- Sebanyak 2,9 persen orang dewasa Rwanda berusia 18 sampai 69 tahun hidup dengan diabetes melitus.
- Prevalensi diabetes di kota mencapai 7,8 persen, sedangkan di desa angkanya 1,9 persen.
- Rasio prevalensi disesuaikan untuk diabetes pada kelompok berkolesterol tinggi mencapai 7,59.
- Gula darah diukur dari tusukan jari, bukan dari plasma darah vena di laboratorium.
Daftar Isi
Pada 2022, petugas survei mendatangi 400 wilayah pencacahan di seluruh Rwanda. Mereka meminta warga berpuasa delapan sampai 12 jam, lalu menusuk ujung jari untuk mengukur gula darah. Dari tetes darah itu lahir potret diabetes terbaru negeri itu, yang kini terbit di jurnal ilmiah.
Angka utamanya sederhana. Sebanyak 2,9 persen orang dewasa berusia 18–69 tahun hidup dengan diabetes melitus. Sebanyak 4,7 persen lainnya memiliki glukosa darah puasa terganggu, kadar gula di atas normal yang belum masuk batas diabetes. Faktor yang paling kuat menyertai diabetes adalah kolesterol total tinggi.
Temuan ini ditulis Simon Pierre Niyonsenga dari Rwanda Biomedical Center, Kementerian Kesehatan Rwanda, di Kigali, dan rekan. Mereka bekerja bersama peneliti Bank Dunia, WHO, Universitas Rwanda, dan Universitas Miami. Artikel berjudul Prevalence of diabetes and impaired fasting glucose and associated factors in Rwanda: findings from the 2022 national STEPS survey itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.
2012–2013: Catatan Sebelumnya
Kronologinya dimulai satu dekade lebih awal. Survei STEPwise WHO di Rwanda pada 2012–2013 melibatkan 7.240 orang berusia 15–64 tahun. Analisis lanjutannya mencatat diabetes sebesar 3,2 persen dan glukosa darah puasa terganggu 1,7 persen. Menurut para penulis, itulah analisis nasional terlengkap yang pernah terbit sebelum survei baru.
Survei itu juga menemukan angka lebih tinggi di kota ketimbang desa. Usia tua, hipertensi, obesitas, kolesterol total tinggi, dan trigliserida tinggi termasuk faktor yang menyertainya. Sebagian faktor itu berbeda antara warga desa dan warga kota. Menurut para penulis, datanya kini sudah berumur lebih dari sepuluh tahun.
Ada catatan lain. Kajian metodologis menyebut ambang glukosa pada sebagian survei STEPS lama, termasuk di Rwanda, mungkin membuat prevalensi diabetes terlalu tinggi. Karena itu, para penulis meminta perbandingan dengan survei lama dibaca hati-hati.
Sejak survei itu, Rwanda terus mengalami perubahan demografi, gizi, dan pola penyakit. Para penulis menilai data nasional terbaru tentang diabetes dan faktor penyertanya masih terbatas. Angka baru dibutuhkan untuk menyusun strategi skrining, mengarahkan pencegahan, dan memantau perubahan beban diabetes sejak survei sebelumnya.
2022: Lima Ribu Jari Ditusuk
Survei Penyakit Tidak Menular STEPS 2022 digelar Rwanda Biomedical Center bersama WHO. Kerangka sampelnya diambil dari Survei Demografi dan Kesehatan Rwanda 2019–2020. Dari tiap wilayah pencacahan dipilih 15 rumah tangga, dan dari tiap rumah tangga satu orang dewasa. Dari 6.000 orang terpilih, 5.776 menyelesaikan wawancara.
Yang akhirnya dianalisis 5.200 orang dengan data gula darah lengkap. Sebanyak 3.274 di antaranya perempuan dan 1.926 laki-laki. Sebanyak 80,3 persen responden tinggal di desa, dan 64,8 persen berusia 18–44 tahun. Hampir separuh, yakni 49,7 persen, berpendidikan dasar.
Gula darah diukur dari darah kapiler ujung jari dengan alat CardioChek PA, bersama kolesterol total dan kolesterol HDL. Seseorang digolongkan berdiabetes bila gula darah puasanya 126 mg/dL atau lebih, atau bila ia memakai obat diabetes pada hari survei atau dua minggu sebelumnya.
Angka keseluruhan tercatat 2,9 persen untuk diabetes, dengan rentang kepercayaan 2,1 sampai 3,8 persen. Glukosa darah puasa terganggu tercatat 4,7 persen, dengan rentang 3,8 sampai 5,6 persen.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Perempuan sedikit lebih tinggi, yakni 3,3 persen untuk diabetes dan 5,0 persen untuk glukosa terganggu. Laki-laki tercatat 2,6 persen dan 4,3 persen. Dalam model yang disesuaikan, selisih antara perempuan dan laki-laki itu tidak bermakna secara statistik, baik untuk diabetes maupun glukosa terganggu.
Kota, Usia, dan Bangku Sekolah
Selisih paling mencolok ada pada tempat tinggal. Di kota, prevalensi diabetes mencapai 7,8 persen. Di desa, angkanya 1,9 persen. Setelah disesuaikan dengan faktor lain, warga desa memiliki rasio prevalensi diabetes 0,23 dibanding warga kota. Untuk gabungan diabetes dan glukosa terganggu, rasionya 0,60.
Glukosa darah puasa terganggu justru sedikit lebih tinggi di desa, yaitu 5,0 persen, dibanding 3,2 persen di kota. Namun, setelah penyesuaian, hubungan tempat tinggal dengan glukosa terganggu tidak lagi bermakna secara statistik. Rasio prevalensi disesuaikannya tercatat 1,56.
Kedua kondisi naik seiring usia. Diabetes tercatat 2,2 persen pada kelompok 18–44 tahun, 5,5 persen pada 45–59 tahun, dan 5,6 persen pada 60–69 tahun. Orang berusia 45 tahun ke atas memiliki rasio prevalensi disesuaikan 2,57 dibanding kelompok termuda. Glukosa terganggu naik dari 4,3 persen pada kelompok 18–44 tahun menjadi 6,5 persen pada kelompok 60–69 tahun.
Pendidikan memberi arah yang berlawanan untuk dua kondisi. Lulusan pendidikan tinggi mencatat diabetes 5,2 persen, dengan rasio prevalensi disesuaikan 3,28 dibanding yang tidak bersekolah formal. Untuk glukosa darah puasa terganggu, kelompok yang sama justru lebih rendah, yaitu 2,3 persen, dengan rasio 0,48.
Penghasilan juga ikut tercatat. Responden berpenghasilan lebih dari 65.000 franc Rwanda, atau US$48,83, per bulan mencatat diabetes 5,7 persen. Kelompok berpenghasilan sama atau lebih rendah dari itu mencatat 2,9 persen, dengan rasio prevalensi disesuaikan 0,48. Sebanyak 91,9 persen responden yang menjawab pertanyaan ini berada di kelompok kedua.
Pinggang, Timbangan, dan Kolesterol
Faktor tubuh memberi deret yang menanjak. Diabetes tercatat 1,0 persen pada orang bertubuh kurus dan 2,4 persen pada berat normal. Angkanya naik menjadi 4,9 persen pada kelebihan berat badan dan 7,0 persen pada obesitas. Pada glukosa terganggu, angkanya berkisar 3,1 sampai 6,4 persen.
Dibanding berat normal, rasio prevalensi disesuaikan untuk kelebihan berat badan tercatat 2,21. Untuk obesitas, rasionya 3,25. Orang dengan lingkar pinggang berisiko tinggi mencatat diabetes 6,3 persen, dengan rasio prevalensi disesuaikan 2,23. Tanpa lingkar pinggang berisiko, angkanya 2,6 persen.
Sebaran faktor tubuh itu berbeda menurut jenis kelamin. Obesitas tercatat pada 11,7 persen perempuan dan 1,6 persen laki-laki dalam sampel. Lingkar pinggang berisiko tinggi tercatat pada 22,3 persen perempuan dan 1,7 persen laki-laki. Kolesterol total tinggi tercatat pada 4,1 persen perempuan dan 1,8 persen laki-laki.
Kolesterol total tinggi memberi angka terbesar. Di antara orang dengan kolesterol total tinggi, diabetes tercatat 21,5 persen dan glukosa terganggu 11,7 persen. Pada orang tanpa kolesterol tinggi, angkanya 2,4 persen dan 4,5 persen. Kolesterol tinggi didefinisikan sebagai kolesterol total 190 mg/dL atau lebih.
Rasio prevalensi disesuaikan untuk diabetes pada kelompok berkolesterol tinggi mencapai 7,59. Untuk glukosa darah puasa terganggu, rasionya 2,45, dan untuk gabungan keduanya 4,43. Kolesterol total tinggi bermakna pada ketiga hasil yang diuji, yaitu diabetes, glukosa terganggu, dan gabungan keduanya.
Dalam simpulannya, Niyonsenga dan rekan menulis, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris, “Kolesterol total tinggi menunjukkan hubungan paling kuat dengan diabetes, menegaskan pentingnya memasukkan pemeriksaan kolesterol total tinggi bersama faktor kardiometabolik lain saat skrining dan penilaian klinis.” Para penulis juga menegaskan hubungan ini tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat.
Baca juga Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi
Dua faktor lain ikut bermakna. Orang yang kurang aktif bergerak mencatat diabetes 7,2 persen, dibanding 2,8 persen pada yang aktif, dengan rasio disesuaikan 2,47. Penderita hipertensi mencatat 5,4 persen, dibanding 2,5 persen, dengan rasio disesuaikan 1,72. Keduanya tidak bermakna untuk glukosa terganggu.
Konsumsi alkohol memberi pola lain. Peminum di masa lalu dan peminum biasa tercatat memiliki prevalensi diabetes lebih rendah setelah penyesuaian, dengan rasio 0,44 dan 0,50 dibanding yang tidak pernah minum. Untuk glukosa terganggu, tidak ada hubungan bermakna dengan alkohol.
Catatan dari Negara Afrika Lain
Para penulis menaruh angka Rwanda di antara survei nasional lain di Afrika sub-Sahara. Survei STEPS Kenya 2015 mencatat diabetes 2,4 persen dan glukosa terganggu 3,1 persen. Uganda mencatat angka lebih rendah, yaitu 1,4 persen dan 2,0 persen.
Malawi dan Mozambik mencatat diabetes lebih tinggi, yaitu 5,6 persen dan 7,4 persen. Angka glukosa terganggu kedua negara, 4,2 persen dan 4,8 persen, sebanding dengan Rwanda. Menurut para penulis, keragaman ini dikaitkan dengan susunan penduduk, urbanisasi, cara diagnosis, dan waktu survei.
Baca juga Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes
Dibanding analisis survei 2012–2013, studi ini memberi angka nasional yang diperbarui. Studi ini sekaligus menegaskan kembali usia tua dan tinggal di kota sebagai faktor penting yang menyertai diabetes. Pola kota dan desa yang sama juga tercatat di Kenya, Afrika Barat, dan Etiopia.
2026: Batas yang Diakui
Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Desain potong lintang tidak bisa menunjukkan urutan waktu ataupun sebab-akibat antara faktor dan penyakit. Gula darah juga diukur dari tusukan jari, bukan dari plasma darah vena di laboratorium, sehingga hasilnya bisa bervariasi.
Sebagian variabel memiliki data yang hilang, sehingga jumlah sampel berbeda sedikit antarvariabel. Beberapa subkelompok, seperti orang berkolesterol tinggi dan peminum berat, berukuran kecil. Karena itu, sebagian perkiraan memiliki rentang kepercayaan yang lebar.
Untuk langkah berikutnya, para penulis menyarankan studi jangka panjang guna memperjelas urutan waktu antara faktor-faktor tersebut dan munculnya diabetes. Mereka juga menilai penguatan skrining rutin kolesterol total dan gula darah, bersama strategi pencegahan terpadu di layanan kesehatan primer dan program berbasis komunitas, dapat membantu deteksi dini dan penanganan diabetes di Rwanda.














