- Pasangan anak anemia dan ibu kegemukan tercatat pada 14,32 persen rumah tangga di Burkina Faso.
- Sebanyak 72,59 persen anak balita dalam sampel mengalami anemia menurut ambang hemoglobin WHO.
- Proporsi pasangan itu naik dari 7,4 persen pada rumah tangga termiskin menjadi 29,3 persen pada kelompok terkaya.
- Proporsinya 27 persen pada pasangan ibu dan anak di perkotaan, berbanding 10 persen di perdesaan.
Daftar Isi
Beban ganda gizi kira-kira berarti satu atap yang sekaligus menanggung kekurangan dan kelebihan: ada penghuni yang tubuhnya kekurangan zat gizi, ada yang berat badannya berlebih. Di Burkina Faso, negara di Afrika Barat, wujud yang paling sering ditemui adalah ibu yang kegemukan dan anak balitanya yang kurang darah atau anemia.
Pasangan semacam itu tercatat pada 14,32 persen rumah tangga yang diteliti, atau lebih dari satu dari tujuh rumah. Angka itu menjadikannya bentuk beban ganda paling sering di antara sebelas kombinasi yang diperiksa, jauh di atas pasangan anak pendek dan ibu kelebihan berat badan yang hanya 3,6 persen.
Temuan tersebut berasal dari Baperman Abdel Aziz Siri dari Kementerian Kesehatan Burkina Faso di Ouagadougou dan rekan, termasuk peneliti Institute of Tropical Medicine di Antwerpen, Belgia, serta Institut de recherche en science de la santé di Ouagadougou. Laporan mereka berjudul When undernutrition meets overweight: prevalence and determinants of double burden of malnutrition among women-child pairs in Burkina Faso from the 2021 Demographic and Health Survey dan terbit di BMC Public Health tahun 2026.
Mereka memakai data Survei Demografi dan Kesehatan Burkina Faso 2021 yang mewakili tingkat nasional. Analisisnya mencakup 4.119 rumah tangga, 5.146 perempuan berusia 15 sampai 49 tahun, dan 4.114 pasangan ibu dengan anak berusia 6 sampai 59 bulan. Perempuan yang sedang hamil atau baru melahirkan dalam enam bulan terakhir tidak diikutkan.
Beban Ganda Gizi: Kurang dan Lebih di Bawah Satu Atap
Maksudnya begini. Para penulis mendefinisikan beban ganda gizi sebagai gizi kurang dan gizi lebih yang muncul bersamaan, entah pada satu orang yang sama, entah pada ibu dan anak yang tinggal serumah. Contoh yang mereka berikan sendiri adalah ibu yang kegemukan atau obesitas yang hidup bersama anak bergizi kurang.
Dari definisi itu lahir sebelas kombinasi. Tujuh berada di tingkat rumah tangga, berupa pasangan ibu dan anak, sedangkan empat lainnya di tingkat individu, misalnya perempuan yang sekaligus anemia dan kelebihan berat badan atau obesitas. Bila semua bentuk digabung, angkanya mencapai 30 persen, sementara di tingkat rumah tangga saja 20 persen mengalami paling sedikit satu bentuk.
Grafik di atas memperlihatkan betapa timpangnya urutan di tingkat rumah tangga. Sesudah pasangan anak anemia dan ibu kegemukan yang mencapai 14,32 persen, ada anak pendek dengan ibu kelebihan berat badan sebesar 3,6 persen, anak berat badan kurang dengan ibu kegemukan 2,36 persen, serta anak kurus dengan ibu kegemukan 1,72 persen.
Bentuk sebaliknya hampir tidak ada. Anak kelebihan berat badan dengan ibu anemia hanya 0,65 persen, anak kelebihan berat badan dengan ibu kurus 0,08 persen, dan pasangan anak kelebihan berat badan dengan ibu bertubuh pendek tidak ditemukan sama sekali. Menurut para penulis, kegemukan anak masih jarang di tempat yang gizi kurangnya belum teratasi.
Anemia: Hemoglobin Anak di Bawah 11 g/dl
Anemia dalam studi ini punya ukuran yang pasti, bukan sekadar keluhan lemas. Para penulis memakai definisi dan ambang sesuai standar WHO, yaitu kadar hemoglobin di bawah 11 gram per desiliter pada anak dan di bawah 12 gram per desiliter pada perempuan usia subur.
Dengan ukuran itu, anemia menjadi masalah gizi yang paling luas. Sebanyak 72,59 persen anak balita dalam sampel mengalaminya. Pada perempuan berusia 15 sampai 49 tahun, angkanya 53,9 persen.
Di bagian diskusi, para penulis menyebut anemia pada 72 persen anak itu melampaui rata-rata Afrika sub-Sahara sebesar 64 persen yang dilaporkan dari 34 negara. Mereka menilai beban anemia setinggi itu kemungkinan mencerminkan gabungan malaria yang endemis, rawan pangan, asupan makanan yang kurang memadai, dan jumlah kelahiran yang tinggi.
Baca juga Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan
Masalah gizi kurang lainnya lebih kecil, tetapi tetap nyata. Sebanyak 23,28 persen anak tergolong pendek untuk usianya atau stunting, 17,71 persen berat badannya kurang, dan 10,55 persen kurus. Anak yang kelebihan berat badan, yaitu skor berat menurut tinggi badan 2 simpangan baku atau lebih di atas acuan WHO, hanya 1,03 persen.
Kegemukan: Indeks Massa Tubuh Ibu 25 ke Atas
Kegemukan pada ibu juga punya batas angka. Perempuan digolongkan mengalami gizi lebih bila indeks massa tubuhnya mencapai 25 kilogram per meter persegi atau lebih, sementara indeks di bawah 18,5 dihitung sebagai berat badan kurang.
Pada perempuan dalam sampel, 17,9 persen tergolong kelebihan berat badan dan 7,6 persen obesitas. Di bagian diskusi, para penulis menyebut 25,4 persen perempuan hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas.
Angka 25,4 persen itu, menurut mereka, merupakan kenaikan relatif 128 persen dibanding Survei Demografi dan Kesehatan Burkina Faso tahun 2010. Pendahuluan paper juga mencatat dua arah yang berlawanan: stunting anak turun dari 35 persen menjadi 25 persen antara 2010 dan 2021, sementara kelebihan berat badan pada perempuan usia subur naik dari 8,1 persen menjadi 13,7 persen.
Di tingkat individu, bentuk beban ganda yang paling sering adalah perempuan yang sekaligus anemia dan kelebihan berat badan atau obesitas, yakni 9,47 persen. Menurut para penulis, di banyak negara Afrika sub-Sahara, perempuan perkotaan dan perempuan dari rumah tangga lebih kaya tampak menjadi kelompok yang paling terdampak kegemukan.
Gradien Sosial Ekonomi: Makin Kaya, Makin Sering
Para penulis memakai istilah gradien sosial ekonomi yang jelas untuk peluang beban ganda yang meningkat menurut kuintil kekayaan. Mereka menulis, masalah ini sangat penting di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang sedang menjalani transisi gizi cepat, karena menantang anggapan lama yang mengaitkan malnutrisi semata dengan kemiskinan.
Pada rumah tangga termiskin, proporsi pasangan anak anemia dan ibu kegemukan 7,4 persen. Angkanya 6,7 persen pada kelompok miskin, 12,1 persen pada kelompok menengah, 18,1 persen pada kelompok kaya, dan 29,3 persen pada kelompok terkaya.
Kota dan desa memperlihatkan pola yang sejalan. Proporsinya 27 persen pada pasangan ibu dan anak di perkotaan, berbanding 10 persen di perdesaan. Siri dan rekan menegaskan hal itu dalam bagian interpretasi. “Yang penting, temuan kami mengisyaratkan beban ganda malnutrisi tidak terbatas pada kelompok yang paling tertinggal,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Wilayah pun berbeda tajam. Proporsi tertinggi tercatat di wilayah Centre sebesar 26,9 persen, disusul Sahel 24,3 persen, Hauts-Bassins 21,8 persen, dan Cascades 21,6 persen. Wilayah Est berada di ujung bawah dengan 3,3 persen.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Para penulis menyebut pola itu mencerminkan transisi gizi di Afrika sub-Sahara yang masih berlangsung dan belum tuntas. Menurut mereka, lingkungan kota yang mereka sebut obesogenik, dengan makanan ultraolahan padat energi yang makin tersedia, aktivitas fisik yang berkurang, dan waktu sempit untuk mengasuh anak, mendorong kegemukan pada perempuan tanpa memperbaiki mutu makanan.
Rasio Odds: Peluang setelah Faktor Lain Disesuaikan
Untuk mencari faktor yang berkaitan, para penulis memakai regresi logistik dengan empat model bertingkat dan melaporkan rasio odds yang disesuaikan. Di ringkasan paper, rasio odds rumah tangga desa dibanding rumah tangga kota tercatat 0,6. Di bagian diskusi, mereka menulis rumah tangga desa 40 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami beban ganda ini.
Dalam model terbaik mereka, rumah tangga terkaya memiliki rasio odds 3,1 dibanding rumah tangga termiskin, dan rumah tangga kaya 2,12. Wilayah Sahel mencatat 1,94 dibanding Boucle du Mouhoun yang dijadikan acuan, sedangkan wilayah Est 0,27.
Usia ibu termasuk faktor yang paling kuat. Proporsinya naik dari 3,1 persen pada ibu remaja berusia 15 sampai 19 tahun menjadi 18,3 persen pada usia 30 sampai 34 tahun dan 19,7 persen pada usia 35 sampai 39 tahun. Rasio odds kelompok 35 sampai 39 tahun mencapai 6,48 dibanding kelompok termuda.
Baca juga Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan
Pekerjaan ibu ikut berperan. Pada ibu yang bekerja sebagai profesional atau manajer, proporsinya 38,2 persen dengan rasio odds 1,95, dan pada pekerja tak terampil 31,2 persen dengan rasio odds 2,53, dibanding 12,3 persen pada ibu yang tidak bekerja. Menurut para penulis, pekerjaan bisa menambah penghasilan sekaligus mengurangi waktu untuk mengasuh dan memberi makan anak.
Ciri anak justru tidak banyak menambah penjelasan. Model yang ditambahi usia anak, status menyusui, dan demam dalam dua pekan terakhir tidak lebih baik daripada model sebelumnya, dan penambahan keragaman makanan ibu juga tidak memperbaikinya. Di bagian diskusi, para penulis mencatat sebagian besar perempuan, 65 persen, keragaman makanannya tidak memadai. Menurut mereka, hal itu menunjukkan akses pangan yang lebih baik belum tentu berarti asupan zat gizi mikro membaik.
Potong Lintang: Bukan Bukti Sebab-Akibat
Para penulis menyatakan desain potong lintang dalam studi ini tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Karena itu, kekayaan rumah tangga, tempat tinggal di kota, usia ibu, dan pekerjaan ibu dilaporkan sebagai faktor yang berkaitan dengan kombinasi ini.
Mereka juga mengakui survei ini tidak memungkinkan penelusuran rinci penyebab anemia. Pengukuran tinggi dan berat badan hanya dilakukan pada sebagian rumah tangga, dan pemilihan kombinasi anak anemia dengan ibu kegemukan sebagai fokus didasarkan pada data sehingga bisa membatasi perbandingan dengan studi lain.
Dari temuan itu para penulis menyarankan apa yang mereka sebut aksi berfungsi ganda, yakni intervensi yang menyasar kegemukan ibu dan gizi kurang anak sekaligus. Bentuknya antara lain pola makan seimbang, pengendalian infeksi, makanan kaya zat besi, dan cara menyiapkan makanan sehat yang hemat waktu bagi perempuan bekerja.
Mereka juga meminta riset lanjutan yang lebih menyoroti perkotaan, riset kualitatif tentang pembagian makanan di dalam rumah, dan riset jangka panjang. “Beban ganda malnutrisi bukan kekhawatiran teoretis, melainkan kenyataan yang dijalani satu dari tujuh rumah tangga,” tulis mereka dalam simpulan.
Mereka juga menyebut keterbatasan lain: 762 ibu, atau 22,7 persen, menyumbang lebih dari satu anak ke dalam analisis. Uji kepekaan dengan memilih satu anak secara acak untuk setiap ibu menunjukkan 54 dari 56 koefisien, atau 96,4 persen, tetap konsisten arah dan kemaknaannya, sementara prevalensi kombinasi utama tetap stabil, 15,5 persen berbanding 14,9 persen.














