- Rata-rata produktivitas nyata kandang di Muqdadiyah 369 kilogram per ekor, sedangkan kombinasi optimal menghasilkan 827 kilogram dalam 25 minggu.
- Pakan hijau menjadi pos biaya terbesar dengan 231,8 dolar atau 32,56 persen dari total biaya 712 dolar per ekor.
- Tiap ekor memakai 3,9 ton pakan kering, sedangkan kombinasi optimal hasil hitungan para penulis hanya 1,5 ton.
- Nilai efisiensi alokatif pakan kering tercatat 5,8 dan pakan hijau 7,2, yang dibaca para penulis sebagai tanda pemborosan.
Daftar Isi
Seekor anak sapi lokal yang dibeli dari desa di Diyala dan selembar hitungan ekonomi di atas kertas ternyata menceritakan dua kisah yang berbeda. Di kandang, anak sapi itu rata-rata mencapai 369 kilogram setelah 25 minggu digemukkan. Di atas kertas, dengan biaya yang sama, bobotnya bisa mencapai 827 kilogram.
Menurut para penulis, selisih dua angka itu berkaitan dengan cara peternak membagi sumber dayanya. Pakan kering dan pakan hijau dipakai secara boros. Sebaliknya, pemakaian air minum, jam kerja, dan pengawasan dokter hewan masih bisa ditambah agar pembagiannya lebih efisien. Pemakaian sumber daya yang tidak efisien itulah, menurut mereka, yang menaikkan biaya produksi dan menurunkan produktivitas kandang di wilayah studi.
Temuan itu ditulis Abbas Abd Ahmed Al-Tamimi dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Air, Fakultas Pertanian, Universitas Diyala, bersama Dawood Fahad Abdullahan dari Fakultas Tanaman Obat dan Industri, Universitas Kirkuk, Irak. Artikel mereka, Economic Analysis for Achieving Allocative-Technical Efficiency in Sustainable Agricultural Projects (Calf Fattening Farm as A Model), terbit di Andalasian International Journal of Agricultural and Natural Sciences volume 6 nomor 2 tahun 2025.
Kandang di Muqdadiyah, Hitungan di Atas Kertas
Kandang yang diteliti berdiri di Kota Muqdadiyah, di utara Provinsi Diyala. Lahannya seluas 750 meter, aula sapinya 350 meter, aula itu berdaya tampung 20 ekor, dan gudang pakannya berkapasitas 16 meter. Data tahun produksi 2024 dikumpulkan lewat wawancara dengan manajer peternakan dan kuesioner, lalu diolah menjadi fungsi produksi.
Anak sapi yang dibeli adalah ras lokal dengan umur rata-rata 24 sampai 36 minggu dan bobot hidup rata-rata 350 sampai 400 kilogram saat dibeli. Masa penggemukan yang direncanakan 25 minggu. Menurut para penulis, sang manajer mengandalkan pengalamannya sendiri saat membeli, dan mengambil anak sapi dari desa-desa yang banyak beternak di wilayah itu.
Di satu sisi, penggemukan anak sapi dipandang menguntungkan. Para penulis menyebut usaha ini mengubah kelebihan pakan menjadi daging dan timbunan lemak, dan dari sisi ekonomi menempati urutan kedua setelah industri ayam pedaging karena permintaan daging merah terus naik. Di sisi lain, usaha serupa di wilayah studi menurun karena biaya produksinya tinggi dan sumber dayanya terbuang.
Pola yang sama tercatat di tempat lain dalam riset terdahulu yang mereka rujuk. Di Adamawa, Nigeria, usaha penggemukan membuka lapangan kerja tetapi terbentur bunga tinggi dan sulitnya modal. Di Kut, Irak, peternak terbebani harga pakan yang tinggi, dan hanya 14 persen sampel penelitian di sana yang mencapai efisiensi ekonomi.
Baca juga Efisiensi Biaya Produksi Kedelai Lekat dengan Irigasi
Modal Kandang dan Modal Anak Sapi
Untuk mendirikan kandang ini, total biaya investasinya 8.875,4 dolar AS, dihitung dengan kurs 1 dolar sama dengan 1.490 dinar Irak yang berlaku pada 2024. Porsi tertinggi adalah membangun kandang, yang menelan 3.422,8 dolar atau 38,57 persen, disusul membeli anak sapi senilai 3.355,7 dolar atau 37,81 persen.
Pos berikutnya jauh lebih kecil. Bak air menghabiskan 1.006,7 dolar atau 11,34 persen, dan tempat pakan 604 dolar atau 6,81 persen. Kendaraan pengangkut pakan dan pagar masing-masing 167,7 dolar, sewa lahan 100,6 dolar, penerangan 33,5 dolar, dan jalan servis hanya 16,7 dolar atau 0,19 persen dari total.
Pakan Hijau dan Jam Kerja Paling Mahal
Biaya menjalankan kandang dihitung per ekor untuk 25 minggu, dan totalnya 712 dolar. Biaya variabel mencapai 649,5 dolar, sedangkan biaya tetap 62,5 dolar yang terdiri atas penyusutan, sewa lahan, dan bunga modal 10 persen. Pakan hijau menjadi pos terbesar dengan 231,8 dolar atau 32,56 persen, disusul jam kerja dengan 135,6 dolar atau 19,04 persen.
Pakan kering berada di urutan ketiga, 127,8 dolar atau 17,95 persen. Harganya 32 dolar per ton, dan tiap ekor menghabiskan 3,9 ton. Pakan hijau dihargai 51 dolar per ton, dengan pemakaian 4,5 ton per ekor.
Air minum dihargai 0,140 dolar per liter, dengan pemakaian 393,5 liter per ekor senilai 55 dolar. Jam kerja dihargai 3,3 dolar per jam selama 40,4 jam per ekor. Pengawasan dokter hewan bernilai 44,7 dolar per ekor, transportasi 44 dolar, bunga modal 44,2 dolar, penyusutan 13 dolar, pemeliharaan 10,9 dolar, dan sewa lahan 5 dolar.
Yang Dipakai dan yang Seharusnya
Inilah titik di mana dua kisah tadi berpisah. Di kandang, tiap ekor memakai 3,9 ton pakan kering, sedangkan kombinasi optimal hasil hitungan para penulis hanya 1,5 ton. Pakan hijau yang dipakai 4,5 ton, sementara kombinasi optimalnya 4,2 ton. Pada dua jenis pakan ini, kandang memakai lebih banyak daripada hitungan.
Pada air minum dan pengawasan dokter hewan, arahnya berbalik. Air minum yang dipakai 393,5 liter per ekor, sedangkan kombinasi optimalnya 1.438,6 liter. Biaya pengawasan dokter hewan yang dikeluarkan 44,6 dolar per ekor, sementara kombinasi optimalnya 106,4 dolar. Untuk jam kerja, kandang memakai 40,4 jam per ekor, sedangkan kombinasi optimalnya 33,6 jam.
Selisihnya tampak pada bobot. Rata-rata produktivitas nyata kandang ini 369 kilogram per ekor, sedangkan kombinasi optimal menghasilkan 827 kilogram per ekor dalam 25 minggu. Para penulis menegaskan angka 827 kilogram itu dicapai dalam batas biaya yang sama, yakni 712 dolar per ekor selama masa penggemukan. Mereka menyebutnya tingkat produktivitas terbaik yang bisa dicapai seekor anak sapi dalam 25 minggu.
Dalam terjemahan dari naskah berbahasa Inggris, Al-Tamimi dan Abdullahan menulis bahwa “produsen tidak mampu mencapai kombinasi optimal sumber daya produksi, sebagaimana ditunjukkan oleh selisih antara jumlah sumber daya produksi yang benar-benar dipakai dan jumlah optimal yang dicapai.” Kalimat itu menjadi simpulan pertama mereka, dan pada bagian yang sama angka 827 kilogram dan 369 kilogram kembali disebut.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Pakan Berlebih, Air dan Dokter Hewan Kurang
Para penulis lalu menguji dua jenis efisiensi. Yang pertama efisiensi teknis, yakni hasil setinggi mungkin dari sumber daya yang sama. Untuk kelima sumber daya, produk rata-rata lebih tinggi daripada produk marjinal, dan elastisitas produksinya positif tetapi kurang dari satu. Artinya, menurut para penulis, kombinasi optimal itu berada di tahap ekonomis dan mencapai efisiensi teknis.
Produk marjinal pakan hijau tercatat 75,3 kilogram per ekor, tertinggi di antara kelima sumber daya, dengan produk rata-rata 113 kilogram. Pakan kering memiliki produk marjinal 23,7 kilogram dengan produk rata-rata 299,1 kilogram. Jam kerja dan pengawasan dokter hewan masing-masing 2,3 dan 2,2 kilogram, sedangkan air minum 0,148 kilogram.
Yang kedua efisiensi alokatif, yaitu kemampuan manajer membagi sumber daya secara optimal. Dengan harga jual 7,5 dolar per kilogram, nilai efisiensi alokatif pakan kering tercatat 5,8 dan pakan hijau 7,2. Sebaliknya, nilai untuk air minum hanya 0,02, jam kerja 0,44, dan pengawasan dokter hewan 0,29.
Para penulis membaca angka di atas satu pada pakan kering dan pakan hijau sebagai tanda pemborosan, sehingga pemakaian keduanya perlu ditata ulang. Ukuran yang dipakai adalah perbandingan nilai produk marjinal dengan biaya marjinal tiap sumber daya, mengikuti rumus Debertin. Temuan ini, tulis mereka, sejalan dengan rujukan lain yang menyebut salah satu kelemahan usaha penggemukan anak sapi adalah kepekaannya terhadap harga beli pakan.
Pada tiga sumber daya lainnya, nilai di bawah satu dibaca sebaliknya. Menurut para penulis, masih ada peluang menambah pemakaian air minum, jam kerja, dan pengawasan dokter hewan sesuai kebutuhan untuk meraih laba tambahan. Mereka merumuskannya dalam satu kalimat simpulan: “produsen dapat mengurangi penggunaan pakan sesuai rekomendasi ilmiah tertentu dan menambah penggunaan air minum, jam kerja, dan biaya pengawasan dokter hewan untuk mencapai efisiensi alokatif yang utuh.”
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Saran untuk Peternak dan untuk Pemerintah
Para penulis juga mencatat bahwa sumber daya produksi tidak bisa terus ditambah melewati titik tertentu, karena proses produksi masuk tahap hasil yang menurun mutlak akibat kondisi jangka pendek, sebab luas peternakan tidak dapat diperbesar. Seluruh angka penelitian ini berasal dari satu kandang di Muqdadiyah pada tahun produksi 2024, berdasarkan keterangan manajernya. Kandang itu berkapasitas 20 ekor dan memelihara anak sapi ras lokal.
Saran pertama ditujukan kepada peternak lewat penyuluhan pertanian, agar hasil riset terapan menjadi peta jalan memakai sumber daya tanpa boros. Peternak juga perlu informasi yang cukup tentang harga sarana produksi, termasuk pakan kering impor dan pakan kering lokal, supaya bisa membeli pakan dengan harga wajar dan menekan biaya.
Saran berikutnya menyangkut pakan hijau dan pemasaran. Kementerian Pertanian Irak diminta mendukung budi daya pakan hijau dengan menyediakan benih dan pupuk yang diperlukan. Para penulis juga menyarankan agar dicarikan pasar yang sesuai untuk hasil kandang, termasuk produk sampingan seperti kulit, serta mendorong pupuk kandang dipakai sebagai pupuk organik. Dalam abstraknya, mereka menyebut proyek peternakan memberi petani pupuk organik dan lapangan kerja sepanjang tahun, sehingga pemakaian pupuk kimia bisa berkurang.
Saran terakhir menyangkut bimbingan teknis di kandang, termasuk perbaikan layanan dokter hewan dan cara menyediakan lingkungan kandang yang layak bagi anak sapi. Dalam kesimpulannya, para penulis kembali mencatat produktivitas optimal 827 kilogram per ekor, sedangkan rata-rata produktivitas nyata kandang itu 369 kilogram per ekor.















