Pasien HIV RS Jakarta yang Pernah Alami Efek Samping Lebih Patuh

A A

Ilustrasi kotak obat harian tujuh sekat dengan satu tablet putih di sekat pertama [Foto: NIAID/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Hitungan Fatimah menunjukkan 213 dari 266 pasien, atau 80,1 persen, tergolong patuh menjalani terapi antiretroviral.
  • Dari 31 pasien yang pernah mengalami efek samping, 30 orang atau 96,8 persen patuh.
  • Pada pasien berpendidikan tinggi, 90,1 persen patuh, sementara pada pasien berpendidikan rendah 74,9 persen.
  • Di antara pasien yang menjalani terapi satu hingga lima tahun, 74,3 persen patuh, sedangkan yang lebih dari lima tahun 92,8 persen.
Daftar Isi
  1. Catatan Setahun di Klinik VCT Jakarta Pusat
  2. Delapan dari Sepuluh Pasien Tergolong Patuh
  3. Pasien Lebih Tua dan Lebih Terdidik Lebih Banyak yang Patuh
  4. Masa Satu sampai Lima Tahun yang Lebih Rawan
  5. Efek Samping Obat Menjadi Faktor Paling Dominan
  6. Konseling untuk Pasien yang Merasa Baik-baik Saja

Kareena Sari Fatimah menelusuri catatan perawatan 266 pasien HIV yang berobat di klinik konseling dan tes HIV sukarela, atau klinik VCT, sebuah rumah sakit umum di Jakarta Pusat. Ia ingin tahu siapa yang tetap disiplin menelan obat antiretroviral dan siapa yang tidak. Satu temuannya berlawanan dengan dugaan: pasien yang pernah mengalami efek samping obat justru tercatat paling patuh.

Kareena Sari Fatimah dan rekan, yakni Laily Hanifah, Chandrayani Simanjorang, dan Nayla Kamilia Fithri, berasal dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Laporan mereka berjudul Factors Associated with Antiretroviral Therapy Adherence in Patients with HIV at a Public Hospital in Central Jakarta, Indonesia dan terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal) volume 21 nomor 1 tahun 2026. Laily Hanifah tercatat sebagai penulis korespondensi.

Catatan Setahun di Klinik VCT Jakarta Pusat

Pembagian kerja di tim itu tertulis jelas di paper. Fatimah merancang dan menjalankan studi, menganalisis data, serta menulis draf pertama. Hanifah terlibat sejak penyusunan konsep dan administrasi, memberi masukan, lalu ikut menulis dan menyunting naskah. Simanjorang dan Fithri memberi masukan kritis dan turut menyunting naskah.

Bahan yang dibaca Fatimah adalah data sekunder dari lembar ringkasan perawatan HIV dan terapi antiretroviral tahun 2023. Pasien yang masuk berusia di atas 18 tahun, sudah menjalani terapi setidaknya 12 bulan, berkunjung ke klinik sepanjang Januari hingga Desember 2023, dan tinggal di Provinsi DKI Jakarta. Dari populasi 580 pasien, catatan 266 orang yang dianalisis.

Kepatuhan dalam catatan itu tidak diukur dari pengakuan pasien. Konselor memeriksa sisa obat antiretroviral saat pasien berkunjung. Menurut Fatimah dan rekan, pasien digolongkan patuh bila tingkat kepatuhannya di atas 95 persen, yaitu bila ia melewatkan kurang dari tiga dosis dalam 30 hari terakhir. Selebihnya masuk kelompok tidak patuh.

Dalam ucapan terima kasihnya, tim Fatimah menyebut RSUD Tarakan, Jakarta, khususnya klinik VCT, yang memberi izin penelitian dan menyediakan data. Menurut studi pendahuluan mereka, rumah sakit tempat penelitian itu mencatat 2.124 pasien rawat jalan dengan HIV yang dilayani sepanjang 2023.

Delapan dari Sepuluh Pasien Tergolong Patuh

Persen pasien yang patuh menurut kelompok di Tabel 2Pernah efek samping obat 96,8%; Tanpa efek samping obat 77,9%; Terapi lebih dari 5 tahun 92,8%; Terapi 1-5 tahun 74,3%; Pendidikan tinggi 90,1%; Pendidikan rendah 74,9%; CD4 200 ke atas 84,4%; CD4 di bawah 200 63,6%.Persen pasien yang patuh menurut kelompokdi Tabel 2Persen pasien HIV yang patuh terapi antiretroviral, klinik VCTRS umum Jakarta Pusat, 2023, n = 26650%75%100%Pernah efek samping obat96,8%Tanpa efek samping obat77,9%Terapi lebih dari 5 tahun92,8%Terapi 1-5 tahun74,3%Pendidikan tinggi90,1%Pendidikan rendah74,9%CD4 200 ke atas84,4%CD4 di bawah 20063,6%Patuh = kurang dari 3 dosis terlewat dalam 30 hari terakhir, dihitungkonselor dari sisa obat
Sumber: Kareena Sari Fatimah dan rekan, Factors Associated with Antiretroviral Therapy Adherence in Patients with HIV at a Public Hospital in Central Jakarta, Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hitungan Fatimah menunjukkan 213 dari 266 pasien, atau 80,1 persen, tergolong patuh menjalani terapi antiretroviral. Sisanya, 53 orang atau 19,9 persen, masuk kelompok tidak patuh. Dalam simpulannya, Fatimah dan rekan menilai proporsi kepatuhan di rumah sakit umum itu sudah cukup baik.

Wajah pasien dalam catatan itu didominasi laki-laki, sebanyak 75,6 persen, dan mereka yang berusia di bawah 44 tahun, sebanyak 72,6 persen. Hanifah dan rekan juga mencatat 65,8 persen pasien berpendidikan rendah, yakni berpendidikan SD, SMP, atau SMA, sementara 57,5 persen belum menikah dan 72,6 persen bekerja.

Profil klinisnya juga tercatat rinci di tabel tim Fatimah. Sebanyak 68,8 persen pasien sudah menjalani terapi satu hingga lima tahun, 83,1 persen berada pada stadium lanjut, dan 79,3 persen memiliki jumlah CD4 200 atau lebih. Lalu 42,1 persen mengidap infeksi oportunistik tuberkulosis, 11,7 persen pernah mengalami efek samping obat, dan 52,3 persen tidak didampingi pengawas minum obat.

Fatimah dan rekan menyandingkan angka 80,1 persen itu dengan temuan lain yang mereka kutip. Di pusat rujukan nasional penyakit infeksi, kepatuhan tercatat 81,1 persen, sedangkan di Denpasar 84,16 persen. Menurut mereka, kemiripan dengan pusat rujukan itu mengisyaratkan bahwa pasien di Jakarta menghadapi tekanan sosiodemografis dan stigma struktural yang sebanding.

Baca juga Sifilis dan HIV di RSUD Moewardi: 21 dari 64 Pasien Koinfeksi

Pasien Lebih Tua dan Lebih Terdidik Lebih Banyak yang Patuh

Usia menjadi faktor pertama yang disorot Fatimah. Di antara pasien berusia 44 tahun ke atas, 90,4 persen tergolong patuh, sedangkan pada pasien di bawah 44 tahun angkanya 76,2 persen. Setelah disesuaikan dengan faktor lain, rasio odds prevalensi untuk kelompok usia yang lebih tua tercatat 2,631. Kelompok ini berjumlah 73 orang, atau 27,4 persen dari seluruh pasien yang dianalisis.

Fatimah dan rekan menulis bahwa pasien usia paruh baya cenderung peduli pada status kesehatannya, sehingga lebih cermat menerima arahan dan konseling dari tenaga kesehatan. Dari temuan itu mereka menyarankan rumah sakit melibatkan pasien berusia 44 tahun ke atas sebagai pendamping sebaya bagi pasien yang lebih muda atau yang belum patuh.

Pendidikan juga berkaitan dengan kepatuhan dalam tabel Fatimah. Pada pasien berpendidikan tinggi, yaitu lulusan perguruan tinggi, 90,1 persen patuh, sementara pada pasien berpendidikan rendah 74,9 persen. Rasio odds prevalensi yang disesuaikan untuk pendidikan tinggi tercatat 4,407. Pasien berpendidikan tinggi berjumlah 91 orang, sedangkan yang berpendidikan rendah 175 orang.

Menurut Fatimah dan rekan, pendidikan dapat membuka akses pada informasi kesehatan, sehingga pasien lebih memahami manfaat dan risiko terapi. Mereka menyarankan rumah sakit menyiapkan materi edukasi sederhana yang mengandalkan gambar, agar pesan tentang kepatuhan terapi seumur hidup sampai kepada pasien dari beragam latar pendidikan.

Jumlah sel CD4 juga berkaitan dengan kepatuhan. Pada pasien dengan CD4 200 atau lebih, 84,4 persen patuh, sedangkan pada pasien dengan CD4 di bawah 200 hanya 63,6 persen. Rasio odds prevalensi yang disesuaikan tercatat 2,593. Fatimah dan rekan menulis bahwa CD4 di bawah 200 menandakan kerusakan berat sistem kekebalan, yang bisa membuat pasien lemah dan sulit datang ke layanan kesehatan.

Bagi Fatimah dan rekan, perbaikan kondisi klinis bisa menjadi penguat agar pasien terus berobat. Mereka meminta tenaga kesehatan rumah sakit mengubah angka klinis menjadi umpan balik yang bermakna saat konseling rutin, dan memberi konseling intensif bagi pasien dengan CD4 di bawah 200, terutama ketika perbaikannya belum terlihat.

Masa Satu sampai Lima Tahun yang Lebih Rawan

Lama terapi memperlihatkan pola lain dalam catatan Fatimah. Di antara pasien yang menjalani terapi satu hingga lima tahun, 74,3 persen patuh, sedangkan yang lebih dari lima tahun 92,8 persen. Rasio odds prevalensi yang disesuaikan untuk kelompok satu sampai lima tahun tercatat 0,259, sehingga kelompok itu lebih kecil kemungkinannya untuk patuh.

Fatimah dan rekan menjelaskan, pasien yang telah berobat lebih dari lima tahun sudah membangun rutinitas dan kebiasaan patuh, sementara pasien yang baru satu hingga lima tahun mungkin masih berada dalam fase penyesuaian. Mereka mengusulkan pasien berpengalaman itu dijadikan pendamping sebaya bagi pasien yang berada di tahap awal terapi.

Tidak semua faktor yang diperiksa Fatimah menunjukkan hubungan yang bermakna. Jenis kelamin, status pekerjaan, infeksi oportunistik tuberkulosis, dan keberadaan pengawas minum obat tidak dimasukkan ke analisis multivariat. Tahap klinis juga, menurut pembahasan paper, tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kepatuhan.

Baca juga Suami Ikut Diedukasi, Kepatuhan Tablet Tambah Darah Naik

Efek Samping Obat Menjadi Faktor Paling Dominan

Temuan yang paling ditekankan Fatimah dan rekan menyangkut efek samping obat. Dari 31 pasien yang pernah mengalami efek samping, 30 orang atau 96,8 persen patuh. Pada 235 pasien yang tidak pernah mengalaminya, kepatuhan tercatat 77,9 persen. Rasio odds prevalensi yang disesuaikan untuk kelompok tanpa efek samping hanya 0,108.

Rasio odds lima faktor yang bermaknaUsia 44 tahun ke atas: POR disesuaikan 2,631; Pendidikan tinggi: POR disesuaikan 4,407; CD4 200 ke atas: POR disesuaikan 2,593; Terapi 1-5 tahun: POR disesuaikan 0,259; Tanpa efek samping obat: POR disesuaikan 0,108.Rasio odds lima faktor yang bermaknaRasio odds prevalensi disesuaikan (POR) kepatuhan terapiantiretroviral, n = 266123450Usia 44 tahun ke atas2,631Pendidikan tinggi4,407CD4 200 ke atas2,593Terapi 1-5 tahun0,259Tanpa efek samping obat0,108Acuan = 1: usia di bawah 44 tahun, pendidikan rendah, CD4 di bawah200, terapi lebih dari 5 tahun, pernah efek samping obat
Sumber: Kareena Sari Fatimah dan rekan, Factors Associated with Antiretroviral Therapy Adherence in Patients with HIV at a Public Hospital in Central Jakarta, Indonesia, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menyebut pengalaman efek samping sebagai faktor paling dominan dalam kepatuhan. “Hasil ini mencerminkan fenomena yang paradoksal, tetapi relevan secara klinis,” tulis Fatimah dan rekan dalam bagian pembahasan, menurut terjemahan Cekricek.id. Mereka juga mengutip studi lain yang menemukan efek samping paling umum berupa mual dan sakit kepala.

Penjelasan yang ditawarkan tim Fatimah berangkat dari keseharian rumah sakit itu. Pasien yang melaporkan efek samping biasanya mendapat perhatian klinis lebih dekat, mulai dari konseling terarah dan penanganan gejala hingga dukungan tenaga kesehatan, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok dukungan sebaya. Interaksi yang lebih rapat itu, tulis mereka, dapat memperkuat hubungan pasien dengan petugas.

Hanifah dan rekan tidak menutup sisi lainnya. Mereka menulis bahwa efek samping tetap bisa memicu terhentinya pengobatan pada sebagian pasien, terutama ketika rasa tidak nyaman mengganggu kegiatan sehari-hari atau kemampuan bekerja. Pada kelompok yang lain, mereka melihat risiko berbeda: “pasien yang tidak mengalami efek samping mungkin mengembangkan rasa stabil secara klinis yang keliru.”

Baca juga Skrining Warga Madagaskar Ungkap HIV dan Sifilis Tersembunyi

Konseling untuk Pasien yang Merasa Baik-baik Saja

Dari temuan itu, Fatimah dan rekan menutup laporannya dengan satu anjuran. “Semua pasien semestinya mendapat konseling proaktif, termasuk mereka yang tidak melaporkan gejala, untuk mencegah rasa puas diri dan menegaskan pemahaman bahwa kestabilan klinis tidak membenarkan penghentian pengobatan,” tulis mereka dalam simpulan, menurut terjemahan Cekricek.id. Di bagian pembahasan, mereka juga menekankan pemantauan berkelanjutan dan dukungan sejak dini agar pasien memandang efek samping ringan sebagai hal sementara yang bisa ditangani, bukan alasan untuk berhenti berobat.

Hanifah dan rekan juga menuliskan batas penelitian mereka. Karena memakai data sekunder, analisis terbatas pada variabel yang tersedia di lembar ringkasan perawatan HIV dan terapi antiretroviral, sehingga faktor lain yang secara teori berkaitan dengan kepatuhan tidak dapat diperiksa. Temuan ini, menurut mereka, paling berlaku untuk fasilitas kesehatan yang serupa dengan rumah sakit umum tempat studi berlangsung.

Bagi Fatimah, catatan 266 pasien itu bermuara pada lima faktor yang berkaitan dengan kepatuhan, yakni usia 44 tahun ke atas, pendidikan tinggi, terapi lebih dari lima tahun, CD4 200 atau lebih, dan pengalaman efek samping obat. Faktor terakhir, yang dalam sejumlah studi terdahulu dikaitkan dengan kepatuhan yang lebih buruk, justru menjadi faktor dominan di klinik VCT Jakarta Pusat itu.

Bagikan

Baca Juga

Dokter Gigi Chennai Mengaku Kurangi Antibiotik Usai Pelatihan
Daya Pikir Lansia Tiongkok yang Mulai Mengasuh Cucu Lebih Terjaga
Lebih dari 40 Persen Dokter Gigi Kuwait Pernah Cuti Sakit Otot
Remaja Brasil Rajin Sarapan Lebih Aktif dan Kurang Menatap Layar
Rokok Kalahkan Belanja Gizi, Pakar UGM: Anak Rentan Stunting
Murid SD Portugal Sering Cuci Tangan, Tak Selalu Saat Masuk Kelas