- Sebanyak 137 dari 392 pekerja penggilingan tepung di Goma, atau 34,9 persen, tergolong menderita darah tinggi.
- Sebanyak 285 pekerja, atau 72,7 persen, terpapar bising 80 desibel atau lebih dalam ukuran rata-rata delapan jam.
- Paparan bising 80 desibel ke atas mencatat rasio odds darah tinggi 2,72 dibanding paparan di bawah ambang itu.
- Uji interaksi antara tingkat bising dan pemakaian pelindung telinga tidak bermakna secara statistik.
Daftar Isi
- Di penggilingan Karisimbi, tujuh dari sepuluh pekerja bekerja dalam bunyi bising
- Di kelompok yang bekerja dalam bising, empat dari sepuluh pekerja bertekanan darah tinggi
- Menikah, berpendidikan lebih tinggi, dan riwayat keluarga ikut berkaitan dengan darah tinggi
- Garam di meja makan, alkohol, rokok, dan rasa tertekan ikut tercatat
- Pelindung telinga tidak mengubah kaitan bising dan darah tinggi secara bermakna
Sebuah alat perekam bunyi dipasang di dekat telinga seorang pekerja penggilingan tepung di Goma, lalu dibiarkan mencatat selama ia bekerja seperti biasa. Alat itu merekam paling sedikit tiga perempat dari delapan jam kerjanya. Hal yang sama diulang pada setiap pekerja yang ikut. Ketika catatan dikumpulkan, 285 dari 392 pekerja terpapar bising rata-rata delapan jam sebesar 80 desibel atau lebih.
Ada satu pemeriksaan lagi. Para pekerja duduk bersandar, telapak kaki rata di lantai, dan beristirahat sedikitnya 15 menit sebelum tekanan darahnya diukur di lengan kiri dengan tensimeter digital. Pengukuran diulang tiga kali dengan jeda paling sedikit lima menit. Hasilnya: 137 dari 392 pekerja, atau 34,9 persen, tergolong menderita darah tinggi. Lebih dari sepertiga.
Kedua pengukuran itu menjadi inti riset Herman Chelo Ngadjole dan rekan dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Goma (School of Public Health, University of Goma), Republik Demokratik Kongo. Laporan mereka berjudul Hypertension among flour mill workers in Goma, Democratic Republic of the Congo: cross-sectional analysis of occupational, lifestyle, and sociodemographic associated factors dan dimuat di jurnal BMC Public Health tahun 2026.
Penelitian berlangsung 1 Mei sampai 30 September 2024 di Zona Kesehatan Karisimbi, Kota Goma, Provinsi Kivu Utara. Tim mencatat 413 pekerja penggilingan yang memenuhi syarat dan mengundang semuanya. Sebanyak 392 orang ikut, tingkat tanggapan 94,9 persen. Dokter terlatih mewawancarai mereka dalam bahasa Prancis atau Swahili, sesuai pilihan masing-masing pekerja.
Di penggilingan Karisimbi, tujuh dari sepuluh pekerja bekerja dalam bunyi bising
Para pekerja itu tidak tua. Usia rata-rata mereka 34,4 tahun, yang termuda 18 dan yang tertua 59. Sebanyak 248 orang, atau 63,3 persen, laki-laki. Lebih dari separuh, 231 orang, berpendidikan menengah atau universitas, sementara 149 orang sudah menikah.
Paparan bising adalah gambaran paling mencolok dari tempat kerja mereka. Sebanyak 285 pekerja, atau 72,7 persen, terpapar 80 desibel atau lebih dalam ukuran rata-rata delapan jam. Angka 80 dipilih peneliti sebagai ambang paparan bising tinggi. Para penulis menyebut ambang itu sebagai nilai tindakan terendah dalam Direktif Eropa 2003/10/EC.
Kebiasaan sehari-hari para pekerja ikut dicatat. Sebanyak 198 orang, atau 50,5 persen, mengaku minum alkohol, dan 117 orang, atau 29,9 persen, merokok setiap hari. Sebanyak 206 orang, atau 52,6 persen, tergolong kurang bergerak menurut ukuran yang dipakai peneliti. Lalu 229 orang, atau 58,4 persen, menjawab ya ketika ditanya apakah mereka merasa stres.
Baca juga Delapan dari Sepuluh Buruh Garmen Sri Lanka Kepanasan di Pabrik
Riwayat keluarga juga ditanyakan. Sebanyak 133 pekerja, atau 33,9 persen, punya ayah, ibu, atau saudara kandung yang didiagnosis darah tinggi sebelum usia 60 tahun. Para pekerja yang kedapatan bertekanan darah tinggi selama survei diberi konseling dan dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan.
Di kelompok yang bekerja dalam bising, empat dari sepuluh pekerja bertekanan darah tinggi
Garis pemisahnya terlihat jelas di tabel pertama. Di antara 107 pekerja yang bekerja di bawah 80 desibel, hanya 16 orang yang bertekanan darah tinggi, atau 14,95 persen. Di antara 285 pekerja yang bekerja dalam bising 80 desibel ke atas, jumlahnya 121 orang, atau 42,46 persen.
Pola serupa muncul pada kebiasaan. Pada pekerja yang minum alkohol, 48,48 persen bertekanan darah tinggi, dibanding 21,13 persen pada yang tidak minum. Pada pekerja yang merasa stres angkanya 44,54 persen, sedangkan pada yang tidak merasa stres 21,47 persen. Pekerja yang menambahkan garam di meja makan mencatat 44,24 persen, berbanding 23,43 persen pada yang tidak.
Laki-laki juga lebih sering tercatat bertekanan darah tinggi, yakni 40,73 persen, dibanding 25,00 persen pada perempuan. Pekerja yang merokok mencatat 47,01 persen, sedangkan yang tidak merokok 29,82 persen. Pekerja yang makan buah kurang dari anjuran mencatat 45,73 persen, berbanding 27,19 persen pada yang cukup makan buah.
Tidak semua ciri menunjukkan perbedaan. Usia tidak menunjukkan perbedaan bermakna, begitu pula lama bekerja sebagai penggiling dan jumlah jam kerja per hari. Pada pekerja dengan beban di atas sepuluh jam sehari, kelompok terbesar dengan 189 orang, darah tinggi tercatat pada 34,39 persen, dibanding 29,63 persen pada mereka yang bekerja di bawah delapan jam, dan perbedaannya tidak bermakna.
Menikah, berpendidikan lebih tinggi, dan riwayat keluarga ikut berkaitan dengan darah tinggi
Angka dalam tabel pertama baru gambaran kasar. Peneliti lalu memasukkan faktor yang dalam perbandingan awal berkaitan dengan darah tinggi pada nilai p di bawah 0,20 ke dalam satu model regresi logistik, untuk mengendalikan kemungkinan faktor perancu. Hasilnya dilaporkan sebagai rasio odds yang disesuaikan. Status menikah mencatat angka tertinggi, yakni 3,03 pada pekerja yang menikah dibanding pekerja berstatus janda, duda, atau bercerai. Riwayat keluarga darah tinggi mencatat 2,55 dibanding yang tidak punya riwayat itu.
Para penulis sendiri menyebut temuan tentang pendidikan menarik. Pekerja berpendidikan menengah atau universitas mencatat rasio odds 2,54 dibanding pekerja tanpa pendidikan formal. Para penulis mencatat pola serupa pernah dilaporkan di wilayah Afrika lain, yang mungkin mencerminkan peralihan pekerjaan ke gaya hidup yang lebih banyak duduk dan faktor perilaku lain yang menyertai kehidupan kota.
Baca juga Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi
Usia justru tidak berkaitan dengan darah tinggi dalam riset ini. Peneliti menduga sebabnya ada pada siapa yang masih bertahan di penggilingan. “Kemungkinan adanya efek pekerja sehat dapat mengurangi perbedaan terkait usia, karena orang yang lebih tua dengan hipertensi atau penyakit kronis lain mungkin lebih kecil kemungkinannya bertahan di pekerjaan industri yang menuntut fisik,” tulis Ngadjole dan rekan (diterjemahkan dari bahasa Inggris).
Indeks massa tubuh juga tidak berkaitan secara bermakna setelah penyesuaian. Para penulis menegaskan bahwa hasil ini tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa berat badan tertentu melindungi dari darah tinggi. Pada pekerja industri, menurut mereka, indeks massa tubuh yang tinggi bisa sebagian mencerminkan otot yang terbentuk oleh kerja fisik, bukan lemak berlebih.
Garam di meja makan, alkohol, rokok, dan rasa tertekan ikut tercatat
Sejumlah kebiasaan tetap berkaitan secara bermakna dalam model akhir. Pekerja yang menambahkan garam di meja makan mencatat rasio odds darah tinggi 2,08 dibanding yang tidak. Untuk minum alkohol angkanya 2,48, dan untuk merokok 1,78 dibanding yang tidak merokok. Stres yang dirasakan memberi angka 2,62. Ukuran ini berasal dari satu pertanyaan ya atau tidak tentang tekanan di pekerjaan dan kehidupan, bukan dari kuesioner psikologi yang tervalidasi. Para penulis menyebutnya penanda stres yang dirasakan sendiri, karena di Goma belum tersedia skala baku untuk mengukurnya.
Dua faktor lain tidak lagi bermakna. Kurang bergerak mencatat rasio odds 1,64 dan makan buah kurang dari anjuran 1,68, tetapi keduanya tidak bermakna secara statistik setelah faktor lain diperhitungkan. Jenis kelamin, indeks massa tubuh, konsumsi sayur, dan pemakaian alat pelindung pun tidak bermakna dalam model akhir.
Bising tetap berkaitan secara bermakna. Paparan 80 desibel ke atas mencatat rasio odds darah tinggi 2,72 dibanding paparan di bawah ambang itu, setelah penyesuaian. Dalam perbandingan kasar sebelum penyesuaian, angkanya 4,20. Para penulis menyebut paparan bising mungkin merupakan faktor kerja penting yang berkaitan dengan darah tinggi di penggilingan Goma.
Angka 34,9 persen itu, tulis mereka, sebanding dengan perkiraan pada populasi umum di Republik Demokratik Kongo. Angka itu lebih rendah daripada 49,3 persen yang pernah dilaporkan di antara para penggiling di Lubumbashi. Penelitian di Goma ini disebut sebagai penilaian menyeluruh pertama tentang darah tinggi pada pekerja penggilingan tepung di kota itu.
Baca juga Pekerja Sif Malam Tak Teratur Lebih Sering Terkena Alergi Hidung
Pelindung telinga tidak mengubah kaitan bising dan darah tinggi secara bermakna
Peneliti lalu menguji satu kemungkinan: apakah pemakaian penyumbat atau penutup telinga mengubah kaitan itu. Uji interaksi antara tingkat bising dan pemakaian pelindung telinga tidak bermakna secara statistik, dengan rasio odds interaksi 0,73 dan nilai p 0,610.
Temuan itu yang menjadi dasar saran mereka. “Temuan ini menunjukkan bahwa alat pelindung diri saja mungkin tidak cukup untuk mengatasi potensi dampak kardiovaskular yang berkaitan dengan paparan bising kronis,” tulis Ngadjole dan rekan (diterjemahkan dari bahasa Inggris). Mereka menyarankan peredaman bising langsung dari sumbernya, pengaturan lama paparan, dan pemakaian pelindung telinga secara konsisten.
Saran lain menyasar pemeriksaan tekanan darah rutin di tempat kerja, penyuluhan untuk mengurangi garam dan menambah gerak badan, serta dukungan psikososial bagi pekerja yang merasa tertekan. Menurut para penulis, langkah itu masih perlu diuji dalam studi intervensi. Mereka juga menyebut pekerja penggilingan sebagai kelompok yang selama ini banyak terlewat dalam penilaian risiko jantung di Afrika sub-Sahara.
Batas penelitian ini diakui terbuka. Data diambil pada satu waktu, sehingga tidak dapat menunjukkan sebab-akibat antara faktor-faktor itu dan darah tinggi. Kebiasaan hidup dan stres berasal dari pengakuan pekerja sendiri. Diabetes, lingkar pinggang, kadar lemak darah, status sosial ekonomi, dan asupan natrium tidak diukur, dan hasilnya belum tentu berlaku di luar penggilingan tepung di Goma.
Alat perekam bunyi itu pun hanya menempel satu giliran kerja pada tiap pekerja. Tekanan darah diukur pada satu kunjungan saja. Satu giliran itu dipakai peneliti untuk menaksir paparan harian. Pada 285 pekerja di Karisimbi, taksiran itu berada di 80 desibel ke atas.















