Lembur dan Masuk Akhir Pekan, Polisi Korea Jam Kantor Lebih Cemas

A A

Ilustrasi dua polisi berseragam berpatroli menyusuri jalan kota pada malam hari, tampak belakang [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Polisi siang tetap yang berjam panjang sekaligus masuk akhir pekan mencatat kecemasan 19,3 persen dan rasio prevalensi 2,50.
  • Hanya kelompok itu yang menunjukkan prevalensi lebih tinggi secara bermakna pada insomnia, depresi, dan kecemasan sekaligus.
  • Pada polisi perempuan, insomnia tercatat 19,5 persen di sif bergilir dan 9,3 persen di kelompok siang tetap.
  • Data potong lintang membuat hubungan sebab-akibat antara pola kerja dan kesehatan jiwa tidak bisa ditarik.
Daftar Isi
  1. Jadwal Siang yang Tampak Tenang Bisa Menyimpan Jam Panjang dan Akhir Pekan
  2. Pada Sif Bergilir, Polisi Perempuan Lebih dari Dua Kali Lebih Sering Sulit Tidur
  3. Ketika Jam Panjang dan Akhir Pekan Datang Bersamaan, Tiga Gangguan Naik Sekaligus
  4. Sif Bergilir Lebih Sering Sulit Tidur, tetapi Depresi dan Cemasnya Tidak Ikut Naik
  5. Laki-laki Lebih Cemas, Perempuan Lebih Sulit Tidur, dan Data yang Belum Bisa Menunjuk Sebab

Jadwal mereka tampak paling aman di atas kertas: masuk pukul 09.00, pulang pukul 18.00, lima hari seminggu. Tidak ada sif malam yang berputar. Namun di antara 1.087 polisi Korea Selatan yang mengisi kuesioner pada akhir 2022, justru sebagian petugas berjadwal siang tetap yang mencatat angka kecemasan tertinggi, yakni mereka yang juga bekerja lebih dari 52 jam seminggu dan masih masuk pada akhir pekan.

Hampir satu dari lima petugas dalam kelompok itu, tepatnya 19,3 persen, tergolong cemas. Dibandingkan rekan berjadwal siang tetap yang tidak berjam kerja panjang dan tidak masuk akhir pekan, rasio prevalensi kecemasan mereka 2,50 setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, pangkat, dan sejumlah faktor lain. Insomnia dan depresi pada kelompok yang sama juga lebih tinggi secara bermakna.

Temuan itu dilaporkan Jungwon Jang dan rekan dari Departemen Kedokteran Okupasi dan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Universitas Hanyang, Seoul, dalam makalah Associations of combined work schedules and atypical working hours with mental health among South Korean police officers: a cross-sectional study. Makalah itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Penulis korespondensinya, Profesor Inah Kim, berasal dari departemen yang sama.

Jadwal Siang yang Tampak Tenang Bisa Menyimpan Jam Panjang dan Akhir Pekan

Jang dan rekan memilah petugas ke dalam dua jadwal. Kerja siang tetap berarti pukul 09.00 sampai 18.00 lima hari seminggu, sedangkan kerja sif bergilir mencakup sif malam. Di atas dua jadwal itu mereka menumpuk dua bentuk jam kerja tak lazim: jam kerja panjang, yaitu lebih dari 52 jam per minggu menurut standar hukum Korea, dan kerja akhir pekan, yaitu empat jam atau lebih pada akhir pekan setidaknya sekali sebulan.

Kerja akhir pekan hanya dipakai untuk memilah kelompok siang tetap, sebab dalam kerja kepolisian, kerja akhir pekan sudah melekat pada sif bergilir. Hasilnya enam kombinasi. Kelompok siang tetap terbagi empat: tanpa jam panjang dan tanpa akhir pekan, hanya akhir pekan, hanya jam panjang, serta keduanya sekaligus. Kelompok sif bergilir terbagi dua, dengan atau tanpa jam kerja panjang.

Kelompok terbesar adalah petugas sif bergilir tanpa jam panjang, 420 orang atau 38,6 persen. Petugas siang tetap tanpa jam panjang dan tanpa akhir pekan, yang menjadi pembanding, berjumlah 197 orang atau 18,1 persen. Kelompok yang menanggung jam panjang sekaligus akhir pekan hanya 88 orang, 8,1 persen dari seluruh sampel. Yang paling kecil adalah petugas siang tetap yang hanya berjam panjang, 36 orang.

Datanya berasal dari Kohort Kesehatan Mental Polisi Korea, atau Mental COP, yang mengikuti polisi sejak baru direkrut. Survei lanjutan September hingga Desember 2022 diisi 1.400 petugas, dan sesudah penyaringan tersisa 1.087 orang, terdiri atas 818 laki-laki dan 269 perempuan. Insomnia, depresi, dan kecemasan diukur dengan kuesioner baku versi Korea yang diisi sendiri oleh petugas.

Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur

Pada Sif Bergilir, Polisi Perempuan Lebih dari Dua Kali Lebih Sering Sulit Tidur

Insomnia polisi menurut jadwal kerjaLaki-laki (n = 818): Kerja siang tetap (FW) 8,7%, Sif bergilir (SW) 14,7%; Perempuan (n = 269): Kerja siang tetap (FW) 9,3%, Sif bergilir (SW) 19,5%.Insomnia polisi menurut jadwal kerjaPrevalensi insomnia (persen), Tabel 2, data akhir 2022Kerja siang tetap (FW)Sif bergilir (SW)0%5%10%15%20%25%8,7%14,7%Laki-laki (n = 818)9,3%19,5%Perempuan (n = 269)aPR sif bergilir: laki-laki 1,68; perempuan 2,38 (keduanya bermakna).
Sumber: Jungwon Jang dan rekan, Associations of combined work schedules and atypical working hours with mental health among South Korean police officers: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perbandingan pertama sederhana: siang tetap melawan sif bergilir. Laki-laki dan perempuan dipisah, karena para peneliti menemukan interaksi bermakna antara jadwal kerja dan jenis kelamin untuk depresi. Pada polisi laki-laki, insomnia tercatat pada 8,7 persen petugas siang tetap dan 14,7 persen petugas sif bergilir. Rasio prevalensi yang disesuaikan 1,68, dan angka itu bermakna secara statistik.

Pada polisi perempuan, jaraknya melebar. Insomnia tercatat pada 9,3 persen petugas siang tetap dan 19,5 persen petugas sif bergilir. Setelah disesuaikan, rasio prevalensinya 2,38, dengan selang kepercayaan 95 persen dari 1,11 sampai 5,11. Menurut para peneliti, prevalensi insomnia polisi perempuan di sif bergilir lebih dari dua kali lipat prevalensi di kelompok siang tetap.

Depresi dan kecemasan tidak mengikuti pola itu. Pada laki-laki, depresi tercatat 27,3 persen di kelompok siang tetap dan 23,4 persen di sif bergilir, sementara kecemasan 10,5 dan 8,1 persen; rasio keduanya tidak bermakna. Pada perempuan, depresi tercatat 36,3 dan 47,1 persen, kecemasan 19,2 dan 20,7 persen, juga tanpa perbedaan yang bermakna secara statistik.

Ketika Jam Panjang dan Akhir Pekan Datang Bersamaan, Tiga Gangguan Naik Sekaligus

Gambarannya berubah ketika keenam kombinasi dibandingkan dengan satu pembanding yang sama, yaitu petugas siang tetap tanpa jam panjang dan tanpa akhir pekan. Karena tidak ada interaksi bermakna antara jenis kelamin dan kombinasi kerja, laki-laki dan perempuan dianalisis bersama. Di kelompok pembanding, insomnia tercatat 6,1 persen, depresi 27,4 persen, dan kecemasan 9,6 persen.

Kelompok siang tetap yang berjam panjang sekaligus masuk akhir pekan mencatat insomnia 14,8 persen, depresi 37,5 persen, dan kecemasan 19,3 persen. Rasio prevalensi yang disesuaikan untuk insomnia 2,76, untuk kecemasan 2,50, dan untuk depresi 1,61. Ketiganya bermakna. Hanya kelompok inilah yang menunjukkan prevalensi lebih tinggi secara bermakna pada ketiga gangguan sekaligus.

Dua kombinasi tetangganya tidak menunjukkan kaitan bermakna. Petugas siang tetap yang hanya masuk akhir pekan mencatat insomnia 10,8 persen, depresi 30,8 persen, dan kecemasan 14,4 persen. Petugas siang tetap yang hanya berjam panjang mencatat depresi 27,8 persen dan kecemasan 16,7 persen, sedangkan insomnia di kelompok kecil berisi 36 orang itu tercatat nol persen.

Para peneliti mencatat, kaitan bermakna pada ketiga gangguan hanya muncul ketika jam panjang dan kerja akhir pekan hadir bersamaan. Menurut mereka, temuan ini menunjukkan beban kumulatif jam kerja tak lazim berkaitan dengan rentang gangguan kesehatan jiwa yang lebih luas. Pola semacam itu, tulis mereka, sejalan dengan studi terdahulu yang mengaitkan jam panjang dan kerja akhir pekan dengan kehidupan kerja yang tak seimbang, stres kronis, dan pemulihan yang kurang.

Dari situ mereka mempersoalkan cara lama memilah jadwal polisi. “Dikotomi konvensional antara kerja sif bergilir dan kerja siang tetap tidak memadai untuk menangkap risiko kompleks yang ada di lingkungan kerja berbeban tinggi dan berjam panjang seperti kepolisian Korea,” tulis Jang dan rekan dalam makalahnya (diterjemahkan dari bahasa Inggris). Kombinasi ekstrem dan rumit semacam ini, menurut mereka, mungkin terlewat dalam riset terdahulu karena jarang dijumpai di negara lain.

Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit

Sif Bergilir Lebih Sering Sulit Tidur, tetapi Depresi dan Cemasnya Tidak Ikut Naik

Petugas sif bergilir menyimpan cerita lain. Insomnia tercatat 15,0 persen pada mereka yang tanpa jam panjang dan 16,6 persen pada mereka yang berjam panjang, dengan rasio prevalensi 2,76 dan 3,02, keduanya bermakna. Depresi di dua kelompok itu 25,7 dan 30,5 persen, kecemasan 9,3 dan 11,9 persen, dan keduanya tidak berbeda bermakna dari pembanding.

Insomnia pada enam kombinasi kerjaSiang tetap saja 6,1%; Siang + akhir pekan 10,8%; Siang + jam panjang 0,0%; Siang + keduanya 14,8%; Sif tanpa jam panjang 15,0%; Sif + jam panjang 16,6%.Insomnia pada enam kombinasi kerjaPrevalensi insomnia (persen), Tabel 3, n = 1.087 polisi0%5%10%15%20%Siang tetap saja6,1%Siang + akhir pekan10,8%Siang + jam panjang0,0%Siang + keduanya14,8%Sif tanpa jam panjang15,0%Sif + jam panjang16,6%Siang = kerja siang tetap (FW), sif = sif bergilir (SW), jam panjang =lebih dari 52 jam per minggu.
Sumber: Jungwon Jang dan rekan, Associations of combined work schedules and atypical working hours with mental health among South Korean police officers: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para peneliti mencatat pola ini berbeda dari studi sebelumnya yang menempatkan insomnia sebagai peramal kuat depresi. Penjelasannya, menurut mereka, mungkin ada pada hal yang tidak diukur: apakah lembur dilakukan sukarela, berapa lama petugas benar-benar tidur, dan seberapa sering mereka bekerja pada akhir pekan. Riset lanjutan, tulis mereka, perlu menelaah lama tidur dan frekuensi kerja akhir pekan lebih jauh.

Makalah itu juga menyebut polisi sif di Korea dapat mendaftar secara sukarela untuk kerja tambahan pada siang hari, malam hari, atau saat libur demi menutup kekurangan personel di satuannya. Studi terdahulu yang dirujuk para peneliti membedakan jenis lembur, dan yang diduga berdampak buruk pada kesehatan jiwa adalah lembur wajib, bukan lembur sukarela.

Jang dan rekan lalu menyodorkan dua jalur yang berbeda. Pada sif bergilir, variasi sirkadian tampaknya terutama berkaitan dengan masalah tidur. Pada kerja siang tetap, variasi psikososial seperti lembur wajib dan jadwal yang tak terduga mungkin berkaitan langsung dengan tidur sekaligus depresi dan kecemasan.

Mereka menduga temuan pada kelompok siang tetap yang berjam panjang dan masuk akhir pekan mencerminkan beban kerja berat, tugas mendesak, serta lebih seringnya lembur yang mendadak dan wajib. Beban jam panjang yang lazim di lingkungan kerja Korea, tulis mereka, juga hadir pada petugas berjadwal siang tetap. Korea Selatan, menurut makalah itu, termasuk negara OECD teratas dalam soal jam kerja panjang.

Laki-laki Lebih Cemas, Perempuan Lebih Sulit Tidur, dan Data yang Belum Bisa Menunjuk Sebab

Ketika kelompok siang tetap dipilah lagi menurut jenis kelamin, polanya bercabang. Pada polisi laki-laki, kombinasi jam panjang dan akhir pekan berkaitan bermakna dengan depresi dan kecemasan. Pada polisi perempuan dengan kombinasi yang sama, kaitan bermakna hanya muncul untuk insomnia.

Para peneliti menduga ada faktor tak terukur yang ikut bermain, seperti konteks kerja yang berbeda menurut gender di Korea dan tanggung jawab merawat keluarga. Mereka juga mengakui bahwa depresi dan kecemasan polisi perempuan yang tidak bermakna bisa lahir dari daya statistik yang terbatas karena sampelnya kecil, bukan karena hubungan itu tidak ada.

Batas lain ditulis terang. Data potong lintang membuat hubungan sebab-akibat antara pola kerja dan masalah kesehatan jiwa tidak bisa ditarik. Sampelnya polisi yang baru tiga sampai lima tahun berdinas, sehingga mungkin tidak mewakili seluruh kepolisian Korea Selatan, dan banyaknya petugas yang tidak menjawab survei membuat efek pekerja sehat tidak bisa disingkirkan. Untuk memperbaiki keterwakilan sampel, tim tersebut menjalankan pemantauan jangka panjang, terus menambah polisi baru ke dalam kohort, dan membangun aplikasi ponsel untuk pengelolaan kesehatan polisi.

Seluruh variabel juga berasal dari laporan petugas sendiri. Para peneliti beralasan laporan semacam itu bisa lebih mendekati jam kerja sebenarnya, sebab pegawai negeri Korea mungkin mencatat jam lembur resmi lebih sedikit daripada yang dikerjakan, mengingat jumlah jam lembur yang dapat dibayar dibatasi aturan tunjangan.

Baca juga Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang

Sejumlah faktor tidak ikut ditimbang, antara lain jenis tugas polisi, lembur sukarela, lama tidur, frekuensi kerja akhir pekan, cuti sakit, susunan keluarga, dan kehadiran anak.

Di bagian simpulan, Jang dan rekan menulis bahwa jadwal siang tetap tidak serta-merta melindungi kesejahteraan jiwa. Mereka menyebut kebijakan yang memastikan kepatuhan pada batas maksimal jam kerja, melarang lembur wajib yang berlebihan, menjamin waktu istirahat yang cukup, dan merancang sistem sif yang menekan risiko kesehatan sebagai langkah yang dapat membantu melindungi kesehatan jiwa polisi.

Di atas kertas, jadwal 88 petugas itu tetap pukul sembilan pagi sampai enam sore, lima hari seminggu. Di kuesioner yang mereka isi pada akhir 2022, hampir satu dari lima tergolong cemas, dan rasio prevalensi insomnia mereka 2,76 dibandingkan rekan yang tidak berjam panjang dan tidak masuk akhir pekan.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Korea yang Masuk Kerja saat Sakit Lebih Mungkin Absen
Debu Silika dan Benzena Dikaitkan Ratusan Kanker Pekerja Iran
Pekerja TI Wuhan Duduk Tujuh Jam, Satu dari Lima Bergejala Cemas
Kecelakaan Kurir Motor Ankara Terkait Cuaca dan Status Kerja
Pekerja Informal Sumatera Utara Lebih Banyak Mengeluh Sakit Otot
Pelatihan Kelola Stres Bantu Manajer UKM Jerman, tapi Tak Awet