Genggaman Timpang Atlet Anggar Kursi Roda Elite

A A

Ilustrasi atlet pengguna kursi roda menjalani latihan kekuatan tubuh bagian atas. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kata “biomotor” terdengar seperti nama suku cadang mesin, padahal maksudnya sederhana: kumpulan kemampuan dasar yang dipakai tubuh untuk bergerak, yaitu kekuatan, kelentukan, daya tahan otot, dan kecepatan menanggapi rangsang. Empat hal itulah yang diukur Ikrar Setia Rahadi, Tomoliyus, dan Endang Rini Sukamti dari Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta bersama Uzizatun Maslikah dari Program Studi Kepelatihan Kecabangan Olahraga Universitas Negeri Jakarta pada delapan atlet anggar kursi roda binaan NPCI DKI Jakarta.

Laporannya terbit dengan judul Physical Fitness Profile of Elite Wheelchair Fencing Athletes: A Descriptive Study of Biomotor Components pada Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan (JSKK) Volume 11 Nomor 1 tahun 2026, halaman 199–207. Desainnya observasional deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang — istilah untuk pengukuran yang dikerjakan sekali saja, pada satu titik waktu, tanpa perlakuan apa pun kepada subjeknya. Kedelapan atlet terdiri atas lima laki-laki dan tiga perempuan, seluruhnya kelas A menurut klasifikasi International Wheelchair & Amputee Sports Federation (IWAS), dan sedang menjalani fase persiapan umum menuju Pekan Paralimpiade Nasional 2024.

Satu istilah lagi perlu dibongkar sebelum angkanya dibaca: total sampling. Maksudnya, peneliti tidak mengambil sebagian atlet secara acak, melainkan memakai seluruh atlet yang ada dalam satu tim pembinaan karena populasinya memang terbatas. Delapan orang di sini bukan potongan dari kelompok yang lebih besar; delapan orang itulah seluruh kelompoknya. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Universitas Negeri Jakarta, dan semua peserta menyatakan bersedia ikut setelah tujuan serta prosedurnya dijelaskan.

Daftar Isi
  1. Biomotor: Kemampuan Dasar untuk Bergerak
  2. VO2max: Ukuran Napas per Kilogram Tubuh
  3. Grip Strength: Kekuatan Genggam yang Timpang
  4. Deskriptif: Memotret, Bukan Membandingkan

Biomotor: Kemampuan Dasar untuk Bergerak

Anggar kursi roda adalah olahraga adaptif yang menitikberatkan penggunaan anggota gerak atas dalam posisi duduk yang statis. Menurut para peneliti, penampilan atlet di cabang ini sebagian besar ditentukan oleh kemampuan menghasilkan gerakan yang cepat dan tepat melalui koordinasi antara kekuatan otot lengan, stabilitas bahu, dan kendali postur. Cabang ini berdurasi pendek dengan intensitas tinggi, menuntut waktu reaksi singkat serta kekuatan eksplosif untuk menjawab serangan lawan, sementara daya tahan otot anggota gerak atas menjaga mutu permainan sepanjang beberapa babak.

Pengukuran dikerjakan di lingkungan latihan formal dengan kondisi terkendali. Sebelum tes, seluruh atlet menjalani pemanasan umum dan khusus, dan di antara tes diberi jeda istirahat yang cukup supaya kelelahan dari satu tes tidak mencemari hasil tes berikutnya. Alatnya disebut satu per satu: shoulder flexibility test untuk kelentukan bahu, shoulder endurance test untuk daya tahan otot bahu, handgrip dynamometer — alat genggam yang mengubah tekanan tangan menjadi angka kilogram — untuk kekuatan genggam kanan dan kiri, hand reaction test untuk kecepatan reaksi tangan, serta tes VO2max berbasis lapangan untuk kapasitas aerobik.

Kelentukan bahu pada kelompok laki-laki rata-rata 112 sentimeter, dengan simpangan baku 18,5 — angka yang menunjukkan seberapa jauh nilai tiap atlet menyebar dari rata-ratanya — dan rentang 95 sampai 140 sentimeter. Pada kelompok perempuan rata-ratanya 63 sentimeter, simpangan baku 10,2, rentang 50 sampai 75. Bedanya begini: nilai tertinggi kelompok perempuan masih lebih rendah daripada nilai terendah kelompok laki-laki, sehingga kedua sebaran itu praktis tidak bertumpang tindih.

Daya tahan otot bahu diukur dalam detik, bukan dalam jumlah pengulangan; yang dihitung adalah lamanya otot sanggup mempertahankan kontraksi. Atlet laki-laki bertahan rata-rata 56 detik, dengan rentang 40 sampai 75 detik, sedangkan atlet perempuan rata-rata 17,75 detik, dengan rentang 10 sampai 25 detik. Para peneliti mengaitkan komponen ini dengan kemampuan menjaga kontraksi otot selama aktivitas berulang, ciri khas anggar kursi roda, sekaligus dengan pencegahan kelelahan lokal pada otot anggota gerak atas yang bisa menurunkan mutu penampilan saat bertanding.

Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia

Di bagian ini penulisnya jujur soal batas tafsir. Karena penelitian yang khusus mengukur kelentukan dan daya tahan bahu pada anggar kursi roda masih sedikit, angka 112 dan 63 sentimeter tadi tidak punya pembanding langsung dari kelompok atlet sejenis. Rujukannya terpaksa diambil dari kajian tentang penampilan fisik dan ciri biomekanik anggar kursi roda secara umum. Maksudnya, angka tersebut menggambarkan tuntutan cabangnya, bukan patokan lulus atau tidak lulus bagi seorang atlet.

VO2max: Ukuran Napas per Kilogram Tubuh

VO2max, atau kapasitas aerobik, adalah jumlah oksigen maksimal yang sanggup dipakai tubuh dalam satu menit, dibagi berat badan — karena itu satuannya mililiter per kilogram per menit. Pembagian dengan berat badan tersebut penting supaya atlet bertubuh besar dan bertubuh kecil bisa dibandingkan pada skala yang sama. Dalam penelitian ini nilainya diperoleh lewat tes VO2max berbasis lapangan, bukan lewat alat analisis gas di laboratorium.

Rata-ratanya 43,5 mililiter per kilogram per menit pada atlet laki-laki, dengan rentang 38 sampai 52, dan 36,1 pada atlet perempuan, dengan rentang 30 sampai 42. Para peneliti menyebut hasil itu sejalan dengan laporan terdahulu bahwa nilai kapasitas aerobik atlet pengguna kursi roda umumnya berada pada kisaran yang mirip untuk kelompok laki-laki maupun perempuan. Jarak antara dua kelompok pada komponen ini memang jauh lebih rapat ketimbang pada kelentukan bahu.

Ada satu salah paham yang gampang menempel pada angka semacam itu, yaitu membacanya sebagai nilai yang buruk. Para peneliti menempatkannya berbeda: kapasitas aerobik atlet pengguna kursi roda cenderung lebih rendah daripada atlet nondisabilitas, dan hal itu berhubungan dengan terbatasnya massa otot aktif pada anggota gerak atas yang dipakai selama aktivitas. Bedanya begini — mesin yang bekerja memang lebih kecil, bukan mesinnya yang sedang bermasalah.

Baca juga WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus

Grip Strength: Kekuatan Genggam yang Timpang

Grip strength, atau kekuatan genggam, diukur dengan dinamometer genggam pada kedua tangan. Pada atlet laki-laki, tangan kanan rata-rata mencatat 44,3 kilogram dengan rentang 35 sampai 55, sedangkan tangan kiri 24,3 kilogram dengan rentang 18 sampai 35. Selisih rata-rata yang hampir mencapai 20 kilogram itu bukan hasil sampingan yang lewat begitu saja; ia justru salah satu temuan yang paling ditonjolkan pada bagian pembahasan.

Ikrar Setia Rahadi dan rekan-rekannya menulis, “Selain itu, perbedaan nilai antara tangan kanan dan tangan kiri menunjukkan dominasi unilateral, ciri yang umum dalam anggar karena penggunaan sisi dominan secara berulang selama aktivitas teknis.” Kata unilateral di situ berarti satu sisi: tangan yang memegang senjata dilatih terus-menerus, sementara sisi sebelahnya mengerjakan tugas yang berbeda. Genggaman yang timpang, pada cabang ini, lebih tepat dibaca sebagai jejak latihan ketimbang sebagai kejanggalan.

Kesimpulan naskahnya menaruh hal tersebut pada posisi yang sedikit berbeda. Kapasitas aerobik dan kekuatan genggam, terutama pada sisi dominan, disebut menunjukkan nilai yang relatif lebih baik, sementara kelentukan bahu, kecepatan reaksi, dan keseimbangan kekuatan kedua sisi masih berada pada tingkat yang lebih rendah. Jadi dominasi unilateral dijelaskan sebagai ciri cabang olahraganya sekaligus dicatat sebagai bagian yang belum seimbang, dua penilaian yang berdiri berdampingan di dalam satu naskah.

Pada atlet perempuan polanya justru terbalik dan jauh lebih rapat: tangan kanan rata-rata 17,1 kilogram, tangan kiri 18,1 kilogram, dengan rentang masing-masing 12 sampai 22 dan 14 sampai 23. Naskahnya tidak menguraikan sebab perbedaan arah itu. Kecepatan reaksi tangan tercatat rata-rata 150 milidetik pada kelompok laki-laki dan 175 milidetik pada kelompok perempuan; satu milidetik adalah seperseribu detik, sehingga angka tersebut setara dengan sekitar 0,15 dan 0,18 detik.

Baca juga Enam Umbi Papua Dibaca di Bawah Mikroskop untuk Kamus Butir Pati

Deskriptif: Memotret, Bukan Membandingkan

Kata “deskriptif” pada judul penelitian ini bukan hiasan. Ia menandai bahwa naskahnya sengaja berhenti pada tahap memotret, dan penulisnya menyatakan alasan itu secara terbuka, “Uji statistik inferensial seperti uji-t atau ANOVA tidak diterapkan karena tujuan utama penelitian ini bersifat deskriptif, berfokus pada pemrofilan alih-alih membandingkan kelompok atau menguji hipotesis.” Ukuran sampel yang relatif kecil, tulis mereka, juga membatasi daya uji statistik serta asumsi yang diperlukan untuk analisis inferensial parametrik.

Bedanya begini. Statistik deskriptif merangkum apa yang terlihat pada kelompok yang diukur: rata-rata, sebaran, nilai terendah, dan nilai tertinggi. Statistik inferensial melangkah lebih jauh, menarik kesimpulan dari kelompok kecil ke populasi yang jauh lebih besar, atau menguji apakah selisih antara dua kelompok cukup meyakinkan untuk disebut nyata. Karena langkah kedua tidak dijalankan, selisih antara atlet laki-laki dan perempuan dalam laporan ini berstatus catatan angka, bukan perbedaan yang sudah diuji.

Batas lain disebut penulisnya sendiri di bagian pembahasan. Jumlah sampel yang relatif kecil membatasi keberlakuan hasil pada populasi atlet anggar kursi roda yang lebih luas, sementara pendekatan deskriptif tanpa analisis inferensial membuat naskah ini tidak sanggup menjelaskan hubungan sebab-akibat antarvariabel. Mereka menganjurkan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar dan lebih mewakili, rancangan analisis yang lebih menyeluruh, serta penggabungan berbagai aspek penampilan atlet.

Di situlah batas kata “profil” perlu ditegaskan. Yang tersaji adalah potret delapan atlet dari satu tim pembinaan, pada satu fase persiapan, di satu rangkaian pengukuran — bukan standar nasional, bukan patokan seleksi, dan bukan ukuran keberhasilan seseorang di lantai pertandingan. Profil kondisi fisik menyebutkan apa yang sanggup dikerjakan tubuh ketika diuji; ia tidak menyebutkan taktik, jam terbang, maupun hasil duel, dan naskah ini pun tidak pernah mengaku sanggup menyebutkannya.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi regu pemadam kebakaran berseragam lengkap dan bertabung udara menjalani latihan penyelamatan di depan bangunan
Rahasia Lompatan Pemadam Kebakaran Ada di Belakang Paha
Ilustrasi sekelompok atlet berlatih bola voli di dalam gedung olahraga berlantai kayu
Di Kabaddi, Otot Punggung Mengalahkan Kelincahan
Ilustrasi seorang pemain bola voli melompat dan bersiap memukul bola di atas net pada pertandingan di lapangan indoor
Dinding Tiga Meter dan Ketepatan Smash Bola Voli
Ilustrasi seorang atlet panahan menarik tali busur dan membidik sasaran di lapangan tertutup dengan ekspresi terpusat
Mental Imagery: Saat Atlet Berlatih Tanpa Bergerak
Lereng galian tanah residual kemerahan di tepi jalan perbukitan setelah hujan.
Lereng Tanah Residual Lebih Rentan pada Hujan Lama
Sungai keruh di dataran rendah yang diapit tambak air payau dan perbukitan karst.
COD 440 mg/l di Sungai Gentung, Baku Mutunya 25