Suami Ikut Diedukasi, Kepatuhan Tablet Tambah Darah Naik

A A

Ilustrasi petugas kesehatan memberikan penjelasan kepada pasien dalam sesi konseling di ruang layanan kesehatan. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kepatuhan ibu hamil minum tablet tambah darah naik setelah suami ikut diedukasi. Sebelum kegiatan, hanya 3 dari 10 ibu yang minum tablet secara teratur. Sesudah kegiatan, angkanya menjadi 8 dari 10. Kenaikannya lima orang atau 50 persen dari peserta.

Temuan itu dilaporkan Vetty Priscilla dan rekan-rekannya dari Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, Padang. Artikel mereka berjudul Family-Involved Health Education to Improve Iron Tablet Adherence among Pregnant Women in Bungus Community Health Centre, Padang. Tulisan itu terbit di Warta Pengabdian Andalas Vol. 33 No. 1 tahun 2026, halaman 92–104.

Bentuk kegiatannya intervensi edukasi pra–pasca tanpa kelompok pembanding. Pesertanya 10 ibu hamil dan 10 suami. Lokasinya wilayah kerja Puskesmas Bungus, Kota Padang, tepatnya Puskesmas Timbalun di Bungus Timur. Seluruh rangkaian berlangsung pada Agustus 2025, dengan sesi edukasi digelar pada akhir bulan itu.

Analisisnya memakai statistik deskriptif. Tim tidak melakukan uji signifikansi apa pun. Semua angka pada laporan ini perbandingan persentase sebelum dan sesudah, bukan hasil pengujian statistik. Perbedaan itu menentukan seberapa jauh temuannya boleh dibaca. Laporannya sendiri ditulis sebagai catatan pengabdian, bukan sebagai riset eksperimental.

Daftar Isi
  1. Angka yang Berubah
  2. Stiker di Dapur
  3. Peran Sepuluh Suami
  4. Data yang Bertabrakan
  5. Sepuluh Orang Saja
  6. Sisa Pertanyaan

Angka yang Berubah

Masalahnya bukan pasokan tablet. Pada 2023, Puskesmas Bungus mencatat 92,4 persen ibu hamil menerima tablet tambah darah dan 81,9 persen di antaranya mengonsumsinya. Namun 27,6 persen ibu hamil tetap terdiagnosis anemia. Angka kepatuhannya berhenti di 39,2 persen. Tablet dibagikan hampir menyeluruh, kepatuhan tertinggal jauh.

Data dua tahun berikutnya memperkuat gambaran itu. Pada Mei 2025, dari 138 ibu hamil di wilayah tersebut, 90 persen menerima tablet tambah darah. Yang benar-benar patuh hanya sekitar 30 persen. Tim menyebut jarak antara distribusi dan konsumsi itu sebagai celah program yang penting.

Anemia kehamilan masih masalah nasional. Prevalensinya 27,7 persen pada 2022. Anemia sendiri berarti jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin lebih rendah dari biasanya. WHO menetapkan ambang anemia pada ibu hamil di bawah 11 g/dL, dan ambang itu dipakai tim sebagai acuan.

Akibat anemia tidak ringan. Artikel menyebut risiko perdarahan pascapersalinan, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan gangguan perkembangan kognitif pada anak. Konsumsi tablet yang konsisten disebut mampu menurunkan risiko anemia sampai 50 persen. Angka itu dikutip tim dari acuan WHO.

Penyebab ketidakpatuhan sudah dipetakan sejak awal. Tim menyebut tiga hal. Pertama pemahaman yang terbatas, kedua sikap negatif terhadap efek samping, ketiga minimnya dukungan keluarga. Suami disebut khusus sebagai pihak paling menentukan di rumah, dan ketiga hal itu menjadi sasaran materi edukasi.

Stiker di Dapur

Intervensinya bersandar pada tiga media. Tim menyiapkan salindia, leaflet, dan stiker pengingat. Materinya disesuaikan dengan bahasa dan budaya setempat. Edukasinya dirancang dua arah, bukan ceramah satu pihak, sehingga peserta bisa bertanya langsung. Instrumen pra-tes dan pasca-tes disusun oleh tim yang sama.

Stiker itu ditempel di rumah peserta. Letaknya di area yang sering dilewati anggota keluarga, dekat kamar tidur atau dapur. Tim menilai stiker bekerja sebagai isyarat perilaku. Ketidakpatuhan, menurut mereka, tidak selalu berarti penolakan; sering kali ibu hanya lupa atau belum punya rutinitas harian.

Baca juga Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas

Sebelum sesi edukasi, tim mengumpulkan data awal. Catatan konsumsi harian diambil dari buku Kesehatan Ibu dan Anak, kadar Hb diperiksa, lalu pra-tes dibagikan. Pra-tes untuk ibu mengukur pengetahuan dan sikap, pra-tes untuk suami mengukur dukungan keluarga. Koordinasi awal dilakukan bersama Puskesmas Bungus dan aparat wilayah setempat.

Materi edukasinya mencakup empat pokok. Isinya anemia, pentingnya konsumsi tablet secara rutin, cara mengelola efek samping ringan, dan peran dukungan keluarga selama kehamilan. Artikel menyebut efek samping tablet yang beredar kini minimal dan umumnya berupa mual ringan. Mitos di masyarakat justru membesarkannya.

Sesudah kegiatan, pasca-tes diberikan kepada kedua kelompok. Pengisian catatan di buku KIA terus dipantau, dan pemantauan itu memastikan ibu serta suami sama-sama mengisinya. Sebelum semuanya dimulai, peserta menerima penjelasan tujuan dan prosedur. Keikutsertaan bersifat sukarela dan disertai persetujuan.

Peran Sepuluh Suami

Suami masuk sebagai peserta, bukan pengantar. Kriteria inklusinya tegas. Ibu hamil harus tinggal di wilayah kerja Puskesmas Bungus, bersedia ikut, dan didampingi suami sepanjang sesi edukasi. Penyaringan peserta dikerjakan bersama penanggung jawab Puskesmas Timbalun di Kecamatan Bungus Timur.

Profil suami menjelaskan konteksnya. Delapan dari sepuluh bekerja, dua tidak. Enam berpendidikan rendah dan empat berpendidikan menengah. Tujuh berada pada status ekonomi di bawah upah minimum, tiga di atasnya. Latar ekonomi itu, menurut tim, ikut membatasi akses pada informasi kesehatan.

Profil ibu hamil setali tiga uang. Enam dari sepuluh tidak bekerja. Enam berpendidikan menengah, tiga rendah, satu tinggi. Enam merencanakan kehamilannya dan empat tidak, sementara jumlah gravida rendah dan tinggi sama banyak. Ketidakpatuhan terbanyak tercatat pada ibu yang mengurus rumah tangga.

Usia keduanya masuk kelompok dewasa produktif. Rata-rata usia ibu 28,5 tahun dengan rentang 23 sampai 34 tahun. Rata-rata usia suami 32,9 tahun dengan rentang 26 sampai 39 tahun. Tim menilai kelompok usia itu aktif mengambil keputusan kesehatan di dalam rumah tangga.

Baca juga Obat Lupus Kosong di Apotek dan Risiko Kambuh yang Naik

Dukungan keluarga bergeser sesudah edukasi. Sebelum intervensi, separuh suami masuk kategori dukungan baik dan separuh kategori kurang. Sesudahnya, kategori baik naik menjadi 70 persen dan kategori kurang turun menjadi 30 persen. Bentuk dukungannya berupa mengingatkan, mendampingi, dan menyemangati saat ibu merasa tidak nyaman.

Vetty Priscilla, dosen Departemen Keperawatan Anak dan Maternitas Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, bersama timnya menempatkan pergeseran itu sebagai inti kegiatan. “Dengan demikian, kepatuhan menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban yang dipikul sendirian oleh ibu hamil,” tulis mereka. Kalimat itu merangkum alasan sepuluh suami ikut duduk di ruang edukasi.

Data yang Bertabrakan

Sikap ibu bergerak paling sedikit. Sebelum intervensi, 50 persen bersikap positif terhadap tablet tambah darah dan 50 persen negatif. Sesudahnya, sikap positif naik menjadi 60 persen dan sikap negatif turun menjadi 40 persen. Kenaikannya satu orang. Sikap negatif, menurut tim, umumnya lahir dari kekhawatiran terhadap efek samping.

Pengetahuan bergerak paling besar. Namun angkanya tidak konsisten di dalam artikel. Abstrak menyebut pengetahuan naik dari 60 persen ke 90 persen. Badan artikel menyebut kategori sangat baik naik dari 30 persen ke 90 persen, sementara kategori baik justru turun dari 60 persen ke 10 persen.

Ada satu angka lain yang janggal. Badan artikel menulis kategori pengetahuan kurang sebelum intervensi sebesar 1 persen. Pada sampel sepuluh orang, persentase terkecil yang mungkin adalah 10 persen. Jumlah ketiga kategori pun tidak genap seratus. Tim tidak menjelaskan sumber selisih itu.

Karena itu angka pengetahuan yang aman dikutip hanya angka sesudah intervensi. Sesudah edukasi, 90 persen peserta masuk kategori sangat baik dan 10 persen kategori baik. Tidak ada lagi peserta pada kategori kurang. Angka sebelum intervensi lebih tepat dibaca sebagai rentang. Arahnya jelas naik, besarannya yang belum pasti.

Sepuluh Orang Saja

Keberatan terbesar justru datang dari tim penulis sendiri. Mereka menuliskannya terbuka di bagian akhir artikel, tanpa dibungkus bahasa yang melunakkan. Bagian keterbatasan itu ditulis singkat, hanya tiga kalimat. Isinya menempatkan laporan ini sebagai catatan awal, bukan bukti akhir.

“Jumlah peserta sedikit, hanya melibatkan 10 ibu hamil dan 10 suami, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi secara luas,” tulis Vetty Priscilla dan rekan-rekannya. Mereka juga mencatat periode pengamatan yang pendek. Kepatuhan dipantau terutama lewat catatan buku KIA dan laporan peserta sendiri.

Baca juga Kimia Darah Manusia Bergeser Seiring Naiknya CO2 Atmosfer

Batas itu penting dibaca. Desain pra–pasca tanpa kelompok pembanding tidak memisahkan efek edukasi dari faktor lain. Kunjungan tim, perhatian petugas, dan kesadaran sedang diamati juga bisa mendorong perubahan perilaku. Artikel pun menyebut edukasi kemungkinan memperbaiki kepatuhan, bukan memastikannya.

Statistik deskriptif punya batas serupa. Lompatan 30 persen ke 80 persen adalah perubahan tiga orang menjadi delapan orang. Pada sampel sepuluh, satu peserta bernilai sepuluh persen. Pergeseran satu orang saja sudah tampak besar dalam bentuk persentase. Ketepatan estimasi pada kelompok sekecil ini sangat terbatas.

Kegiatan ini juga berlangsung di satu wilayah kerja puskesmas. Hasilnya tidak otomatis berlaku untuk Kota Padang, apalagi Sumatera Barat. Artikel ini laporan pengabdian masyarakat yang didanai hibah Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, bukan uji klinis. Tim menyebutnya sebagai pendekatan yang berpotensi, bukan yang sudah terbukti.

Sisa Pertanyaan

Pertanyaan pertama soal daya tahan. Pengamatannya pendek dan berhenti tidak lama sesudah edukasi. Artikel tidak melaporkan pemantauan lanjutan setelah kegiatan berakhir. Belum diketahui apakah delapan ibu itu tetap patuh sampai persalinan. Kepatuhan sebulan belum tentu bertahan sembilan bulan.

Pertanyaan kedua soal hemoglobin. Tim memeriksa kadar Hb sebelum kegiatan dimulai. Artikel tidak melaporkan kadar Hb sesudah intervensi. Kepatuhan naik, tetapi dampaknya pada angka anemia belum terukur. Kepatuhan adalah perantara, bukan hasil akhir program.

Pertanyaan ketiga soal bagian mana yang bekerja. Edukasi interaktif, keterlibatan suami, dan stiker pengingat diberikan bersamaan dalam satu paket. Artikel tidak memisahkan kontribusi masing-masing komponen. Tanpa pemisahan itu, penerapan di tempat lain tetap menebak. Paketnya berhasil, komposisinya belum diketahui.

Yang pasti dari Bungus hanya ini: pada sepuluh keluarga, selama satu bulan, tablet yang selama ini sekadar dibagikan akhirnya diminum.

Bagikan

Baca Juga

Piring Gizi Ibu Berubah, Timbangan Anak Belum Dicek
Piring Gizi Ibu Berubah, Timbangan Anak Belum Dicek
30 Warga, 10 Soal, dan Hipertensi di Alai Parak Kopi
30 Warga, 10 Soal, dan Hipertensi di Alai Parak Kopi
Tanaman Obat Keluarga: Kenal Belum Tentu Paham
Tanaman Obat Keluarga: Kenal Belum Tentu Paham
Peta Evakuasi Tsunami yang Digambar Warga Purus
Peta Evakuasi Tsunami yang Digambar Warga Purus
Banjir Bandang Batu Busuk: Bukan Sekadar Banjir Besar
Banjir Bandang Batu Busuk: Bukan Sekadar Banjir Besar
Kandang Maggot BSF Padang Berhenti, Apa Sebabnya
Kandang Maggot BSF Padang Berhenti, Apa Sebabnya