Murid Perempuan di Shiraz Iran Lebih Banyak Kena Kutu Rambut

A A

Ilustrasi sisir kutu plastik putih bergigi sangat rapat di atas kain abu-abu gelap [Foto: Whispyhistory/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Kutu rambut ditemukan pada 67 dari 367 murid sekolah dasar di Shiraz, Iran, atau 18,25 persen.
  • Sebanyak 45 dari 139 murid perempuan positif, atau 32,37 persen, sedangkan murid laki-laki 9,6 persen.
  • Puncaknya ada pada usia sepuluh tahun, ketika 10 dari 22 murid positif atau 45,46 persen.
  • Anak yang menyisir tiga kali atau lebih sehari mencatat angka terendah, yakni 1,42 persen.
Daftar Isi
  1. September 2023: Dua Belas Sekolah di Shiraz
  2. Maret 2024: 67 Anak Positif, Kebanyakan Perempuan
  3. Usia Sepuluh Tahun, Titik Tertinggi
  4. Rambut Panjang, Sisir, dan Rasa Gatal
  5. Yang Tidak Terbukti Berkaitan
  6. 2026: Catatan Batas dan Saran Tim

September 2023, sebuah tim kesehatan mulai memeriksa kepala murid sekolah dasar di Shiraz, Iran. Pemeriksaan itu berlangsung sampai Maret 2024. Hasilnya, kutu rambut ditemukan pada 67 dari 367 murid yang diperiksa, atau 18,25 persen.

Laporan pemeriksaan itu disusun Saeed Shahabi dan rekan dari Departemen Biologi dan Pengendalian Vektor Penyakit, Fakultas Kesehatan, Universitas Ilmu Kedokteran Shiraz. Judulnya Prevalence of head lice infestation and its associated factors in primary school students in Shiraz City, Fars Province, Iran. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026. Tim beranggotakan sembilan peneliti. Penulis korespondensinya Azim Paksa, dari departemen yang sama di Shiraz. Satu anggota lain, Abbas Paksa, berasal dari Departemen Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Azad cabang Tabriz.

September 2023: Dua Belas Sekolah di Shiraz

Pekerjaan dimulai dari daftar resmi sekolah milik Dinas Pendidikan Shiraz. Dari daftar itu, dua belas sekolah dasar negeri di wilayah kota dipilih secara acak. Murid di sekolah-sekolah tersebut berusia 7 sampai 12 tahun, mencakup semua tingkat kelas.

Pemilihan murid dilakukan bertahap. Sekolah lebih dulu dipilih, lalu kelas di tiap sekolah, lalu murid dari setiap tingkat secara proporsional. Tim beralasan anak-anak berkumpul alami di dalam kelas, dan kutu rambut terutama berpindah lewat kontak dekat.

Jumlah akhirnya 367 murid. Sebanyak 228 di antaranya laki-laki dan 139 perempuan. Dari sisi kewarganegaraan, 210 murid berkewarganegaraan Iran dan 157 murid berkewarganegaraan Afganistan. Sebelum pemeriksaan, orang tua atau wali memberi persetujuan tertulis. Anak-anak sendiri memberi persetujuan lisan. Keikutsertaan bersifat sukarela, dan identitas peserta dirahasiakan.

Baca juga Game Online dan Kebugaran Jasmani 37 Siswa SD Tak Signifikan

Pemeriksaan dikerjakan tim terlatih. Anggotanya petugas kesehatan dan seorang entomolog medis. Setiap anak menjalani pemeriksaan kulit kepala dan rambut selama tiga sampai lima menit, di bawah penerangan yang cukup.

Bila ada dugaan kutu, langkah kedua menyusul. Rambut anak disisir dengan sisir kutu bergigi rapat selama lima sampai tujuh menit. Penyisiran dilakukan di atas selembar kertas putih berukuran 60 kali 75 sentimeter. Tim mencatat kutu pada semua tahap hidupnya. Telur atau nit, nimfa, dan kutu dewasa masuk catatan. Seorang anak dinyatakan positif bila ditemukan sedikitnya satu kutu hidup, atau satu telur hidup yang berjarak tidak lebih dari 0,5 sentimeter dari kulit kepala.

Selain memeriksa kepala, tim mencatat banyak hal tentang tiap anak. Di antaranya usia, jenis kelamin, besar keluarga, pendidikan orang tua, jenis rumah, kebiasaan keramas, kebiasaan menyisir, panjang rambut, rasa gatal, dan kebiasaan berbagi sisir atau kerudung.

Maret 2024: 67 Anak Positif, Kebanyakan Perempuan

Ketika pemeriksaan selesai, angkanya terkumpul. Dari 367 murid, 67 anak positif kutu rambut. Itu berarti 18,25 persen. Sebarannya tidak merata antara laki-laki dan perempuan. Pada tabel pertama laporan, 45 dari 139 murid perempuan positif, atau 32,37 persen. Pada murid laki-laki, 22 dari 228 anak positif, atau 9,6 persen.

Selisih itu bermakna secara statistik. Nilai p yang tercatat di tabel 0,0000013. Tim menyebut jenis kelamin sebagai salah satu faktor risiko yang menonjol dalam penelitian ini. Angka keseluruhan itu juga dibandingkan tim dengan kota lain di Iran. Angka di Shiraz lebih tinggi daripada laporan dari Paveh 8 persen, Khajeh 4,8 persen, Damghan 3,6 persen, dan Qom 7,6 persen. Laporan dari Sirjan mencatat 1,12 persen.

Menurut tim, perbedaan antarprovinsi itu bisa mencerminkan perbedaan komposisi penduduk, status sosial ekonomi, kebiasaan kebersihan, dan program kesehatan sekolah. Tim juga mencatat bahwa sebagian besar penelitian di Iran berfokus di provinsi utara dan tengah, sementara data dari wilayah selatan seperti Fars masih sedikit.

Usia 10 tahun paling banyak kena kutu rambutUsia 7 tahun 14,28; Usia 8 tahun 14,9; Usia 9 tahun 22,3; Usia 10 tahun 45,46; Usia 11 tahun 23,52; Usia 12 tahun 7,69.Usia 10 tahun paling banyak kena kutu rambutPersentase murid yang kutuan menurut usia, 367 murid SD diShiraz, 2023-2024 (persen)01020304050Usia 7 tahun14,28Usia 8 tahun14,9Usia 9 tahun22,3Usia 10 tahun45,46Usia 11 tahun23,52Usia 12 tahun7,69Usia 10 tahun: 10 dari 22 murid; usia 12 tahun: 1 dari 32 murid
Sumber: Saeed Shahabi dan rekan, Prevalence of head lice infestation and its associated factors in primary school students in Shiraz City, Fars Province, Iran, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Usia Sepuluh Tahun, Titik Tertinggi

Usia juga berkaitan bermakna dengan kutu rambut, dengan nilai p 0,000012. Pada murid berusia tujuh tahun, 9 dari 63 anak positif, atau 14,28 persen. Pada usia delapan tahun angkanya 14,9 persen, dan pada usia sembilan tahun naik menjadi 22,3 persen.

Puncaknya ada pada usia sepuluh tahun. Sebanyak 10 dari 22 murid usia itu positif, atau 45,46 persen. Sesudahnya angka turun lagi, menjadi 23,52 persen pada usia sebelas tahun dan 7,69 persen pada usia dua belas tahun.

Tim menawarkan penjelasan dari penelitian terdahulu. Pada usia itu anak mulai mengurus kebersihan dirinya sendiri, tetapi rutinitasnya sering belum memadai. Keramas dan menyisir pun menjadi tidak teratur. Anak seusia itu juga lebih sering bermain berkelompok dan ikut kegiatan kelas yang melibatkan kontak dekat. Rambut yang lebih panjang pada kelompok usia ini, menurut tim, membuat kutu dan telurnya lebih sulit terlihat.

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Rambut Panjang, Sisir, dan Rasa Gatal

Panjang rambut tercatat berkaitan bermakna dengan kutu. Pada murid berambut panjang, 31 dari 100 anak positif, atau 31 persen. Pada murid berambut pendek, 36 dari 267 anak positif, atau 13,48 persen.

Tim mengajukan tiga penjelasan. Rambut panjang memberi permukaan lebih luas bagi kutu untuk bergerak dan bertelur. Kutu dan telurnya juga lebih sulit ditemukan dan dibuang, sementara rambut yang kusut memudahkan telur melekat.

Kebiasaan menyisir menunjukkan kaitan yang kuat. Pada anak yang menyisir sekali sehari, 48 dari 181 anak positif, atau 26,51 persen. Pada anak yang menyisir dua kali sehari, angkanya 20,51 persen.

Angka terendah ada pada anak yang menyisir tiga kali atau lebih sehari, yakni 1,42 persen. Tim membaca pola ini sebagai tanda bahwa menyisir sering dapat melindungi, karena kutu dan telurnya terbuang secara mekanis.

Ada satu kelompok yang menyimpang. Anak yang tidak menyisir sama sekali hanya 5,35 persen positif, lebih rendah daripada yang menyisir sekali sehari. Tim tidak menganggapnya sebagai temuan biologis. “Hubungan berbentuk U yang tampak ini kecil kemungkinannya mencerminkan efek biologis yang sebenarnya, melainkan artefak statistik,” tulis Shahabi dan rekan (terjemahan). Penyebabnya, menurut mereka, kemungkinan ukuran sampel kecil pada kelompok yang tidak menyisir dan faktor perancu yang tidak terkendali.

Kutu rambut menurut berapa kali menyisir sehariTidak menyisir: Persentase kutuan 5,35; Sekali sehari: Persentase kutuan 26,51; Dua kali sehari: Persentase kutuan 20,51; Tiga kali atau lebih sehari: Persentase kutuan 1,42.Kutu rambut menurut berapa kali menyisirsehariPersentase murid yang kutuan menurut frekuensi menyisirper hari, 367 murid SD di Shiraz (persen)1020300Tidak menyisir5,35Sekali sehari26,51Dua kali sehari20,51Tiga kali atau lebih sehari1,42Jumlah murid: 112, 181, 39, dan 35; tim menilai angka rendahkelompok tidak menyisir kemungkinan artefak statistik
Sumber: Saeed Shahabi dan rekan, Prevalence of head lice infestation and its associated factors in primary school students in Shiraz City, Fars Province, Iran, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rasa gatal juga berkaitan bermakna. Pada anak yang mengaku gatal, 48 dari 157 anak positif, atau 30,57 persen. Pada anak yang tidak gatal, 19 dari 210 anak positif, atau 9,04 persen. Letak gatal ikut dicatat. Angka tertinggi ada pada anak yang gatal di belakang telinga, 35,48 persen, dan di belakang kepala, 35,08 persen. Gatal menyeluruh mencatat 22,22 persen. Pada kelompok yang tidak menyebut letak gatal, 16 dari 204 anak positif, atau 7,84 persen.

Yang Tidak Terbukti Berkaitan

Sejumlah faktor tidak menunjukkan kaitan bermakna. Kebiasaan keramas salah satunya. Pada anak yang keramas sekali seminggu, 47 dari 275 anak positif, atau 17,09 persen, dan perbedaan antarkelompok keramas tidak bermakna.

Tim mengaitkannya dengan sifat telur kutu. Menurut penelitian terdahulu yang mereka kutip, kutu dapat bertahan dari keramas rutin karena telurnya melekat kuat pada batang rambut.

Jenis rumah juga tidak berkaitan bermakna. Angkanya 17,17 persen pada anak yang tinggal di rumah berdinding keramik dan 28,94 persen pada rumah berdinding plester. Tiga anak yang tinggal di rumah lumpur tidak satu pun positif. Kewarganegaraan pun tidak berkaitan bermakna. Pada murid berkewarganegaraan Iran angkanya 16,66 persen, sedangkan pada murid berkewarganegaraan Afganistan 20,38 persen. Tim merujuk bukti internasional bahwa kewarganegaraan itu sendiri bukan penentu, sedangkan kondisi tempat tinggal dan kebiasaan kebersihan lebih penting.

Pendidikan ayah dan ibu tidak berkaitan bermakna. Begitu pula kebiasaan berbagi sisir atau kerudung, riwayat kutuan sebelumnya, dan pemakaian obat. Untuk berbagi barang, tim menegaskan bahwa kontak kepala ke kepala tetap jalur penularan utama.

Untuk besar keluarga, dua uji memberi hasil berbeda. Pada keluarga beranggota tiga orang atau kurang, 20,83 persen anak positif, dan pada keluarga yang lebih besar 18,07 persen. Uji keseluruhan tidak bermakna dengan nilai p 0,053, tetapi uji tren linear bermakna dengan nilai p 0,005.

Baca juga Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi

2026: Catatan Batas dan Saran Tim

Tim meminta hasil soal besar keluarga dibaca hati-hati. Jumlah anak di beberapa subkelompok terbatas. Dalam bagian metode, tim juga menyatakan bahwa kekuatan statistik untuk membandingkan subkelompok terbatas, dan hal itu diakui sebagai keterbatasan penelitian. Simpulan mereka tetap tegas soal besarnya masalah. “Infestasi kutu rambut tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang relevan di kalangan anak sekolah di Shiraz,” tulis tim (terjemahan).

Tim menyarankan pemantauan berbasis sekolah dan pendidikan kesehatan bagi murid serta orang tua. Pesan yang mereka tekankan adalah menyisir secara teratur, mengenali gatal di belakang kepala dan belakang telinga sejak dini, serta memakai obat kutu dengan benar.

Protokol pengobatan, menurut tim, perlu terus dipantau dan diperbarui karena ada potensi resistansi obat. Anak-anak yang positif dalam pemeriksaan itu diberi tahu lewat orang tua mereka dan mendapat rekomendasi pengobatan. Catatan terakhirnya terbit pada 2026.

Bagikan

Baca Juga

Lebih dari Separuh Pendonor Darah di Damaskus Mengaku Merokok
Ekonomi Digital Kota Tiongkok Sejalan dengan Rasa Sehat Warganya
Hampir Separuh Pengguna Vape di Negara Arab Pernah Coba Berhenti
Rumah Jauh dari Titik Kumpul Sampah di Mbale Lebih Banyak Diare
Proyeksi: Harga Minimum Alkohol Naik, Kematian Skotlandia Turun
Pasien HIV RS Jakarta yang Pernah Alami Efek Samping Lebih Patuh