Permukaan Sungai Trishuli naik sembilan meter hanya dalam tiga puluh menit. Dari titik itu, jarak antara hidup dan hilang bagi ribuan orang di lembah utara Nepal diukur dalam hitungan menit.
Bencana bermula pada Rabu (26/08/2026), ketika sebagian gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter runtuh, meluncur turun sejauh kurang lebih 1.200 meter sambil menyeret batu dan puing, lalu menghantam Sungai Lende di perbatasan Nepal dengan Tibet.
Hingga Sabtu (29/08/2026), otoritas Nepal telah mengevakuasi 673 jenazah, sementara 2.496 orang masih dinyatakan hilang — 517 di antaranya warga negara asing. Di sisi Tibet, sedikitnya tujuh orang tewas dan 554 lainnya belum ditemukan.
Danau Baru yang Menahan Reruntuhan
Longsoran itu meninggalkan masalah baru. Tumpukan puing membentuk bendungan alami di lokasi keruntuhan, dan air yang tertahan di belakangnya membentuk danau yang terus meninggi. Tim penyelamat sempat ditarik mundur karena khawatir bendungan itu jebol dan memicu banjir susulan.
Baca juga Gletser di Pegunungan Hindu Kush Himalaya Mencair dengan Kecepatan yang Mengkhawatirkan
“Sangat tidak stabil,” kata Alton Byers, ilmuwan bahaya gletser di Institute of Arctic and Alpine Research, Universitas Colorado Boulder, menggambarkan tanggul puing tersebut. “Tidak banyak yang menahannya.”
Operasi pencarian baru dilanjutkan setelah risiko dinilai masih terkendali. Badan Survei Geologi Amerika Serikat mencatat keruntuhan awal melepaskan energi setara gempa berkekuatan magnitudo 5,2, disusul sinyal seismik kedua bermagnitudo 4,2 sekitar tiga jam kemudian. Lembaga itu belum memastikan apakah pemicunya longsoran batuan yang membawa serta es, atau keruntuhan gletser murni.
Jalan Putus, Listrik Terganggu
Kerusakan di darat berlapis. Shubharaj Neupane, juru bicara Departemen Jalan Raya Nepal, menyatakan laporan awal menunjukkan ruas Betrawati–Rasuwagadhi sepanjang 42 kilometer rusak di sepanjang jalurnya. Beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas gabungan 748 megawatt ikut terdampak, dan lebih dari tiga belas ribu personel keamanan dikerahkan.
Baca juga Jenazah Lima Pendaki Ditemukan di Yalung Ri Nepal Setelah Sembilan Bulan
Yang membuat bencana ini berbeda dari banjir monsun biasa adalah cuacanya. Min Kumar Aryal, meteorolog senior di Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal, menyampaikan curah hujan di sebagian wilayah distrik itu dalam 24 jam sebelumnya tidak melampaui tujuh milimeter.
Baca juga Badai Tropis Moke Ancam Hawaii Sepekan Setelah Lala
Shanti Mahat, juru bicara Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanganan Bencana Nepal, menyebut informasi awal mengenai peristiwa di hulu diteruskan oleh International Centre for Integrated Mountain Development berdasarkan data dari pihak Tiongkok. Rijan Bhakta Kayastha, peneliti gletser di Universitas Kathmandu, menduga longsoran sempat membendung sungai sebelum air terlepas sekaligus.
Nepal meminta bantuan tim penyelamat terowongan dari India dan Tiongkok. Bantuan internasional juga berdatangan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Federasi Palang Merah, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Gelombang itu melintasi tiga distrik — Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading — sebelum melebar di dataran rendah. Di banyak titik, yang tersisa hanya alur sungai yang jauh lebih lebar daripada sepekan sebelumnya.














