Cekricek.id — 14 peserta. Itu jumlah orang yang tercatat hadir dalam satu pelatihan agribisnis berbasis teknologi di Desa Mekarsaluyu, Kecamatan Cimenyan, Jawa Barat. Laporannya disusun Achmad Muhammad, Supriyadi Sadikin, Dede Sudjana, Khariful Syukri, dan Yusita Attaqwa dari Teknik Manufaktur, Politeknik Manufaktur Bandung. Angka itu perlu dipegang sejak awal. Ia menentukan seberapa jauh temuan pelatihan ini boleh dibawa.
Laporan tersebut terbit di jurnal Warta Pengabdian Andalas Volume 33 Nomor 1 tahun 2026, pada halaman 128 sampai 139. Judulnya Developing Millennial Generation Skills Through a Technology-Based Agribusiness Training Program in Mekarsaluyu Village, Cimenyan District, West Java Regency. Naskahnya masuk 4 Desember 2025, diterima 22 Maret 2026, dan terbit tiga hari sesudahnya.
Metodenya sosialisasi. Tiga sesi materi, satu lokasi, satu hari kerja. Tempatnya kastil bambu Mekarsaluyu, dengan dukungan aparat desa berupa kursi, meja, dan layar proyektor putih. Peserta yang datang terdiri dari pemuda desa, mahasiswa, bapak-bapak, dan ibu-ibu yang berminat pada pertanian serta usaha kecil bidang pangan. Sasaran awalnya lebih sempit, yaitu generasi muda yang belum aktif bertani.
Daftar Isi
Tiga Sesi dan Satu Kastil Bambu
Sesi pertama diisi Dr. Eso Solihin, S.P., M.P. Materinya budidaya hortikultura, dari pemilihan benih unggul, teknik persemaian, pengaturan irigasi, sampai pengendalian hama terpadu. Ia juga menekankan pemeliharaan kesuburan tanah dan penerapan sistem tanam berkelanjutan. Satu sesi untuk seluruh rantai kerja, dari benih sampai pascapanen sayuran. Cakupannya luas untuk waktu yang sependek itu.
Sesi kedua milik Fitria Suryatini, S.Pd., M.T. Ia membawa pertanian presisi: rumah kaca, kendali penyiraman otomatis, dan pemupukan cair berbasis waktu. Sesi ketiga diisi Khariful Syukri, S.T., M.A.B., yang juga salah satu penulis laporan, dengan materi pemasaran digital. Tiga nama, tiga wilayah pengetahuan yang tidak saling bertumpuk. Urutannya pun logis: menanam, mengendalikan, lalu menjual.
Empat Angka Iklim dan Satu Nilai pH
Materi pertama dibuka dengan syarat tumbuh sayuran. Suhu udara 15 sampai 27. Kelembapan udara 70 sampai 80. Curah hujan 1.000 sampai 1.500. Penyinaran matahari 6 sampai 8. Empat rentang itu ditulis dalam jurnal tanpa satuan sama sekali. Pembaca harus menebak sendiri mana derajat, mana persen, mana milimeter, dan mana jam.
Angka kelima menyangkut tanah. Derajat keasaman ideal 6,0 sampai 6,8. Kedalaman pengolahan minimum 30 sentimeter. Kandungan bahan organik 2 sampai 5 persen. Teksturnya lempung berpasir dan liat berdebu, dengan struktur gembur serta porositas baik. Angka-angka ini yang paling mudah diperiksa sendiri oleh petani. Alat ukur pH tanah kini dijual bebas dan murah.
Rekomendasi komoditas dibagi menurut ketinggian lahan. Dataran rendah: kangkung, bayam, kacang panjang, mentimun, tomat, dan cabai. Dataran menengah: sawi, petsai, tomat, dan cabai merah besar. Dataran tinggi: kubis, wortel, brokoli, selada, dan kentang. Lima belas nama komoditas, tiga kelompok ketinggian, satu daftar patokan. Tomat muncul dua kali, di dataran rendah sekaligus dataran menengah.
Benih dipilah menjadi tiga golongan: hibrida F1, varietas unggul terbuka, dan benih lokal. Syarat benih baik ada enam butir, mulai viabilitas, vigor, kemurnian genetik, kemurnian fisik, kadar air rendah, sampai bebas hama dan penyakit. Penyimpanannya kering, sejuk, berventilasi, tertutup rapat, dan jauh dari sinar matahari. Pemateri menekankan bahwa benih unggul menekan risiko gagal tanam.
Baca juga Tes Feses di Rumah Pangkas Kematian Kanker Usus 43%
160 Kilometer dan Tiga Jenis Sensor
Sesi kedua memindahkan pembicaraan ke dalam rumah kaca. Sistem yang diperkenalkan memakai tiga jenis sensor sebagai masukan: kelembapan tanah, nutrisi berbasis TDS, dan intensitas cahaya. Data ketiganya dikirim ke mikrokontroler ESP32. Dari sana data naik ke basis data Firebase lewat jaringan internet. Pengguna membacanya melalui aplikasi Android yang dibuat dengan Kodular.
Perangkatnya disebut satu per satu di dalam laporan. BH1750 mengukur intensitas cahaya dalam satuan lux. SEM225 Sentec Soil NPK membaca nitrogen, fosfor, dan kalium tanah dalam satuan miligram. Sensor ketiga membaca kadar air tanah dalam persen. Keluarannya pompa DC untuk penyiraman dan nutrisi, ditambah lampu LED grow. Sebuah layar LCD I2C menampilkan data sensor.
Dua metode kendali dipakai bersamaan pada satu sistem. Penyiraman diatur logika fuzzy berdasarkan kelembapan tanah secara waktu nyata. Nutrisi dan pencahayaan diatur pengatur waktu hidup-mati. Proporsi daya pompa DC berada pada rentang 100 sampai 255. Tanaman ujinya krisan, bukan sayuran dataran tinggi yang didaftar pada sesi pertama.
Dua angka dari sesi ini paling mudah diingat peserta. Lampu LED grow dipakai untuk tanaman yang butuh cahaya lebih dari 12 jam. Sistemnya diklaim dapat dipantau dan dikendalikan dari jarak lebih dari 160 kilometer. Catatan jujurnya ikut ditulis. LED menopang fase vegetatif tanaman, tetapi sedikit menunda fase generatifnya.
Deretan komponen semacam itu terdengar mahal untuk ukuran satu desa. Pemateri menjawab keberatan itu lebih dulu. Tim penulis mencatat pernyataan Fitria Suryatini. “Penerapan teknologi tidak selalu identik dengan biaya tinggi, tetapi bisa dimulai dari penggunaan teknologi sederhana yang mudah diakses dan diterapkan oleh petani desa.” Contoh termurahnya sensor kelembapan tanah dan aplikasi pemantau cuaca di telepon.
Baca juga Tiga Sekuens Bakteri Vagina Diperiksa Lewat Basis Data NCBI
Delapan Kanal dan 20 Persen Biaya Admin
Sesi ketiga berpindah ke layar telepon genggam. Delapan kanal disebut sebagai jalur pemasaran: TikTok, Shopee, Tokopedia, Gojek, Grab, Instagram, Facebook, dan WhatsApp Business. Semuanya diperkenalkan sebagai alat promosi yang murah, mudah dijangkau, dan berdaya jangkau luas. Sasarannya dua jenis produk sekaligus, yaitu hasil panen segar dan produk olahan desa.
Fiturnya dirinci per kanal, bukan disebut sepintas. WhatsApp Business empat fitur: katalog, balasan cepat, grup, dan status. Facebook empat pula: marketplace, forum jual beli, beranda, dan status. Shopee paling panjang daftarnya, dari katalog produk, promo toko, voucher, gratis ongkir bertema, iklan, sampai star seller dan dekorasi toko. Konten promosi disebut perlu foto berkualitas dan unggahan yang konsisten.
Bagian paling praktis justru berupa tiga peringatan. Pertama, tingkat kesegaran produk yang membuat banyak penjual hanya melayani pengiriman instan dalam kota. Kedua, biaya admin lokapasar yang menurut laporan bisa mencapai 20 persen dari omzet. Ketiga, perhitungan laba yang kerap keliru. Penyebabnya satu: biaya iklan tidak dimasukkan sebagai unsur harga pokok produk.
Setelah itu barulah soal merek dibahas. Peserta diperkenalkan pada tiga langkah penjenamaan sederhana: menentukan nama produk, merancang kemasan yang menarik, dan menyampaikan nilai keunggulan kepada konsumen. Lokapasar ditempatkan sebagai jalur yang memangkas tengkulak sekaligus membuka transparansi harga. Materi ditutup dengan cara membuka akun penjual, mengunggah produk, dan mengelola pesanan.
Tiga Kendala dalam Satu Hari Kegiatan
Bagian kendala ditulis terbuka, dan isinya tiga butir. Butir pertama, sebagian narasumber tidak dapat hadir sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Susunan acara dan materi pelatihan harus disesuaikan ulang di tempat. Tim pelaksana berimprovisasi agar tujuan kegiatan tetap tercapai meski agendanya berubah. Laporan menyebut perlunya rencana cadangan dan koordinasi yang lebih intensif.
Butir kedua menjelaskan mengapa angka pesertanya berhenti di 14. Achmad Muhammad dan rekan-rekannya menulisnya tanpa berkelit. “Faktor penyebabnya antara lain keterbatasan waktu peserta, adanya kegiatan lain pada waktu yang sama, dan rendahnya kesadaran sebagian generasi muda tentang pentingnya pelatihan agribisnis.” Akibatnya jangkauan manfaat kegiatan tidak optimal dan alih pengetahuan tidak sampai ke seluruh sasaran.
Baca juga Titik Kuantum dari Selulosa Tingkatkan Produksi Hidrogen Fotokatalitik hingga 69 Persen
Butir ketiga bersifat teknis. Penyediaan dan pengoperasian pengeras suara terlambat, sehingga kegiatan mundur dari waktu mulai yang dijadwalkan. Laporan menyebut potensi berkurangnya efektivitas penyampaian materi pada sesi presentasi dan diskusi. Ketiga kendala itu akhirnya diatasi bertahap lewat koordinasi internal tim. Kegiatan tetap berjalan sampai selesai pada hari yang sama.
14 Orang, Nol Skor Sebelum dan Sesudah
Di sinilah angka 14 menuntut kehati-hatian pembaca. Laporan menyimpulkan adanya peningkatan pemahaman dan minat peserta terhadap pertanian serta agribisnis berbasis teknologi. Namun tidak ada satu pun skor uji sebelum dan sesudah pelatihan yang dicantumkan. Dasar kesimpulannya pengamatan atas antusiasme, pertanyaan, dan diskusi selama kegiatan berlangsung. Itu bukti kualitatif, bukan pengukuran.
Batas kedua ada pada cakupan. Satu desa, satu hari, satu kali pertemuan, dengan 14 orang dari latar yang beragam. Sebagian di antaranya justru sudah bekerja sebagai petani, bukan generasi muda yang belum terlibat seperti sasaran awal. Hasil kegiatan seperti ini tidak bisa digeneralisasi ke desa lain, apalagi ke tingkat nasional.
Sistem rumah kaca itu pun perlu dibaca pada tempatnya. Ia diuji pada satu jenis tanaman, yaitu krisan, dengan tiga sensor dan satu mikrokontroler. Tidak ada keterangan bahwa perangkat serupa dipasang di lahan peserta. Yang terjadi di kastil bambu adalah pengenalan konsep, bukan pemasangan alat. Jarak antara paparan dan penerapan masih panjang.
Tindak lanjutnya sudah dirancang di bagian penutup laporan. Tim menyebut pendampingan praktik budidaya, pembinaan kelompok pemuda tani, penguatan manajemen usaha, serta pemetaan komoditas unggulan desa. Evaluasi efektivitas pelatihan dimasukkan sebagai agenda riset lanjutan. Semua itu masih berupa rencana pada saat naskah ditulis. Belum ada satu pun hasilnya yang bisa dibaca.
Angka terakhirnya tetap 14. Yang belum dijawab laporan ini satu hal. Berapa dari 14 orang tersebut, setahun sesudah pelatihan, benar-benar memasang sensor kelembapan, membuka akun penjual, atau menanam satu bedeng sayuran.














