- Sebanyak 63,7 persen responden memilih rasa sebagai alasan memilih makanan, hampir dua dari tiga orang.
- Harga dan keterjangkauan disebut 37,6 persen responden, sedikit di atas pertimbangan kesehatan yang dipilih 31,5 persen.
- Rumah tangga berpenghasilan di bawah 1.200 euro berpeluang 3,42 kali menunjuk harga dibanding kelompok di atas 2.500 euro.
- Dampak bagi lingkungan hanya ditunjuk 2,5 persen responden dan tidak berubah mengikuti jenis kelamin, usia, pendidikan, ataupun pendapatan.
Daftar Isi
Tujuh alasan tertulis dalam satu daftar: tampilan, rasa, nilai gizi, pertimbangan kesehatan, harga, mutu bahan, dan dampak bagi lingkungan. Daftar itu dibawa 207 pewawancara ke berbagai penjuru Republik Ceko, dari Praha, Bohemia, sampai Moravia dan Silesia. Setiap orang yang ditemui diminta menunjuk paling banyak tiga alasan yang paling ia pegang ketika memilih makanan.
Jawaban dari 1.803 warga berusia 15 tahun ke atas itu dihimpun Monika Kunzová dan Leona Mužíková dari Masaryk University di Brno. Keduanya menuliskannya dalam What drives food choices? Sociodemographic predictors in a representative Czech population sample, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1227 tahun 2026.
Daftar yang sama ternyata dibaca dengan cara berbeda oleh orang yang berbeda. Laki-laki dan perempuan tidak menunjuk butir yang sama. Lulusan sekolah kejuruan dan lulusan perguruan tinggi pun tidak, begitu juga rumah tangga yang penghasilannya di bawah 1.200 euro sebulan dan yang di atas 2.500 euro.
Lidah dan Dompet
Butir yang paling sering ditunjuk adalah rasa. Sebanyak 63,7 persen responden memilihnya, hampir dua dari tiga orang. Tidak ada alasan lain yang mendekati angka itu, dan di semua kelompok usia rasa tetap menempati tempat yang kurang lebih sama. Sesudah lidah, giliran dompet. Harga dan keterjangkauan disebut 37,6 persen responden, sedikit di atas pertimbangan kesehatan yang dipilih 31,5 persen. Mutu bahan menyusul rapat dengan 30,6 persen. Tiga alasan ini berada dalam rentang yang sempit, masing-masing dipegang kira-kira sepertiga orang yang ditanyai.
Dua butir berikutnya lebih jarang ditunjuk. Nilai gizi dipilih 23,3 persen responden dan tampilan makanan 21,0 persen, masing-masing sekitar satu dari lima orang. Lalu ada butir ketujuh, dampak bagi lingkungan, yang hanya ditunjuk 2,5 persen. Dari setiap 40 orang yang ditanyai, kira-kira satu yang menyebutnya.
Kedua penulis membaca urutan itu sebagai tanda bahwa orang memilih makanan terutama dengan pertimbangan yang dekat dan terasa langsung. Enak atau tidak, terbeli atau tidak, baik untuk badan atau tidak. Pertimbangan yang lebih jauh dari meja makan, menurut mereka, belum tertanam kuat dalam keputusan sehari-hari.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Piring Laki-laki dan Perempuan
Dari daftar itu, laki-laki lebih sering menunjuk rasa. Perempuan lebih sering menunjuk nilai gizi, pertimbangan kesehatan, harga, dan mutu bahan. Untuk dua butir lain, tampilan dan lingkungan, hitungan awal tidak menemukan beda antara keduanya.
Gambarnya sedikit bergeser ketika usia, pendidikan, dan pendapatan ikut diperhitungkan sekaligus. Peluang perempuan menunjuk rasa tinggal 0,52 kali peluang laki-laki, dan untuk tampilan 0,59 kali. Sebaliknya, keunggulan perempuan pada gizi, kesehatan, dan harga tidak lagi cukup kuat untuk disebut bermakna.
Naskah itu berhati-hati menafsirkan beda tersebut. Pilihan makanan perempuan, tulis keduanya, lebih sering dibentuk oleh harapan soal kesehatan dan tubuh yang sudah terinternalisasi, sedangkan keputusan laki-laki lebih menekankan kepuasan indrawi. Mereka menolak membacanya sebagai bawaan lahir.
“Perbedaan ini tidak semestinya ditafsirkan sebagai sesuatu yang ditentukan secara biologis, melainkan sebagai bentukan sosial, yang lahir dari proses sosialisasi berbasis gender, harapan budaya, serta perbedaan pengetahuan dan tanggung jawab terkait gizi,” tulis Monika Kunzová dan Leona Mužíková dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Piring yang berbeda, dengan kata lain, mereka kaitkan dengan peran yang berbeda.
Ijazah dan Rak Belanja
Pendidikan membelah daftar itu lebih tajam daripada jenis kelamin. Responden berpendidikan lebih rendah lebih sering menunjuk rasa, tampilan, dan harga. Responden berpendidikan tinggi lebih sering menunjuk nilai gizi dan mutu bahan. Dua kelompok ini seolah berdiri di depan rak yang sama dengan pertanyaan yang berlainan.
Jarak paling lebar terlihat pada lulusan sekolah menengah kejuruan, yang jumlahnya 28,3 persen dari seluruh responden. Dibanding lulusan perguruan tinggi, peluang mereka menunjuk rasa mencapai 4,06 kali dan tampilan 2,69 kali. Untuk harga, peluangnya 2,93 kali. Arah sebaliknya muncul pada dua butir yang menuntut orang membaca isi makanannya. Peluang lulusan kejuruan menunjuk nilai gizi dan mutu bahan masing-masing hanya 0,48 kali peluang lulusan perguruan tinggi. Pada responden berpendidikan dasar angkanya serupa, yakni 0,49 kali untuk gizi dan 0,44 kali untuk mutu bahan.
Kedua penulis menduga pendidikan menambah pengetahuan gizi, kecakapan memahami informasi kesehatan, dan rasa mampu mengambil keputusan soal makanan. Mereka tidak mengukur ketiga hal itu secara langsung. Dugaan tersebut disandarkan pada kajian lain yang mereka rujuk, bukan pada jawaban para responden.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Dompet di Bawah 1.200 Euro
Hampir seperempat responden, tepatnya 23,2 persen, hidup di rumah tangga berpenghasilan di bawah 1.200 euro sebulan. Di kelompok inilah butir harga paling sering ditunjuk. Peluangnya 3,42 kali dibanding rumah tangga berpenghasilan di atas 2.500 euro, angka terbesar kedua di seluruh tabel hasil.
Kelompok tengah, dengan penghasilan 1.200–2.500 euro, mencakup separuh lebih responden. Peluang mereka menunjuk harga masih 2,09 kali kelompok teratas. Makin tipis dompet, makin sering harga masuk ke dalam tiga alasan utama, dan polanya turun bertingkat mengikuti penghasilan.
Ada satu temuan yang tidak sejalan dengan dugaan umum. Rumah tangga berpenghasilan terendah juga lebih sering menunjuk pertimbangan kesehatan, dengan peluang 1,96 kali kelompok teratas. Harga dan kesehatan, dua butir yang kerap dianggap bertolak belakang, justru sama-sama menonjol di kelompok yang sama.
Untuk rasa, tampilan, nilai gizi, dan mutu bahan, besar penghasilan tidak membedakan jawaban secara bermakna setelah pendidikan ikut dihitung. Yang membelah pilihan pada butir-butir itu adalah ijazah, bukan dompet. Pendapatan, dalam naskah ini, terutama berbicara lewat satu butir saja, yaitu harga.
Keduanya mengaitkan pola ini dengan riwayat kawasan. Setelah pasar dibuka pada 1990-an, tulis mereka, makanan ultra-olahan yang murah cepat merambah Eropa Tengah dan Timur, sementara kesenjangan sosial melebar. Keadaan itu mereka sebut turut menyumbang naiknya beban obesitas, diabetes, dan penyakit tidak menular lain di kawasan tersebut.
Butir Ketujuh
Butir terakhir dalam daftar, dampak bagi lingkungan, hampir tidak tersentuh. Hanya 2,5 persen responden menunjuknya. Berbeda dengan enam butir lain, angka kecil itu tidak berubah mengikuti jenis kelamin, usia, pendidikan, ataupun pendapatan. Tidak satu pun kelompok yang tampak lebih peduli daripada kelompok lain.
“Pertimbangan lingkungan memainkan peran pinggiran dalam pilihan makanan di semua kelompok sosiodemografis, yang menunjukkan bahwa pilihan makanan bermotif lingkungan masih lemah tertanam dalam pengambilan keputusan sehari-hari di Ceko,” tulis Kunzová dan Mužíková. Kalimat itu, yang aslinya berbahasa Inggris, menjadi salah satu simpulan utama naskah mereka.
Mereka meminta angka itu tidak dibaca sebagai tanda warga Ceko tak peduli pada keberlanjutan. Butir ketujuh hanya menanyakan perhatian pada dampak lingkungan suatu produk makanan. Keberlanjutan sebagai gagasan jauh lebih luas, mencakup pula keadilan sosial, kondisi kerja, dan keterjangkauan. Tiga kemungkinan sebab mereka ajukan tanpa mengujinya: kesadaran publik yang terbatas, anggapan bahwa pilihan ramah lingkungan lebih mahal, dan tidak adanya petunjuk jelas pada produk. Bagi kebijakan pangan Eropa yang bertumpu pada European Green Deal dan Farm-to-Fork Strategy, mereka melihat jarak antara cita-cita dan isi keranjang belanja.
Karena itu, kebijakan yang mendorong pola makan berkelanjutan dinilai tidak bisa mengandaikan konsumen sudah terdorong dari dalam, terlebih di kelompok yang kurang beruntung. Keduanya menyarankan tujuan lingkungan dititipkan pada kebijakan kesehatan dan pemerataan yang sudah ada. Dengan cara itu, kesenjangan tidak ikut melebar.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Angka di Tabel
Naskah ini memasang batasnya sendiri. Jawaban dikumpulkan sekali waktu, pada 20 November sampai 6 Desember 2023, sehingga hubungan yang terlihat tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat. Semua jawaban berasal dari pengakuan responden, dan pendapatan rumah tangga tidak disesuaikan dengan jumlah anggotanya.
Batas tiga pilihan juga punya akibat. Orang yang sebenarnya memegang empat atau lima alasan terpaksa menyisihkan sebagian, dan butir lingkungan hanya diwakili satu pertanyaan umum. Kedua penulis pun meminta hasilnya dibaca sebagai pola hubungan, bukan taksiran yang sepenuhnya mewakili penduduk, meski judul naskah memakai kata representative.
Ada pula dua hal yang bisa diperiksa pembaca di tabel. Pada tabel ciri responden, empat jenjang pendidikan berjumlah 121, 510, 739, dan 379 orang. Totalnya 1.749, bukan 1.803. Kelompok 739 orang ditulis 44,0 persen, padahal 739 dari 1.803 setara 41,0 persen.
Hal kedua menyangkut usia. Bagian pembahasan menyebut kenaikan perhatian pada mutu bahan seiring usia sebagai lemah dan tidak bermakna. Tabel hasil mencatat lain: peluang kelompok 45–59 tahun menunjuk mutu bahan 2,39 kali kelompok termuda, dan untuk pertimbangan kesehatan pada usia 60 tahun ke atas 2,72 kali, keduanya bertanda bermakna.
Daftar tujuh butir itu, pada akhirnya, tidak dibaca sebagai daftar yang sama oleh semua orang. Sebagian besar berhenti di butir rasa. Yang berdompet tipis berhenti lebih lama di butir harga, yang berijazah tinggi di butir gizi dan mutu bahan. Butir ketujuh, yang tertulis paling akhir, nyaris dilewati oleh semuanya.















