Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi

A A

Tiga lansia berkaus kuning bermain bola raket tai chi di Taman Tiantan, Beijing, Tiongkok [Foto: Harvey Barrison/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Penghobi di CHARLS punya risiko hipertensi 16 persen lebih rendah, dan penghobi di HRS 14 persen lebih rendah.
  • Orang yang terus berhobi punya risiko hipertensi 23 persen lebih rendah di CHARLS dan 17 persen lebih rendah di HRS.
  • Di Tiongkok, hanya 1.616 orang atau 22,7 persen yang mengaku punya hobi.
  • Mereka juga menulis bahwa sebab-akibat tidak dapat dipastikan, karena orang yang mulai sakit mungkin justru lebih jarang berhobi.
Daftar Isi
  1. Yan membuka catatan dua negeri
  2. Liu dan Zhang menghitung siapa yang jatuh sakit
  3. Ding menengok mereka yang bertahan
  4. Yu mengamati angka tekanan darah
  5. Qi-qiang He menimbang beda perempuan dan lelaki
  6. Batas yang diakui Yan dan catatan yang tersisa

Jia-min Yan bekerja di laboratorium sebuah rumah sakit anak di Wuhan, tetapi pertanyaan yang ia kejar kali ini menyangkut orang yang jauh lebih tua. Ia ingin tahu apakah orang berusia 50 tahun ke atas yang punya hobi, entah menari di alun-alun, berlatih tai chi, atau menghadap meja mahjong, lebih jarang terkena darah tinggi dibanding mereka yang tidak punya kegemaran apa pun.

Yan menuliskan jawabannya bersama Si-jing Liu, Min-zhe Zhang, Hong-jie Yu, Bang-xian Ding, dan Qi-qiang He dalam Hobby engagement and hypertension risk: evidence from two large prospective cohorts, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Artikel itu masih berstatus artikel dalam cetak, sehingga belum bervolume dan bernomor, dan para penulisnya menyatakan tidak menerima pendanaan untuk penelitian ini.

Yan dan Ding sama-sama bernaung di Department of Laboratory Medicine, Wuhan Children’s Hospital, yang berada di bawah Tongji Medical College, Huazhong University of Science & Technology. Liu bertugas di bangsal anak rumah sakit yang sama, sedangkan Zhang, Yu, dan He berasal dari School of Public Health, Wuhan University. Yan dan Liu dicatat memberi sumbangan yang setara.

Yan membuka catatan dua negeri

Bahan yang dipakai Yan berasal dari dua survei besar tentang orang yang menua. Dari Tiongkok ada China Health and Retirement Longitudinal Study, disingkat CHARLS, dan dari Amerika Serikat ada Health and Retirement Study, disingkat HRS. Dari keduanya Yan dan rekan-rekannya mengikuti 12.049 orang yang di awal belum mengidap hipertensi, yakni 7.112 orang di CHARLS dan 4.937 orang di HRS.

Wajah kedua kelompok itu, menurut catatan Yan, tidak sama. Peserta CHARLS rata-rata berusia 61,37 tahun dan separuhnya laki-laki, sedangkan peserta HRS lebih tua, rata-rata 66,76 tahun, dengan porsi laki-laki 41,3 persen. Perbedaan paling mencolok ada pada hobi itu sendiri, yang di sini cukup dijawab dengan ya atau tidak oleh pesertanya.

Di Tiongkok, hanya 1.616 orang atau 22,7 persen yang mengaku punya hobi, kira-kira satu dari empat atau lima peserta. Di Amerika Serikat, angkanya 3.013 orang atau 61,0 persen, lebih dari separuh. Yan dan rekan-rekannya kemudian mengakui bahwa sebagian beda ini bisa lahir dari cara bertanya yang tidak seragam di kedua survei.

Siapa yang berhobi juga berbeda. Di CHARLS, Yan mencatat para penghobi sedikit lebih muda, lebih banyak laki-laki, lebih sering berstatus menikah, dan lebih berpendidikan: 17,5 persen tamat sekolah menengah atas atau lebih, dibanding 6,9 persen pada yang tidak berhobi. Di HRS, penghobi juga lebih muda, lebih sering menikah, dan 90,2 persen berpendidikan setidaknya SMA.

Dua kohort, satu polaDua kohort, satu polaDua kohort, satu polaOrang berusia 50 tahun ke atas tanpa hipertensi di awalCHARLS (Tiongkok)HRS (AS)7.1124.937Peserta61,37 th66,76 thUsia rata-rata22,7%61,0%Punya hobi9,33 th11,17 thLama dipantau33,1%32,1%Jadi hipertensi16%14%Risiko lebih rendahbila berhobiRisiko dari model yang sudah memperhitungkan usia, jenis kelamin,pendidikan, status kawin, rokok, alkohol, dan berat badan.
Sumber: Jia-min Yan, Si-jing Liu, Min-zhe Zhang, Hong-jie Yu, Bang-xian Ding, dan Qi-qiang He, Hobby engagement and hypertension risk: evidence from two large prospective cohorts, BMC Public Health, artikel dalam cetak, 2026. Grafik: Cekricek.id

Liu dan Zhang menghitung siapa yang jatuh sakit

Data itu disiapkan dan diperiksa ulang oleh Si-jing Liu, lalu diolah menjadi gambar oleh Min-zhe Zhang. Orang-orang di CHARLS diikuti rata-rata 9,33 tahun, sedangkan di HRS 11,17 tahun. Selama rentang itu, 2.351 peserta CHARLS dan 1.585 peserta HRS akhirnya terkena hipertensi, atau kira-kira sepertiga di masing-masing kelompok.

Ketika dipilah menurut ada tidaknya hobi, tim Liu menemukan jarak yang konsisten. Di CHARLS, ada 41,0 kasus baru per 1.000 orang-tahun pada penghobi, berbanding 46,5 pada yang tidak berhobi. Di HRS, jaraknya lebih lebar: 39,9 berbanding 49,2. Total waktu pantau yang terkumpul mencapai 51.975,0 orang-tahun di CHARLS dan 36.568,3 orang-tahun di HRS.

Kasus hipertensi baru per 1.000 orang-tahunCHARLS (Tiongkok): Punya hobi +41,0, Tanpa hobi +46,5; HRS (Amerika Serikat): Punya hobi +39,9, Tanpa hobi +49,2.Kasus hipertensi baru per 1.000 orang-tahunMenurut status hobi di awal pemantauanPunya hobiTanpa hobi1020304050600CHARLS (Tiongkok)41,046,5HRS (Amerika Serikat)39,949,2Dipantau rata-rata 9,33 tahun di CHARLS dan 11,17 tahun di HRS.
Sumber: Jia-min Yan, Si-jing Liu, Min-zhe Zhang, Hong-jie Yu, Bang-xian Ding, dan Qi-qiang He, Hobby engagement and hypertension risk: evidence from two large prospective cohorts, BMC Public Health, artikel dalam cetak, 2026. Grafik: Cekricek.id

Setelah usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta berat badan ikut diperhitungkan, Yan dan Ding masih mendapati selisihnya bertahan. Penghobi di CHARLS punya risiko hipertensi 16 persen lebih rendah, dan penghobi di HRS 14 persen lebih rendah, dibanding orang yang tidak punya hobi.

Ding dan rekan-rekannya juga menguji ulang hasil itu dengan beberapa cara, misalnya menyisihkan peserta yang sudah mengidap diabetes, penyakit jantung, atau stroke, dan menyisihkan kasus yang muncul dalam dua tahun pertama. Hasilnya, menurut para penulis, tetap sejalan dengan temuan utama. Kurva yang digambar Zhang memperlihatkan peluang bebas hipertensi yang lebih tinggi pada penghobi di kedua kohort.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Ding menengok mereka yang bertahan

Pertanyaan berikutnya yang diajukan Bang-xian Ding dan Yan lebih halus: apakah penting untuk terus berhobi, atau cukup pernah? Mereka membagi peserta menjadi empat pola, yakni yang tidak pernah berhobi, yang baru mulai, yang berhenti, dan yang tetap berhobi dari satu survei ke survei berikutnya. Orang yang tidak pernah berhobi dijadikan pembanding.

Hasilnya, menurut Ding, paling jelas pada mereka yang setia. Orang yang terus berhobi punya risiko hipertensi 23 persen lebih rendah di CHARLS dan 17 persen lebih rendah di HRS. Mereka yang baru memulai hobi di CHARLS hanya menunjukkan selisih kecil yang tidak bermakna secara statistik, begitu pula yang berhenti.

Pola keseharian di dua negeri itu pun tergambar dari angka Yan. Di CHARLS, pola yang paling banyak justru tidak pernah berhobi, yakni 4.245 orang atau 66,7 persen. Di HRS, pola terbanyak adalah tetap berhobi, sebanyak 1.630 orang atau 44,2 persen. Di satu kohort, berhobi adalah pengecualian; di kohort lain, justru kebiasaan banyak orang.

“Keterlibatan dalam hobi merupakan faktor pelindung yang bermakna terhadap hipertensi, dengan manfaat lebih kuat pada individu yang mempertahankan hobinya dari waktu ke waktu,” tulis Yan, Ding, dan rekan-rekannya dalam ringkasan naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu merangkum pesan utama mereka bahwa kesetiaan pada kegemaran lebih berarti daripada sekadar pernah mencobanya.

Yu mengamati angka tekanan darah

Selain mencatat siapa yang didiagnosis hipertensi, Hong-jie Yu dan rekan-rekannya juga melihat pergerakan tekanan darah dari tahun ke tahun. Di CHARLS, penghobi mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 0,52 mmHg per tahun dibanding yang tidak berhobi. Tekanan diastolik mereka turun 0,24 mmHg per tahun, juga dibanding yang tidak berhobi.

Di HRS, pola itu tidak muncul. Yan dan rekan-rekannya tidak menemukan perbedaan bermakna dalam laju perubahan tekanan darah antara penghobi dan bukan penghobi di Amerika Serikat. Para penulis mengakui penurunan di CHARLS kecil bila dilihat per orang, tetapi menilai penurunan kecil pada tingkat populasi pernah dikaitkan dengan berkurangnya penyakit dan kematian kardiovaskular.

Untuk menjelaskan beda dua negeri, Yan menunjuk jenis hobi yang lazim. Menurut naskah itu, hobi orang tua di Tiongkok kerap bersifat ramai dan bergerak, seperti tari alun-alun, tai chi, dan bermain mahjong, yang memadukan olah tubuh sedang dengan ikatan sosial di lingkungan. Sebaliknya, HRS menanyakan hobi lewat pertanyaan yang lebih luas tentang hobi atau proyek.

Yan dan Ding juga menimbang dari mana manfaat itu mungkin datang. Mereka menduga hobi meredakan stres yang bila menahun dapat menaikkan tekanan darah, sering mengandung unsur gerak badan seperti berkebun, dan mempertemukan orang lewat klub, lokakarya, atau acara lingkungan sehingga mengurangi rasa terasing. Ketiganya disebut sebagai kemungkinan, bukan hasil yang diukur langsung.

Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya

Qi-qiang He menimbang beda perempuan dan lelaki

Saat data dipilah lagi, Qi-qiang He dan rekan-rekannya menemukan satu perbedaan di HRS. Di sana, hobi berkaitan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah pada perempuan, dengan rasio risiko 0,78, tetapi tidak pada laki-laki, yang rasionya 0,99 atau nyaris sama dengan bukan penghobi. Di CHARLS, perbedaan semacam itu tidak terlihat sama sekali.

Yan dan rekan-rekannya menduga perempuan lebih pandai memanfaatkan jaringan dukungan sosial dan cara meredakan emosi. Meski begitu, mereka sendiri menahan diri. “Temuan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati karena banyaknya analisis subkelompok dapat memperbesar peluang temuan kebetulan,” tulis Yan dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

He dan para penulis juga menaruh temuan mereka di samping hasil penelitian lain yang mereka kutip. Pola makan DASH pernah dilaporkan menurunkan risiko hipertensi 19 persen, dan aktivitas fisik waktu luang yang tinggi berkaitan dengan risiko 19 persen lebih rendah. Menurut Yan, angka 14 sampai 16 persen pada hobi berada dalam rentang yang sama.

Daya tarik hobi, menurut Yan dan Ding, terletak pada sifatnya yang menyenangkan. “Keterlibatan dalam hobi menawarkan keunggulan unik karena pada dasarnya menyenangkan dan dapat bertahan dengan sendirinya, sehingga dapat memperkuat kepatuhan jangka panjang dan dampaknya pada tingkat populasi,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Dengan kata lain, orang tidak perlu dipaksa melakukan sesuatu yang memang ia sukai.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Batas yang diakui Yan dan catatan yang tersisa

Yan dan rekan-rekannya mencatat sejumlah keterbatasan. Hobi dilaporkan sendiri oleh peserta dan disederhanakan menjadi ya atau tidak, sehingga jenis, keragaman, intensitas, dan lamanya tidak tertangkap. Faktor lain seperti riwayat keluarga, pola makan, dan stres tidak sepenuhnya bisa disingkirkan. Mereka juga menulis bahwa sebab-akibat tidak dapat dipastikan, karena orang yang mulai sakit mungkin justru lebih jarang berhobi.

Pembaca yang teliti juga bisa menemukan beberapa ganjalan di naskah Yan. Teks menyebut penghobi di HRS lebih cenderung perempuan, 56,9 berbanding 43,1 persen, padahal 43,1 persen adalah porsi laki-laki di kelompok penghobi itu sendiri. Tabel 1 justru mencatat porsi perempuan di kelompok tanpa hobi lebih tinggi, 61,4 persen.

Ganjalan lain kecil saja. Usia rata-rata penghobi HRS ditulis 65,88 tahun di badan naskah, tetapi 65,86 tahun di Tabel 1. Ringkasan Yan dan Ding pun menyebut hobi sebagai faktor pelindung, sementara bagian keterbatasan mereka sendiri menegaskan bahwa hubungan sebab-akibat belum bisa ditetapkan dari data ini.

Di ujungnya, penelitian Jia-min Yan kembali ke gambaran yang sederhana: orang berusia 50 tahun ke atas yang terus setia pada hobinya dari survei ke survei lebih jarang tercatat mengidap darah tinggi dibanding mereka yang tidak punya kegemaran. Dari laboratorium rumah sakit anak di Wuhan, Yan dan rekan-rekannya menemukan pola itu bertahan di dua populasi yang budayanya berbeda, entah hobinya tari alun-alun di Tiongkok atau hobi dan proyek yang ditanyakan HRS di Amerika Serikat.

Bagikan

Baca Juga

Jajanan Murah Dekat Sekolah Menggoda Siswa Perth Sejak Pagi
Orang Berduka di Swedia Ingin Ditemani Lebih Lama Usai Pemakaman
Usia Kehamilan Terkait Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Prambanan
Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang
Novel Soji Shimada: Alurnya Rapi, Konfliknya Berganti Wajah
Depresi Pengusaha China Melonjak pada 2020, Reda di 2022