang 95 persen lebih rendah untuk menilai minuman itu sehat dibanding peminum mingguan. Peminum yang lebih sering juga lebih mudah mengakui manfaat seperti konsentrasi dan tenaga. Setiap kenaikan satu tingkat rasa berisiko diikuti peluang niat beli yang 34 persen lebih rendah.

Meski begitu, label takikardia bergambar tetap berbekas pada kaleng merek yang sudah mapan. Para penulis menganggap hal ini menarik, sebab penelitian terdahulu yang mereka rujuk menunjukkan peringatan cenderung melemah pada produk yang akrab di mata pembeli. Mereka menyimpulkan bahwa peringatan tentang risiko yang berat dan terasa pribadi mungkin dapat sebagian mengimbangi pengaruh merek.

Bagi sebagian peserta, susah tidur justru alasan mereka minum

Ketika keempat label dijajarkan dan peserta diminta menunjuk yang paling ampuh untuk membuat orang enggan minum, urutannya jelas. Takikardia bergambar dipilih 42,9 persen peserta, takikardia berupa teks 31,2 persen. Insomnia bergambar hanya 21,5 persen, dan insomnia berupa teks tertinggal jauh di 4,4 persen. Kira-kira tiga dari empat peserta memilih peringatan soal jantung.

Label mana yang dinilai paling ampuhJantung berdebar, bergambar: Persen peserta +42,9%; Jantung berdebar, teks saja: Persen peserta +31,2%; Susah tidur, bergambar: Persen peserta +21,5%; Susah tidur, teks saja: Persen peserta +4,4%.Label mana yang dinilai paling ampuhPersen dari 340 peserta yang memilih tiap label10%20%30%40%50%0Jantung berdebar, bergambar42,9%Jantung berdebar, teks saja31,2%Susah tidur, bergambar21,5%Susah tidur, teks saja4,4%Setiap peserta memilih satu dari empat label.
Sumber: Lucía Antúnez, Milene Gaites, Sofía Giacummo, Juan Villalba, Leticia Varela, Leandro Machín, dan Gastón Ares, Impact of warning labels on energy drink perceptions and purchase intentions among emerging adults in Uruguay, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Alasan mereka dicatat dari jawaban bebas. Pemilih label takikardia menyebut beratnya gangguan jantung, salah satunya dengan kalimat bahwa masalah jantung lebih berbobot daripada insomnia. Insomnia sebaliknya sering ditepis sebagai hal biasa atau sementara. Ada peserta yang menulis bahwa orang Uruguay cenderung tidur sebentar dan larut malam, sehingga tidak takut pada susah tidur.

Sebagian peserta memandang susah tidur sebagai akibat yang diinginkan. Di kelompok yang melihat label insomnia berupa teks, 8,8 persen peserta menyebut susah tidur sebagai akibat yang memang mereka cari, misalnya dengan menulis bahwa untuk itulah mereka meminumnya. Persentase yang sama menganggap insomnia tidak terlalu mengkhawatirkan. Di dua kelompok label takikardia, kedua jenis jawaban itu nol.

Sementara itu, soal rupa label, pendapat terbelah dua. Label bergambar dipilih karena mencolok, sulit diabaikan, dan mengejutkan, apalagi bila menampilkan orang yang sedang menanggung akibatnya. Label teks dipilih karena jelas dan tidak terlalu mengganggu. Dari seluruh peserta yang melihat label, 63,3 persen mengaku mengingatnya, dan 72,0 persen dari mereka mengaku memperhitungkannya saat menjawab.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Niat di layar, bukan belanja di toko

Para penulis mencatat sendiri batas temuan mereka. Peserta direkrut lewat milis mahasiswa dan media sosial tanpa imbalan, sehingga sebagian besar adalah peminum yang jarang dan berpendidikan tinggi. Hasilnya, menurut mereka, perlu dibaca hati-hati bila hendak diterapkan pada peminum yang lebih sering atau kalangan berpendidikan lebih rendah. Yang diukur pun niat dan kesan sesaat, bukan belanja atau konsumsi yang diamati.

Batas lain menyangkut labelnya sendiri. Keempat rancangan tidak hanya berbeda dalam ada atau tidaknya gambar, tetapi juga dalam kerumitan tampilan dan tata letak. Karena itu, kata para penulis, sulit memastikan bahwa pengaruh yang terlihat berasal dari gambarnya saja. Percobaan ini juga tidak menangkap kemungkinan orang menjadi kebal terhadap peringatan setelah melihatnya berulang kali.

Tabel utama naskah menyajikan hasil itu sebagai rasio peluang terhadap kelompok tanpa label. Untuk niat beli, label takikardia bergambar mendapat rasio 0,56 dengan selang kepercayaan 95 persen dari 0,31 sampai 0,99. Untuk nilai kesehatan, rasionya 0,30 dengan selang 0,10 sampai 1,00. Hanya dua angka itu yang diberi tanda bermakna pada baris label. Rasio merek terkenal untuk niat beli tercatat 6,2.

Para penulis juga menyebut jumlah peserta per kelompok yang relatif kecil, antara 59 dan 80 orang, membatasi daya uji untuk sebagian analisis. Karena itu, kata mereka, tidak adanya pengaruh yang bermakna pada beberapa hasil perlu dibaca dengan hati-hati. Rasa berisiko diukur di bagian akhir kuesioner sehingga jawabannya mungkin terpengaruh label. Namun model tanpa variabel itu, menurut mereka, memberi hasil yang sama.

Pada akhirnya, penelitian ini menaruh dua kalimat pendek berdampingan di kaleng yang sama dan mendapati nasibnya berlainan. Peringatan tentang susah tidur dibaca sebagian anak muda sebagai hal biasa, kadang sebagai janji. Peringatan tentang jantung berdebar, ketika diberi gambar, menurunkan niat beli dan penilaian kesehatan. Para penulis menyimpulkan label peringatan layak dipakai sebagai strategi kesehatan masyarakat untuk menambah kesadaran akan bahaya minuman energi, meski pengaruhnya pada niat beli mungkin terbatas.

Bagikan

Baca Juga

Tiongkok Mendata 41 Obat yang Rawan Habis Saat Musim Penyakit
Rekreasi Air di Türkiye Membentuk Makna Sehat, Bukan Cuma Tenang
Kantin Sekolah Swasta Brasil Sering Jual Soda, Jarang Buah Segar
Pelancong yang Pernah Divaksin Rabies Justru Lambat Berobat
Warga Tepi Sungai Tijuana Ramai Mengeluh Pilek, Mual, dan Pusing
Nenek dan Cucu di Desa Shandong Sama-sama Tersendat Saat Berobat