Anak Kota Benggala Barat Haid Pertama Lebih Awal dari Anak Desa

A A

Ilustrasi satu pembalut sekali pakai bersayap yang terbentang di atas latar putih [Foto: Linn.KnowSex/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Rata-rata usia haid pertama anak perempuan kota di Benggala Barat 11,6 tahun, sedangkan anak desa 12,0 tahun.
  • Anak kota menatap layar rata-rata 4,1 jam sehari, sedangkan anak desa hanya sekitar 1,8 jam.
  • Pada tahun ketiga, 78 persen anak kota sudah haid, dibandingkan 62 persen anak desa.
  • Waktu layar lebih dari empat jam sehari, IMT lebih tinggi, dan stres lebih besar sama-sama berkaitan dengan haid lebih awal.
Daftar Isi
  1. Lebih Awal Empat Bulan
  2. Layar Kota, Layar Desa
  3. Tubuh dan Piring
  4. Hormon Ikut Bergeser
  5. Peran Stres
  6. Faktor yang Bertahan
  7. Suara dari Diskusi
  8. Batas dan Saran

Anak perempuan kota di Benggala Barat lebih cepat mendapat haid pertama. Rata-rata usianya 11,6 tahun, sedangkan anak perempuan desa 12,0 tahun. Anak kota yang menatap layar lebih dari empat jam sehari mendapatkannya sekitar 4,2 bulan lebih awal daripada anak desa yang memakai layar kurang dari dua jam.

Temuan itu datang dari S Rehan Ahmad dari Hiralal Mazumdar Memorial College for Women, West Bengal State University, Kolkata, bersama Md. Zeyaullah dari King Khalid University, Arab Saudi, dan Anupriya Kumari dari Adamas University, Kolkata. Laporan mereka, Urban–rural disparities in menarcheal timing: a longitudinal cohort study examining social determinants of health (SDOH), screen time, and hormonal influences among adolescent girls in West Bengal, India, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Mereka mengikuti 1.200 anak perempuan berusia 8 sampai 10 tahun yang belum haid, separuh dari Kolkata dan Howrah, separuh lagi dari Bankura dan Purulia. Pengamatan berjalan dari Oktober 2021 hingga Oktober 2024, setiap enam bulan. Sebanyak 1.104 anak menuntaskan pengukuran awal, masing-masing 552 dari kota dan desa.

Lebih Awal Empat Bulan

Pada tahun ketiga, 78 persen anak kota sudah haid, atau 430 anak. Di desa, angkanya 62 persen, atau 342 anak. Dalam hitungan bulan, rata-rata usia haid pertama anak kota 139,2 bulan dan anak desa 143,4 bulan.

Anak kota lebih dulu haid dan berkembangSudah haid pada tahun ke-3: Kota 78%, Desa 62%; Mencapai Tanner tahap III: Kota 65%, Desa 40%.Anak kota lebih dulu haid dan berkembangPersen anak perempuan di akhir pengamatan, Benggala BaratKotaDesa0%25%50%75%100%78%62%Sudah haid pada tahun ke-365%40%Mencapai Tanner tahap IIITabel 4 paper; sudah haid: kota n = 430, desa n = 342
Sumber: S Rehan Ahmad, Md. Zeyaullah, dan Anupriya Kumari, Urban–rural disparities in menarcheal timing: a longitudinal cohort study examining social determinants of health (SDOH), screen time, and hormonal influences among adolescent girls in West Bengal, India, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Secara keseluruhan, 772 anak atau 70 persen peserta sudah mengalami haid pertama. Peneliti menyebut haid pertama sebelum usia 11,5 tahun sebagai haid dini, batas yang diambil dari persentil ke-25 data Benggala Barat.

Peneliti juga mencatat tahap perkembangan payudara anak. Tahap Tanner III, penanda kemajuan pubertas fisik, dicapai 65 persen anak kota dan hanya 40 persen anak desa pada akhir pengamatan.

Pembagian menurut lama menatap layar memberi pola serupa. Sebanyak 80 persen pengguna layar tinggi sudah haid pada tahun ketiga, dibandingkan 60 persen pengguna layar rendah. Peneliti mencatat rasio hazard untuk selisih ini 1,42.

Layar Kota, Layar Desa

Anak kota menatap layar rata-rata 4,1 jam sehari, anak desa hanya sekitar 1,8 jam. Layar anak kota sebagian besar ponsel, yakni 60 persen, dan televisi 30 persen, dengan kegiatan utama media sosial dan YouTube, juga 60 persen. Pemakaiannya memuncak pada pukul 20.00 sampai 23.00.

Anak desa terutama menonton televisi, 80 persen, biasanya kartun atau acara keluarga, dan pemakaian ponsel hanya 5 persen. Mereka umumnya menonton pada pukul 18.00 sampai 20.00, sering kali karena listrik padam. Seluruh perbedaan kebiasaan layar ini bermakna secara statistik.

Baca juga Makin Lama Menonton Video Pendek, Anak Thailand Makin Sulit Fokus

Tubuh dan Piring

Anak kota lebih berat, dengan indeks massa tubuh atau IMT rata-rata 18,5 kg/m² berbanding 16,2 kg/m² di desa. Mereka aktif secara fisik 2,1 jam sehari, anak desa 3,8 jam. Tidurnya pun lebih pendek, 7,2 jam semalam di kota dan 8,1 jam di desa.

Asupan kalori anak kota rata-rata 2.100 kkal per hari, anak desa 1.800 kkal. Porsi makanan tidak sehat atau junk food juga lebih besar, 35 persen berbanding 15 persen. Semua perbedaan ini bermakna secara statistik dan dicatat pada awal pengamatan, ketika seluruh anak belum haid.

Hormon Ikut Bergeser

Darah 300 anak diperiksa lebih dalam: 150 anak kota pengguna layar tinggi dan 150 anak desa pengguna layar rendah. Menurut peneliti, hasilnya memberi gambaran yang jelas tentang ritme tubuh di dua lingkungan itu.

Kadar kortisol anak kota 12,1 µg/dL, anak desa 9,3 µg/dL; estradiol 38,5 berbanding 29,1 pg/mL; leptin 18,7 berbanding 12,4 ng/mL. GnRH dan FSH, dua hormon yang berkaitan dengan pubertas, juga lebih tinggi di kota, masing-masing 0,8 berbanding 0,5 ng/mL dan 4,5 berbanding 3,3 mIU/mL.

Melatonin justru sebaliknya, 15,2 pg/mL pada anak kota dan 22,8 pg/mL pada anak desa. Peneliti menyebutnya hormon pengatur tidur yang berfungsi sebagai rem alami pubertas dini. Seluruh selisih hormon itu bermakna secara statistik, dan menurut peneliti makin tegas pada tahun kedua.

Peran Stres

Anak kota juga lebih tertekan: skor stres pada skala PSS-10 rata-rata 22 berbanding 18, dan skor kecemasan pada skala SCARED 15 berbanding 11. Anak desa lebih merasa diterima lingkungannya, dengan skor persepsi diri sosial 3,0 berbanding 2,5. Tekanan anak desa datang dari pekerjaan rumah tangga, tetapi kecemasannya lebih rendah.

Pada anak kota, stres menjelaskan 28 persen hubungan antara waktu layar dan waktu haid pertama. Stres juga berkorelasi sedang dengan waktu layar (r = 0,42) dan dengan kortisol (r = 0,45).

Kecemasan menjelaskan 15 persen hubungan yang sama, dan kenaikan lima poin skornya berkaitan dengan pubertas lebih awal dengan rasio hazard 1,15. Persepsi diri yang lebih rendah juga memprediksi haid lebih awal. Di desa, kaitan psikologis itu lebih lemah, dengan tingkat stres dan kecemasan yang secara keseluruhan lebih rendah.

Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka

Faktor yang Bertahan

Peneliti lalu menguji tujuh faktor sekaligus terhadap usia haid pertama. Waktu layar lebih dari empat jam sehari, IMT lebih tinggi, dan stres lebih besar sama-sama berkaitan dengan haid lebih awal.

Kaitan itu bertahan setelah status sosial ekonomi, usia haid pertama ibu, dan aktivitas fisik ikut diperhitungkan. Model ini menjelaskan sekitar 42 persen variasi usia haid pertama.

Faktor terkait usia haid pertamaWaktu layar >4 jam/hari: Koefisien −0,32; IMT: Koefisien −0,28; Stres (PSS-10): Koefisien −0,18; Usia haid pertama ibu: Koefisien +0,25; Aktivitas fisik: Koefisien +0,15; Status sosial ekonomi: Koefisien +0,10; Tinggal di desa: Koefisien +0,21.Faktor terkait usia haid pertamaKoefisien regresi; negatif = haid lebih awal, positif = lebihlambat; N = 1.104−0,4−0,20,20,40Waktu layar >4 jam/hari−0,32IMT−0,28Stres (PSS-10)−0,18Usia haid pertama ibu+0,25Aktivitas fisik+0,15Status sosial ekonomi+0,10Tinggal di desa+0,21Tabel 6 paper; variabel terikat: usia haid pertama (tahun)
Sumber: S Rehan Ahmad, Md. Zeyaullah, dan Anupriya Kumari, Urban–rural disparities in menarcheal timing: a longitudinal cohort study examining social determinants of health (SDOH), screen time, and hormonal influences among adolescent girls in West Bengal, India, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dalam tabel itu, koefisien waktu layar lebih dari empat jam sehari −0,32, IMT −0,28, dan stres −0,18, dihitung dalam tahun usia haid pertama. Tanda minus berarti haid lebih awal.

Arah sebaliknya terlihat pada usia haid pertama ibu, aktivitas fisik, dan tinggal di desa. Ketiganya berkaitan dengan haid yang lebih lambat, dengan koefisien 0,25, 0,15, dan 0,21. Status sosial ekonomi yang lebih tinggi juga bertanda positif, 0,10.

Kaitan layar dengan haid lebih awal paling kuat pada anak dari keluarga berstatus sosial ekonomi lebih tinggi, dengan rasio hazard 1,50, dan pada anak berusia 9 sampai 10 tahun di awal pengamatan, 1,45. Pada keluarga berstatus lebih rendah kaitannya lebih lemah, 1,20, dan tidak bermakna secara statistik, sedangkan pada anak usia 8 sampai 9 tahun angkanya 1,30.

Pola serupa muncul di desa. Sebanyak 120 anak desa yang punya akses ke ponsel pintar mendapat haid pertama pada usia rata-rata 11,8 tahun, lebih awal daripada yang tidak memakai ponsel pintar, 12,2 tahun.

Suara dari Diskusi

Diskusi kelompok memperlihatkan sisi lain, dan peneliti menyebut hubungan anak kota dengan layar sebagai pedang bermata dua. Hampir tujuh dari sepuluh anak kota mengatakan layar memicu cemas soal bentuk tubuh, karena mereka terus membandingkan diri dengan kehidupan daring yang serba disaring.

Namun, sekitar enam dari sepuluh anak kota juga menjadikan ponsel atau media sosial tempat berlindung dari tekanan pelajaran, rasa sepi, atau perasaan tidak dilihat. Orang tua mereka sangat khawatir; delapan dari sepuluh mengaitkan pemakaian layar yang berat dengan risiko kesehatan jiwa dan tantangan emosional masa pubertas.

Anak desa bercerita tentang televisi dengan hangat. Sekitar tujuh dari sepuluh memandangnya sebagai jeda yang menenangkan sesudah pekerjaan rumah, kesempatan tertawa bersama keluarga, atau menikmati cerita bersama. Orang tua mereka menganggap televisi hiburan sehari-hari yang aman dan jarang mengaitkannya dengan pubertas atau haid.

Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah

Batas dan Saran

Penelitian ini punya batas. Waktu layar dilaporkan sendiri sehingga bisa keliru diingat, meski sebagian dicek dengan alat pengukur gerak, dan sampelnya mungkin belum mewakili kelompok suku asli atau keluarga yang sangat miskin di Benggala Barat. Pemeriksaan hormon hanya dilakukan pada 300 anak, dan peneliti mengakui mungkin masih ada faktor tak terukur seperti racun lingkungan dan pengaruh genetik.

Arah hubungannya pun belum pasti. “Apakah layar mempercepat pubertas, atau anak perempuan yang lebih cepat matang lebih mungkin menarik diri ke rutinitas yang penuh layar dan banyak duduk?” tulis Ahmad dan rekan, dalam terjemahan.

Untuk rumah, peneliti menyarankan tanpa layar sejam sebelum tidur dan latihan kesadaran sederhana untuk meredakan stres. Di sekolah, mereka mengusulkan jeda bergerak kira-kira setiap jam serta mengganti tugas berlayar dengan catatan suara atau proyek tangan.

Di tingkat kebijakan, mereka mengusulkan batas waktu gawai bagi anak dan pemutusan otomatis pada malam hari. Mereka juga meminta investasi pada taman dan ruang bermain yang aman agar setiap anak bisa bergerak di luar rumah.

Menurut peneliti, anak kota menghadapi sekaligus tiga hal yang mereka sebut pemercepat pubertas: gangguan jam tubuh oleh layar, kalori berlebih dari camilan, dan tekanan membandingkan diri di dunia digital. Anak desa paling banyak terpapar satu, yakni cahaya televisi.

Bagikan

Baca Juga

Pajak Makanan Tinggi Gula dan Garam India Bisa Cegah 9 Juta Kasus
Hampir Tiga dari Sepuluh Mahasiswa Yaman Duduk 7 Jam atau Lebih
Pria Afrika Sub-Sahara Lebih Sering Kurus daripada Perempuan
Warga Berisiko Miskin Tanpa Anak Serumah Kian Jarang Merasa Sehat
Anemia Siswi SMK Bondowoso Terkait Zat Besi dan Siklus Haid
Keluhan Sakit Kepala Lansia Spanyol Turun Nyata dalam 17 Tahun