Cekricek.id — Satu kaki berjingkat di ujung jari. Telapak kaki yang lain menempel di sisi dalam lutut penopang, kedua tangan bertumpu di pinggang. Waktu mulai dihitung sejak tumit terangkat. Hitungan berhenti begitu tumit jatuh, tangan lepas dari pinggang, atau kaki yang diangkat bergeser sedikit saja. Di sebuah fasilitas olahraga di Kota Serang, dua puluh satu calon wasit pencak silat menjalani adegan itu satu per satu, bergantian, dengan pengukur waktu berdiri di sampingnya.
Adegan itu tercatat dalam Physical Fitness Norms For Prospective Regional-Level Pencak Silat Referees: A Battery Test Approach In Serang City, laporan Danang Prama Dhani, Rian Triprayogo, Naufallathuf Yaquttul Irsyad, dan Tulliss Bial Fathannisa dari Departemen Ilmu Keolahragaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, bersama Andy Widhiya Bayu Utomo dari Departemen Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FKIP kampus yang sama. Laporan itu terbit di Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Vol. 11 No. 1 tahun 2026, halaman 224 sampai 237.
Yang diukur di lapangan itu bukan hafalan pasal atau ketepatan isyarat tangan, dua hal yang selama ini mendominasi pembinaan wasit daerah. Yang diukur adalah tubuh. Desainnya kuantitatif dengan metode deskriptif eksploratif, dan sampelnya seluruh calon wasit muda di bawah IPSI Kota Serang — 21 orang, diambil lewat teknik total sampling karena populasinya memang sekecil itu. Soal waktu pengambilan data, laporannya sendiri tidak konsisten: bagian metode menyebut awal 2025, sementara bagian hasil berulang kali menuliskan angka tahun 2026.
Lima Alat dalam Satu Hari
Seluruh pengukuran dituntaskan dalam satu hari. Alat pertama yang paling sederhana bentuknya: posisi telungkup, tumpuan pada ujung kaki dan telapak tangan selebar bahu, badan diturunkan sampai dada nyaris menyentuh lantai, lalu didorong naik sampai lengan lurus penuh dengan punggung tetap datar. Selama enam puluh detik. Yang dicatat cuma satu, jumlah ulangan yang sah, bukan yang terlihat bersemangat.
Alat kedua meminta subjek menekuk lutut lebih dulu sebelum melompat setinggi mungkin. Selisih antara raihan tangan saat berdiri dan titik tertinggi yang tersentuh saat melompat itulah nilainya. Tiga kali percobaan, angka terbaik yang dipakai. Alat ketiga adalah adegan berjingkat di paragraf pembuka tadi: berdiri satu kaki, tangan di pinggang, bertahan selama mungkin sampai keseimbangan hilang.
Alat keempat tidak menuntut tenaga, hanya kesiagaan. Subjek berdiri di area sensor dan diminta merespons rangsang yang datang tanpa diduga — cahaya atau bunyi — secepat mungkin dengan menggeser gerakan dari area itu. Mesinnya sendiri yang mencatat jeda, dalam satuan milidetik, sejak rangsang muncul sampai gerak motorik terjadi. Kelima alat itu, menurut tim Untirta, dipilih bukan cuma karena tervalidasi, melainkan juga atas permintaan formal cabang IPSI Kota Serang.
Garis Dua Puluh Meter
Alat kelima memakan tempat paling luas dan paling ramai bunyinya. Dua garis dipasang berjarak dua puluh meter, lalu rekaman audio memberi aba-aba yang jaraknya makin rapat di tiap level. Subjek berlari bolak-balik mengikuti irama itu. Pengukuran dihentikan ketika ia tidak lagi sanggup mengejar tempo atau dua kali berturut-turut gagal mencapai garis batas. Level dan balikan terakhir kemudian dikonversi menjadi perkiraan VO2 Max, mengikuti prosedur Léger dan Lambert sejak 1982.
Di sinilah alasan pengukuran ini dikerjakan menjadi masuk akal. Wasit pencak silat harus bergerak aktif sepanjang pertandingan demi mendapat sudut pandang terbaik, sementara serangan dan tangkisan dieksekusi dalam hitungan milidetik. Kelelahan fisik menurunkan konsentrasi, dan konsentrasi yang turun berujung pada keputusan yang meleset — rujukan yang berulang kali dipakai tim Untirta, dari Weston dan koleganya sampai Castagna, semuanya mengarah ke sana.
Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Di ruangan yang sama, sesudah kelima alat itu dijalankan berurutan pada orang yang sama, satu hal terlihat jelas bagi para peneliti. Danang Prama Dhani, penulis korespondensi laporan itu, dan rekan-rekannya menuliskan bahwa “seorang wasit tidak dapat hanya mengandalkan kecepatan reaksi visual (WBR) tanpa sokongan mendasar berupa daya tahan kardiorespirasi (MFT) dan keseimbangan postural yang kokoh”. Mata yang cepat tidak berguna kalau kaki sudah berat.
Keseimbangan mendapat porsi penjelasan tersendiri. Dalam pertandingan berintensitas tinggi, pesilat kerap melepas serangan beruntun yang memaksa wasit mundur atau bergeser ke samping secara eksplosif, kadang untuk memisahkan, kadang untuk menghindari benturan. Stabilitas postural, tulis tim itu mengutip Sutrisno dan Wibowo, pada akhirnya adalah wujud kewibawaan dan kesadaran posisi wasit di atas gelanggang.
Tabel Lima Baris
Persoalan berikutnya muncul di meja, bukan di lapangan. Lima alat menghasilkan lima satuan yang tak bisa dijumlahkan begitu saja: ulangan, sentimeter, detik, dan milidetik. Skor mentah karena itu dikonversi lebih dulu ke skor skala menurut rubrik kebugaran, baru diakumulasi menjadi Skor Total per orang. Pengolahannya memakai IBM SPSS Statistics versi 26.0, dan penggolongannya memakai Penilaian Acuan Norma lima skala.
Dari 21 lembar hasil itu, angka terendah 9 dan tertinggi 37. Rata-ratanya 22,9 dengan simpangan baku 7,8. Dua angka terakhir itulah yang menjadi tulang tabel: ambang kategori tertinggi jatuh di X lebih dari 34,6, yang lalu dibulatkan menjadi 35. Bukan angka yang diimpor dari standar nasional mana pun, melainkan angka yang lahir dari kelompok itu sendiri.
Baca juga Tiga Sekuens Bakteri Vagina Diperiksa Lewat Basis Data NCBI
Tabelnya jadi lima baris. Baik Sekali untuk skor 35 ke atas, Baik untuk 27 sampai 34, Cukup untuk 19 sampai 26, Kurang untuk 12 sampai 18, dan Kurang Sekali untuk 11 ke bawah. Ketika 21 nama tadi ditaruh ke dalamnya, hanya satu orang mendarat di baris teratas. Enam masuk Baik, tujuh masuk Cukup, lima masuk Kurang, dan dua sisanya jatuh ke Kurang Sekali.
Tujuh dari 21 calon wasit, dengan kata lain, berada di dua baris terbawah tabel yang mereka bantu bentuk sendiri. Ini konsekuensi logis dari acuan norma: karena batasnya dihitung dari rata-rata kelompok, selalu ada yang berada di bawahnya. Norma semacam ini menjelaskan posisi seseorang terhadap teman-temannya di Kota Serang, bukan terhadap ambang fisiologis mutlak yang berlaku di mana pun.
Dua Nama di Ujung Daftar
Daftar hadir hari itu berisi 15 laki-laki dan 6 perempuan. Usia termuda 21 tahun, tertua 41 tahun, dengan rata-rata 29,1 tahun dan simpangan baku 6,27 tahun. Tiga belas orang berada di kelompok di bawah 30 tahun, enam orang di rentang 30 sampai 39 tahun, dan dua orang sisanya berumur 40 tahun ke atas. Dua orang terakhir itu yang kemudian paling banyak diperbincangkan di bagian pembahasan.
Sebelum sampai ke sana, ada temuan yang menyalahi dugaan umum. Kelompok yang paling muda bukan yang paling bugar. Rata-rata Skor Total kelompok 30 sampai 39 tahun tercatat 26,17, di atas kelompok di bawah 30 tahun yang berhenti di 23,23. Tim Untirta menjelaskannya lewat kematangan neuromuskular: bertahun-tahun bergerak membuat kelompok usia tiga puluhan lebih hemat tenaga, lebih efisien secara biomekanik, dan lebih tahu kapan harus mengerahkan apa.
Baca juga AI Prediksi Respons Vaksin dari Antibodi Sebelum Disuntik
Lalu dua nama di ujung daftar itu. Rata-rata Skor Total kelompok 40 tahun ke atas anjlok ke 10,50, masuk baris paling bawah tabel. Penurunan serabut otot cepat dan kapasitas kerja paru disebut sebagai penyebabnya, dan tim itu merekomendasikan IPSI Kota Serang mulai memberlakukan batas usia penugasan lapangan atau memindahkan wasit senior ke posisi Dewan Juri dan Pengamat Arena. Perlu dicatat, kelompok itu hanya berisi dua orang, dan keduanya perempuan.
Catatan itu penting karena laporan yang sama menemukan jurang gender. Rata-rata Skor Total wasit laki-laki 25,33, sedangkan wasit perempuan 16,67 — selisih yang paling menganga pada instrumen berbasis daya tahan aerobik dan kekuatan tubuh bagian atas. Karena tidak ada satu pun laki-laki di kelompok 40 tahun ke atas, efek usia dan efek gender pada angka 10,50 tadi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Yang menarik, jurang itu tidak dipakai untuk melunakkan tabel. Arena pencak silat, tulis tim Untirta, memakai dimensi, durasi ronde, dan intensitas serangan yang sama untuk kelas putra maupun putri, sehingga wasit perempuan dituntut memiliki mobilitas dan kecepatan reaksi yang sama tajamnya. Karena itu, “penyusunan norma battery test gabungan ini berfungsi sebagai penyetara biologis. Norma tersebut tidak menggolongkan kelulusan berdasarkan jenis kelamin, melainkan berdasarkan tuntutan kerja di arena”.
Batas laporan ini perlu diletakkan sejelas angkanya. Dua puluh satu orang di satu kota adalah dasar yang tipis untuk sebuah norma, dan sel-sel di dalamnya lebih tipis lagi — enam perempuan, dua orang di kelompok tertua. Tidak ada pengukuran yang menghubungkan skor kebugaran dengan ketepatan keputusan di pertandingan sungguhan, sehingga kaitan antara kebugaran dan kualitas memimpin pertandingan tetap berupa dugaan yang bersandar pada literatur, bukan bukti dari gelanggang Serang.
Sesi hari itu berakhir seperti ia dimulai. Satu kaki berjingkat, tangan di pinggang, tumit terangkat, detik-detik yang dihitung sampai keseimbangan hilang. Bedanya, angka detik itu kini punya tempat: satu baris dalam tabel lima tingkat yang diusulkan menjadi alat saring resmi sebelum seorang calon wasit diberi penugasan di kejuaraan. Tumit yang jatuh terlalu cepat bukan lagi sekadar tumit yang jatuh.














