Pesan Makanan Lewat Aplikasi di Belgia Hemat Tenaga, Bukan Waktu

A A

Ilustrasi pria bersepeda membawa ransel kotak pengantar makanan di trotoar depan gedung kantor [Foto: Pexels]

  • Peneliti mewawancarai 29 orang dewasa pemesan makanan lewat aplikasi di wilayah Flandria dan Brussel, Belgia.
  • Memesan daring tidak selalu lebih cepat daripada memasak sampai makanan siap disantap.
  • Bagi peserta, banyaknya jenis masakan lebih penting daripada jumlah mutlak restoran di aplikasi.
  • Pada hari sebelum dan sesudah memesan, peserta memasak makanan lebih sehat, makan lebih sedikit, dan menambah olahraga.
Daftar Isi
  1. Circumstances Compound, Alasan yang Menumpuk Menjelang Makan Malam
  2. Experiences Inform Expectations, Pengalaman yang Membentuk Harapan
  3. The Influence of Expanded Food Access, Banyak Restoran tetapi Pilihannya Itu-Itu Saja
  4. Prioritising Value for Money, Berhitung agar Uang Tetap Sepadan
  5. Reallocation of Time and Effort, Hemat Tenaga, Bukan Hemat Waktu
  6. Aligning Personal Motivations with Online Ordering, Menyelaraskan Niat Hidup Sehat

Istilah akademisnya platform pesan antar makanan, tetapi bagi 29 orang dewasa yang diwawancarai di Belgia artinya lebih sederhana: jalan keluar ketika terlalu letih untuk memasak. Mereka memakai aplikasi semacam Uber Eats bukan terutama untuk mengejar waktu. Yang mereka hemat, menurut para peneliti, adalah tenaga.

Temuan itu ditulis Matthew Keeble dari Departemen Pemasaran, Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Antwerpen, dan rekan dalam artikel Meal delivery platform use in adults living in Belgium: a qualitative investigation into motivations for and experiences of ordering online di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keeble menemui sendiri setiap peserta di tempat umum seperti kedai kopi antara November 2024 dan Maret 2025. Mereka tinggal di Flandria dan Brussel, 15 di antaranya laki-laki, berusia 19 sampai 69 tahun dengan median 37 tahun.

Layanan ini tumbuh cepat. Mengutip data Statista, paper mencatat penggunanya di seluruh dunia 2,1 miliar orang pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 2,5 miliar pada 2030, sekitar 12 persen di antaranya di Eropa. WHO kawasan Eropa sudah menyuarakan keprihatinan, sebab sebagian besar makanan yang dijual padat energi tetapi miskin gizi.

Circumstances Compound, Alasan yang Menumpuk Menjelang Makan Malam

Tema pertama dinamai para peneliti circumstances compound, kira-kira keadaan yang saling menumpuk. Menjelang makan malam, peserta menimbang bahan yang tersisa di rumah, suasana hati, keinginan menyantap sesuatu, dan seberapa lelah mereka, dengan memperhitungkan apa yang sudah dimakan hari itu dan hari-hari sebelumnya.

Hasil timbangan itu sering bermuara pada satu perasaan, yaitu malas memasak. Dalam keadaan begitu, memesan lewat aplikasi menggantikan memasak di rumah, kebiasaan bawaan untuk makan malam, sekaligus menggantikan datang langsung ke restoran atau kedai bawa pulang. Seorang laki-laki berusia 37 tahun menuturkan, memasak sebenarnya tidak butuh banyak tenaga, tetapi setelah hari yang sangat sibuk, memesan daring terdengar sebagai pilihan yang lebih baik.

Aplikasi lebih sering dipakai antara Jumat dan Minggu, ketika makanan siap santap dianggap hadiah karena sudah melewati sepekan kerja. Meski begitu, lelah atau stres yang berlebihan bisa memicu pesanan mendadak pada hari apa pun. Seorang perempuan berusia 28 tahun bercerita, pada hari kerja ia memesan ketika sangat lelah dan ingin langsung makan lalu bersantai, sedangkan pada akhir pekan alasannya lebih karena malas keluar rumah.

Cuaca ikut menimbang. Bulan-bulan berhari pendek di Belgia, dari November sampai Maret, ditambah hujan dan dingin, menambah rasa malas berangkat ke pasar swalayan atau restoran. Seorang laki-laki berusia 49 tahun mengatakan hujan deras atau udara beku bisa menjadi faktor penentu, sedangkan pada musim panas orang lebih sering keluar dan lebih jarang memakai aplikasi.

Baca juga Gerai Cepat Saji Perth Tetap Dibangun Meski 168 Keberatan Warga

Experiences Inform Expectations, Pengalaman yang Membentuk Harapan

Dari letih sampai pesanan tibaBagan alur menurut tema penelitian: kelelahan karena kerja serta cuaca hujan dan dingin membuat peserta malas memasak, mereka lalu memesan lewat aplikasi yang hanya butuh tenaga minim, dan waktu yang biasanya dipakai memasak digunakan untuk bersantai atau tidak melakukan apa-apa.Dari letih sampai pesanan tibaAlur menurut tema penelitian, 29 peserta di BelgiaLelah dancuacalelah kerja,hujan, dinginMalasmemasakmemasak takmenarikPesan lewataplikasiminim tenagaSantaiwaktu masakjadi luang
Sumber: Matthew Keeble dan rekan, Meal delivery platform use in adults living in Belgium: a qualitative investigation into motivations for and experiences of ordering online, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tema kedua, experiences inform expectations, berarti pengalaman memesan membentuk harapan pada pesanan berikutnya. Seberapa pun sering mereka memakai aplikasi, para peserta sama-sama berharap memesan tidak menguras tenaga. Data pembayaran, alamat antar, dan riwayat pesanan yang tersimpan di satu aplikasi memberikan kemudahan yang mereka cari.

Mencoba beberapa aplikasi membuat peserta mengenal fitur pembeda, seperti ketepatan perkiraan waktu antar dan pelacakan posisi pengemudi secara langsung. Namun, pemesanan yang terlalu mulus juga membuat pesanan spontan dan impulsif terlalu gampang. Perempuan berusia 28 tahun tadi menggambarkan, dalam kira-kira lima menit pesanan sudah jadi: membuka aplikasi, menekan tombol setuju, lalu uangnya pergi, kadang tanpa benar-benar dipikirkan.

Karena makan malam biasanya dimasak di rumah, memesan lewat aplikasi dipandang sebagai pengecualian, dan makanan sehat jarang dicari. Makanan tinggi kalori, garam, dan lemak justru memberi rasa nyaman, terutama saat letih. Seorang perempuan berusia 50 tahun menyebut pesanannya jelas makanan cepat saji yang tidak ia harapkan bergizi, dan karena itulah ia menganggapnya istimewa, bukan menu sehari-hari.

Pandangan ini berbeda menurut seberapa sering seseorang memesan. Peserta yang memesan setiap minggu atau dua minggu sekali mengaku tidak otomatis memilih makanan sampah. Mereka sengaja memilih yang dianggap lebih sehat atau yang tidak mereka masak di rumah. Sebaliknya, yang jarang memesan tampak ingin merayakan momen langka itu dengan makanan yang sangat tidak sehat, seperti burger berminyak dan kentang goreng yang disebut seorang perempuan berusia 30 tahun.

The Influence of Expanded Food Access, Banyak Restoran tetapi Pilihannya Itu-Itu Saja

Tema ketiga, the influence of expanded food access, membahas pengaruh akses makanan yang meluas. Para peserta sepakat aplikasi membuka akses ke restoran dan kedai bawa pulang dalam jumlah yang terasa luar biasa banyak, dan jumlah itu bertambah selama pandemi COVID-19. Namun, jumlah itu bukan pemicu awal untuk memesan dan tidak selalu mengubah restoran yang dipilih, sebab restoran yang terlalu jauh butuh waktu lama untuk mengantar sehingga makanan tiba dalam keadaan dingin.

Yang lebih penting bagi peserta adalah banyaknya jenis masakan, karena keputusan mau makan apa sering sudah diambil sebelum aplikasi dibuka. Seorang perempuan berusia 21 tahun menyebut bisa ada dua puluh restoran yang buka, tetapi pilihannya pada dasarnya kebab atau pizza. Laki-laki berusia 37 tahun yang lelah memasak tadi bercerita aplikasinya menampilkan 37 tempat, tetapi ketika digulir isinya pizza, sushi, lalu kebab, kebab lagi, dan kebab lagi.

Baca juga Warga Ceko Memilih Makanan dari Rasa dan Harga, Bukan Lingkungan

Prioritising Value for Money, Berhitung agar Uang Tetap Sepadan

Tema keempat, prioritising value for money, berarti mendahulukan nilai yang sepadan dengan uang. Biaya selalu muncul dalam percakapan, dan harga makanan serta ongkos kirim disebut sebagai penghalang untuk memesan lebih sering. Biaya pesanan daring lebih banyak dibandingkan dengan memasak sendiri, bukan dengan makan di restoran. Peserta mengakui pesan antar lebih mahal, tetapi membayar lebih supaya tidak perlu mengeluarkan tenaga dianggap sepadan.

Kesediaan membayar itu tidak membuat mereka berhenti berhemat. Seorang perempuan berusia 32 tahun memeriksa semua aplikasi, melihat voucer yang kadang ada di salah satunya, lalu membandingkan ongkos kirim. Cara lain adalah membeli porsi tambahan untuk beberapa hari agar ongkos kirim satu pesanan terasa lebih ringan. Seorang perempuan berusia 38 tahun yang tinggal sendiri menyebut adanya batas minimum pesanan membuatnya memesan untuk beberapa kali makan.

Reallocation of Time and Effort, Hemat Tenaga, Bukan Hemat Waktu

Tema kelima, reallocation of time and effort, berarti memindahkan waktu dan tenaga ke urusan lain. Peserta selalu membandingkan waktu memesan dengan waktu menyiapkan bahan lalu mencuci piring sesudah makan. Hasilnya, memesan daring tidak selalu dianggap lebih cepat daripada memasak sampai makanan siap disantap.

Yang berubah adalah sebagian waktu menjadi bebas dipakai, dan penggunaannya bergantung pada alasan awal memesan. Saat mengejar tenggat dan tidak sempat memasak, waktu menunggu kurir dipakai untuk terus bekerja. Saat terlalu malas keluar karena lelah atau cuaca buruk, waktu itu dipakai untuk tidak melakukan apa-apa atau sekadar menggulir layar.

Seorang perempuan berusia 48 tahun mengaku ingin sekali bilang bahwa ia akan produktif, tetapi kenyataannya ia sama sekali tidak melakukan apa pun. Seorang laki-laki berusia 37 tahun lainnya mengatakan secara teknis ia bisa mengerjakan tugas rumah, tetapi semuanya bagian dari pola pikir yang sama, yaitu ingin nyaman dan santai.

Keeble dan rekan merangkumnya dalam tabel ringkasan tema, “Platform pesan antar makanan mungkin lebih tepat dipandang sebagai ‘penghemat tenaga’ ketimbang ‘penghemat waktu’,” sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris. Di bagian pembahasan, mereka menyebut temuan ini menantang anggapan bahwa pesan antar lebih cepat daripada memasak di rumah. Terbatasnya tenaga mental tampaknya menjadi penghalang penting untuk memasak, sekaligus pendorong memakai aplikasi agar tidak perlu mengeluarkan tenaga.

Baca juga Makan di Luar Rumah di Ghana, Lulusan Kejuruan Paling Jarang

Aligning Personal Motivations with Online Ordering, Menyelaraskan Niat Hidup Sehat

Tema terakhir, aligning personal motivations with online ordering, artinya menyelaraskan niat pribadi dengan kebiasaan memesan. Banyak peserta berpendapat sulit sering memesan makanan jadi sambil tetap mengejar target pola makan dan kesehatan. Mereka meyakini aplikasi mendorong pembelian makanan sampah dengan menampilkannya secara mencolok dan membuatnya lebih murah daripada pilihan yang lebih sehat.

Seorang laki-laki berusia 32 tahun mengaku memesan antar berarti ia mungkin makan dengan buruk, lalu merasa harus makan lebih sehat sepanjang sisa minggu. Apa pun jenis kelamin dan seberapa sering mereka memesan, pada hari sebelum dan sesudah memesan peserta memasak makanan lebih sehat, makan lebih sedikit, dan menambah olahraga, ada yang dengan sadar dan ada yang tanpa disadari.

Ada pula yang mengurangi pesanan karena alasan uang. Seorang laki-laki berusia 25 tahun mencatat semua pesanannya di lembar kerja dan mendapati jumlahnya sekitar 300 euro dalam sebulan. Sejak itu ia menahan diri dan lebih sering pergi ke toko, karena menurutnya makanan beku pun lebih baik daripada menghabiskan uang sebanyak itu.

Para orang tua berusaha agar aplikasi tidak menjadi kebiasaan, pertama demi kesehatan dan kedua karena khawatir anak kehilangan pengetahuan dan keterampilan memasak. Seorang ayah berusia 46 tahun mengatakan tidak akan membiarkan anaknya makan burger keju empat atau lima kali sebulan. Ia ingin mengajari mereka bahwa keluarganya memasak sendiri.

Karena pesanan daring tampaknya menggantikan, bukan menambah, cara lama membeli makanan jadi, para peneliti menyebut konsumsi makanan semacam itu secara keseluruhan mungkin tidak berubah. Menurut mereka, belum bisa ditentukan apakah aplikasi pesan antar merugikan pola makan dan kesehatan dengan cara yang khas.

Peserta wawancara dijaring dari survei daring tim yang sama pada April sampai Juli 2024, yang diisi 1.304 orang dewasa. Dari 249 responden yang bersedia dihubungi, 197 punya pengalaman memesan dan 86 diundang lewat surel. Sebanyak 26 orang bersedia ikut, ditambah 3 orang lewat rekomendasi peserta lain.

Dari 1.304 pengisi survei ke 29 wawancaraMengisi survei daring 1.304; Bersedia dihubungi 249; Pernah memesan 197; Diundang lewat surel 86; Diwawancarai 29.Dari 1.304 pengisi survei ke 29 wawancaraJumlah orang dewasa di tiap tahap, Flandria dan Brussel03507001.0501.400Mengisi survei daring1.304Bersedia dihubungi249Pernah memesan197Diundang lewat surel86Diwawancarai29Tiga dari 29 peserta direkrut lewat rekomendasi peserta lain
Sumber: Matthew Keeble dan rekan, Meal delivery platform use in adults living in Belgium: a qualitative investigation into motivations for and experiences of ordering online, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para peserta kebanyakan lulusan universitas dan bekerja, dan tidak ada yang mobilitasnya terbatas, sehingga orang dewasa dengan latar berbeda mungkin memesan karena alasan lain. Wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris, yang bukan bahasa ibu semua peserta, meski mereka menyatakan nyaman berbicara dalam bahasa itu. Yang diteliti pun hanya makanan siap santap, bukan layanan antar bahan segar, makanan yang perlu dipanaskan, atau paket bahan masak.

Para peneliti memperkirakan pemakaian aplikasi pesan antar akan terus naik, tetapi kenaikannya dibatasi cita-cita memasak sendiri dan kesadaran bahwa makanan jadi tidak mendukung pola makan sehat. Mereka menilai penelitian berikutnya perlu menjangkau orang dewasa berlatar sosial beragam serta remaja, kelompok yang menurut paper mulai disasar layanan seperti Uber Eats for teens.

Bagikan

Baca Juga

Kematian Terkait Panas di Oslo Diprediksi Naik hingga Akhir Abad
Murid SD Portugal Sering Cuci Tangan, Tak Selalu Saat Masuk Kelas
Kurang dari Separuh Karyawan Polandia Dapat Program Sehat Kantor
Biaya Stroke Hungaria Bisa Turun 99 Juta Euro Tanpa Kegemukan
Yunani Larang Anak di Bawah 15 Tahun Pakai Media Sosial
Angka Kelahiran Negara Maju Makin Mirip, Eropa Timur Malah Naik