- Dari 1.000 warga Bangkok usia 18-60, 63,5 persen membeli alkohol dalam setahun dan 43 persen membeli tembakau dalam sebulan
- Convenience store disebut 54,7 persen pembeli alkohol; warung komunitas disebut 26,8 persen pembeli tembakau
- Toko daring dipakai 19 persen pembeli tembakau, hanya 0,2 persen pembeli alkohol
- Sampel bukan probabilitas dan Tabel 4 memuat baris yang berjumlah 102 persen
Daftar Isi
Pewawancara itu mengetuk pintu rumah demi rumah di sebuah komunitas Bangkok, tablet di tangan, sesudah lebih dulu berkoordinasi dengan pemimpin komunitasnya. Rumah yang menolak dilewati, rumah tetangga didatangi, sampai lima orang berusia 18–25 tahun dan lima orang berusia 26–60 tahun terkumpul. Dari komunitas ke komunitas, jumlahnya genap seribu warga. Enam dari sepuluh mengaku membeli alkohol dalam setahun terakhir.
Angka itu dilaporkan Nongnuch Jindarattanaporn dan Salakjit Chuenchom dari Institute for Population and Social Research, Mahidol University, dalam Access to alcohol and tobacco retail outlets and its associated factors among residents of Bangkok, Thailand, artikel berbahasa Inggris yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1907 tahun 2026. Data dikumpulkan lewat wawancara tatap muka di lapangan antara Agustus dan Desember 2025.
Peta kerjanya membelah Bangkok jadi enam zona: pusat, utara, selatan, timur, Thonburi utara, dan Thonburi selatan. Distrik dipilih acak dari tiap zona. Di dalam distrik, komunitas dibagi jadi permukiman informal, komunitas pinggiran, komunitas kota, hunian bertingkat, dan komunitas khusus. Dua yang terakhir tidak masuk karena sulit diakses, sehingga seribu orang itu datang dari tiga jenis komunitas saja.
Komunitas
Orang yang membuka pintu itu kebanyakan muda. Separuh lebih responden berusia 18–25 tahun, umur mediannya 25, meski rata-ratanya 33 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak dari laki-laki, 510 berbanding 490. Sebagian besar beragama Buddha, lajang, dan tamat sekolah menengah. Pendapatan bulanan median 13.000 baht, dan 54 persen berpenghasilan di bawah 15.000 baht.
Dari seribu orang itu, 63,5 persen membeli minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir, dan 43 persen membeli produk tembakau dalam 30 hari terakhir. Bir paling banyak dibeli, disebut 52,3 persen responden, disusul spirits berwarna cokelat atau merah 33,4 persen. Untuk tembakau, rokok pabrikan mendominasi dengan 40,1 persen; tembakau linting hanya 4,6 persen dan rokok elektrik 1,1 persen.
Dua angka besar itu tidak boleh langsung dibandingkan, dan para penulis menegaskannya sendiri. Periode ingatannya berbeda: setahun untuk alkohol, sebulan untuk tembakau. Seseorang yang membeli bir sekali di pesta setahun lalu masuk hitungan pembeli alkohol, sementara perokok yang kehabisan rokok bulan ini terhitung sama dengan yang membeli setiap hari.
Convenience store
Dari pintu rumah, jalan yang paling sering ditempuh pembeli alkohol berakhir di convenience store, toko swalayan kecil yang buka di sudut kawasan hunian. Gerai jenis ini disebut 54,7 persen dari 635 pembeli alkohol, disusul toko komunitas lokal atau warung keluarga 45,6 persen. Hypermarket dan supermarket masih disebut 31 dan 28 persen. Responden boleh menyebut lebih dari satu gerai.
Alasan yang paling banyak diberikan sederhana: dekat. Sebanyak 60,1 persen pembeli alkohol memilih gerai karena jaraknya ke rumah, tempat tinggal, atau tempat kerja. Alasan kedua, produknya tersedia dan dipajang mencolok di dalam toko, disebut 29,6 persen. Promosi harga seperti diskon dan paket bundel hanya disebut 5,2 persen, dan layanan antar ke rumah nyaris tak terdengar, 0,9 persen.
Paper menyebut lanskap ritel Thailand memang ditandai kehadiran toko komunitas kecil dan convenience store yang rapat di kawasan permukiman. Namun para penulis berhati-hati: yang mereka ukur adalah gerai mana yang dipakai responden menurut pengakuannya sendiri, bukan berapa banyak gerai di sekitar rumahnya atau seberapa jauh jaraknya. Kepadatan gerai tidak dihitung.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Warung tembakau
Untuk tembakau, urutannya terbalik. Toko komunitas lokal disebut 26,8 persen dari 430 pembeli tembakau, mengalahkan convenience store yang 22,4 persen. Hypermarket hampir tidak muncul, 0,2 persen, dan tidak seorang pun mengaku membeli tembakau di supermarket. Alasan kedekatan lokasi tetap teratas dengan 39,3 persen, tetapi alasan tersedia setiap saat naik ke 14,3 persen, lebih tinggi daripada untuk alkohol.
Di titik inilah perbedaan paling tajam muncul. Toko daring seperti Facebook Marketplace, Lazada, Shopee, dan TikTok Shop disebut 19 persen pembeli tembakau, tetapi hanya 0,2 persen pembeli alkohol. Kemudahan digital lewat aplikasi ponsel disebut 4,2 persen pembeli tembakau sebagai alasan memilih gerai, dan layanan antar 1,3 persen.
Para penulis membaca angka itu sebagai tanda peran yang berbeda antara dua produk. “Kanal ritel daring lebih sering dilaporkan di antara pembeli tembakau dibanding pembeli alkohol dalam studi ini,” tulis Nongnuch Jindarattanaporn dan Salakjit Chuenchom dalam naskah berbahasa Inggrisnya. Paper menyebut Thailand melarang rokok elektrik dan membatasi produk tembakau tertentu di ritel resmi, sementara penjualan lewat media sosial dan e-commerce dilaporkan tetap luas.
Laki-laki usia 26 sampai 40
Kembali ke pintu-pintu yang diketuk itu, siapa yang membeli ternyata mengikuti pola yang cukup jelas. Laki-laki membeli alkohol 70,8 persen, perempuan 58,5 persen. Pada tembakau jaraknya lebih lebar: 56,7 persen laki-laki berbanding 29,8 persen perempuan. Kelompok usia 26–40 tahun paling banyak membeli keduanya, 72,4 persen untuk alkohol dan 50,8 persen untuk tembakau.
Agama membelah dua arah. Responden Buddha membeli alkohol 68,5 persen, responden Muslim 28,8 persen. Pada tembakau berbalik: 56 persen responden Muslim membeli tembakau, dibanding 41,1 persen responden Buddha. Mereka yang berpisah, bercerai, atau ditinggal mati pasangan mencatat angka tertinggi di kedua produk, 79,3 persen alkohol dan 56,9 persen tembakau, meski kelompok ini hanya 58 orang.
Pendidikan bekerja berbeda pula. Pembelian tembakau tertinggi ada pada tamatan sekolah dasar, 54,5 persen, dan turun ke 33,8 persen pada yang berpendidikan di atas menengah. Pendapatan hanya berkaitan dengan alkohol, bukan tembakau. Tipe komunitas juga: warga permukiman informal membeli alkohol 73,6 persen, komunitas pinggiran 53 persen, sedangkan untuk tembakau ketiganya nyaris sama di sekitar 42 sampai 43 persen.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Usia 20 tahun
Thailand menetapkan usia minimum 20 tahun untuk membeli alkohol dan tembakau, dan melarang promosi harga serta insentif penjualan. Kelompok termuda dalam survei, 18–25 tahun, mencakup orang di bawah dan di atas batas itu sekaligus. Karena itu para penulis menolak membaca angka 59,8 persen pembeli alkohol dan 39,2 persen pembeli tembakau di kelompok ini sebagai bukti pembelian di bawah umur.
Yang mereka simpulkan lebih hati-hati, tetapi tetap tajam. “Temuan ini menyoroti celah penegakan yang terus ada dalam sistem pengendalian alkohol dan tembakau Thailand, yang mungkin menunjukkan area untuk memperkuat pemantauan ritel dan langkah kepatuhan,” tulis Nongnuch Jindarattanaporn dan Salakjit Chuenchom, juga dalam bahasa Inggris. Responden muda, kata mereka, terpapar promosi yang menurut hukum semestinya tidak ada.
Batas paper ini ditulis panjang oleh penulisnya sendiri. Sampelnya bukan sampel probabilitas, dengan kuota tetap 500 orang muda dan 500 orang dewasa, sehingga hasilnya belum tentu mewakili Bangkok apalagi Thailand. Nama toko yang disebut responden diklasifikasi belakangan oleh tim, dan salah golong mungkin terjadi. Rancangan potong lintang tidak bisa menunjukkan sebab-akibat, dan analisis multivariabel tidak dijalankan karena sel data yang terlalu jarang.
Tabel 4
Beberapa hal di dalam naskah bisa diperiksa pembaca dengan kalkulator. Di Tabel 4, perempuan yang membeli alkohol ditulis 58,5 persen dan yang tidak membeli 43,5 persen, berjumlah 102 persen. Responden Buddha yang membeli tembakau 41,1 persen dan yang tidak 56,9 persen, berjumlah 98 persen. Baris usia 41–60 untuk alkohol berjumlah 100,1 persen.
Kuota disebut 500 orang muda dan 500 orang dewasa, tetapi Tabel 1 mencatat 503 orang berusia 18–25 tahun dan 497 orang berusia 26–60 tahun. Teks bagian hasil menyatakan pendapatan dan tipe komunitas tidak berkaitan bermakna dengan pembelian alkohol, padahal Tabel 4 mencantumkan nilai p 0,019 dan kurang dari 0,001 untuk keduanya, dan abstrak menyebut keduanya berkaitan dengan alkohol saja.
Ada pula satu kalimat tentang akses ritel yang diulang dua kali persis dalam paragraf keterbatasan. Bagian hasil menyebut akses ke convenience store dan toko komunitas diuji dengan Fisher exact dan semuanya bermakna, lalu kalimat berikutnya menyatakan temuan itu deskriptif dan bukan asosiasi yang diuji secara statistik. Tabel 4 sendiri tidak memuat baris akses gerai sama sekali.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Pintu yang tadi diketuk pewawancara itu berjarak beberapa langkah dari convenience store dan warung yang disebut responden. Angka 60 persen yang memilih gerai karena dekat memberi tahu di mana Bangkok membeli alkoholnya, tetapi paper ini tidak mengukur seberapa dekat itu sebenarnya. Yang tercatat hanya pengakuan dari balik pintu, dan di balik pintu yang sama, tembakau makin sering dipesan lewat layar ponsel.















