- Dari 19 iklan yang diteliti, 16 memuat dukungan tenaga profesional, sama dengan 84,2 persen.
- Sertifikasi berada di urutan kedua dan muncul di empat belas iklan, atau 73,7 persen.
- Delapan iklan, atau 42,1 persen, menjanjikan sembuh total dengan bahasa yang mutlak dan pasti.
- Semua iklan memakai beberapa strategi sekaligus, dan satu iklan bahkan memuat lima strategi bersamaan.
Daftar Isi
Iklan ilegal obat darah tinggi di Taiwan gemar memajang gelar ahli. Dari 19 iklan obat dan suplemen yang diteliti, 16 memuat dukungan tenaga profesional seperti dokter atau ahli gizi. Jumlah itu sama dengan 84,2 persen dari seluruh iklan.
Dukungan itu datang dari dokter, profesor, ahli gizi, asosiasi medis, sampai lembaga riset. Iklan-iklan itu juga menebar janji sembuh cepat, stempel sertifikat, dan cerita pasien yang merasa pulih. Tak satu pun iklan dalam penelitian ini hanya memakai satu cara membujuk.
Temuan ini ditulis Pei-Tzu Chiu dan Yen-Jung Chang dari Departemen Promosi dan Pendidikan Kesehatan, National Taiwan Normal University, bersama Ching-Yi Peng dari Departemen Perawatan Kesehatan Gerontologi, National Taipei University of Nursing and Health Sciences. Laporan berjudul Content analysis of illegal online advertisements for hypertension-related drugs and supplements in Taiwan itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Para peneliti menelusuri situs berbasis Taiwan lewat Google pada September sampai November 2024. Pencarian dibatasi pada konten berbahasa Mandarin dengan kata kunci antara lain “hipertensi”, “penurun tekanan darah”, dan “solusi tiga tinggi” untuk darah tinggi, gula darah tinggi, dan lemak darah tinggi. Yang dianalisis hanya iklan statis berupa teks dan gambar.
Pasar produk semacam ini memang besar dan stabil. Menurut Badan Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan yang dikutip para peneliti, sekitar 5,29 juta orang dewasa hidup dengan hipertensi pada 2023. Angka itu setara 26,8 persen, atau satu dari empat orang dewasa di Taiwan.
Taiwan sebenarnya punya aturan yang tegas soal iklan pangan. Pasal 28 Undang-Undang Keamanan dan Sanitasi Pangan melarang iklan pangan yang palsu, berlebihan, atau menyesatkan. Klaim khasiat medis seperti “menurunkan tekanan darah” atau “mengobati penyakit kardiovaskular” juga terlarang.
Jas Dokter di Iklan
Para peneliti memilah isi iklan ke dalam tiga tema besar, yaitu daya tarik otoritas, klaim khasiat, dan strategi emosional. Tiap tema terdiri atas dua kategori, sehingga totalnya ada enam kategori. Satu iklan bisa memuat beberapa kategori sekaligus.
Kategori yang paling sering muncul adalah dukungan profesional, yang dipakai 16 dari 19 iklan. Iklan menyebut dokter, profesor, ahli gizi, asosiasi medis, atau afiliasi lembaga untuk menambah kesan terpercaya. Para peneliti menyebut dukungan profesional sebagai strategi yang menonjol.
Contohnya beragam, mulai dari “dokter spesialis”, “dokter dari Asosiasi Kedokteran Obesitas”, hingga “data klinis dari sebuah rumah sakit”. Ada pula “ahli gizi”, “profesor kehormatan universitas”, sampai “mantan pejabat FDA Amerika Serikat”. Semua sebutan itu dipasang untuk menaikkan wibawa produk.
Dukungan itu menjangkau banyak ranah, dari spesialisasi medis, afiliasi akademik, dan lembaga riset sampai rujukan ke otoritas pemerintah. Menurut para peneliti, kesan keahlian ini bisa menutupi ketiadaan bukti klinis yang sah. Pemasaran kesehatan ilegal, tulis mereka, berjalan dengan pertanggungjawaban kelembagaan yang terbatas.
Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung
Stempel Sertifikat
Sertifikasi, kategori kedua dalam tema otoritas, menjadi yang terbanyak kedua. Empat belas iklan, atau 73,7 persen, memuat klaim tentang paten, uji laboratorium, sertifikat resmi, atau penghargaan. Klaim itu dipakai untuk membangun kesan sah dan layak dipercaya.
Rujukannya mencakup label dalam negeri maupun luar negeri. Ada “khasiat berpaten Jepang”, “lolos empat uji logam berat”, dan “Label Pangan Sehat MOHW” dari kementerian kesehatan Taiwan. Ada juga sertifikasi SGS, sertifikasi GMP, verifikasi JAMA, dan sertifikasi minyak ikan IFOS.
Masalahnya ada pada rincian yang bisa diperiksa. Klaim sertifikasi itu jarang menyertakan keterangan tentang desain studi, standar bukti, atau pengawasan pemerintah. Padahal klaim itu kerap disajikan seolah tanda pengesahan ilmiah.
Dukungan profesional dan sertifikasi kerap tampil berpasangan dalam satu iklan. Para peneliti menilai pasangan ini tampaknya dirancang untuk menekan keraguan konsumen. Pola itu muncul di bidang kesehatan yang berisiko tinggi bagi konsumen.
Janji Serba Cepat
Tema kedua adalah klaim khasiat, dengan kategori pertama berupa janji hasil cepat. Janji ini muncul di 10 iklan, atau 52,6 persen dari seluruh iklan. Iklan menjanjikan perbaikan tubuh yang terasa dalam waktu singkat.
Kalimatnya lugas dan memakai angka waktu yang pasti. Ada “hasil terasa dalam 7–10 hari” dan “gula darah stabil dalam sepekan”. Ada pula “melarutkan gumpalan darah dalam 2 jam” serta “menyembuhkan penyakit dalam 30 hari”.
Janji seperti ini bertentangan dengan pedoman klinis yang dipakai dokter. Pedoman itu menekankan penanganan hipertensi yang bertahap dan disesuaikan dengan keadaan tiap orang. Hipertensi umumnya butuh penanganan jangka panjang, bukan hitungan hari.
Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat atau berlebihan juga berbahaya. Akibatnya bisa berupa pusing, berkurangnya aliran darah ke otak, dan naiknya risiko stroke. Risiko itu terutama mengintai orang lanjut usia dan orang dengan penyakit penyerta.
Baca juga Kunjungan Hipertensi Naik pada Hari Bursa Saham China Turun
Klaim Sembuh Total
Kategori kedua dalam tema khasiat, yaitu klaim menyesatkan soal sembuh total, melangkah lebih jauh. Delapan iklan, atau 42,1 persen, menyebut kesembuhan total, sembuh permanen, atau bebas dari obat. Bahasa yang dipakai mutlak dan pasti.
Contohnya “100% sembuh dari diabetes dalam 30 hari” dan “tak ada lagi darah tinggi”. Ada juga “sembuh total” serta “tak perlu obat atau suntikan”. Menurut para peneliti, semua pernyataan itu bertentangan dengan pedoman penanganan penyakit kronis.
Hipertensi adalah penyakit kronis yang butuh pemantauan jangka panjang. Penanganannya memerlukan obat dan pola hidup sehat yang dijaga terus-menerus. Iklan seperti ini, tulis para peneliti, berisiko mengaburkan pemahaman publik dan mengecilkan pentingnya perawatan klinis berkelanjutan.
Kisah Anak Berbakti
Tema ketiga bermain di wilayah perasaan. Testimoni pasien muncul di 12 iklan, atau 63,2 persen, sehingga menjadi kategori ketiga terbanyak. Ceritanya disajikan sebagai kisah pribadi pasien atau anggota keluarganya.
Banyak kisah dibingkai dengan nilai bakti anak kepada orang tua, misalnya anak dewasa yang membelikan produk untuk orang tuanya. Dalam satu testimoni, seorang anak bercerita ayahnya lama bergula darah tinggi dan satu kotak produk terasa manjur. Testimoni lain menyebut seorang pemakai memesan lagi setelah putrinya membawakan produk itu pulang.
Ada pula testimoni yang menyebut sebuah produk teh membuat pemakainya sehat kembali. Menurut para peneliti, kisah semacam ini memperpendek jarak antara pengiklan dan konsumen. Namun, kisah tanpa verifikasi bisa membuat konsumen menganggap pengalaman satu orang sebagai pengobatan yang manjur bagi banyak orang.
Wajah Selebritas
Kategori terakhir adalah dukungan selebritas, yang jumlahnya paling sedikit. Kategori ini muncul di 7 iklan, atau 36,8 persen dari seluruh iklan. Pendukungnya selebritas, tokoh media, atau figur publik lain.
Contoh yang dicatat para peneliti juga beragam. Ada “direkomendasikan selebritas XXX” dan “dicoba langsung oleh bintang televisi”. Ada juga “sangat direkomendasikan pembawa berita populer”.
Para peneliti menyebut cara ini menumpang pada rasa akrab, rasa suka, dan keinginan meniru sosok terkenal. Mekanismenya mirip testimoni pasien, tetapi tidak sama. Pengaruh keduanya bisa makin kuat ketika ditumpuk bersama klaim otoritas.
Bertumpuk dalam Satu Iklan
Semua iklan dalam penelitian ini memakai beberapa strategi sekaligus. Beberapa iklan memadukan tiga unsur atau lebih dalam satu cerita promosi. Satu iklan bahkan memuat lima strategi bersamaan.
Para peneliti merangkum pola itu dalam simpulan mereka. “Pengiklan kerap menumpuk dukungan profesional dan isyarat sertifikasi untuk membangun kesan sah, meski minim keterbukaan atau bukti ilmiah yang bisa diverifikasi,” tulis Chiu, Peng, dan Chang, dalam terjemahan bebas.
Tumpukan bujukan itu dinilai bisa berdampak buruk pada kesehatan. Pasien bisa berhenti minum obat, menunda ke dokter, atau mengganti pengobatan berbasis bukti dengan suplemen yang belum teruji. Risiko penyakitnya pun bisa dianggap remeh.
Dampak itu paling mengkhawatirkan pada penyakit kronis seperti hipertensi. Kepatuhan pada anjuran klinis menjadi kunci untuk mencegah komplikasi jantung dan pembuluh darah. Gabungan tiga tema bujukan bisa membuat pasien penyakit jangka panjang makin rentan.
Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi
Batas Penelitian
Jumlah iklan yang dianalisis memang kecil. Dari 30 iklan yang mula-mula ditemukan, 7 dikeluarkan karena isinya tak bisa diambil utuh, misalnya tautannya mati atau halamannya dihapus. Empat iklan lagi dikeluarkan karena duplikat atau produk yang sama tampil dengan merek baru.
Para peneliti mengakui sampel itu relatif kecil. Penyebabnya adalah sifat penelitian yang masih menjajaki serta cepatnya iklan ilegal dihapus atau diubah. Iklan yang hanya tayang sebentar mungkin tak sempat tertangkap selama masa penelitian.
Cakupannya juga terbatas pada iklan yang bisa diakses di Taiwan, sehingga belum tentu berlaku di negara lain. Hasil pencarian Google pun bisa bias karena algoritme mengutamakan iklan tertentu. Iklan video, siaran langsung, dan iklan lewat pemengaruh tidak ikut diteliti.
Para peneliti mendorong pemantauan seketika dan kewajiban keterbukaan informasi yang lebih jelas. Mereka juga meminta sistem tanggap cepat untuk menghapus iklan kesehatan yang menyesatkan. Literasi kesehatan dan literasi digital warga perlu ikut diperkuat.
Riset berikutnya disarankan menyasar iklan dinamis dan interaktif, serta menguji tanggapan konsumen lewat eksperimen. Menurut para peneliti, janji efek cepat dan sembuh total bertentangan dengan pedoman klinis penanganan penyakit kronis dan bisa memupuk harapan yang tidak realistis.















