Tanduk Kerbau Kerinci dan Dipati yang Diupah

A A

Ilustrasi tanduk kerbau bergores yang disimpan sebagai pusaka di rumah kayu, seperti prasasti tanduk dari Mendapo Rawang Kerinci. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Jabatan pemimpin adat di Kerinci pernah diisi dengan upah. Catatannya tergores pada tanduk kerbau. Arkeolog Hafiful Hadi Sunliensyar dari Program Studi Arkeologi Universitas Jambi membaca ulang tiga prasasti tanduk yang menyimpan catatan itu. Hasil pembacaannya jauh lebih dari sekadar daftar nama leluhur.

Kajiannya berjudul Prasasti Tanduk dari Mendapo Rawang Kerinci: Genealogi, Migrasi, dan Relasi Leluhur Orang Kerinci. Tulisan itu terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 42 No. 1, Juni 2024, pada halaman 19–40. Objeknya tiga prasasti tanduk kerbau dari satu wilayah adat di Lembah Kerinci.

Wilayah adat itu bernama Mendapo Rawang. Letaknya di bagian tengah Lembah Kerinci, Provinsi Jambi. Dalam laporan van Aken tahun 1915, mendapo tersebut menghimpun 18 dusun. Jumlah penduduknya pada 1913 tercatat 6911 jiwa. Kawasan itu kini terbagi menjadi tiga kecamatan di Kota Sungai Penuh.

Daftar Isi
  1. Tiga Tanduk Kerbau
  2. Jejak dari Pariangan
  3. Sembilan Manti
  4. Dipati yang Diupah
  5. Utusan dari Hilir
  6. Batas Bacaan

Tiga Tanduk Kerbau

Prasasti tanduk adalah artefak langka. Sebarannya terbatas di Sumatra bagian selatan, dari Lampung sampai Kerinci. Medianya bukan batu atau logam, melainkan tanduk kerbau dan bambu. Aksaranya juga lokal, yakni Incung, Ulu, dan Lampung. Tanduk yang dipakai berasal dari kerbau sembelihan pada kenduri adat.

Permukaan tanduk itu tidak dibiarkan apa adanya. Bagian yang kasar diratakan lebih dulu supaya halus dan licin. Tulisan lalu dipahatkan dengan teknik gores memakai ujung pisau. Arahnya dari pangkal menuju ujung tanduk. Panjang tiap baris berbeda karena mengikuti bentuk tanduk yang meruncing.

Voorhoeve mendata prasasti Incung di Kerinci pada 1941. Ia mencatat 81 prasasti pada media tanduk dan 34 pada media bambu. Semuanya pusaka milik komunitas di sepuluh wilayah adat. Hasil alih aksaranya dimuat dalam katalog Tambo Kerintji yang terbit setahun kemudian.

Alih aksara itu sangat terbatas. Voorhoeve memakai metode diplomatis dan tidak menyertakan alih bahasa. Hasil pemotretannya kerap beresolusi rendah dan kabur. Voorhoeve sendiri mengakui banyak bacaannya keliru. Sebagian besar prasasti karena itu tetap tidak diketahui isinya.

Peluang baru datang dari British Library. Program EAP117 mendigitalkan pusaka simpanan orang Kerinci dengan mutu yang jauh lebih baik. Tiga prasasti tanduk dari Mendapo Rawang ikut terekam di sana. Berkas digital itulah yang dipakai Sunliensyar sebagai data primer penelitiannya.

Prasasti pertama disimpan di Dusun Sungai Liuk. Namanya Prasasti Depati Awal-Depati Janggut, panjang tanduknya 36 sentimeter, teksnya 87 baris. Prasasti kedua berasal dari Kampung Diilir, disebut Prasasti Datuk Kitam, panjangnya 15 sentimeter dengan 26 baris. Prasasti ketiga, Depati Sungai Laga, ditulis pada empat tanduk kerbau dan memuat 125 baris.

Alih aksara kali ini memakai metode edisi kritis. Metode itu membolehkan penyunting memperbaiki kesalahan, menambahkan tanda baca, dan merapikan ejaan. Setiap perbaikan wajib dicatat pada catatan kaki. Pedoman aksaranya mengikuti Westenenk tahun 1922. Bahasa Kerinci sendiri adalah bahasa ibu penulis kajian ini.

Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno

Jejak dari Pariangan

Ketiga prasasti seragam pada satu hal. Semua menyebut isinya sebagai tutur ninik, yakni sejarah nenek moyang. Prasasti Depati Awal-Depati Janggut dibuka dengan “ih, ini surat Pakih Maraja urang nyurat tutur.” Prasasti Datuk Kitam dibuka dengan “ini ninik Tanah Kubang.” Kemiripan pembuka itu dipakai sebagai salah satu penanda kredibilitas.

Prasasti Depati Sungai Laga menyimpan kisah paling jauh. Migrasinya bermula dari Pariangan Padang Panjang di kaki Gunung Marapi. Pelakunya dua leluhur perempuan, Dayang Baranai dan Puti Unduk Pinang Masak. Tujuan mereka adalah Kerinci. Perjalanan itu berhenti di beberapa permukiman sebelum menetap.

Perpindahan berlanjut di dalam lembah. Rutenya dari Kuta Limau Manis ke Kuta Ranah, lalu ke Kuta Baringin, lalu ke Kuta Kunyit. Dayang Baranai akhirnya menetap di Kuta Kunyit. Ia menikahi Tuan Saih Samilullah dan memiliki sembilan anak.

Sembilan anak itu terdiri dari dua laki-laki dan tujuh perempuan. Dua di antara anak perempuannya, Andir Bingin dan Andir Caya, kembali ke Kuta Baringin karena menikah di sana. Cucu merekalah yang kemudian membuka permukiman baru bernama Tanah Rawang. Pola yang sama berulang pada generasi berikutnya.

Rombongan lain datang dari arah berbeda. Mangku Agung bermigrasi dari Lempur bersama saudara perempuan dan para hambanya. Tujuan pertamanya Tanjung Kerbau Jatuh. Di Talang Sarak, rombongan itu menangkap dua orang yang mengambil perbekalan mereka di perahu. Keduanya bernama Unggun Basah dan Dara Itam.

Nasib dua orang itu ditentukan lewat perjanjian. Mangku Agung menyerahkan keduanya kepada Dipati Ampat di Kuta Bingin. Perjanjian adatnya disebut karang satiya. Unggun Basah dan Dara Itam pun berpindah ke bawah Mangku Muda dan Iya Dibalang. Keduanya lepas dari komunitas Mangku Agung.

Sunliensyar menafsirkan penyerahan itu lewat konsep precedence. Dalam sistem sosial Austronesia, komunitas yang lebih dulu mendiami suatu wilayah dianggap berhak lebih tinggi. Mangku Agung adalah pendatang baru di wilayah yang sudah dihuni orang Kuta Bingin. Kuasa tuan rumah karena itu dianggap lebih besar.

Baca juga Tiga Negara Eropa yang Absen dari Pakta Pertahanan PESCO

Sembilan Manti

Prasasti tidak berhenti pada silsilah. Teksnya juga merekam susunan jabatan adat. Kedudukan tertinggi dipegang orang bergelar dipati. Di bawah dipati ada manti. Prasasti Depati Awal-Depati Janggut menyebut Dipati Sarik di Padang membawahi manti bergelar Bujang Pandiyam.

Teks yang sama memuat istilah manti sambilan. Artinya sembilan orang pejabat manti dan nama kesembilannya tercatat lengkap. Urutannya dimulai dari Riya Muda, pengganti Bujang Pandiyam dan Mangku Muda. Menyusul Datuk Caya Dipati, Patih Mandiri, Iya Nagilang, Iya Dali, Aja Namangala, Iya Sama, Iya Gagah, dan Iya Bungsu-Aja Pilih.

Ada pula jabatan mangku balima, yakni lima orang pejabat mangku. Kedudukannya tidak dijelaskan dan nama pejabatnya tidak disebut. Gelar manti sendiri beragam. Datuk, patih, dan riya dipakai untuk pejabat manti. Kata manti merupakan serapan dari mantri dalam bahasa Sanskerta.

Gelar iya dan aja punya asal yang lebih berliku. Keduanya berasal dari kata riya dan raja dalam bahasa Melayu. Bahasa Kerinci cenderung tidak membunyikan huruf r di awal kata. Kata rumah menjadi umah dan kata rimba menjadi imba. Kata riya sendiri berakar pada arya dalam bahasa Sanskerta, yang berarti terhormat.

Dipati yang Diupah

Bagian paling tidak terduga ada pada pergantian jabatan. Prasasti Depati Awal-Depati Janggut mencatat sepuluh kali pergantian dipati. Daftarnya dimulai dari Dipati Sarik di Padang. Rangkaian itu berakhir pada Dipati Muda dan Dipati Pungjung. Prasasti Depati Sungai Laga juga mencatat pergantian serupa.

Sunliensyar menyatakannya tanpa berputar. “Jabatan dipati tidak pula dipegang seumur hidup layaknya sistem monarki,” tulisnya. Jabatan itu bisa diangkat oleh komunitas dan bisa pula ditinggalkan. Prasasti bahkan merekam satu masa ketika tidak ada yang mau menjabat.

Peristiwanya diceritakan dengan singkat. Dipati Riya Dagang berhenti sebagai dipati. Tidak ada lagi orang yang bersedia menggantikannya. Maka Aja Muda diupah untuk menduduki jabatan itu. Teks prasasti mencatat permintaannya sendiri agar dijadikan dipati.

Utusan dari Hilir

Pengangkatan dipati bukan sepenuhnya urusan lokal. Prasasti menyebut pejabat bergelar jenang. Jenang adalah utusan Sultan Jambi ke wilayah Kerinci. Acik Sagarit salah satu nama yang tercatat di dalam teks. Ia mengangkat anak Sanginda menjadi Dipati Sarik di Padang dan menetapkan Bujang Pandiyam sebagai manti.

Prasasti Depati Sungai Laga menyebut peristiwa serupa dengan istilah naik janang. Istilah itu menandai datangnya utusan dari hilir menuju dataran tinggi Kerinci. Pada peristiwa tersebut, pejabat jenang bergelar Pangeran mengangkat Dipati Suka Baraja dan Dipati Situwur. Keduanya diangkat karena mengiringi paman mereka menghadap jenang.

Baca juga Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi

Kuasa jenang tidak berhenti pada pengangkatan. Pangeran menjatuhkan denda sagulin batang kepada Dipati Muda. Dakwaannya adalah menyampaikan berita bohong kepada Pangeran. Pada perkara lain, Pangeran memutus sengketa Dipati Muda dan Dipati Punjung Janab dengan pembagian kuasa. Sengketa itu sebelumnya tidak selesai di peradilan lokal Kerinci.

Kata jenang berakar pada Melayu Klasik. Maknanya orang yang mengawasi, mandor, atau pembantu. Kesultanan Jambi memakainya sebagai gelar penarik pajak di pedalaman. Laporan Hasting Dare tahun 1804 mencatat tiap kampung membayar setahil emas, seekor kerbau, dan seratus gantang beras.

Batas Bacaan

Bacaan ini punya batas yang tegas. Tidak satu pun dari tiga prasasti memuat pertanggalan. Usianya hanya bisa diperkirakan dari bentuk aksara. Perkiraannya berupa rentang panjang, bukan angka tunggal. Prasasti diduga ditulis jauh sesudah abad ke-14 dan paling akhir pada abad ke-19.

Dasar perkiraan itu adalah perbandingan bentuk. Aksara ketiga prasasti hampir seluruhnya sama dengan abjad Incung susunan Westenenk tahun 1922. Bentuknya berbeda dari Aksara Incung pada Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah abad ke-14. Perbedaannya terutama pada sandangan dan sistem penulisan.

Kondisi fisik prasasti membatasi lebih jauh. Prasasti Datuk Kitam berlubang, aus, dan terkikis. Baris ke-5 sampai ke-9 pada prasasti itu tidak terbaca. Bagian akhir Prasasti Depati Awal-Depati Janggut juga rusak dan tidak bisa dialihbahasakan. Rekonstruksinya bersandar pada bacaan Voorhoeve tahun 1941.

Ada pula batas akses. “Sampai saat ini, prasasti tanduk dari Mendapo Rawang masih dianggap suci oleh masyarakat sehingga sulit diakses secara langsung,” tulis Sunliensyar. Pembacaan karena itu dikerjakan dari salinan digital, bukan dari benda aslinya. Pemeriksaan bahan dan goresan secara langsung tidak dilakukan.

Cakupannya juga sempit. Tiga prasasti berasal dari satu wilayah adat, sedangkan Kerinci punya sepuluh. Alih aksara dan alih bahasa baru dikerjakan pada dua prasasti. Prasasti ketiga hanya dideskripsikan ulang karena sudah dikerjakan pada penelitian sebelumnya.

Sisa pertanyaannya menumpuk di bagian yang aus. Batas-batas wilayah Kuta Baringin disebut pada ujung tanduk, tetapi hurufnya kecil dan sudah terkikis. Nama penulis Prasasti Datuk Kitam pun hanya terbaca sebagian sebagai Malana Kari. Tokoh itu diduga penulis prasastinya, dan dugaan tersebut belum bisa dipastikan.

Sepuluh kali pergantian dipati sudah kembali terbaca, dan selebihnya masih tertinggal pada permukaan tanduk yang terkikis.

Bagikan

Baca Juga

Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Kotak galian arkeologi di lantai gua kapur dengan lukisan dinding berpigmen hitam di atasnya.
Rangka Perempuan di Bawah Gambar Cadas Gua Batu Baras
Ilustrasi nisan batu andesit berbentuk arca manusia bertopi datar dengan kalung manik dan kedua tangan bersedekap, berdiri di antara nisan lempeng tua berlumut di lereng perbukitan
Nisan Arca Bugis: Dua Zaman dalam Satu Batu
Ilustrasi gudang lada kayu dan bata tua di tepi muara sungai dengan tumpukan karung goni, dermaga papan, dan tongkang kayu bermuatan karung
Kenegerian Lada: Warisan yang Tersisa di Nama Kampung
Ilustrasi ambang pintu batu andesit berhias relief sulur dan dua ukiran rosette, patah di salah satu ujungnya, tergeletak di antara reruntuhan bata berlumut dengan latar pohon beringin dan sawah
Ambang Pintu 1148 Saka: Siasat Ken Angrok di Kediri
Ratu Maha Maya di Dua Belas Panil Borobudur
Ratu Maha Maya di Dua Belas Panil Borobudur