Tiga Rumah Sakit Deli Maatschappij, 1871 sampai 1940

A A

Rumah sakit Bangkattan dan rumah apoteker milik Deli Maatschappij di Binjai, Langkat, dalam foto C.J. Kleingrothe tahun 1903. [Foto: KITLV Leiden via Wikimedia Commons, domain publik]

Cekricek.id — Pada 28 Oktober 1869, N.V. Deli Maatschappij didirikan. Perusahaan tembakau itu mulai beroperasi pada 1 November 1869. Akta pendiriannya bertanggal 12 Januari 1870. Dua tahun kemudian, sebuah rumah sakit dibuka di Medan. Dari titik itu, urusan kesehatan buruh perkebunan Sumatera Timur punya bangunan, bukan sekadar niat. Bangunan itu bertambah menjadi tiga dalam lima puluh tahun berikutnya. Ketiganya berdiri di Medan, Binjai, dan Langkat.

Kronologi itu disusun oleh Junaidi, Budi Agustono, Kiki Maulana Affandi, dan Muhammad Rasyidin dari Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, bersama Asrika Sari Harahap dari Program Studi Sarjana Kebidanan, Universitas Haji Sumatera Utara. Artikel mereka berjudul Sejarah Rumah Sakit pada Perkebunan N.V. Deli Maatschappij di Sumatera Timur (1869—1940). Tulisan itu terbit di jurnal Purbawidya Volume 15 Nomor 1 tahun 2026, halaman 210 sampai 222.

Daftar Isi
  1. 1863–1869: Tembakau Deli Sebelum Ada Rumah Sakit
  2. 1871–1884: Rumah Sakit Medan dan Dokter Kontrak Pertama
  3. 1891–1901: Krisis Tembakau lalu Renovasi Besar Medan
  4. 1907–1922: Bangkattan di Binjai, Tanjung Selamat di Langkat
  5. 1923–1939: Pergantian Dokter dan Catatan Terakhir

1863–1869: Tembakau Deli Sebelum Ada Rumah Sakit

Bangunan rumah sakit dan rumah apoteker perkebunan Tandjong-Slamat pada 1905.
Rumah sakit dan rumah apoteker perkebunan Tandjong-Slamat milik Deli Maatschappij, dalam foto C.J. Kleingrothe tahun 1905. [Foto: KITLV Leiden via Wikimedia Commons, domain publik]

Jacobus Nienhuys tiba di Labuhan Deli pada 1863. Ia datang untuk menguji tanah bagi tembakau. Percobaan itu berhasil dan menarik modal dari Belanda. Pada 1868 keuntungan usahanya melewati seratus persen. Setahun kemudian angka itu berlipat menjadi dua ratus persen. Dari lonjakan itulah N.V. Deli Maatschappij lahir sebagai perseroan terbatas pada akhir Oktober 1869. Kantor pusatnya kemudian berdiri di Medan. Kebun-kebun pertamanya dibuka di kawasan Deli.

Angka produksi tembakau Deli naik cepat. Pada 1864 hasilnya 50 bal dengan harga 48 gulden per setengah kilogram. Pada 1870 produksi mencapai 2.868 bal dan harganya 128 gulden. Lima tahun kemudian jumlahnya 15.355 bal dengan harga 170 gulden. Pada 1880 produksi menembus 64.965 bal, meski harga turun ke 112,5 gulden. Kurva itu menjelaskan mengapa perusahaan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Buruh didatangkan dari luar Sumatera Timur untuk mengisi kebun-kebun itu. Beban kerjanya berat dan permukimannya padat. Beri-beri, kolera, disentri, influenza, kusta, dan sifilis tercatat berjangkit di sana. Junaidi dan rekan-rekannya menulis, “Kematian buruh perkebunan jamak terjadi sejak awal pembukaan perkebunan.” Perusahaan membutuhkan kesinambungan tenaga kerja, dan kesinambungan itu bergantung pada tubuh yang sehat. Rumah sakit menjadi jawaban perusahaan atas hitungan tersebut.

1871–1884: Rumah Sakit Medan dan Dokter Kontrak Pertama

Rumah Sakit Deli Maatschappij berdiri di Medan pada 1871. Bangunan itu menjadi fasilitas kesehatan pertama milik perusahaan. Layanannya belum terbuka untuk semua orang. “Pada awalnya, fasilitas perawatan di Rumah Sakit Deli Maatschappij hanya diperuntukkan bagi orang Eropa dan buruh laki-laki,” tulis para peneliti. Perempuan dan anak menunggu giliran selama puluhan tahun. Batas itu baru bergeser pada 1920-an. Rumah sakit itu berdiri dua tahun setelah perusahaan dibentuk.

Baca juga Rumah Sakit Pabrik Gula Mangkunegaran dan Batas Kebaikannya

Rumah sakit pertama itu berdiri di kota yang juga baru tumbuh. Medan menjadi pusat administrasi perusahaan sekaligus lokasi rumah sakit pertamanya. Foto koleksi Leiden bertarikh 1910 memperlihatkan gedung kantor pusat perusahaan. Foto lain dari 1905 merekam bangsal perawatan perempuan di rumah sakit Medan. Dua gambar itu dipakai artikel tersebut sebagai ilustrasi arsip. Keduanya berasal dari koleksi media KITLV di Leiden.

Kebun perusahaan bertambah lebih cepat daripada fasilitas kesehatannya. Pada 1873 tercatat 15 kebun, dengan 13 di Deli, satu di Langkat, dan satu di Serdang. Perusahaan tembakau lain menyusul di kawasan yang sama. N.V. Arendsburg Tabak Maatschappij berdiri pada 1875. N.V. Deli Batavia Maatschappij menyusul pada 1877. N.V. Senembah Maatschappij berdiri pada 1889. Sumatera Timur pun dipenuhi perusahaan tembakau berbadan hukum Belanda.

Pada 1880 pemerintah kolonial memberlakukan Koelie Ordonnantie. Menurut para penulisnya, perbaikan kesehatan buruh perkebunan tidak bisa dilepaskan dari aturan tersebut. Di tahun yang sama perusahaan mengontrak dokter pertamanya. Dokter Arnold ditempatkan di kebun Kuala Mencirim. Pada 11 April 1881 ia dipindahkan ke rumah sakit Medan. Sejak itu rumah sakit pusat punya dokter tetap. Sebelum 1880 perusahaan belum memiliki dokter tetap sama sekali.

Empat tahun berikutnya jumlah kebun meledak. Pada 1884 tercatat 86 kebun yang tersebar di Deli, Langkat, dan Serdang. Perusahaan merenovasi rumah sakit kecilnya di Loeboe Dalam pada tahun yang sama. Fasilitas di kebun masih berupa poliklinik sederhana. Rujukan berat tetap dikirim ke Medan. Daftar konsesi perusahaan untuk 1919 kemudian memuat 31 nama kebun di Deli dan Langkat. Jumlah kebunnya naik hampir enam kali lipat dalam sebelas tahun.

1891–1901: Krisis Tembakau lalu Renovasi Besar Medan

Krisis tembakau pertama datang pada 1891 dan 1892. Isyaratnya terlihat sejak 1890, ketika produksi 236.323 bal hanya laku 72,5 gulden per setengah kilogram. Pada 1895 produksi turun ke 204.719 bal dengan harga 90 gulden. Perusahaan menghitung ulang ongkosnya. Dari perhitungan itu muncul cara pandang baru. Kesehatan buruh mulai dibaca sebagai investasi jangka panjang, bukan semata pos pengeluaran. Perubahan itu datang setelah dua dekade pertumbuhan tanpa hambatan.

Hans Pols pada 2018 menyebut perkembangan di Sumatera Timur sebagai “Miracle of Deli”. Para penulis memakai istilah itu untuk menjelaskan pesatnya pertumbuhan fasilitas kesehatan dan temuan para dokter di kawasan tersebut. Bukti fisiknya muncul pada Juli 1899. Renovasi besar rumah sakit Medan dimulai atas inisiatif General Manager Deli Maatschappij, Mr. Ingerman. Ia menyumbang 15.000 gulden untuk pekerjaan itu.

Baca juga Arsip 1814: Bajak Laut Sambas Dipimpin Sultannya

Dana kedua datang dari Mr. Fritz Meyer sebesar 10.000 gulden beserta sebidang tanah. Pekerjaan itu menambah kapasitas rumah sakit secara nyata. Pada 1901 delapan kamar pasien dan dua ruang perawatan baru selesai dibangun. Rumah sakit pusat di Medan kemudian dilengkapi tenaga tetap. Ada dua dokter Eropa, satu apoteker, dua perawat, dua asisten rumah sakit, dan 72 pegawai pribumi.

1907–1922: Bangkattan di Binjai, Tanjung Selamat di Langkat

Perusahaan menyiapkan dokternya lebih dulu, baru bangunannya. Dokter Klass de Jong diangkat sebagai dokter kepala pada 1907. Setahun kemudian Rumah Sakit Bangkattan berdiri di Binjai, Langkat. Rumah sakit itu menggabungkan layanan kesehatan yang sebelumnya tersebar di Loeboe Dalam. Sejak 1908 perusahaan memiliki dua rumah sakit sekaligus, satu di Medan dan satu di Binjai. Loeboe Dalam sendiri sudah direnovasi sejak 1884.

Bangkattan dibangun untuk melayani kebun-kebun di Langkat. Menurut artikel itu, “rumah sakit ini memiliki enam personel Eropa yang terdiri dari 2 orang dokter, 2 orang perawat, dan 2 orang asisten rumah sakit”. Di bawah mereka bekerja sekitar 70 pegawai pribumi. Susunan itu hampir menyamai rumah sakit pusat di Medan. Jumlah pegawai pribumi selalu jauh lebih besar daripada tenaga Eropa.

Rumah sakit Medan bertambah fungsi pada 1915. Bangunan itu ditetapkan sebagai laboratorium penelitian penyakit tropis. Pada 1916 Dokter F.R.A. Stoll ditempatkan sebagai dokter kedua di Bangkattan. Pada 1920 perusahaan menyisihkan satu juta gulden untuk dana pensiun staf Eropa. Dana itu hanya menyebut staf Eropa. Setahun kemudian Dokter W. Kouwenaar menyusul bertugas di Bangkattan. Buruh kebun tidak termasuk dalam skema pensiun tersebut.

Rumah sakit ketiga diresmikan pada 1 November 1922 di Tanjung Selamat, Langkat. Biaya pembangunannya 532.000 gulden. Sasarannya berbeda dari dua rumah sakit sebelumnya. “Rumah sakit ini dikonsentrasikan untuk perawatan berbasis klinik ibu dan anak bagi perempuan Jawa, terutama buruh perkebunan,” tulis para peneliti. Tenaganya lebih ramping: satu dokter Eropa, satu asisten rumah sakit, dan satu apoteker. Perempuan Jawa menjadi kelompok pasien utamanya.

1923–1939: Pergantian Dokter dan Catatan Terakhir

Masa tugas Dokter Stoll di Bangkattan berakhir pada 1923. Tiga tahun kemudian Dokter Klass de Jong melepas jabatan dokter kepala. Penggantinya adalah Dokter E.W. de Vries. Pada 1927 Dokter A.K.J. Koumans diangkat sebagai dokter kedua. Di tahun yang sama rumah sakit pusat Medan diperluas kembali. Perluasan itu datang dua puluh enam tahun setelah penambahan kamar pada 1901.

Baca juga Bolsa Familia: Cara Brasil Mengekspor Program Bantuan Tunai

Perbedaan ketiga rumah sakit terlihat dari susunan tenaganya. Medan memakai 72 pegawai pribumi, Bangkattan sekitar 70, sedangkan Tanjung Selamat hanya bertumpu pada tiga tenaga inti Eropa. Skalanya mengikuti jumlah kebun yang dilayani. Medan menangani konsesi terbesar, Bangkattan menampung kebun Langkat, dan Tanjung Selamat mengurus satu segmen pasien yang khusus. Perbandingan itu tercatat dalam laporan yang dipakai para peneliti. Susunan tenaga Eropa di ketiganya tetap kecil.

Pada 1928 Dokter Kouwenaar diangkat memimpin Laboratorium Patologi Medan Sumatera Timur. Setahun kemudian catatan Tanjung Selamat menunjukkan angka yang jelas. “Pada 1929, data menunjukkan bahwa sudah ada tiga ratus anak yang dilahirkan di rumah sakit ini setiap tahunnya,” tulis artikel tersebut. Para penulis juga mencatat adanya alat sinar-X dan alat pembedahan canggih di fasilitas perusahaan. Alat itu termasuk yang paling maju di Sumatera Timur saat itu.

Peta konsesi perusahaan terbit pada 1931 dan memperlihatkan luas wilayah yang harus dilayani. Pergantian tenaga medis berlanjut sampai akhir dekade. Pada 1939 Dokter J.W.R. Everse ditunjuk sebagai dokter kepala Bangkattan. Dokter F.M. Meyers mendampinginya sebagai dokter kedua. Kedua nama itu menutup daftar dokter yang dicatat artikel tersebut. Peta 1931 sendiri hanya mencakup konsesi di Deli dan Langkat. Daftar itu berhenti karena rentang kajiannya ditutup pada 1940.

Bahan yang dipakai para peneliti perlu dicatat. Mereka menyebut sumbernya berupa dokumen dan laporan tahunan perusahaan perkebunan, laporan dokter rumah sakit, arsip di Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional, serta koleksi digital Universitas Leiden dan Delpher. Semuanya arsip yang dibuat perusahaan dan pemerintah kolonial. Suara buruh tidak masuk, dan angka kematian buruh tidak disajikan. Tidak ada satu pun sumber lisan dari pihak buruh.

Karena itu simpulan artikelnya dijaga tetap hati-hati. Para penulis menyatakan “terdapat relasi yang kuat antara perkembangan ekonomi perusahaan dengan kualitas kesehatan buruh perkebunan”. Kalimat itu berbicara tentang hubungan, bukan sebab-akibat. Tiga rumah sakit di Medan, Binjai, dan Langkat juga tidak mewakili seluruh perkebunan Sumatera Timur. Perusahaan lain di kawasan yang sama punya catatan kesehatannya sendiri. Klaim artikel ini terbatas pada perusahaan dan periode yang ditelitinya.

Catatan terakhir yang disusun para peneliti berhenti pada 1940. Tiga rumah sakit itu berdiri sampai titik tersebut.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi kampung pesisir berumah panggung beratap daun di tepi pantai pasir gelap dengan perahu bercadik berlayar pandan yang ditambatkan, berlatar hutan sagu dan kerucut gunung berapi berasap
Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi
Ilustrasi ceruk buatan manusia berlubang masuk persegi dengan pelipit pada tebing batu berlumut di tepi sungai kecil, dikelilingi ladang palawija, pohon aren, dan perbukitan berhutan
Gua Umang Karo: Rumah Makhluk Halus atau Kubur Batu?
Ilustrasi sebuah buku terbuka di atas kursi berlengan.
Der Vorleser dan Luka Sejarah yang Diwariskan ke Generasi Baru
Ilustrasi perahu layar tradisional berlayar di muara sungai berkabut di pesisir barat Kalimantan
Arsip 1814: Bajak Laut Sambas Dipimpin Sultannya
Ilustrasi kumpulan naskah tulisan tangan kuno.
Saat Bangsawan Sunda Bangga Bisa Berbahasa Jawa Kuno
Ilustrasi tumpukan koran lama yang menguning termakan usia.
Doenia Baroe 1930 dan Suara Perempuan Peranakan