Urusan Kantor yang Terbawa Pulang Mengusik Hubungan Ayah Baru

A A

Ilustrasi: seorang ayah mengetik di laptop di sofa dengan anak balita di sampingnya [Foto: Sasha Kim/Pexels]

  • Rata-rata ayah mencatat skor konflik kerja 33,56, sedangkan ibu 29,10.
  • Pada ayah, makin tinggi skor konflik kerja, makin rendah kepuasan mereka terhadap hubungan.
  • Pada ibu dengan neurotisisme rata-rata dan tinggi, kepuasan itu tidak bergerak mengikuti konflik kerja.
  • Makin besar dukungan yang dirasakan, makin tinggi kepuasan hubungan, baik pada ibu maupun ayah.
Daftar Isi
  1. Konflik Kerja-Kehidupan Pribadi: Kantor yang Ikut Pulang
  2. Kepuasan Hubungan: Nilai Rapor untuk Kehidupan Berdua
  3. Neurotisisme: Satu dari Lima Sifat Big Five
  4. Efek Lantai: Nilai yang Sudah Dekat Batas Bawah
  5. Dukungan Sosial: Faktor Pelindung yang Paling Kuat
  6. Efek Pekerja Sehat: Siapa yang Tidak Ikut Terhitung

Konflik kerja-kehidupan pribadi adalah nama ilmiah untuk urusan kantor yang ikut terbawa pulang lalu mengganggu kehidupan di rumah. Enam peneliti di Jerman menelusuri apa yang terjadi pada hubungan suami-istri ketika gangguan itu datang tepat saat anak mereka masih kecil. Jawabannya ternyata berbeda untuk ayah dan untuk ibu.

Penelitian itu ditulis Sophia Schmidt, Isabel Jaramillo, Judith T. Mack, Victoria Weise, Eva Asselmann, dan Susan Garthus-Niegel. Judulnya Associations between work-privacy conflict and parental relationship satisfaction two years after childbirth: unveiling the moderating role of personality. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Yang mereka ikuti adalah 686 ibu dan 702 ayah yang bekerja di Dresden dan sekitarnya, di Jerman bagian timur. Kepribadian para orang tua itu dicatat delapan minggu setelah persalinan, gangguan pekerjaan terhadap rumah diukur saat anak berumur 14 bulan, dan kepuasan terhadap hubungan dengan pasangan ditanyakan ketika anak berusia dua tahun.

Usia 14 bulan dipilih dengan alasan. Pada titik itu tunjangan cuti orang tua di Jerman tidak lagi dibayarkan penuh, sehingga banyak orang tua sudah kembali bekerja. Tanggung jawab keluarga yang tadinya mendapat perhatian utuh, tulis para peneliti, mulai berbenturan dengan tuntutan pekerjaan.

Konflik Kerja-Kehidupan Pribadi: Kantor yang Ikut Pulang

Istilah aslinya work-privacy conflict, disingkat WPC. Naskah itu mencatat nama lainnya: konflik kerja-keluarga, limpahan kerja ke keluarga, atau konflik kerja-hidup. Maksudnya, pengalaman di tempat kerja berpengaruh buruk pada ranah pribadi, dan bisa pula sebaliknya. Dalam penelitian ini yang diukur hanya satu arah, yakni pekerjaan yang merembes ke rumah.

Ukurannya berupa skor 0 sampai 100; makin tinggi, makin besar gangguan yang dirasakan. Rata-rata ayah mencatat 33,56, sedangkan ibu 29,10. Selisih itu bermakna secara statistik. Jadi, di antara orang tua yang sama-sama bekerja ini, ayahlah yang lebih merasa pekerjaannya mengusik kehidupan di rumah.

Pembandingnya ada pada jam kerja. Empat dari lima ayah, tepatnya 80,2 persen, bekerja penuh waktu ketika anak berumur 14 bulan. Di kalangan ibu angkanya 34,1 persen, kira-kira satu dari tiga. Sebagian besar ibu, 62,5 persen, bekerja paruh waktu, sementara ayah yang paruh waktu hanya 18,4 persen.

Ibu dan ayah bekerja di DresdenIbu dan ayah bekerja di DresdenIbu dan ayah bekerja di DresdenKonflik dan status kerja diukur 14 bulan setelah persalinanIbuAyah686702Jumlah peserta29,1033,56Skor konflik kerja(0-100)18,3418,10Kepuasan hubungan(maks 27)34,1%80,2%Bekerja penuhwaktu62,5%18,4%Bekerja paruhwaktuKepuasan hubungan diukur dua tahun setelah persalinan.
Sumber: Sophia Schmidt, Isabel Jaramillo, Judith T. Mack, Victoria Weise, Eva Asselmann, dan Susan Garthus-Niegel, Associations between work-privacy conflict and parental relationship satisfaction two years after childbirth: unveiling the moderating role of personality, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para peneliti mengaitkan keduanya lewat sebuah pandangan lama dalam riset terdahulu: makin banyak waktu dihabiskan di satu ranah, makin besar benturan yang dirasakan. Orang yang lebih lama berada di tempat kerja, dalam sampel ini para ayah, lebih berisiko merasakan konflik tersebut.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Kepuasan Hubungan: Nilai Rapor untuk Kehidupan Berdua

Istilah kedua adalah kepuasan hubungan, atau relationship satisfaction. Bayangkan ia sebagai nilai rapor yang diberikan seseorang untuk kehidupan berdua dengan pasangannya. Nilai itu disusun dari tiga hal: perilaku bertengkar, kemesraan, serta kebersamaan dan komunikasi. Skor tertingginya 27. Rata-rata ibu memberi nilai 18,34 dan ayah 18,10. Keduanya nyaris sama, dan perbedaannya tidak bermakna. Artinya, dua tahun setelah anak lahir, ibu dan ayah di Dresden menilai hubungan mereka kurang lebih setara, sekitar dua pertiga dari nilai tertinggi.

Bedanya muncul saat nilai itu disandingkan dengan gangguan pekerjaan sepuluh bulan sebelumnya. Pada ayah, makin tinggi skor konflik kerja, makin rendah kepuasan mereka terhadap hubungan. Kaitan itu bermakna secara statistik, tetapi kekuatannya oleh para peneliti sendiri disebut sangat kecil, dengan koefisien minus 0,09. Pada ibu, kaitan serupa tidak terbukti. Koefisiennya minus 0,03 dan tidak lolos uji statistik. Temuan ini berbeda dari riset terdahulu yang dikutip naskah, yang mendapati gangguan pekerjaan sama buruknya bagi kepuasan hubungan perempuan dan laki-laki.

Ada beberapa dugaan yang ditawarkan. Salah satunya, perempuan membangun pagar yang lebih kokoh di sekeliling urusan keluarga karena masih memikul lebih banyak kerja pengasuhan. Dugaan lain menyangkut tempat: aturan Jerman tentang perlindungan ibu, tunjangan cuti orang tua, dan peluang kerja paruh waktu bisa ikut melemahkan kaitan tersebut.

Neurotisisme: Satu dari Lima Sifat Big Five

Big Five adalah lima sifat kepribadian yang lazim dipakai dalam riset: agreeableness atau keramahan, conscientiousness atau ketelitian, extraversion atau ekstraversi, neuroticism atau neurotisisme, dan openness to experience atau keterbukaan terhadap pengalaman. Kelimanya, menurut naskah, ikut menentukan cara orang menghadapi stres.

Naskah itu tidak merinci isi pertanyaan untuk tiap sifat. Yang dijelaskan hanya rentang skornya, 3 sampai 21; makin tinggi, makin kuat sifat tersebut. Neurotisisme disebut sebagai faktor risiko yang sudah puluhan tahun dikaitkan dengan kesehatan, mutu hidup, dan hubungan antarmanusia yang lebih buruk. Rata-rata skor ibu 11,26, lebih tinggi daripada ayah yang 9,25.

Dugaan awal para peneliti lurus saja. Neurotisisme yang tinggi akan memperparah akibat konflik kerja, sedangkan empat sifat lainnya akan meredamnya. Dari sepuluh kemungkinan, lima sifat pada ibu dan lima pada ayah, hanya satu yang terbukti berperan, yaitu neurotisisme pada ibu. Arahnya pun berlawanan dengan dugaan.

“Bertentangan dengan hipotesis kami, tingkat neurotisisme yang tinggi tidak memperkuat dampak merugikan konflik kerja-kehidupan pribadi terhadap kepuasan hubungan,” tulis Sophia Schmidt, peneliti Institute and Policlinic of Occupational and Social Medicine di TUD Dresden University of Technology, bersama lima rekannya. Naskah aslinya berbahasa Inggris.

Bedanya begini. Pada ibu dengan neurotisisme rendah, pekerjaan yang makin mengganggu rumah diikuti kepuasan hubungan yang makin rendah. Pada ibu dengan neurotisisme rata-rata dan tinggi, kepuasan itu tidak bergerak mengikuti konflik kerja. Pada ayah, tidak satu pun dari lima sifat mengubah kaitan antara gangguan pekerjaan dan kepuasan hubungan.

Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh

Efek Lantai: Nilai yang Sudah Dekat Batas Bawah

Tidak bergerak bukan berarti baik-baik saja. Di sinilah contoh pagar tadi meleset. Kepuasan hubungan ibu dengan neurotisisme rata-rata dan tinggi memang stabil, tetapi stabil di tempat yang rendah. Para peneliti mencatat nilainya sama rendahnya dengan ibu berneurotisisme rendah yang pekerjaannya sangat mengganggu rumah.

Penjelasan yang mereka ajukan adalah efek lantai, floor effect. Maksudnya, ibu dengan neurotisisme tinggi sudah berada dekat batas bawah kepuasan bahkan ketika gangguan pekerjaannya kecil. Tambahan tekanan dari kantor tidak lagi punya banyak ruang untuk menurunkan nilai itu.

Karena itu para peneliti membaca neurotisisme rata-rata atau tinggi sebagai kemungkinan faktor risiko tersendiri bagi kepuasan hubungan ibu. Di luar soal pekerjaan, ibu dengan neurotisisme lebih rendah dan keramahan lebih tinggi mencatat kepuasan lebih baik. Pada ayah, sifat yang terkait kepuasan lebih tinggi adalah ketelitian.

Mereka juga menduga pola pada ibu itu sebenarnya lebih kuat daripada yang terukur. Pasangan yang hubungannya memburuk sampai berpisah selama masa penelitian tidak ikut dihitung. Orang dengan neurotisisme tinggi, tulis mereka, mungkin lebih mudah mengalami putusnya hubungan saat tertekan.

Dukungan Sosial: Faktor Pelindung yang Paling Kuat

Istilah berikutnya, dukungan sosial yang dirasakan, berarti seberapa jauh seseorang merasa ditopang orang-orang di sekitarnya. Dalam penelitian ini ia hanya dimasukkan sebagai faktor pengganggu yang perlu dikendalikan. Hasilnya justru paling menonjol di antara semua yang dihitung.

Makin besar dukungan yang dirasakan, makin tinggi kepuasan hubungan, baik pada ibu maupun ayah. Koefisiennya 0,20 pada ibu dan 0,29 pada ayah. Sebagai pembanding, kaitan konflik kerja pada ayah hanya minus 0,09. Para peneliti menyebut dukungan sosial sebagai faktor pelindung penting, dan menduga ia bisa meredam akibat buruk gangguan pekerjaan.

Apa yang terkait dengan kepuasan hubunganApa yang terkait dengan kepuasan hubunganApa yang terkait dengan kepuasan hubunganKoefisien terstandar; tanda minus berarti kepuasan lebih rendah-0,09ayahkonflik kerja,bermakna-0,03ibukonflik kerja,tidak bermakna0,29ayahdukungan sosial0,20ibudukungan sosialJalan risetnyaKepribadian: 8 mingguKonflik kerja: 14 bulanKepuasan: 2 tahun
Sumber: Sophia Schmidt, Isabel Jaramillo, Judith T. Mack, Victoria Weise, Eva Asselmann, dan Susan Garthus-Niegel, Associations between work-privacy conflict and parental relationship satisfaction two years after childbirth: unveiling the moderating role of personality, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua temuan sampingan lain ikut tercatat. Ibu bergelar akademik melaporkan kepuasan hubungan sedikit lebih rendah, dengan kekuatan kaitan yang sangat kecil. Ayah yang sedang menanti anak berikutnya saat anak pertama berumur dua tahun melaporkan kepuasan lebih tinggi. Kedua pola itu hanya muncul pada satu pihak.

Pandemi tidak mengubah gambaran. Hampir sembilan dari sepuluh peserta, 87,0 persen ibu dan 87,5 persen ayah, mengisi pertanyaan tentang kepuasan hubungan pada masa pandemi COVID-19. Namun, paparan pandemi tidak terkait dengan kepuasan hubungan, dan para peneliti sendiri menyebut hasil itu mengejutkan.

Semua faktor tadi bersama-sama hanya menerangkan sebagian kecil perbedaan antarorang: 12 persen pada ibu dan 18 persen pada ayah. Sisanya berada di luar hitungan penelitian ini. Dari situ para peneliti menyarankan agar jam kerja lentur dan penitipan anak di tempat kerja tersedia luas, dan pemakaiannya, terutama oleh ayah, tidak dipandang miring.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Efek Pekerja Sehat: Siapa yang Tidak Ikut Terhitung

Batas penelitian ini dijelaskan dengan satu istilah lagi, efek pekerja sehat atau healthy worker effect. Maksudnya, riset yang hanya menyertakan orang bekerja cenderung menggambarkan mereka yang lebih sehat. Sebanyak 692 ibu dan 148 ayah tidak diikutkan karena tidak bekerja ketika anak berumur 14 bulan.

Ibu yang bertahan sampai akhir juga melaporkan gangguan pekerjaan lebih rendah daripada ibu yang berhenti di tengah jalan. Para peneliti mengakui, ibu dengan konflik kerja tinggi mungkin kurang terwakili. Yang dihitung pun hanya orang yang tetap bersama pasangan yang sama, sehingga kaitan yang ditemukan bisa lebih kecil dari yang sebenarnya.

Sampelnya berasal dari satu wilayah dan lebih terdidik dari rata-rata. Sebanyak 61,9 persen ibu dan 57,6 persen ayah bergelar akademik, di atas angka penduduk Dresden. Menurut para peneliti, hal itu mengurangi keberlakuan hasilnya bagi penduduk Jerman. Penelitian ini juga tidak menghitung pengaruh timbal balik dalam satu pasangan, misalnya bagaimana konflik kerja suami terkait kepuasan istrinya.

Ada dua hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Koefisien interaksi adalah angka yang menunjukkan apakah satu faktor mengubah kaitan faktor lain. Di bagian pembahasan, interaksi konflik kerja dan neurotisisme pada ibu disebut negatif. Tabel hasil untuk ibu mencantumkan angka itu bertanda positif, yakni 0,09.

Jumlah orang yang dihitung juga tidak seragam. Sampel akhir disebut 686 ibu dan 702 ayah, tetapi tabel hasil mencatat 651 ibu dan 632 ayah, dan gambar tentang neurotisisme memuat 659 ibu. Naskah hanya memberi keterangan umum bahwa jumlah sedikit berubah karena sebagian peserta tidak mengisi lengkap.

Jadi istilah di awal tulisan ini punya batas yang jelas. Urusan kantor yang terbawa pulang memang terkait dengan hubungan yang kurang memuaskan, tetapi dalam penelitian di Dresden itu kaitannya lemah, hanya terlihat pada ayah dan pada ibu dengan neurotisisme rendah. Ia juga belum menjawab apa yang terjadi pada pasangan yang akhirnya berpisah.

Bagikan

Baca Juga

Insentif Pajak Riset Lebih Terkait Inovasi Bila Syaratnya Longgar
Bergerak Petang Hari, Pekerja Jepang Lebih Jarang Murung Esoknya
Jalan Depan Sekolah Ditutup, Orang Tua Parkir Jauh dan Jalan Kaki
Anak Ronneby yang Ibunya Minum Air Tercemar Lebih Sering Asma
Secangkir Kopi Membuat Usus Ibu Lebih Cepat Pulih Usai Caesar
Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung