Warga Tepi Sungai Etiopia Nyaris Tak Kenal Penyakit Leptospirosis

A A

Ilustrasi aliran Sungai Shebelle yang dangkal dan keruh di antara tepian berumput di Etiopia [Foto: David Castor/Wikimedia Commons, CC0]

  • Hanya 15,2 persen dari 422 peserta di Mustahil dan Fer Fer pernah mendengar nama leptospirosis.
  • Sebanyak 73,0 persen peserta bertani di air banjir dan 64,9 persen mengairi lahan tanpa alas kaki.
  • Kepemilikan ternak berhubungan kuat dengan perilaku berisiko tinggi, dengan rasio odds yang disesuaikan 16,96.
  • Rumah tangga yang melihat hewan pengerat justru lebih jarang berperilaku berisiko, yang dibaca penulis sebagai adaptasi perilaku.
Daftar Isi
  1. Cara Air Banjir Membawa Penyakit ke Kaki Petani
  2. Nama Penyakitnya Pun Jarang Terdengar
  3. Banjir Dianggap Berbahaya, Hewan Pengerat Kurang Diwaspadai
  4. Bertani di Genangan Tanpa Alas Kaki
  5. Pemilik Ternak Lekat dengan Perilaku Berisiko
  6. Mengapa Rumah Berhewan Pengerat Tampak Lebih Waspada
  7. Sepatu Bot, Sumber Air Terpisah, dan Diagnosis Lebih Dekat

Leptospirosis menular terutama lewat kontak dengan air, tanah, atau makanan yang tercemar air kencing hewan terinfeksi, khususnya hewan pengerat dan ternak. Sejumlah penelitian mengaitkan kehadiran hewan pengerat dengan risiko yang lebih tinggi. Di tepi Sungai Shabelle, Etiopia timur, hubungannya justru terbalik. Rumah tangga yang melihat hewan pengerat di rumahnya lebih kecil kemungkinannya tergolong berperilaku berisiko tinggi.

Pola itu muncul dari survei di dua distrik rawan banjir, Mustahil dan Fer Fer, di Negara Bagian Regional Somali. Para peneliti mewawancarai kepala rumah tangga atau pengasuh utama berusia 18 tahun ke atas pada Januari hingga Februari 2026, sesaat setelah musim banjir terakhir. Sebanyak 422 rumah tangga ikut serta, masing-masing diwakili satu orang dalam wawancara berbahasa Somali.

Laporannya ditulis Dek Kahin Yosef dari School of One Health in Tropical and Infectious Diseases, Institute of Health Science, Universitas Jigjiga, dan rekan dari College of Veterinary Medicine universitas yang sama. Judulnya Zoonotic transmission risk in flood-prone river basins: community knowledge and behavioral determinants of leptospirosis in eastern Ethiopia, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Paper ini memotret pengetahuan, sikap, dan kebiasaan warga terhadap leptospirosis, penyakit zoonosis yang makin dikenal sebagai penyakit peka iklim.

Cara Air Banjir Membawa Penyakit ke Kaki Petani

Mekanismenya bermula dari sungai. Shabelle meluap pada dua musim hujan, Gu pada April sampai Juni dan Deyr pada Oktober sampai Desember, lalu merendam permukiman, lahan pertanian, dan kandang ternak. Menurut para penulis, tanah yang jenuh air dan genangan yang bertahan lama membantu bakteri Leptospira bertahan hidup dan menyebar. Bakteri ini cocok dengan tanah lembap kaya bahan organik serta air yang tergenang atau mengalir lambat.

Persoalannya, kehidupan sehari-hari warga berjalan persis di tengah lingkungan itu. Penduduk Mustahil dan Fer Fer kebanyakan petani dan penggembala yang mengandalkan irigasi dari sungai serta memelihara campuran sapi, kambing, domba, dan unta. Hewan sering minum dari titik air yang sama dengan manusia, dan kandang kerap berdiri bersebelahan dengan rumah. Alas kaki pelindung juga tidak selalu dipakai saat bertani, menggembala, atau menghadapi banjir.

Gambaran itu juga tampak pada peserta survei. Dari 422 orang, 247 bekerja sebagai petani, 327 memiliki ternak, dan 353 mengalami banjir dalam 12 bulan terakhir. Kepemilikan ternak tercatat 77,2 persen di Fer Fer dan 77,8 persen di Mustahil. Jarak rumah ke sungai terbagi hampir rata, dengan kira-kira sepertiga peserta di tiap kategori, termasuk yang tinggal kurang dari 500 meter dari sungai.

Yang membuatnya rumit, banjir juga memaksa keluarga mengungsi sementara ke dataran yang lebih tinggi. Para penulis mencatat bahwa pindah ke sana bisa mengurangi paparan langsung terhadap air banjir dan mungkin menurunkan risiko leptospirosis. Namun, permukiman sementara itu sering bersanitasi buruk dan sesak, sehingga warga bisa lebih rentan terhadap penyakit menular lain. Leptospirosis sendiri kerap luput dari diagnosis, antara lain karena keterbatasan kemampuan diagnosis dan gejala yang mirip demam lain seperti malaria dan sepsis bakteri.

Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang

Nama Penyakitnya Pun Jarang Terdengar

Nama penyakitnya pun jarang terdengarPernah dengar namanya 15,2%; Gejala: demam 9,7%; Gejala: sakit kepala 7,1%; Gejala: nyeri otot 6,2%; Gejala: kuning 4,5%; Cegah: hindari banjir 4,3%; Cegah: air aman 3,1%; Cegah: sepatu bot 2,8%.Nama penyakitnya pun jarang terdengarPersen peserta yang menjawab benar butir pengetahuanleptospirosis, 422 peserta di Mustahil dan Fer Fer0%5%10%15%20%Pernah dengar namanya15,2%Gejala: demam9,7%Gejala: sakit kepala7,1%Gejala: nyeri otot6,2%Gejala: kuning4,5%Cegah: hindari banjir4,3%Cegah: air aman3,1%Cegah: sepatu bot2,8%Pengetahuan buruk 99,1%, sedang 0,95%. Jingga: pernah mendengarnama leptospirosis
Sumber: Dek Kahin Yosef dan rekan, Zoonotic transmission risk in flood-prone river basins: community knowledge and behavioral determinants of leptospirosis in eastern Ethiopia, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kesenjangan yang disorot para penulis terutama ada pada pengetahuan warga. Hanya 15,2 persen peserta pernah mendengar nama leptospirosis. Ketika pengetahuan diukur lewat butir pertanyaan tentang penyebab, cara penularan, hewan pembawa, gejala, dan pencegahan, 99,1 persen peserta tergolong berpengetahuan buruk. Hanya 0,95 persen yang mencapai kategori sedang. Golongan buruk berarti skor gabungan di bawah 50 persen.

Hewan pembawa penyakit nyaris tidak dikenali sebagai sumber penularan. Hanya 1,4 persen peserta menyebut sapi, 0,2 persen menyebut kambing, 1,7 persen menyebut anjing, dan 0,9 persen menyebut hewan pengerat. Para penulis mengaitkan rendahnya pengenalan ini dengan minimnya pembicaraan setempat tentang penyakit zoonosis. Terbatasnya layanan kesehatan hewan, tulis mereka, juga dapat mengurangi kesadaran akan risiko yang datang dari hewan peliharaan.

Gejala penyakitnya pun sama asingnya bagi peserta. Demam disebut oleh 9,7 persen peserta, sakit kepala 7,1 persen, nyeri otot 6,2 persen, dan penyakit kuning 4,5 persen. Cara pencegahan pun sebagian besar tidak diketahui: sepatu bot 2,8 persen, menghindari air banjir 4,3 persen, pengendalian hewan pengerat 2,1 persen, praktik air yang aman 3,1 persen, dan vaksinasi hanya 0,7 persen.

Para penulis mencatat bahwa walaupun 15,2 persen peserta pernah mendengar leptospirosis, sebagian besar butir pengetahuan yang spesifik dijawab benar oleh kurang dari 10 persen peserta. Itulah yang membuat skor gabungan pengetahuan di dua distrik ini begitu rendah dan menempatkan hampir seluruh responden di golongan berpengetahuan buruk.

Banjir Dianggap Berbahaya, Hewan Pengerat Kurang Diwaspadai

Sikap warga memperlihatkan pola yang berbeda dari pengetahuannya. Sebanyak 60,2 persen peserta menganggap banjir sebagai bahaya serius, dan 44,1 persen percaya bahwa perlindungan seperti sepatu bot bisa mengurangi risiko. Namun, hanya 30,3 persen yang setuju atau sangat setuju bahwa hewan pengerat membawa bahaya. Para penulis menyebut jarak antara kedua sikap itu juga terlihat di wilayah tropis lain yang dilanda banjir.

Pernyataan bahwa leptospirosis adalah penyakit serius banyak ditanggapi netral atau tidak setuju. Sebanyak 22,3 persen peserta sangat tidak setuju, 28,0 persen tidak setuju, dan 28,0 persen memilih netral, sementara yang setuju 14,5 persen dan sangat setuju 7,4 persen. Pernyataan tentang segera mencari perawatan disetujui 42,2 persen peserta dan sangat disetujui 14,5 persen lainnya, sementara 36,0 persen memilih netral.

Pernyataan bahwa kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan hanya disetujui 16,8 persen dan sangat disetujui 6,9 persen peserta, sedangkan 35,3 persen tidak setuju. Skor rata-rata sikap tercatat 24,3, skor persepsi risiko 11,8, dan skor keyakinan pencegahan 9,7. Para penulis melihat peluang di sini, yaitu memanfaatkan kesadaran akan bahaya banjir yang sudah ada untuk menyisipkan pendidikan leptospirosis ke program kesiapsiagaan banjir.

Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup

Bertani di Genangan Tanpa Alas Kaki

Kebiasaan sehari-hari memperlihatkan bagaimana risiko itu bekerja di lapangan. Sebanyak 73,0 persen peserta bertani di air banjir, dan 64,9 persen mengairi lahan tanpa alas kaki. Anak yang terpapar air banjir dilaporkan di 39,3 persen rumah tangga, sementara 52,8 persen peserta berbagi sumber air dengan hewan. Jawaban ya dalam tabel ini mencakup peserta yang melakukannya kadang-kadang maupun selalu.

Bertani di air banjir paling umumBertani di air banjir: Persen menjawab ya 73,0%; Irigasi tanpa alas kaki: Persen menjawab ya 64,9%; Hewan pengerat terlihat di rumah: Persen menjawab ya 57,8%; Membersihkan kandang hewan: Persen menjawab ya 54,7%; Berbagi air dengan hewan: Persen menjawab ya 52,8%; Anak terpapar air banjir: Persen menjawab ya 39,3%; Pengendalian hewan pengerat: Persen menjawab ya 22,3%; Ke layanan kesehatan formal saat demam: Persen menjawab ya 21,3%.Bertani di air banjir paling umumPersen peserta yang menjawab ya (kadang atau selalu),praktik pencegahan, 422 peserta20%40%60%80%0Bertani di air banjir73,0%Irigasi tanpa alas kaki64,9%Hewan pengerat terlihat di rumah57,8%Membersihkan kandang hewan54,7%Berbagi air dengan hewan52,8%Anak terpapar air banjir39,3%Pengendalian hewan pengerat22,3%Ke layanan kesehatan formal saat demam21,3%Tidak ditampilkan: alat pelindung dipakai 50,2% di antara yangmembersihkan kandang
Sumber: Dek Kahin Yosef dan rekan, Zoonotic transmission risk in flood-prone river basins: community knowledge and behavioral determinants of leptospirosis in eastern Ethiopia, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Membersihkan kandang hewan dilakukan oleh 54,7 persen peserta, tetapi alat pelindung hanya dipakai oleh 50,2 persen dari mereka. Hewan pengerat terlihat di 57,8 persen rumah tangga, sedangkan pengendalian hewan pengerat hanya dijalankan 22,3 persen peserta. Secara keseluruhan, 54,7 persen peserta digolongkan menjalankan perilaku pencegahan berisiko tinggi karena kurang memakai alat pelindung saat mengerjakan tugas-tugas tersebut.

Ketika demam datang, jalan yang ditempuh pun berliku. Sebanyak 34,8 persen peserta tidak melakukan apa-apa, 24,6 persen mendatangi penyembuh tradisional, dan hanya 21,3 persen mencari layanan kesehatan formal. Menurut para penulis, ketergantungan pada penyembuh tradisional makin menyulitkan diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu, tantangan yang juga sering tercatat di pedesaan Afrika.

Para penulis menolak membaca kebiasaan itu sebagai kecerobohan semata. Sepatu pelindung mungkin tidak terjangkau atau tidak tersedia, dan berbagi air dengan ternak terjadi karena tidak ada sumber air lain. “Praktik-praktik ini sering kali berakar pada kemiskinan dan terbatasnya akses terhadap sumber daya, bukan pada pengabaian risiko kesehatan yang disengaja,” tulis Yosef dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Pemilik Ternak Lekat dengan Perilaku Berisiko

Analisis statistik lalu mencari faktor yang berhubungan dengan perilaku berisiko tinggi. Kepemilikan ternak muncul sebagai penanda yang kuat, dengan rasio odds yang disesuaikan sebesar 16,96 dan rentang kepercayaan 95 persen antara 7,69 dan 37,43. Dalam analisis awal sebelum faktor lain diperhitungkan, rasio odds-nya 13,8. Para penulis membaca angka ini sebagai cerminan eratnya hubungan manusia dan hewan di komunitas tersebut.

Persepsi risiko berhubungan ke arah sebaliknya, meski tipis. Persepsi risiko yang lebih tinggi berhubungan dengan sedikit berkurangnya perilaku berisiko, dengan rasio odds yang disesuaikan 0,90 dan nilai p 0,041. Faktor lain tidak bermakna secara statistik, termasuk pengetahuan yang memadai, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, banjir dalam 12 bulan terakhir, jarak rumah ke sungai, dan keyakinan pencegahan.

Ada satu batas yang diakui para penulis pada temuan soal ternak. Survei ini tidak membedakan rumah tangga yang menyimpan ternak di dalam pekarangan dari yang mengandangkannya jauh dari rumah. Hidup berdampingan dengan ternak bisa menambah kontak dengan lingkungan atau kotoran hewan yang tercemar, sementara kepemilikan tanpa kedekatan mungkin membawa tingkat risiko yang berbeda. Penelitian berikutnya diminta memilah kedua keadaan itu.

Baca juga Garam Beryodium Etiopia Merata, Pengetahuan Warganya Tertinggal

Mengapa Rumah Berhewan Pengerat Tampak Lebih Waspada

Kini kembali ke pola terbalik di awal tulisan. Kehadiran hewan pengerat di rumah berhubungan dengan rasio odds yang disesuaikan 0,31 untuk perilaku berisiko tinggi, dengan rentang kepercayaan 0,19 sampai 0,49. Para penulis menduga infestasi yang terlihat mata mungkin mendorong rumah tangga lebih berhati-hati atau menyesuaikan perilaku pencegahannya, walaupun sebab-akibat tidak bisa dipastikan dari desain potong lintang.

Mereka juga menyebut penjelasan lain yang mungkin. Rumah tangga yang sadar ada hewan pengerat bisa saja melaporkan perilaku perlindungan lebih banyak dari kenyataan, atau ada faktor tak terukur yang memengaruhi kehadiran hewan pengerat sekaligus kebiasaan penghuninya. Temuan ini juga berlawanan dengan sejumlah penelitian lain yang mengaitkan kehadiran hewan pengerat dengan risiko yang lebih tinggi.

Karena itu, kesimpulan para penulis tegas soal batas tafsirnya. “Hubungan terbalik antara keberadaan hewan pengerat dan perilaku berisiko tinggi kemungkinan besar mencerminkan adaptasi perilaku, bukan efek perlindungan biologis,” tulis Dek Kahin Yosef dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Membedakan keduanya, menurut mereka, penting untuk merancang pengendalian hewan pengerat dan komunikasi risiko yang sesuai budaya setempat.

Keterbatasan lain juga dinyatakan terbuka. Praktik pencegahan dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga bisa muncul bias keinginan tampil baik, yakni kecenderungan melaporkan perilaku aman seperti pemakaian alat pelindung lebih sering dari kenyataan. Akibatnya, perilaku berisiko di komunitas itu mungkin tercatat lebih rendah dari sebenarnya. Penelitian ini juga tidak mengukur beban penyakit atau jumlah kasus leptospirosis.

Sepatu Bot, Sumber Air Terpisah, dan Diagnosis Lebih Dekat

Para penulis menyarankan pendekatan One Health terpadu yang melibatkan sektor kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, air dan sanitasi, serta penanggulangan bencana. Pendidikan tentang leptospirosis perlu disampaikan lewat saluran yang sesuai budaya dan dalam bahasa setempat, lalu disisipkan ke program kesiapsiagaan banjir. Pesannya menekankan peran hewan pengerat dan ternak sebagai pembawa penyakit serta mengurangi kebiasaan bertelanjang kaki.

Di sekitar rumah, mereka mengusulkan pengendalian hewan pengerat berbasis komunitas lewat pembuangan sampah yang aman, penyimpanan biji-bijian yang lebih baik, dan perbaikan sanitasi. Sumber air manusia dan ternak perlu dipisahkan, sementara sepatu bot dan sarung tangan bisa disediakan lewat skema subsidi atau pembagian di komunitas. Fasilitas kesehatan di tingkat bawah juga perlu mampu mendiagnosis leptospirosis.

Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan metode campuran, tulis para penulis, diperlukan untuk menjernihkan urutan antara kehadiran hewan pengerat dan perilaku warga. Sampai jawaban itu datang, pola terbalik di tepi Shabelle dibaca para penulis sebagai kemungkinan besar cara warga menyesuaikan diri, bukan tanda bahwa hewan pengerat melindungi mereka dari leptospirosis.

Bagikan

Baca Juga

Ibu Kegemukan dan Anak Kurang Darah Kerap Serumah di Burkina Faso
Pajak Minuman Manis Nigeria Dibela Pegiat, Dilawan Industri
Rumah Jauh dari Titik Kumpul Sampah di Mbale Lebih Banyak Diare
Sepertiga Pelajar di Ibu Kota Kamerun Keliru Menilai Berat Badan
Kue dan Permen Kuasai Jajanan Sekolah di Perkotaan Komoro
Kecanduan Ponsel Terkait Gangguan Leher pada Mahasiswa Nigeria