Yang Tersisa dari Arsitektur Kolonial RS St. Carolus

A A

Kompleks Rumah Sakit St. Carolus di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, tempat gedung baru berdiri berdampingan dengan bangunan lama. [Foto: Wikimedia Commons/BxHxTxCx (CC BY-SA 2.0)]

Cekricek.id — Pada 21 Januari 2016, sebuah batu pertama diletakkan di halaman Rumah Sakit St. Carolus, Jalan Salemba Raya Nomor 41, Jakarta Pusat. Yang meletakkannya adalah Uskup Agung Mgr. Ignatius Suharyo. Tanggal itu bukan tanggal sembarangan. Sembilan puluh tujuh tahun sebelumnya, pada hari dan bulan yang persis sama, rumah sakit tersebut diresmikan untuk pertama kali. Batu itu menandai dimulainya konstruksi Gedung Medik, bangunan yang rampung pada 2018 dan mengubah wajah kompleks rumah sakit Katolik pertama di Jakarta itu.

Pembangunan yang masif itu menyebabkan beberapa bangunan mengalami perubahan — begitu catatan Dewik Untarawati, sejarawan dari Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, dalam artikel Pengaruh Arsitektur Kolonial Pada Bangunan Rumah Sakit St. Carolus Jakarta. Tulisan itu terbit di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Volume 43 Nomor 2, edisi Desember 2025. Untarawati menyusunnya dengan metode sejarah lima tahap milik Kuntowijoyo, dari pemilihan topik sampai historiografi, dipadukan dengan pendekatan arkeologis.

Bahannya bukan bongkahan bata yang digali, melainkan gambar. Foto koleksi digital KITLV, foto pribadi peneliti, denah rumah sakit tahun 1919 yang dimuat surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, serta arsip koran kolonial dari koleksi delpher.nl. Semua itu dibaca dengan dua teknik studi arsitektur: analisis tipologi, yang menimbang rasionalitas, fungsionalisasi, dan mekanisme kontrol sebuah desain, dan analisis morfologi, yang membaca denah, fasad, material, serta sistem konstruksi. Penelitian mandiri itu berlangsung sejak September 2024 sampai Februari 2025.

Daftar Isi
  1. Seabad Sebelum Batu Itu, Sekelompok Orang Mencari Tanah yang Cepat Menyerap Air
  2. Dua Lulusan Delft yang Menaruh Gevel di Atas Bangsal Beriklim Tropis
  3. Apa yang Masih Berdiri Setelah Gedung Medik Menutup Bagian Tengah Kompleks

Seabad Sebelum Batu Itu, Sekelompok Orang Mencari Tanah yang Cepat Menyerap Air

Rencana mendirikan rumah sakit ini sudah dipertimbangkan sejak 1910. Penggagasnya sejumlah tokoh Katolik Batavia yang dipimpin Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens, bersama Pastur Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, dan Mr. Karthaus. Lima tahun kemudian rencana itu memperoleh bentuk hukum: pemerintah menyetujui pembentukan Perkumpulan Katolik melalui Surat Keputusan Nomor 24 tertanggal 2 Januari 1915, dengan tujuan mendirikan fasilitas kesehatan Katolik Roma di Batavia yang kehadirannya sudah lama dinanti banyak orang. Dari titik itu, perencanaannya berjalan menyeluruh: penentuan lokasi, penyediaan fasilitas, penunjukan arsitek, sampai pemilihan teknologi kesehatan yang akan dipakai.

Yang menarik dari perencanaan itu bukan gedungnya, melainkan tanahnya. Lokasi dipilih jauh dari suara kendaraan supaya pasien merasa damai dan tidak terganggu. Tanahnya dipilih karena punya daya serap yang baik, sehingga air hujan cepat meresap dan genangan di sekitar bangunan berkurang pada musim hujan. Rancangan bangunannya sendiri disusun mengikuti standar sanitasi dan kebersihan yang disarankan tiga dokter bedah terkemuka pada masa itu: dr. Knoch, dr. Schoorel, dan dr. Stoll. Ketiganya ikut menyumbangkan gagasan desain rumah sakit tersebut sebelum para insinyur mulai bekerja.

Tempat yang mereka pilih terletak di jalan utama yang menghubungkan Meester Cornelis, kini Jatinegara, dengan Weltevreden, kini Sawah Besar, lewat jaringan trem uap. Wilayah itu dikenal sebagai Batavia Baru, daerah yang sedang dikembangkan Pemerintah Hindia Belanda dan dipenuhi institusi-institusi baru. Batavia sendiri baru berganti nama menjadi Jakarta pada 1942. Pada 21 Januari 1919, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. E. S. Luypens meresmikan sekaligus memberkati rumah sakit yang mula-mula bernama R.K. St. Carolus Ziekenhuis itu.

Setahun sebelum pintunya dibuka, sepuluh perawat berkualifikasi didatangkan langsung dari Belanda untuk ditugaskan di sana. Para dokter menyusul dengan tugas mengembangkan keilmuan mereka di rumah sakit tersebut, dan para perawat Belanda diminta melatih perawat lokal, perempuan maupun laki-laki. Tahun 1919 juga menjadi tahun beroperasinya rumah sakit pemerintah Civil Burgelijke Ziekenhuis, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Sejak awal, St. Carolus berdiri sebagai rumah sakit swasta sekaligus Katolik pertama yang dibangun dan dioperasikan di Batavia.

Baca juga Menelusuri Salingsingan, Rumah Ibadah Kuno di Kaki Merapi

Dua Lulusan Delft yang Menaruh Gevel di Atas Bangsal Beriklim Tropis

Rancangan bangunannya jatuh ke tangan dua insinyur lulusan Technical High School Delft: Simon Snuyf dan Frans Johan Laurens Ghijsels. Keduanya bekerja untuk Burgelijke Openbare Werken alias Departemen Pekerjaan Umum, Ghijsels menyusul sejak 1912. Karya Snuyf yang monumental antara lain Kantor Pos Besar Medan tahun 1909 dan kantor pusat perusahaan asuransi NILMIJ di Jalan Juanda. Ia juga merancang watertoren di beberapa kota Hindia Belanda, termasuk instalasi air minum Palembang yang diresmikan pada 1930.

Ghijsels punya daftar yang tidak kalah panjang. Kantor Telepon di Jalan Garuda Surabaya pada 1913–1914, Rumah Sakit KPM yang sekarang menjadi Rumah Sakit PELNI pada 1914, lalu biro Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau yang ia dirikan pada 1916. Dari biro itu lahir Stasiun Kota Jakarta 1927–1931, Gedung Internatio Surabaya pada tahun yang sama, Rumah Sakit Onder de Bogen yang kini bernama Panti Rapih Yogyakarta pada 1929, dan bangunan utama Hotel Des Indes di Jalan Gajah Mada pada 1928–1930.

Rancangan Ghijsels hampir selalu simetris di bagian tampak depan, karena karyanya didominasi rumah sakit dan bangunan resmi. Karya-karyanya juga dikenal beradaptasi dengan iklim tropis lewat pemilihan material yang cocok untuk kondisi Hindia Belanda. Semuanya bermuara pada satu semboyan yang ia pegang, yang dalam bahasa Indonesia berbunyi: “Kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju keindahan.” Hasilnya, tulis Untarawati, rancangan-rancangannya terlihat teratur, resmi, rapi, dan tidak berlebihan. Ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Asosiasi Arsitek Hindia Belanda, perkumpulan yang dibentuk untuk mempererat hubungan antarpraktisi arsitektur sekaligus melayani kepentingan bidang itu sendiri.

Gaya yang mereka bawa punya nama: arsitektur peralihan. Ciri utamanya gevel, yakni struktur dinding segitiga di atas dinding yang terhubung dengan atap menjulang, warisan rumah-rumah Belanda yang biasanya menghadap sungai. Tabel ciri arsitektur kolonial yang disusun Untarawati dari buku Handinoto menempatkan gaya peralihan pada rentang 1890–1915 dan arsitektur modern pada 1915–1940, sesudah Indische Empire yang mendominasi abad ke-18 dan ke-19. Snuyf disebut sebagai salah satu pelopor gaya peralihan itu.

Baca juga Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah

Tahun 1925, Ikatan Arsitek Hindia Belanda menggelar pameran arsitektur di Weltevreden. Karya arsitek besar dipajang di sana — Thomas Karsten, S. Snuyf, Dr. Berlage, J.F. van Hoytema. Biro AIA milik Ghijsels ikut memamerkan karyanya bersama Helswit & Fermont en Cuypers. Salah satu yang masuk pameran itu adalah Kapel Rumah Sakit St. Carolus, yang oleh koran De Locomotief edisi tahun itu disebut indah dan berdiri megah. Biro konsultasi Helswit & Fermont di Weltevreden dan Cuypers di Amsterdam sendiri beroperasi di Batavia sejak 1910 sampai 1940, dan ikut mengerjakan bangunan-bangunan penting Hindia Belanda termasuk rumah sakit ini.

Di sinilah bangunan ini mulai membangkang terhadap tabelnya sendiri. Denah tahun 1919 tidak simetris jika dilihat secara horizontal, sebab sisi kanan dan kiri berbeda ukuran dan bentuk, padahal Indische Empire maupun peralihan seharusnya memakai simetri penuh. Ruangannya dibagi menjadi paviliun kelas I sampai IV — pembagian yang menurut Untarawati mencerminkan stratifikasi kelas pengguna, yang pada masa itu biasanya dibedakan berdasarkan etnis tertentu. Denah rumah sakit sekarang menggantinya dengan ruang VIP I sampai XII.

Apa yang Masih Berdiri Setelah Gedung Medik Menutup Bagian Tengah Kompleks

Bandingkan foto muka bangunan tahun 1930 dengan fasad hari ini. Bagian depan masih mempertahankan atap pelana bergenteng, penanda arsitektur peralihan yang berfungsi melindungi bangunan dari hujan. Gedung Medik di bagian tengah tampil dengan cara yang berbeda sama sekali: atap datar, dominasi kaca, dan konstruksi beton. Koridor tahun 1938 dalam koleksi KITLV memperlihatkan penyangga serta langit-langit kayu dengan lantai tegel; koridor sekarang berlantai keramik dengan plafon gypsum atau polyboard yang menutupi struktur.

Pintu ganda di ruang bilas pada foto 1938 tinggi dan lebar, seluruhnya kayu, tanpa satu pun dekorasi, karena yang diutamakan sirkulasi udara alih-alih estetika. Bentuk pintu ganda itu masih dipertahankan sampai sekarang, hanya materialnya tak lagi sepenuhnya kayu sebab kaca ikut dipakai. Kolomnya pun berganti: balok beton bertulang bercat putih dan hitam berdampingan dengan kolom silindris berbahan besi, dua penanda yang membawa fasad depan ke wilayah arsitektur modern.

Baca juga Stasiun 819 Meter, Alasan Rumah Sakit Petronella Dibangun di Pinggir Kota

Ada elemen yang justru menuntun ke arah lebih tua. Atap berlapis atau multi-layered roof pada bangunan rumah sakit itu, menurut telaah Jessup atas gagasan Pont yang dikutip Untarawati, berakar pada tradisi asli masyarakat Indonesia yang tergambar pada relief candi-candi Jawa Tengah abad ke-9 dan candi-candi Jawa Timur abad ke-13 sampai ke-15. Jendela kecil pada atap dipasang sebagai sirkulasi udara sekaligus jalan masuk cahaya matahari, ciri konstruksi tambahan khas gaya peralihan.

Kapelnya bertahan paling utuh. Kapel baru yang dibangun setelah renovasi tahun 1930 — ketika ruang bersalin diubah menjadi ruang makan dan biara lama dijadikan ruang perawatan anak — selesai dan diresmikan pada 19 Juli 1931. Bentuknya sekarang masih sama dengan yang terekam pada foto KITLV tahun 1938: fondasi batu alam, menara persegi panjang yang tegak lurus ke atas, atap runcing dengan ornamen salib di puncaknya, ventilasi dan jendela panjang untuk sirkulasi udara. Perluasan berikutnya datang pada 1938, ketika ruang perawatan anak diperbesar dan peresmiannya dibuka oleh Ny. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada 1936–1942.

Sejauh mana temuan ini boleh dibawa? Untarawati bekerja dari foto, denah cetak, dan koran kolonial, bukan dari pengukuran fisik bangunan atau ekskavasi, dan beberapa simpulannya ditandai sendiri sebagai pengamatan serta analisis penulis. Objeknya satu kompleks di satu kota, sehingga polanya tidak otomatis berlaku bagi rumah sakit kolonial lain. Periodisasi gayanya pun tidak sepenuhnya seragam antara tabel dan uraian di badan artikel. Data pendukungnya sebagian bertumpu pada laman resmi rumah sakit, dan penelitian ini dikerjakan mandiri tanpa pendanaan dari luar.

Dari bahan sebanyak itu, Untarawati mengukur rumah sakit tersebut dengan kriteria Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pasal 5 menuntut usia minimal 50 tahun; St. Carolus genap seabad pada 2019 dan alamatnya di Jalan Salemba Nomor 41 tidak pernah berubah. Pasal 7 mengenal bangunan berunsur banyak, dan kompleks ini memang kumpulan bangunan — kapel, ruang paviliun, dapur, kamar mandi, ruang operasi, dan ruang lainnya. Rumah sakit itu juga tercatat lima kali menerima penghargaan di bidang kesehatan kandungan serta perawatan ibu dan anak, yakni pada 1997, 2007, 2010, 2013, dan 2016.

“Kelangkaan dan keunikan Rumah Sakit St. Carolus terletak pada gaya arsitektur peralihan dan modern yang melekat,” tulis Untarawati, sebelum merekomendasikan bangunan itu dipertimbangkan sebagai Bangunan Cagar Budaya masa kolonial — sebuah usulan, bukan penetapan. Di halaman tengah kompleks itu, courtyard yang menjadi ciri khas arsitektur kolonial masih dipertahankan, dikelilingi atap pelana bergenteng merah dan jendela-jendela besar, dengan menara kapel dan salib di puncaknya berdiri persis seperti pada 1931 — menara sebuah rumah sakit yang menyandang nama Santa Carolus Borromeus, Kardinal Gereja Katolik yang dikenal karena pengabdiannya kepada orang miskin dan orang sakit.

Bagikan

Baca Juga

Candi Morangan Sengaja Tidak Dipugar Seluruhnya
Candi Morangan Sengaja Tidak Dipugar Seluruhnya
Dinding batu alam memanjang berukir relief naratif yang menggambarkan aktivitas keseharian masyarakat Bali kuno
Relief Yeh Pulu: Difoto Banyak, Dibaca Sedikit
Ilustrasi kubur bilik batu megalitik berlumut dengan sisa pigmen merah samar di padang rumput dataran tinggi
Cara Laser Membaca Lukisan Kubur Bilik Batu Pasemah
Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak
Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi
Ilustrasi dermaga batu menjorok ke laut dangkal dengan perahu nelayan di kejauhan
Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga