Cekricek.id — Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo ternyata sudah menyebar sejak Februari 2026, sekitar tiga bulan sebelum pemerintah resmi mengumumkannya pada pertengahan Mei. Kesimpulan itu diperoleh dari pengurutan genetik virus.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/8/2026), Organisasi Kesehatan Dunia menyebut wabah ini menyebar lebih cepat dibanding seluruh wabah Ebola yang pernah tercatat.
“Jadi kami mengejar virus itu, sedangkan virusnya berada di depan kami,” kata Mohamed Janabi, Direktur Regional WHO untuk Afrika.
Janabi menjelaskan kasus-kasus awal tidak dikenali sebagai Ebola. Gejalanya “keliru dikaitkan dengan malaria dan tifus”, sehingga penanganan berjalan tanpa kewaspadaan terhadap penyakit menular yang jauh lebih mematikan.
Galur Bundibugyo Tanpa Vaksin
Keterlambatan itu diperparah oleh jenis virusnya. Wabah kali ini disebabkan galur Bundibugyo yang tergolong langka, sementara pengujian awal difokuskan pada galur Zaire yang lebih umum ditemukan di Afrika tengah.
Berbeda dari galur Zaire, Bundibugyo tidak memiliki vaksin maupun pengobatan yang sudah disetujui. Petugas kesehatan hanya bisa mengandalkan perawatan penunjang dan pemutusan rantai penularan.
Hingga Senin, jumlah kasus terkonfirmasi di Kongo mencapai 4.200. Pemerintah setempat melaporkan sedikitnya 1.900 kematian.
Sebagai pembanding, wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014 sampai 2016 memerlukan sekitar delapan bulan untuk mencapai 1.000 kematian. Wabah kali ini mencapai jumlah kasus yang sebanding dalam hitungan pekan.
Mogok Kerja dan Ancaman Kelompok Bersenjata
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan lewat platform X bahwa “Ebola menyebar lebih cepat daripada upaya untuk melawannya”. Ia menyebut jumlah kasus berlipat ganda di sejumlah kawasan.
Penanganan di lapangan terhambat sejumlah persoalan sekaligus. Tenaga kesehatan yang gajinya belum dibayar melakukan mogok kerja, sementara kelompok pemberontak mengancam tim medis yang bekerja di daerah terdampak.
Ketersediaan alat pelindung diri juga terbatas. Di Provinsi Ituri, situasi keamanan yang tidak menentu menyulitkan tim menjangkau desa-desa yang melaporkan kasus baru.
Faktor lain adalah ketidakpercayaan warga dan beredarnya informasi keliru soal penyakit tersebut. Sebagian keluarga menolak membawa anggotanya ke pusat perawatan, sehingga penularan berlanjut di rumah dan dalam prosesi pemakaman.
Pengurutan genetik adalah pembacaan susunan materi genetik virus yang diambil dari pasien. Metode itu memungkinkan peneliti memperkirakan kapan sebuah galur mulai beredar dan bagaimana ia berpindah antarwilayah.
Dari pembacaan itulah WHO menyimpulkan penularan sudah berlangsung pada Februari, sementara pengumuman resmi wabah baru keluar pada 15 Mei.
Pengungsian dan Sanitasi
Perpindahan penduduk akibat konflik menambah beban penanganan. Warga yang mengungsi kerap tinggal di lokasi tanpa sanitasi dasar, kondisi yang mempermudah penularan sekaligus mempersulit pelacakan kontak.
Ebola menular lewat kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, termasuk jenazah. Karena itu penguburan yang aman menjadi salah satu titik penanganan yang paling menentukan.
Kongo adalah negara tempat virus Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1976, di dekat Sungai Ebola yang kemudian menjadi nama penyakitnya. Sejak itu negara tersebut berulang kali menghadapi wabah.
WHO belum mengumumkan perubahan status darurat kesehatan untuk wabah ini. Pengurutan genetik lanjutan masih dikerjakan untuk memetakan jalur penyebarannya sejak Februari.





















