WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus

Petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri lengkap

Ilustrasi petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Organisasi Kesehatan Dunia mendorong dimulainya uji klinis fase 3 vaksin Ebola di Republik Demokratik Kongo, sementara wabah Ebola spesies Bundibugyo di negara itu sudah menembus 4.500 kasus terkonfirmasi. Wabah tersebut kini tercatat sebagai epidemi Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan.

Mengutip laporan STAT News, Rabu (12/8/2026), perundingan antara pemerintah Kongo dan WHO untuk meluncurkan uji fase 3 sudah bergerak maju. Kandidat pertama yang akan diuji adalah Ervebo, vaksin produksi Merck yang semula dikembangkan untuk Ebola spesies Zaire. Vaksin yang dirancang khusus untuk spesies Bundibugyo dimungkinkan menyusul kemudian dalam uji yang sama.

“It’s already the second-biggest Ebola epidemic on record, and it’s moving faster than any previous Ebola outbreak,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip STAT News. Artinya, wabah ini sudah menjadi epidemi Ebola terbesar kedua yang pernah tercatat dan bergerak lebih cepat ketimbang wabah Ebola mana pun sebelumnya.

Tedros menambahkan bahwa lembaganya telah merekomendasikan vaksin itu masuk uji fase 3. “WHO has recommended inclusion of the vaccine in a Phase 3 trial, which we hope to start as soon as possible,” ujarnya. STAT News mencatat wabah ini berpeluang melampaui wabah Ebola Afrika Barat 2014–2016 yang selama ini menjadi yang terbesar.

Baca juga: WHO: Wabah Ebola di Kongo Sudah Menyebar Sejak Februari, Tiga Bulan Sebelum Diumumkan

Angka Resmi Terus Menanjak

Dikutip dari laman resmi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, ecdc.europa.eu, Kamis (13/8/2026), Republik Demokratik Kongo mencatat 4.566 kasus terkonfirmasi dengan 2.128 kematian. Sebanyak 570 pasien masih dirawat di ruang isolasi.

Penularan tersebar di lima provinsi, yaitu Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, dan Tshopo. Dari 140 zona kesehatan di provinsi-provinsi itu, 53 zona sudah terdampak. Sejak laporan sebelumnya pada 11 Agustus, tercatat tambahan 117 kasus terkonfirmasi dan 67 kematian, gambaran yang memperlihatkan wabah masih menanjak.

Uganda, yang sempat melaporkan penularan terkait wabah yang sama, sudah menyatakan wabahnya berakhir pada 28 Juli 2026. Negara itu mencatat 20 kasus terkonfirmasi dengan dua kematian. Pasien terakhir keluar dari perawatan pada 16 Juli dan tidak ada kasus baru sejak 21 Juni.

Baca juga: Stetoskop AI Terbukti Sering Lewatkan Murmur Jantung pada Kucing dan Anjing

Di luar Afrika tercatat tiga kasus impor. Seorang warga negara Amerika Serikat dievakuasi ke Jerman pada Mei 2026, satu kasus terdeteksi di Prancis pada 24 Juni 2026, dan seorang pekerja kemanusiaan asal Amerika Serikat dievakuasi ke Jerman pada 13 Juli 2026. ECDC menilai kemungkinan penduduk Uni Eropa dan Kawasan Ekonomi Eropa tertular tergolong sangat rendah.

Belum Ada Vaksin Terbukti untuk Bundibugyo

Persoalan mendasar wabah ini adalah tidak adanya senjata yang sudah teruji. Mengutip UN News, kantor berita Perserikatan Bangsa-Bangsa, WHO menyatakan sampai awal Agustus belum ada pilihan pengobatan, pencegahan, maupun vaksinasi yang terbukti aman dan berkhasiat khusus untuk Ebola spesies Bundibugyo. Penilaian itu disampaikan Vasee Moorthy, pelaksana pimpinan program R&D Blueprint WHO.

Uji vaksin kandidat pertama yang dirancang khusus untuk spesies Bundibugyo dimulai di Inggris pada 24 Juli, disusul uji kedua di Kanada pada pekan yang sama. Keduanya masih berada pada tahap pengujian terhadap musang dan monyet. Hasilnya akan dianalisis WHO sebelum diputuskan naik ke tahap berikutnya.

Uji obat profilaksis pascapajanan juga sedang berjalan di Provinsi Ituri, episentrum wabah. Lebih dari 25 pasien terdaftar untuk menguji apakah obat minum yang diberikan selama sepuluh hari kepada kontak berisiko tinggi dapat mencegah munculnya penyakit. Moorthy menyebut pihaknya berupaya mempercepat perekrutan peserta, tetapi pemantauan keamanan peserta membutuhkan waktu dan tambahan tim serta lokasi uji.

Baca juga: Terumbu Karang Groote Archipelago Dipetakan Ilmuwan, Ungkap Dampak Pemutihan Massal

Protokol Disiapkan Sebelum Wabah Diumumkan

Dibandingkan wabah-wabah Ebola sebelumnya, uji klinis kali ini bisa dimulai lebih cepat karena protokolnya sudah ditulis sebelum wabah dideklarasikan pada pertengahan Mei 2026. WHO juga meresmikan pusat perawatan berkapasitas 100 tempat tidur di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri.

Meski demikian, hasil uji-uji itu diperkirakan baru tersedia beberapa bulan lagi. WHO menyatakan berharap uji fase 3 di Kongo dapat dimulai secepat mungkin, sementara jumlah kasus dan kematian di lapangan masih bertambah setiap pekan.

Baca Juga

Dua tabung berisi sampel darah di atas meja
Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas
Seekor ikan ditangani tangan peneliti
Riset Flinders: Genomik Petakan Ikan Terancam Paling Rentan Perubahan Iklim
Petugas kesehatan bekerja di lokasi penanganan wabah Ebola
Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera
Paula Verhoeven berjilbab hitam duduk di meja bersama seorang tenaga medis
Paula Verhoeven Cedera Pergelangan Kaki Kanan: Jadi Balance Deh Ya
Wali Kota Padang Panjang menerima penghargaan kesehatan dari Kemendagri
Padang Panjang Raih Apresiasi Kemendagri, Terima Rp1,5 Miliar untuk Kesehatan
Ilustrasi stetoskop yang dipakai memeriksa detak jantung pasien.
Stetoskop AI Terbukti Sering Lewatkan Murmur Jantung pada Kucing dan Anjing