Cekricek.id — Di dalam tumpukan batang sawit yang melapuk, larva gemuk berwarna putih itu biasanya bergerak lamban dan tampak sehat sampai seseorang mengangkatnya dari serasah. Sesekali yang terangkat justru bangkai yang kaku, kusam, dan diselimuti lapisan putih rapat, kadang hijau kelabu, sampai ke lekuk terkecil tubuhnya. Larva itu tidak dimakan siapa pun dan tidak diserang dari luar. Tidak ada luka, tidak ada bekas gigitan, tidak ada racun yang pernah disemprotkan ke sana. Ia mati lebih dulu, lalu berbulu. Yang tumbuh rapat di permukaannya itu pun bukan jamur pembusuk biasa yang mendatangi bangkai.
Penjelasan tentang bagaimana kematian semacam itu berlangsung dirangkum dalam laporan penelitian Dyah Nuning Erawati, Irma Wardati, Suharto, Joni Murti Mulyo Aji, Novita Cholifah Ida, dan Yeni Suprapti, peneliti dari Politeknik Negeri Jember dan Universitas Jember, yang berjudul Jalur Infeksi Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae Sebagai Pengendali Hayati Oryctes rhinoceros L. dan terbit di Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Volume 21 Nomor 3 tahun 2021. Mereka mengejar satu pertanyaan yang sempit, yaitu lewat pintu mana sebenarnya spora cendawan itu masuk ke tubuh larva kumbang badak. Pertanyaan itu jarang diuji karena jawabannya telanjur dianggap sudah selesai.
Kumbang badak Oryctes rhinoceros merusak kebun sawit pada fase dewasa, ketika ia mengerat pucuk dan pelepah muda, sementara fase larvanya justru hidup tenang di dalam tumpukan batang lapuk dan bahan organik yang membusuk. Laporan itu mencatat serangan hama tersebut dapat menurunkan produksi tandan buah segar sampai lebih dari 50 hingga 69 persen. Karena larvanya tersembunyi di dalam sarang pembiakan, pengendalian kimia sulit menjangkaunya. Yang dipakai justru makhluk hidup lain, yakni cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae, yang ditebar ke sarang itu lalu dibiarkan bekerja sendiri.
Daftar Isi
Cara Konidia Menempel dan Menembus Kutikula

Gambaran yang paling sering dipakai untuk menerangkan cendawan entomopatogen adalah kontak: konidia menempel di kulit serangga, berkecambah, lalu menerobos masuk ke dalam. Kutikula larva bukan penghalang lunak, melainkan lapisan berlapis lilin dan kitin yang cukup rapat untuk menahan sebagian besar mikroba yang kebetulan mendarat di permukaannya. Cendawan tidak menembusnya dengan tenaga. Ia melarutkannya. Laporan itu menyebut kedua cendawan menghasilkan berbagai enzim pengurai, termasuk protease, kitinase, dan lipase, untuk memfasilitasi masuknya melewati penghalang besar berupa kutikula tersebut, sehingga lubang yang terbentuk hanya seluas yang benar-benar diperlukan oleh sehelai hifa.
Baca juga Sulfat Dikira Mengunci Metana Mangrove, Ternyata Tidak
Enzim itu bekerja seperti kunci yang dicocokkan pada gerendel, bukan seperti linggis yang mendobrak daun pintu. Protease memutus ikatan protein, kitinase merombak kitin, dan lipase membuka lapisan lemak yang melindungi permukaan tubuh, sehingga hifa cendawan cukup mendorong pelan untuk sampai ke jaringan di bawahnya. Laporan itu juga menyinggung perangkat genetiknya, yakni sekitar 83 gen penyandi sitokrom P450 pada B. bassiana yang sebagiannya menangani oksidasi hidrokarbon. Perubahan pertama yang tampak justru sederhana. “Awal infeksi B. bassiana ditandai dengan warna kutikula tampak berkilat dan beraroma etanol,” tulis Dyah Nuning Erawati, penulis korespondensi laporan itu, bersama timnya.
Sesudah kilap tersebut, warna kutikula memudar, permukaannya menjadi kusam, dan bagian posterior tubuh larva berlekuk lalu mengecil sampai serangga uji berhenti bergerak sama sekali. Baru sesudah itu cendawan keluar dari dalam dan menampakkan diri. “Miselum berwarna putih akan tumbuh menyelimuti tubuh kadaver pada hari ke 6–11 setelah serangga uji mati,” tulis mereka. Pada larva yang terinfeksi M. anisopliae, kutikula berubah pucat merata di seluruh tubuh, hifa putih muncul pada hari ketiga sesudah kematian, dan kadaver tertutup cendawan hijau pada hari keenam sampai kesepuluh.
Mengapa Jalur Mulut Ikut Menentukan Kematian
Persoalannya, kontak lewat kulit bukan satu-satunya cara konidia sampai ke dalam tubuh serangga. Tim itu menyusun pengujian dengan metode paparan umpan: larva instar ketiga yang sehat dan seragam ukurannya dilaparkan lebih dulu selama 24 jam, lalu disodori pakan yang sudah dibubuhi biakan cendawan. Larva yang lapar akan makan apa saja. Dengan cara itu konidia tidak hanya mendarat di permukaan tubuh, tetapi ikut tertelan bersama pakan, sehingga pertanyaan tentang pintu masuk menjadi mungkin diuji di dalam ruang tertutup dan tidak berhenti sebagai dugaan yang diwariskan antarpenelitian.
Metode umpan itu penting karena memisahkan dua hal yang di lapangan biasanya bercampur. Ketika biakan cendawan ditebar ke sarang pembiakan, larva bersentuhan dengan konidia lewat permukaan tubuhnya sekaligus lewat bahan yang dimakannya, dan akibat dari masing-masing jalur menjadi mustahil dibedakan satu sama lain. Pemisahan itu hanya bisa dipaksakan di dalam laboratorium, dengan susunan percobaan yang sengaja dibuat berat sebelah. Dengan larva yang dilaparkan lebih dulu dan pakan yang sengaja dibubuhi konidia, jalur lewat mulut didorong ke depan, lalu tanda yang muncul pada tubuh larva dibaca sebagai jejak yang ditinggalkannya.
Baca juga Empat Indeks Jentik dan Peta Kasus DBD Sukoharjo
Buktinya tidak datang dari alat ukur yang rumit, melainkan dari letak tumbuhnya cendawan. Pada larva yang mati oleh B. bassiana, hifa lebih dulu muncul di bagian caput dan toraks, sedangkan pada larva yang mati oleh M. anisopliae hifa muncul di toraks dan abdomen. Cendawan menerobos ke luar dari tempat massa jaringannya paling padat, yaitu titik yang paling awal berhasil ia kuasai. Karena itu, tumbuhnya hifa di sekitar kepala dibaca sebagai petunjuk bahwa infeksi bermula dari alat mulut, bukan semata dari permukaan tubuh yang kebetulan terpapar konidia dari luar.
Isolat yang diuji berasal dari tiga tempat dengan ketinggian berbeda, yaitu Temanggung pada 675 meter di atas permukaan laut, Jember pada 89 meter, dan Jombang pada 44 meter, dan seluruhnya dimurnikan dari kadaver kumbang badak sebelum diperbanyak pada media PDA. Perbedaan asal itu terbawa sampai ke hasil. Isolat M. anisopliae asal Jombang menghabisi seluruh larva uji pada hari keenam, sementara isolat lain masih menyisakan larva yang hidup pada hari yang sama. Isolat itu pula yang biakannya paling padat, rata-rata 8,9 miliar konidia per mililiter.
Kerapatan spora bukan sekadar catatan laboratorium, melainkan ukuran seberapa banyak konidia yang tersedia untuk menempel dan tertelan dalam satu kali paparan, dan angka itu ikut menerangkan mengapa satu isolat bisa jauh lebih ganas daripada isolat lain yang sejenis. Semakin padat biakannya, semakin besar peluang seekor larva menerima dosis yang cukup sebelum tubuhnya sempat menutup jalan masuk. Kematian pun datang lebih cepat. Secara umum isolat M. anisopliae mematikan lebih banyak larva uji dibanding isolat B. bassiana pada hari keenam, meski keduanya sama-sama terbukti mampu menginfeksi dan membunuh serangga uji.
Bagaimana Larva Melawan dengan Melanin
Yang membuatnya rumit, larva tidak diam menerima serbuan itu. Begitu hifa masuk, tubuh serangga menjalankan pertahanan berupa melanisasi, yaitu pembentukan melanin melalui kerja enzim fenol oksidase yang membungkus dan menahan laju cendawan di dalam tubuh. Laporan itu menyebut melanisasi merupakan bentuk pertahanan diri terhadap infeksi jamur yang berfungsi menghambat pertumbuhan jamur di dalam tubuh larva. Karena itu, hasil akhirnya tidak ditentukan oleh satu pihak saja, melainkan oleh kecepatan: cendawan berlomba menguasai cairan tubuh larva sebelum melanin sempat mengurung dan mematikan pertumbuhannya di dalam sana.
Perlombaan itu menjelaskan mengapa kematian larva tidak seragam meski cendawan yang dipakai sejenis dan diperlakukan sama. Larva yang menelan konidia dalam jumlah besar memberi cendawan keunggulan awal yang sulit dikejar oleh pertahanan melanin, sedangkan larva yang hanya terpapar sedikit spora bisa bertahan lebih lama, bahkan lolos sama sekali. Bedanya tampak pada hitungan hari, dan ditentukan pada saat paparan, bukan sesudahnya. Gejala di kutikula, waktu munculnya hifa, dan warna kadaver adalah tanda dari pertandingan yang sudah selesai di dalam, jauh sebelum ada yang terlihat di permukaan.
Di Mana Penjelasan Jalur Infeksi Itu Berhenti
Penjelasan tersebut berhenti pada satu titik, dan titik itu diakui sendiri oleh para penulisnya. Pengujian dijalankan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Politeknik Negeri Jember memakai rancangan acak lengkap dan uji beda nyata terkecil pada taraf lima persen, dengan larva instar ketiga yang sudah diseragamkan, bukan larva pada sarang pembiakan yang sesungguhnya. “Potensi jalur infeksi B. bassiana melalui infeksi oral masih perlu penelaahan lebih lagi,” tulis Erawati dan rekan-rekannya. Dugaan tentang toksisitas lewat mulut, menurut mereka, juga masih memerlukan kajian lanjutan untuk memahami mekanismenya secara utuh. Yang mereka tunjukkan adalah kemungkinan, bukan kepastian.
Baca juga Lereng Tanah Residual Lebih Rentan pada Hujan Lama
Ada batas lain yang sebaiknya tidak diloncati pembaca. Letak hifa adalah petunjuk yang kuat, tetapi ia tetap petunjuk, bukan pengukuran langsung atas jalan masuk konidia ke dalam tubuh larva. Kematian seluruh larva uji pada satu isolat juga angka laboratorium, bukan janji bahwa penebaran cendawan akan menghabiskan populasi kumbang badak di kebun mana pun, pada rentang cuaca dan kelembapan yang tidak pernah diuji di sana. Kesimpulan laporan itu memang menyebut peluang pengembangannya sebagai pengendali hayati terbuka lebar, meski tetap ada batasan spesifik inang yang mempersempit jangkauannya.
Bangkai larva berbulu di dalam tumpukan batang lapuk itu, dengan begitu, bukan tanda pembusukan yang mendahului kematian. Ia bagian paling akhir dari urutan yang jauh lebih panjang: konidia yang tertelan atau menempel, enzim yang melarutkan kutikula dari sisi luar maupun dari dalam, melanin yang datang terlambat, dan hifa yang baru keluar setelah tidak ada lagi yang perlu dilawan di dalam sana, ketika inangnya sudah habis dipakai. Lapisan putih dan hijau yang menyelimuti tubuhnya itu bukan permulaan cerita. Ia sisa dari pekerjaan yang sudah tuntas.














