Pekerja TI Wuhan Duduk Tujuh Jam, Satu dari Lima Bergejala Cemas

A A

Ilustrasi dua pekerja kantor bekerja di depan monitor dan laptop, tampak dari belakang [Foto: Pexels]

  • Rata-rata duduk untuk keperluan kerja tercatat 427,9 menit, atau sekitar 7,13 jam, pada satu hari kerja.
  • Sebanyak 20,4 persen responden mencatat skor depresi sedang hingga berat dan 21,7 persen skor kecemasan sedang hingga berat.
  • Tiap tambahan satu jam duduk total berkaitan dengan peluang 15 persen lebih tinggi melaporkan kategori stres yang lebih berat.
  • Duduk saat kerja tidak lagi berkaitan bermakna dengan stres setelah variabel pekerjaan dan kualitas tidur dimasukkan.
Daftar Isi
  1. Tujuh Jam di Meja Kerja, Delapan Jam Sepanjang Hari
  2. Murung dan Cemas, Dua Skor yang Nyaris Kembar
  3. Duduk Sepanjang Hari Terkait Stres
  4. Duduk di Meja Kerja Kehilangan Kaitannya
  5. Tidur yang Buruk, Kepuasan Kerja yang Rendah
  6. Karyawan Baru dan Karyawan Lama

Kursi kantor dan bantal tidur tampak tak punya urusan satu sama lain, tetapi pada 235 pekerja perangkat lunak dan teknologi informasi di Wuhan, keduanya muncul di peta yang sama. Rata-rata mereka duduk lebih dari tujuh jam untuk bekerja pada satu hari kerja. Kira-kira satu dari lima mencatat skor kecemasan pada tingkat sedang hingga berat.

Survei daring itu dijalankan pada Mei sampai Agustus 2024 di empat perusahaan teknologi swasta di Wuhan, Tiongkok. Dari 322 tanggapan yang masuk, 235 terisi lengkap. Sebagian besar respondennya laki-laki, yakni 68,1 persen, dan 60,9 persen berusia 25 sampai 34 tahun. Hampir semuanya, 92,3 persen, berpendidikan sarjana atau vokasi tinggi.

Temuan ini ditulis Ming Jin, Michelle Swainson, dan Abigail Morris dari Fakultas Kesehatan dan Kedokteran Lancaster University, Inggris, dalam artikel berjudul Occupational sedentary behaviour and mental health symptoms among software and IT workers in China: a cross-sectional study using path analysis. Tulisan itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka membandingkan dua ukuran duduk, yaitu duduk selama bekerja dan duduk sepanjang hari kerja, terhadap tiga keluhan jiwa.

Tujuh Jam di Meja Kerja, Delapan Jam Sepanjang Hari

Angka pertama datang dari meja kerja. Rata-rata duduk untuk keperluan kerja tercatat 427,9 menit, atau sekitar 7,13 jam, pada satu hari kerja. Angka kedua mencakup seluruh hari itu, termasuk di rumah dan waktu senggang: 499,9 menit, atau sekitar 8,33 jam. Median kedua ukuran itu sama, yaitu 480 menit.

Para responden melaporkan waktu kerja nyata rata-rata 590,8 menit per hari kerja, sekitar 9,85 jam. Dari laporan mereka sendiri, duduk untuk kerja mengisi 72,4 persen jam kerja. Dalam hari kerja standar delapan jam, porsi itu setara 347,52 menit, atau kira-kira 5,79 jam di kursi. Angka 72,4 persen itu berasal dari ukuran yang dilaporkan sendiri, bukan dari alat pengukur.

Para penulis menyandingkan porsi itu dengan studi lain yang mereka kutip. Pada pegawai di Inggris yang diukur dengan alat, porsinya 72,6 persen. Di sejumlah kantor, layanan pelanggan, dan pusat panggilan, angkanya 77 sampai 81,8 persen. Di pekerjaan fisik seperti konstruksi, duduk mengisi kurang dari separuh jam kerja.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Murung dan Cemas, Dua Skor yang Nyaris Kembar

Untuk depresi dan kecemasan, para peneliti memakai Skala Kecemasan dan Depresi Rumah Sakit, kuesioner penapis dengan rentang skor 0 sampai 21. Rata-rata skor depresi 7,5, sedangkan kecemasan 7,6. Keduanya di bawah ambang klinis 8, tetapi dekat dengannya, sehingga menurut para penulis sebagian responden kemungkinan memiliki gejala subklinis. Tiap skala berisi tujuh butir, dan skor 11 ke atas masuk kategori sedang hingga berat.

Skor depresi dan kecemasanTidak ada atau rendah: Depresi 47,2, Kecemasan 48,5; Ringan: Depresi 32,3, Kecemasan 29,8; Sedang hingga berat: Depresi 20,4, Kecemasan 21,7.Skor depresi dan kecemasanPersen dari 235 pekerja TI Wuhan, per kategori skorDepresiKecemasan020406047,248,5Tidak ada ataurendah32,329,8Ringan20,421,7Sedang hinggaberatTabel 2. Kategori skor gejala, bukan diagnosis
Sumber: Ming Jin dan rekan, Occupational sedentary behaviour and mental health symptoms among software and IT workers in China: a cross-sectional study using path analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada depresi, 47,2 persen responden berada di kategori tidak ada atau rendah, 32,3 persen ringan, dan 20,4 persen sedang hingga berat. Pada kecemasan, urutannya 48,5 persen, 29,8 persen, dan 21,7 persen. Skor 8 sampai 10 masuk kategori ringan.

Proporsi sedang hingga berat itu lebih tinggi daripada perkiraan 16,6 persen gangguan jiwa terdiagnosis pada populasi umum Tiongkok yang dikutip paper. Para penulis menegaskan angka itu tidak boleh dibaca sebagai kejadian klinis yang lebih tinggi, sebab yang diukur adalah gejala yang dilaporkan sendiri. Meski begitu, temuan ini mengisyaratkan pekerja sektor ini mungkin lebih berisiko mengalami tekanan mental.

Stres diukur dengan satu pertanyaan berskala 1 sampai 5. Rata-ratanya 2,3, di bawah titik tengah 3. Para penulis menawarkan dua kemungkinan, yaitu ukuran satu butir yang mungkin meremehkan stres, atau keadaan letih emosional yang membuat orang tidak lagi merasakan stres akut. Penjelasan kedua, tulis mereka, masih perlu dievaluasi.

Duduk Sepanjang Hari Terkait Stres

Di sisi depresi dan kecemasan, lama duduk tidak menunjukkan kaitan bermakna. Rasio odds duduk total terhadap depresi pada model paling lengkap adalah 1,00, dan terhadap kecemasan 1,03. Polanya sama untuk duduk saat kerja, dengan rasio odds 1,00 untuk depresi dan 1,01 untuk kecemasan. Tidak satu pun angka itu bermakna secara statistik.

Stres bercerita lain. Duduk total sepanjang hari kerja tetap berkaitan dengan stres yang lebih tinggi di kelima model, dari model kasar sampai model yang memperhitungkan kualitas tidur. Pada model terakhir, rasio oddsnya 1,15. Artinya, tiap tambahan satu jam duduk total berkaitan dengan peluang 15 persen lebih tinggi untuk melaporkan kategori stres yang lebih berat.

Pada model kasar, rasio odds duduk total terhadap stres adalah 1,17. Angka itu naik menjadi 1,20 setelah faktor demografi dan gaya hidup, lalu aktivitas fisik, dimasukkan, kemudian 1,19 setelah variabel pekerjaan, dan 1,15 setelah kualitas tidur. Kelima angka itu bermakna secara statistik. Pola ini berbeda dari duduk saat kerja, seperti terlihat di bagian berikutnya.

Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur

Duduk di Meja Kerja Kehilangan Kaitannya

Duduk saat kerja memulai dengan pola serupa. Pada model kasar, rasio oddsnya terhadap stres 1,13, lalu 1,12 di model A dan model B. Ketiganya bermakna. Begitu variabel pekerjaan masuk di model C, angkanya turun menjadi 1,09, dan setelah kualitas tidur masuk di model D tinggal 1,04. Pada dua model terakhir itu kaitannya tidak lagi bermakna.

Kaitan lama duduk dengan stresModel kasar 1,13 ke 1,17; Model A 1,12 ke 1,20; Model B 1,12 ke 1,20; Model C 1,09 ke 1,19; Model D 1,04 ke 1,15.Kaitan lama duduk dengan stresRasio odds stres per tambahan satu jam duduk, lima modelDuduk saat kerjaDuduk total sehari1,001,051,101,151,201,25Model kasar1,131,17Model A1,121,20Model B1,121,20Model C1,091,19Model D1,041,15Tabel 4. C: tambah variabel pekerjaan. D: tambah kualitas tidur
Sumber: Ming Jin dan rekan, Occupational sedentary behaviour and mental health symptoms among software and IT workers in China: a cross-sectional study using path analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Variabel pekerjaan yang dimasukkan di model C mencakup kepuasan kerja, jabatan, lama di industri, masa kerja di perusahaan, jumlah hari kerja per pekan, dan menit kerja harian. Menurut para penulis, pola ini menandakan hubungan duduk di tempat kerja dengan stres kemungkinan tidak langsung dan dipengaruhi faktor perantara.

Kesimpulan mereka ringkas. “Tidak ditemukan hubungan langsung antara perilaku duduk saat bekerja dengan depresi, kecemasan, atau stres pada sampel potong lintang ini,” tulis Ming Jin dan rekan, dalam terjemahan bebas dari bahasa Inggris. Mereka menduga ciri kerja TI, seperti keterlibatan pikiran, kreativitas, dan kendali atas pekerjaan, mungkin meredam dampak psikologis duduk lama.

Tidur yang Buruk, Kepuasan Kerja yang Rendah

Untuk menelusuri jalurnya, para peneliti menyusun analisis jalur dengan kualitas tidur sebagai perantara yang diduga sejak awal. Hasilnya, duduk lebih lama saat kerja berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk, dengan koefisien 0,135. Kualitas tidur yang buruk, pada gilirannya, berkaitan dengan stres yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,319.

Di sisi lain, kepuasan kerja yang lebih rendah juga berkaitan dengan tidur yang lebih buruk, dengan koefisien minus 0,175. Lewat jalur tidur itu, kepuasan kerja yang lebih tinggi berkaitan secara tidak langsung dengan stres yang lebih rendah, koefisiennya minus 0,056, dan kaitan ini bermakna. Menit kerja harian yang lebih panjang berkaitan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi.

Jalur dari duduk saat kerja ke stres melalui tidur justru tidak mencapai batas kemaknaan. Koefisien tidak langsungnya 0,043 dengan nilai p 0,059. Dalam model jalur, kaitan langsung duduk saat kerja dengan stres juga tidak bermakna, dengan koefisien 0,076. Para penulis menyebut tiga kemungkinan: sampel 235 orang yang mungkin kurang kuat, galat pengukuran stres, atau kaitan yang memang lemah.

Baca juga Urusan Kantor yang Terbawa Pulang Mengusik Hubungan Ayah Baru

Karyawan Baru dan Karyawan Lama

Tiga hal mendahului lama duduk di meja kerja. Menit kerja harian yang lebih panjang berkaitan dengan lebih banyak duduk, koefisiennya 0,237. Karyawan biasa, yang bukan manajer, menghabiskan lebih banyak waktu duduk daripada karyawan manajerial, dengan koefisien 0,192. Karyawan biasa mencakup 82,6 persen responden. Keduanya bertahan dalam model jalur akhir setelah jalur yang tidak bermakna dipangkas.

Hal ketiga adalah masa kerja. Karyawan yang lebih lama di perusahaannya cenderung lebih sedikit duduk saat bekerja, dengan koefisien minus 0,188. Dalam sampel ini, 23,4 persen responden bekerja kurang dari setahun di perusahaannya dan 49,8 persen satu sampai tiga tahun. Para penulis menduga pola itu mencerminkan keakraban dengan pekerjaan, ragam tugas, dan otonomi yang lebih besar.

Dari situ lahir saran yang menyasar pendatang baru. “Memasukkan kebiasaan tidak duduk, misalnya rapat sambil berdiri atau jeda aktif terjadwal, ke dalam program orientasi bisa sangat bermanfaat bagi karyawan baru,” tulis Ming Jin dan rekan, juga dalam terjemahan bebas. Mereka juga menyarankan program kesejahteraan yang memuat edukasi kebiasaan tidur sehat dan upaya menaikkan kepuasan kerja.

Para penulis mencatat sejumlah batasan. Sampel diambil secara kemudahan dengan jumlah dan tingkat tanggapan yang terbatas, sehingga temuan terutama berlaku bagi perusahaan serupa di Wuhan, bukan seluruh tenaga TI Tiongkok. Stres hanya diukur dengan satu pertanyaan, dan lama duduk dilaporkan sendiri sehingga rawan bias ingatan. Karyawan yang sangat peduli kesehatan atau yang sangat tertekan pun bisa saja lebih banyak terwakili.

Rancangan potong lintang juga membuat arah hubungan tak bisa dipastikan. Gejala jiwa yang tinggi, misalnya, bisa saja membuat orang lebih banyak duduk. Para penulis menyebut temuannya bersifat penjajakan dan pembangkit hipotesis, bukan sebab-akibat, serta menyarankan studi jangka panjang dengan alat pengukur gerak. Model jalurnya pun, menurut mereka, perlu diuji ulang pada sampel lain yang mandiri.

Dalam kesimpulannya, para penulis menyebut ada kemungkinan kaitan tidak langsung antara duduk saat kerja dan stres lewat kualitas tidur yang buruk, meski efek tidak langsung itu tidak bermakna secara statistik. Bagi pemberi kerja, mereka mencatat karyawan dengan masa kerja lebih pendek mungkin paling rentan terhadap duduk lama di tempat kerja dan stres yang lebih tinggi.

Bagikan

Baca Juga

Kecelakaan Kurir Motor Ankara Terkait Cuaca dan Status Kerja
Pekerja Informal Sumatera Utara Lebih Banyak Mengeluh Sakit Otot
Pelatihan Kelola Stres Bantu Manajer UKM Jerman, tapi Tak Awet
Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Banyak Perempuan Korban Banjir Feni Bangladesh Cemas Sangat Berat