- Gabungan tiga studi menunjukkan 84 persen dokter residen di Mesir mengalami burnout.
- Sebanyak 73 persen residen tercatat dengan kelelahan emosional tinggi dan 67 persen dengan depersonalisasi tinggi.
- Di Assiut, keinginan berhenti bekerja tercatat pada 168 dari 230 residen.
- Tim menyebut residen junior di Mesir bisa bekerja hingga 156 jam per minggu, jauh di atas batas 80 jam di negara lain.
Daftar Isi
Di Rumah Sakit Universitas Assiut, Mesir, 230 dokter residen yang sudah bekerja sedikitnya enam bulan mengisi survei elektronik pada masa pandemi COVID-19. Hampir separuh berasal dari spesialisasi bedah, separuh lainnya dari spesialisasi medis. Dari jawaban mereka tercatat 168 orang, atau 73 persen, pernah berpikir untuk berhenti bekerja. Sebanyak 165 orang, atau 72 persen, mengalami depresi.
Angka dari Assiut itu menjadi salah satu bahan tinjauan Abdelrahman M. Makram dan rekan dari School of Public Health, Imperial College London. Tinjauan sistematis dan meta-analisis mereka berjudul A systematic review and meta-analysis of physician resident burnout in Egypt dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Makram juga tercatat berafiliasi dengan Stadtkrankenhaus Korbach dan University Hospital Heidelberg di Jerman.
Tim menelusuri lima basis data pada Mei 2024 dan menjaring 11 studi dari kurun 2013 hingga 2024. Seluruh studi itu melibatkan 2.066 peserta, dan 804 di antaranya, atau 39 persen, adalah dokter residen atau pemegang gelar sarjana kedokteran. Di Mesir, kedua sebutan itu bermakna sama. Sembilan studi masuk ke perhitungan gabungan.
Burnout dalam tinjauan itu diartikan sebagai keadaan lelah secara emosional, mental, dan fisik akibat bekerja tanpa jeda dalam waktu lama atau akibat tekanan pekerjaan. Semua studi mengukurnya dengan Maslach Burnout Inventory, yang menggambarkan burnout lewat tiga unsur, yaitu depersonalisasi, kelelahan emosional, dan berkurangnya rasa pencapaian pribadi.
Dari Ismailia ke Alexandria
Studi-studi itu datang dari beberapa kota. Tiga berasal dari rumah sakit Universitas Terusan Suez di Ismailia, dua dari rumah sakit universitas di Assiut, dan satu dari unit perawatan intensif di wilayah Terusan Suez. Satu lagi dari Rumah Sakit Universitas Zagazig, satu dari bagian anestesi Rumah Sakit Universitas Mansoura, dan satu dari rumah sakit pemerintah dan swasta di Alexandria.
Dua studi sisanya bercakupan lebih luas. Satu meneliti dokter spesialis kulit di rumah sakit pemerintah tanpa batas wilayah, sedangkan satu lagi menjangkau dokter garis depan di seluruh fasilitas kesehatan di 20 kegubernuran. Semua studi memakai desain potong lintang. Satu studi di Zagazig menambahkan tahap kedua berupa intervensi untuk menekan burnout.
Hanya lima studi yang memusatkan perhatian pada satu spesialisasi, yaitu anestesiologi, dermatologi, kedokteran gawat darurat, perawatan intensif, dan onkologi. Jumlah residen di tiap studi pun sangat beragam. Di unit perawatan intensif wilayah Terusan Suez, ada 81 residen di antara 381 dokter dan perawat, sedangkan studi Fadle dan rekan di Assiut seluruhnya residen, 230 orang.
Hanya studi Fadle dan rekan di Assiut yang mencatat usia residennya. Median usianya 27 tahun, 53 persen berusia di bawah 27 tahun, dan jumlah laki-laki serta perempuannya seimbang. Residen tahun pertama mencapai 31,3 persen, tahun kedua 30,4 persen, tahun ketiga 19,6 persen, dan tahun keempat 18,7 persen.
Baca juga Calon Dokter India Rajin Cek Kedaluwarsa, Jarang Baca Label Gizi
Ambang Skor Maslach
Tim mengelompokkan skor tiap unsur Maslach ke tingkat rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan studi terdahulu. Depersonalisasi dianggap tinggi pada skor 10 ke atas dan kelelahan emosional pada skor 27 ke atas. Berkurangnya rasa pencapaian pribadi dianggap tinggi bila skornya 0 sampai 33. Skor maksimal ketiga unsur itu berturut-turut 30, 54, dan 48.
Hanya tiga studi yang melaporkan angka burnout secara keseluruhan beserta kategorinya. Gabungan ketiganya menunjukkan 84 persen dokter residen mengalami burnout. Rentang kepercayaan 95 persennya lebar, dari 44 hingga 97 persen.
Ketiga unsurnya juga tinggi pada banyak residen. Sebanyak 73 persen tercatat dengan kelelahan emosional tinggi, 67 persen dengan depersonalisasi tinggi, dan 54 persen dengan berkurangnya rasa pencapaian pribadi pada tingkat tinggi. Rentang kepercayaan 95 persennya masing-masing 48 sampai 89, 44 sampai 85, dan 39 sampai 68 persen.
Tinjauan itu juga mengumpulkan skor rata-rata. Satu studi melaporkan skor keseluruhan Maslach dengan rata-rata 29,8 dan simpangan baku 4,8. Lima studi lain melaporkan skor per unsur, dan gabungannya menghasilkan rata-rata 17,64 untuk depersonalisasi, 32,09 untuk kelelahan emosional, serta 27,89 untuk berkurangnya rasa pencapaian pribadi.
Rentang kepercayaan 95 persen skor depersonalisasi berada di antara 12,85 dan 24,23. Untuk kelelahan emosional rentangnya 27,76 sampai 37,08, sedangkan untuk rasa pencapaian pribadi 24,93 sampai 31,22. Dari angka-angka ini, tim menulis bahwa dokter di Mesir menghadapi angka burnout yang tinggi, tampak pada tingginya ketiga unsur tersebut.
Baca juga Guru di Istanbul yang Suaranya Terganggu Lebih Lelah Mengajar
Assiut, Ismailia, dan Mansoura
Faktor risiko jarang dicatat. Hanya tiga studi yang melaporkannya untuk residen, yaitu studi Fadle dan rekan di Assiut, studi Mohammed dan rekan di Ismailia, serta studi Shams dan El-Masry di Mansoura. Tim membaginya menjadi faktor pribadi, yakni status menikah, dan faktor terkait pekerjaan, seperti keinginan berhenti dan jam kerja panjang.
Di Assiut, keinginan berhenti bekerja tercatat pada 168 dari 230 residen. Depresi dilaporkan 165 residen, dan kekerasan fisik atau verbal di tempat kerja dialami 134 residen, atau 58 persen. Jam kerja panjang, 90 jam atau lebih per minggu, juga tercatat sebagai faktor risiko dalam studi yang sama.
Di Mansoura, studi terhadap residen anestesiologi mencatat stres kerja, tanpa definisi rinci, pada 30 dari 30 residen, atau 100 persen. Status menikah dilaporkan 84 dari 314 peserta, atau 27 persen, dari gabungan studi Fadle dan rekan serta studi Mohammed dan rekan.
Di Ismailia, studi Mohammed dan rekan pada 2014 mengukur depresi 84 residen Rumah Sakit Universitas Terusan Suez dengan skor Beck. Sebanyak 40 persen berada pada tingkat minimal, 17 persen ringan, 33 persen sedang, dan 10 persen berat. Dalam hitungan orang, 28 residen tercatat pada tingkat sedang dan 8 residen pada tingkat berat.
Wajib Militer dan Tangga Senioritas
Beberapa tekanan yang khas Mesir belum disentuh studi mana pun. Tim mencatat tidak ada studi dalam tinjauan mereka yang membahas pengaruh wajib militer terhadap burnout dokter laki-laki di awal karier. Di Mesir, sebagian besar laki-laki berusia 18 sampai 30 tahun diwajibkan undang-undang bertugas di militer hingga tiga tahun.
Menurut tim, masa dinas itu bisa memunculkan perasaan kurang mampu ketika para dokter kembali ke kariernya, karena mereka mungkin merasa kalah cakap dibanding rekan yang tidak bertugas. Wajib militer juga bisa menjadi penghalang untuk mendaftar studi pascasarjana, menjalani pelatihan spesialis, atau bersiap menghadapi ujian internasional.
Persoalan lain ada di dalam hierarki rumah sakit. Penyalahgunaan kuasa dalam jenjang kedokteran, menurut tim, umum ditemukan di banyak negara, tetapi di Mesir bentuknya khas. “Residen junior kerap menghadapi jam kerja yang sangat panjang, hingga 156 jam per minggu, jauh melampaui batas 80 jam di negara lain, disertai pelecehan verbal setiap hari dan hukuman karena tidak memenuhi harapan tertentu,” tulis Makram dan rekan (terjemahan).
Jauh dari Mesir, tim menyandingkan temuannya dengan tinjauan Rotenstein dan rekan atas 182 studi yang melibatkan 109.628 orang di 45 negara. Di sana burnout keseluruhan tercatat 67 persen, depersonalisasi 68 persen, kelelahan emosional 72 persen, dan berkurangnya rasa pencapaian pribadi 63 persen. Tinjauan itu tidak memisahkan analisis untuk dokter residen.
Di Kanada, studi Ferguson dan rekan mencatat burnout pada 70 persen residen. Tim lalu menulis dalam simpulannya, “dibandingkan dengan studi internasional, angka burnout di Mesir jelas lebih tinggi, sehingga menuntut penelitian lanjutan dan perubahan budaya dalam sistem layanan kesehatan untuk mengatasi akar penyebab burnout dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan secara keseluruhan.” Kalimat itu diterjemahkan dari naskah berbahasa Inggris.
Baca juga Pekerja Sif Malam Tak Teratur Lebih Sering Terkena Alergi Hidung
Celah di Sebelas Laporan
Tim mengakui sejumlah keterbatasan. Cara studi melaporkan hasil sangat beragam: lima studi tidak mencantumkan nilai ambang untuk menetapkan burnout, dan empat studi tidak melaporkan tingkatnya, seperti rendah, sedang, atau tinggi. Keragaman pelaporan itu, menurut tim, bisa membuat angka burnout terhitung lebih tinggi daripada yang sebenarnya.
Pengaruh pandemi COVID-19 juga kurang dilaporkan, dan tak satu pun studi menelaah perbedaan burnout menurut jenis kelamin. Populasinya bercampur antara residen, dokter umum, dan sampel dokter campuran. Sebagian wilayah kurang terwakili atau tidak terwakili sama sekali, seperti pesisir timur dan Semenanjung Sinai, sehingga temuan ini tidak bisa begitu saja diberlakukan lebih luas.
Dari sisi mutu, sembilan dari 11 studi, atau 82 persen, dinilai berkualitas cukup menurut alat penilaian NHLBI, satu dinilai buruk, dan satu baik. Hanya tujuh studi, atau 64 persen, yang melaporkan persetujuan etik, dan jumlah yang sama menyatakan memperoleh persetujuan peserta. Hanya dua naskah, atau 18 persen, yang tegas mengikuti Deklarasi Helsinki.
Rekam Medis Elektronik
Meski begitu, tim menilai kebutuhan akan pembenahan sistem tetap tak terbantahkan. Mereka mengusulkan program pelatihan spesialis yang terstandar, dengan mencontoh sistem residensi Amerika Serikat, jalur pelatihan terstruktur Inggris, atau kerangka Facharzt di Jerman. Kenaikan jenjang berdasarkan prestasi dan kebijakan untuk mencegah pelecehan juga dinilai perlu.
Usulan lainnya adalah membatasi jam kerja dan memberi dukungan karier bagi dokter yang kembali dari dinas militer. Tim juga mendorong pemerintah berinvestasi pada peralihan nasional ke rekam medis elektronik yang menyatukan layanan pemerintah dan swasta dalam satu sistem baku. Peralihan itu harus disertai pelatihan agar tidak justru menambah beban kerja.
Menurut tim, di banyak lembaga dan negara yang sudah memakai rekam medis elektronik, sistem itu menjadi beban tambahan karena dokter kadang harus mencatat pasien di kertas dan secara elektronik sekaligus. Tim juga menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar, definisi burnout yang disepakati, dan alat ukur yang baku, termasuk menelaah faktor risiko menurut jenjang pelatihan.
Dalam simpulannya, tim menyebut studi lanjutan masih dibutuhkan untuk memperoleh perkiraan angka burnout yang lebih baik dan memahami faktor risiko burnout pada dokter residen di Mesir.














