Cekricek.id — Ada satu pemandangan yang berulang di banyak kampung kota dan hampir tidak pernah dijelaskan: kandang maggot sudah berdiri, pelatihannya sudah diberikan, bibit larvanya sudah dibagikan, tetapi beberapa bulan kemudian rak-raknya kosong dan kegiatannya berhenti. Orang biasanya menyimpulkan kelompok pengelolanya tidak telaten. Padahal mereka tahu cara memelihara larva; mereka sudah melakukannya sebelum program datang. Yang mati lebih dulu justru bukan pengetahuannya, melainkan sesuatu di hulu yang jarang dihitung sebagai bagian dari biologi larva.
Kejanggalan itulah yang dibedah Robby Jannatan, Resti Rahayu, Silvi Yuliani, Intan Cahaya Ramadhani, dan Yona Afriani dari Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas bersama Fadjar Goembira dari Departemen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik universitas yang sama, dalam laporan Integrated Black Soldier Fly Bioconversion and Biodrying for Community-Based Organic Waste Management: A Circular Economy Model in Kota Padang, Indonesia. Tulisan itu terbit di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 2 tahun 2026, halaman 156–165, dan mendokumentasikan program pendampingan berkerangka riset aksi partisipatif pada Kelompok Tani Smarkgood di Rimbo Kaluang, Kota Padang, yang dijalankan dalam lima tahap berurutan sepanjang Juni hingga September 2025.
Kondisi awal mitra itu persis menggambarkan kejanggalan tadi. Fasilitas budidaya maggot milik Smarkgood hanya berjalan pada kisaran 20 sampai 25 persen dari potensi kapasitas bulanannya. Sampah yang masuk tidak teratur, rata-rata hanya 5 sampai 10 kilogram sehari, dan kegiatan produksi pernah berhenti total berkali-kali. Rak pemeliharaan belum terstruktur, larva dipelihara dalam tatanan yang berantakan sehingga hasil panen dan keamanan biologisnya sama-sama terbatas. Kelompoknya ada, alatnya ada, kemauannya ada. Yang tidak ada adalah kepastian bahwa besok pagi masih ada yang bisa diberikan kepada larva.
Daftar Isi
Cara Pasokan yang Terputus Menghentikan Pertumbuhan Larva
Sebelum program berjalan, Smarkgood tidak memiliki satu pun perjanjian resmi dengan penghasil sampah mana pun. Bahan baku didapat secara informal dan tidak menentu, kadang datang, kadang tidak sama sekali. Penilaian awal tim menempatkan ketiadaan rantai pasok yang andal sebagai faktor tunggal paling mengganggu kemampuan kelompok itu mempertahankan budidaya. Artinya, berhentinya produksi bukan kejadian kebetulan yang menimpa kelompok yang malas, melainkan akibat yang bisa diperkirakan dari sebuah rangkaian yang putus di ujung paling hulu.
Persoalannya, larva lalat tentara hitam bukan mesin yang bisa dimatikan lalu dinyalakan kembali pada titik yang sama. Larva Hermetia illucens melahap bahan organik basah selama dua sampai tiga minggu pada fase pertumbuhannya, dan dalam kondisi yang sesuai mampu memangkas massa sampah sampai 84,5 persen dalam 21 hari sambil mengubahnya menjadi biomassa kaya protein. Begitu jadwal pemberian pakan kacau, yang terganggu adalah perkembangan tubuh larva itu sendiri, bukan sekadar jadwal panen. Rujukan yang dipakai tim penulis menegaskan hal tersebut. “Meneguz dkk. (2018) juga mencatat bahwa pemberian pakan yang tidak teratur atau terputus berdampak buruk pada perkembangan larva dan memperpanjang siklus produksi, yang menegaskan mengapa kestabilan rantai pasok bukan sekadar persoalan logistik melainkan variabel biologis langsung,” tulis Robby Jannatan, peneliti Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas, bersama para penulis pendampingnya.
Ukuran Cacahan yang Menentukan Berapa Banyak Larva Tumbuh
Karena itu, perbaikan yang dilakukan tim tidak dimulai dari penyuluhan tambahan, melainkan dari benda-benda yang menentukan bagaimana sampah sampai ke mulut larva. Salah satunya mesin pencacah. Alat itu tidak dipilih asal ada; kalibrasinya mengikuti temuan Wang dan koleganya yang dikutip di dalam laporan, bahwa substrat berukuran partikel 4 sampai 10 milimeter menghasilkan biomassa larva hingga 38 persen lebih besar dibanding partikel halus di bawah 2 milimeter. Sebabnya bukan selera larva, melainkan aerasi: cacahan yang lebih kasar menyisakan rongga udara sehingga aktivitas mikroba di dalam substrat berjalan lebih baik.
Perbaikan kedua menyentuh ruang tempat lalat dewasa kawin. Tatanan pemeliharaan yang semula berantakan diganti unit biokonversi terstruktur atau biopond, dan tata letak fasilitas dirapikan supaya alur kerja lebih tertib sekaligus mengurangi kontaminasi silang. Laporan itu menyandarkan pilihan tersebut pada Grosso dan koleganya, yang menekankan bahwa desain fasilitas yang terstruktur mendorong perilaku kawin alami lalat tentara hitam seperti lekking, sehingga efisiensi reproduksi dan kesinambungan koloni ikut terjaga. Dua perbaikan perangkat keras itu, menurut tim penulis, meletakkan fondasi biologis bagi kenaikan produksi yang kemudian tercatat.
Baca juga Tiga Sekuens Bakteri Vagina Diperiksa Lewat Basis Data NCBI
Jalur Kedua bagi Sampah yang Tidak Bisa Dimakan Larva
Ada bagian dari sampah organik yang tidak pernah menjadi urusan larva, dan di sinilah banyak program berhenti setengah jalan. Daun kering, ranting pangkasan taman, dan tempurung kelapa berserat tinggi dengan kandungan hara rendah tidak layak menjadi substrat larva. Sebelum program berjalan, kelompok Smarkgood tidak punya metode apa pun untuk fraksi semacam itu; bahan tersebut dibuang atau dibiarkan menumpuk tanpa guna. Dalam kerangka ekonomi sirkular yang dipakai laporan ini, tumpukan itu adalah aliran material yang bocor keluar dari sistem sebelum sempat menghasilkan apa-apa.
Pelatihan menutup kebocoran itu lewat biodrying, yang di Indonesia dikenal sebagai TOSS atau Teknologi Olah Sampah di Sumber. Prosesnya memanfaatkan panas dari aktivitas mikroba aerob untuk menurunkan kadar air bahan secara cepat. Dewilda dan rekan-rekannya, sebagaimana dikutip di dalam laporan, mendokumentasikan kadar air turun ke kisaran 5 sampai 11 persen dalam empat sampai lima hari, menghasilkan biomassa dengan nilai kalor mencapai sekitar 3.500 kilokalori per kilogram — cukup untuk memenuhi standar dasar bahan bakar alternatif. Pada demonstrasi lapangan, tim menunjukkan cara mengubah tempurung kelapa kering dan sampah taman menjadi arang menggunakan tungku biomassa.
Hasilnya mengubah bentuk usaha kelompok itu. Dari operasi satu jalur yang bergantung sepenuhnya pada larva, Smarkgood bergerak ke model dua jalur: sampah organik basah masuk ke biokonversi, residu kering divalorisasi lewat biodrying. Sampai program ditutup, kemampuan mitra menjalankan seluruh prosedur biodrying secara mandiri tercatat 100 persen. Implikasi praktisnya sederhana dan langsung terasa di neraca kelompok — porsi bahan organik yang masuk dan berakhir menjadi keluaran bernilai bertambah, sementara volume yang harus dibuang menyusut.
Baca juga AI Prediksi Respons Vaksin dari Antibodi Sebelum Disuntik
Bagaimana Kapasitas Berubah Menjadi Produksi, lalu Menjadi Pendapatan
Kapasitas yang membesar tetap percuma tanpa isi. Untuk itu tim memfasilitasi kerja sama resmi antara Smarkgood dan Asosiasi Maggot BSF Padang atau Agodang, yang membuka akses pada pasokan terkoordinasi Kitchen Organic Residue — residu organik dapur dari restoran, hotel, rumah makan, dan kafe di Kota Padang. Sampai program berakhir, kesepakatan itu berjalan penuh sesuai lingkup yang direncanakan. Pilihan sumbernya pun bukan kebetulan: Sulaiman dan koleganya melaporkan maggot yang dipelihara pada limbah restoran dan hotel mencapai bobot serta panjang akhir lebih besar dibanding yang hanya diberi limbah pasar sayur.
Angka yang menyusul memperlihatkan bagaimana rangkaian itu bekerja setelah tersambung. Pemanfaatan fasilitas naik ke sekitar 75 persen dari kapasitas bulanan, dan total sampah organik yang diolah selama Juli dan Agustus 2025 mencapai 6.156 kilogram, sekitar 80 persen di antaranya masuk ke jalur biokonversi BSF. Sisi hilirnya digarap dengan cara serupa. Penjualan yang semula sepenuhnya bersandar pada kabar dari mulut ke mulut — dan karena itu kerap meleset, permintaan datang justru ketika produksi sedang surut — dialihkan ke toko daring di Shopee, lengkap dengan pelatihan menyusun etalase produk dan memotret dagangan.
Yang membuatnya bekerja adalah kaitan antarbagian, bukan salah satu bagiannya. Fasilitas yang membaik menaikkan kemampuan mengolah; rantai pasok memastikan kemampuan itu terisi; biodrying menahan fraksi yang dulu terbuang; pelatihan pasar mengubah hasil produksi menjadi uang. “Setiap komponen saling menguatkan: fasilitas yang lebih besar dan lebih lengkap dengan pasokan bahan yang tidak dapat diandalkan tidak akan mempertahankan keluaran yang lebih tinggi, dan produksi yang membaik tanpa akses pasar tidak akan berubah menjadi pendapatan,” tulis tim Universitas Andalas itu di bagian sintesis laporannya.
Baca juga Tes Feses di Rumah Pangkas Kematian Kanker Usus 43%
Di Titik Mana Penjelasan Ini Berhenti
Sejauh itulah yang bisa dijelaskan, dan tim penulisnya sendiri yang lebih dulu menandai batasnya. Data yang dilaporkan hanya mencakup dua bulan pertama operasi penuh setelah fase intervensi utama, sehingga belum bisa dipastikan apakah kenaikan produksi dan kestabilan pasokan itu bertahan dalam jangka lebih panjang. Kesepakatan dengan Agodang bergantung pada koordinasi yang terus berjalan dan bisa terganggu oleh pergantian anggota, perubahan cara pemilahan di sumber, atau pergeseran kebijakan pengelolaan sampah setempat. Kemampuan pemasaran digital mitra pun baru dinilai sendiri di kisaran 50 persen saat program ditutup.
Batas lain menyangkut cakupan. Laporan ini mendokumentasikan pengalaman satu kelompok mitra dalam satu konteks perkotaan tertentu di Kota Padang, dievaluasi lewat pengamatan lapangan langsung dan catatan produksi milik mitra, bukan lewat percobaan terkendali dengan kelompok pembanding. Sejauh mana hasilnya berpindah ke kelompok lain dengan kapasitas awal atau komposisi sampah yang berbeda tidak bisa disimpulkan dari data ini. Angka 6.156 kilogram pun perlu diletakkan pada tempatnya: ia adalah capaian satu kelompok, di kota yang setiap harinya memproduksi lebih dari 660 ton sampah.
Kembali ke rak yang kosong itu. Yang membuat kandang maggot berhenti, menurut pembacaan laporan ini, jarang berupa larva yang gagal tumbuh atau pengelola yang kehilangan minat; yang berhenti lebih dulu adalah rangkaian di luar kandang — sumber sampah yang tidak pasti, fraksi kering yang tak punya jalur, dan hasil panen yang tidak menemukan pembeli. Selama satu mata rantai itu dibiarkan menggantung, sisanya akan ikut berhenti, betapapun rapi kandangnya. Itu sebabnya perbaikan yang dicatat di Rimbo Kaluang menyentuh keempatnya sekaligus, dan bukan satu per satu.














